PUPUS / MILLI & NATHAN : SAME EVENTS, DIFFERENT PACKAGE

PUPUS

Sutradara : Rizal Mantovani

Produksi :  Maxima Pictures, 2011

MILLI & NATHAN

Sutradara : Hanny R.Saputra

Produksi : Falcon Pictures, 2011

Curi mencuri ide dalam film yang rilis berdekatan atau bersamaan ternyata bukan hanya ada di Hollywood. Indonesia juga pernah begitu. Sangkuriang dan Tangkuban Perahu di tahun 1982, lantas belum lama ini Pijat Atas, Tekan Bawah dan SMS (Suka Sama Suka) yang celakanya, sama-sama produk plagiat tak bertanggung jawab dari Bollywood. Pupus dan Milli & Nathan agaknya juga punya kasus mirip. Biar wrappingnya sedikit berbeda, sulit untuk menghindari kesamaan dari plot sentralnya secara keseluruhan. Bahwa ada banyak juga melodrama Asia punya pakem yang sama dari waktu ke waktu, itu benar. Namun waktu rilis yang dekat, let’s admit it, mau tak mau, membuat kecenderungan pikiran ke arah sana makin kuat. Yang penting adalah mana yang lebih baik, atau justru sebelas-duabelas dari segi kualitas, baik atau jelek. Jelasnya, dua film ini sama-sama bergenre tragic love story dengan naik turun plot yang mirip. Don’t be mad. I don’t think that’s a spoiler nor an answer to a twist.

Dalam Pupus, yang teaser trailernya sudah sejak lama tampil sebagai promo tiket online jaringan sinema kita, love story itu bergulir antara Cindy (Donita), gadis asal Lampung yang baru saja memulai perkuliahannya di ibukota dengan seniornya yang bernama Panji (Marcel Chandrawinata). Sebuah peristiwa yang membuka perkenalan dua orang dengan tanggal kelahiran sama ini kemudian membuat Cindy penasaran akan sikap Panji yang jinak-jinak merpati. Sesaat, Panji seperti punya perasaan yang sama terhadap Cindy, namun tak jarang juga ia mengecewakan Cindy tanpa ampun, bahkan akhirnya, menarik diri sama sekali dari kehidupan Cindy dengan sebuah alasan bahwa ia bakal menikah dengan wanita lain. Cindy akhirnya mengetahui apa yang ada dibalik alasan Panji bersikap seperti ini, di saat waktu mereka untuk bersama hampir tak lagi banyak tersisa. You’ll know where it goes, trust me.

Then Milli & Nathan tells another love story. Tentang dua remaja yang saling suka sejak masa SMU mereka di Bandung. Nathan (Chris Laurent) yang merupakan sosok anak pintar sering menyambangi Milli (Olivia Jensen Lubis) untuk mengajarnya bak seorang guru les. Mereka pun akhirnya jadian. Namun menjelang kelulusan, Nathan yang berniat serius ke kuliah memutuskan hubungan mereka, meski tetap mencintai Milli. Milli yang lantas meninggalkan bangku kuliah untuk mengejar mimpinya juga berhasil menjadi penulis novel sukses. Di sela perjuangannya masing-masing, mereka tetap saling bertemu sesekali. Melepas rindu, pacaran lagi, namun Nathan selalu meninggalkan ketidakjelasan bagi hati Milli yang juga tengah menjalin hubungan baru dengan Oscar (Fendy Chow), rekan sahabat dekatnya, Asti (Sabai Morscheck). Kekecewaan Milli mencapai puncaknya ketika Nathan akhirnya mengaku hendak menikah dengan teman kuliahnya. Life goes on, dan tepat menjelang pernikahan Milli dengan lelaki pilihannya (Dimas Beck), Asti datang dengan sebuah surat yang membuat Milli menyadari ketulusan Nathan padanya selama ini. Trust me again, you’ll know where it goes.

Konsep sama, paket berbeda. Selagi Pupus yang seperti biasa, diwarnai gaya Rizal Mantovani, apalagi lagu tema yang aslinya sebuah hit single karya Ahmad Dhani sebelum ‘went berserk’ itu sudah lama tertanam di telinga kita, hadir bak sebuah videoklip dengan visual colorful yang cantik, Milli & Nathan tak kalah menarik. Hanny R. Saputra memang tak pernah punya konsep yang jelas sepanjang karir naik turunnya, namun belakangan ini konsep visualnya mulai membaik. Bersama tim sinematografi disini, Milli & Nathan jadi pencapaian terbaiknya dalam hal visual. Ini seolah membolak-balik sebuah album pre-wed ala sekarang, dengan teknik fotografi yang sekilas kelihatan polos namun artistik. Skor dan lagu-lagu dari Winda Idol yang lebih baru juga memberikan sinergi yang baik dengan visual ala album foto itu. Dari sisi visual, dua-duanya baik, namun punya sisi art yang berbeda.

Then let’s go to the cast. Dua film ini agaknya menemukan juaranya pada pemeran utama wanita. Donita dan Olivia Jensen, dua-duanya mampu mencuri perhatian kita untuk terus melahirkan sosok karakter yang lovable. Bukan soal tangis-tangisan dan skenario yang menempatkan mereka jadi objek penderita dalam hal perasaan sehingga mengundang rasa kasihan, namun mereka bisa memaksimalkan persona yang ada tak hanya sekedar jual tampang, tapi diimbangi dengan akting yang wajar serta sepenuhnya lepas. Penampilan yang tak berimbang dengan sang arjuna yang dua-duanya kedodoran dalam kelas yang berbeda. Selagi Marcel tak cukup meyakinkan dalam scene-scene akhir walaupun sudah dipoles sedemikian rupa sebagai penderita penyakit terminal, dengan penggambaran medis yang juga seperti biasa, kurang pas namun tak sampai salah kaprah, Chris Laurent agaknya masih perlu jam terbang lebih tinggi untuk bisa menunjukkan turnover karakternya dengan lebih meyakinkan. Tapi Chris masih lebih baik daripada Fendy yang ekspresinya ada di tingkat sinetron itu. Satu catatan buat Milli & Nathan, Sabai Morscheck yang muncul sebagai pelengkap justru memberikan chemistry yang jauh lebih baik dengan Olivia Jensen.

The last thing, adalah segi pengembangan dari plot dasar tergolong klise untuk segudang film dengan genre yang sama. Ini agaknya sudah menjadi ciri khas banyak skenario kita dalam membangun konflik yang jarang sekali bisa tampil wajar, begitu pula dengan reaksi yang dihadirkan dalam konflik-konflik itu. Let’s compare both of them. Pupus mungkin muncul dengan pemaparan karakter lebih wajar, no matter how stupid that girl came into your thoughts, karena karakter-karakter ini, believe it or not, sekali waktu kerap kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun rentang lima tahunan yang digelar dalam bangunan ceritanya membuat gambarannya jadi terlihat terpotong-potong tanpa bisa menampilkan detil-detil penting, dan ini cukup berpengaruh pada feel keseluruhannya. Milli & Nathan, awalnya justru kedodoran, dengan alasan yang terasa kelewat dipaksakan untuk memisahkan dua karakter utamanya. Namun selanjutnya, skenario Titien membawanya pada sebuah batasan baru sinema love story remaja kita, dimana serangkaian konsep pendewasaan mulai dari ciuman-ciuman bibir (yang kabarnya dire-cut oleh LSF), ML, sampai pernak-pernik lainnya (no, saya tak akan menyebutnya kumpul kebo atau segala macam anggapan konservatif yang selama ini ada) yang tak lagi digambarkan begitu tabu dengan pengadeganan klise seperti kenyataan yang ada sekarang. That’s life after all, dimana ML pertama kali tak harus digambarkan dengan menggenggam sprei, wajah kesakitan sambil menangis sesenggukan, langsung terlambat haid dua bulan and so on, bukan pula sebagai bumbu klise yang harus ada di film cinta-cintaan. Apa yang kita saksikan dalam bagian-bagian ini sebagai pengembangan plotnya tampil apa adanya tanpa harus dipaksakan, sekaligus relevan, dan itu bagus. Sayang, next step dimana konfliknya terus diulur-ulur membuat kita tak lagi perduli dengan dialog-dialog puitis serta ending yang harusnya bisa tampil lebih menyentuh. Yang kita saksikan justru klimaks penutup album prewed yang jadinya terasa lebih meriah dari seharusnya. Oke, tak ada yang salah dengan keduanya meski punya ide dasar yang sama di tengah klise-klise yang ada di sebuah genre. However, Pupus itu lebih pas jika dibandrol judul ‘Happy Birthday’ ketimbang menjual lagu bagus yang tak juga relevan sekali dengan plotnya. (dan)

About these ads

~ by danieldokter on June 24, 2011.

2 Responses to “PUPUS / MILLI & NATHAN : SAME EVENTS, DIFFERENT PACKAGE”

  1. [...] Milli & Nathan [...]

  2. ,,i L0phe You Chris Laurent,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,307 other followers

%d bloggers like this: