SEMESTA MENDUKUNG (MESTAKUNG) : MISFORMULATED EQUATIONS

SEMESTA MENDUKUNG (MESTAKUNG)

Sutradara : John De Rantau

Produksi : Mizan Productions & Falcon Pictures, 2011

Meski sedikit segmental di wilayah reliji yang selalu kelihatan tersamar, entah di tema atau di karakter-karakter wanita cantik yang mengenakan jilbab, sulit untuk menampik bahwa produksi Mizan, dari ‘Laskar Pelangi‘, ‘Emak Ingin Naik Haji‘, ‘3 Hati 2 Dunia 1 Cinta‘ sampai ‘Mestakung‘ yang merupakan akronim dari ‘Semesta Mendukung‘ ini, memang merupakan film-film inspiratively down to earth yang, meminjam sebutan Harmoko tempo doeloe itu, mendidik. Bagus? Ya, tentu sudah ada satu poin disana dibanding pocong-pocongan, beha serta celana dalam yang kerap jadi gula dan garamnya film kita. Satu poin lagi boleh disematkan buat rata-rata pengenalan kawasan Indonesia yang serba kaya ini, yang hampir selalu disajikan dengan sinematografi deskriptif luarbiasa dalam memperkaya pengetahuan populer kita.Begitulah. Sama seperti divisi penerbitannya, mereka bicara tentang pendidikan, agama, hubungan multisosial, pengetahuan dan lain hal dalam skup yang sama, serta komunikasi yang akrab ke pemirsanya. Pop, tapi tak sampai melanggar batas. Tapi dalam terms jualan, tak ada itu yang namanya seratus persen niat baik belaka. Kenyataan. Ini adalah bisnis.

And so, ‘Mestakung‘ yang diangkat dari salah satu novel non fiksi mereka, tentang seorang Profesor Yohanes Surya, Ph.D., ahli fisika yang menggelar kisah hidup membawa timnya memenangkan juara dunia Olimpiade Fisika di Singapura tahun 2006. Sebuah kebanggaan bagi Indonesia, sekaligus membuka mata siswa-siswi yang kerap benci dengan kerumitan fisika, sebagai salah satu ilmu terapan terpenting dalam banyak hal di sekitar kita. Tema yang benar-benar baru dan mungkin masih lebih pantas kalau mau dipakai untuk rekor-rekoran ala Damien Dematra. Tapi salahnya, berkaitan dengan film sebagai jualan tadi, Mizan tak mau repot-repot menyempalkan ilmu fisika ke benak penontonnya. Putut Widjanarko, produser Mizan sudah mengisyaratkan itu sejak jauh-jauh hari. Bahwa Mestakung, istilah yang muncul dari terapan konsep sederhana fisika ala Yohanes tentang kesuksesan hidup dimana dalam kondisi kritis setiap partikel di sekeliling kita akan bekerja membangun titik ideal, what he named Semesta Mendukung, bukan film tentang fisika. Inspirasinya dari novel itu boleh-boleh saja menggelar latar belakangnya, namun ini adalah kisah seorang anak, cita-cita dan impiannya. Tontonan yang akan lebih bekerja untuk pemirsa umum dalam tradisi ‘A Beautiful Mind‘ dan ‘Good Will Hunting‘. Seperti ilmu-ilmu sains dalam film itu, fisika disini hanyalah ‘the driving force’ untuk sebuah human story. Press release lain bahkan menyebutkan kisah persahabatan, kecintaan pada sains dan arti kasih ibu. Begitulah katanya, meski keakuratan teori-teorinya tak juga divisualkan asal-asal dari supervisi langsung oleh Yohanes di pengembangan hingga syutingnya. Dan pastinya, semua direka ulang agar tetap berada dalam koridor reliji segmental yang berlindung dibalik gambaran nasionalisme. Oh ya, ini tak boleh lepas dari produksi-produksi Mizan. Kenyataan.

Thus, here we had Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah), anak seorang supir truk, Muslat (Lukman Sardi) di tengah debu paceklik ladang garam Sumenep, Madura, yang minatnya terhadap fisika bagai seorang bocah ajaib. Sehari-hari sehabis sekolah, ia mencari uang di arena Karapan Sapi demi sebuah tujuan. Mengumpulkan uang untuk diserahkan ke penipu Cak Alul (Sujiwo Tedjo) demi mencari keberadaan sang ibu (Hermalia Putri) yang hilang bertahun tanpa kabar sebagai TKI di Singapura. Adalah ibu Tari Hayat (Revalina S. Temat), guru fisikanya, yang melihat bakat Arief yang besar hingga mendesaknya untuk mengikuti olimpiade sains. Tari ternyata menyimpan masa lalu atas niatnya yang ambisius memperkenalkan fisika ke seluruh pelosok terpencil hingga meninggalkan kehidupan kota besarnya bersama ahli fisika lain, Pak Tio (Ferry Salim) dan asistennya, Deborah (Feby Febiola). Dengan agenda tersembunyi untuk mencari ibunya setelah tahu olimpiade itu diselenggarakan di Singapura, Arief pun mengikuti Pak Tio untuk keluar sebagai peserta terpilih dalam tim olimpiade, kalau perlu dengan sekaligus memenangkan juaranya.

Now enter the world of ‘Film Indonesia’. Secara rata-rata. Saat sebuah tema inspiratif kerap dicampuradukkan dengan porsi dramatisasi yang kepingin kelihatan gede di sana-sini atas keberhasilan karya-karya terdahulu. Bukan sekali, resep yang bagaikan jadi resep masakan memakan dua halaman folio itu akhirnya jadi tumpang tindih tanpa tahu mau mengedepankan yang mana. Bukan hanya fisika sebagai, yup, driving force dan human drama-nya, skenario yang dibesut Hendrawan Wahyudianto bersama sang sutradara sendiri, John De Rantau, berusaha menyempalkan pengenalan wawasan (Sumenep) serta budaya (karapan sapi dan petani garam) setempat, panorama Singapura sebagai kebanggan sebuah film bisa syuting di negara luar (oh ya, kita selalu bangga dengan itu), isu-isu sosial tentang TKI sampai balutan nasionalisme penuh simbol yang akhirnya jadi terasa overloaded. Jangan bilang Anda tersentuh dengan sebuah dialog mendekati penghujung cerita yang menyebut-nyebut metafora ibu pertiwi dengan konflik Arief dan ibunya, atau pengakuan sang ibu di ending yang seakan-akan maunya memberikan sindiran sosial tapi tak lagi jadi berarti ke salah satu konflik utama itu.

Belum lagi sempalan komedi dan karakter yang kelewat banyak demi memasang nama-nama terkenal berikut hubungan antar karakter itu dalam persahabatan dan persaingan tim yang akhirnya jadi hanya hadir sepenggal-sepenggal saja, bahkan menyia-nyiakan beberapa karakter yang sudah dipaksa untuk diperkenalkan. Sebentar karakter itu seperti diplot untuk jadi penting, next, hilang begitu saja, atau sebaliknya. Lihat saja karakter Cak Alul, Bima yang jadi seteru Arief lengkap dengan penjelasan karakter seorang anak pintar angkuh yang tanpa alasan langsung jadi baik-baikan, serta Clara Annabela yang diperankan Dinda Hauw dari ‘Surat Kecil Untuk Tuhan‘ yang seketika jadi punya getaran khusus ke Arief tanpa penjelasan detil kecuali senyam-senyum tak jelas di awal kemunculannya. Sementara karakter sahabatnya, ‘Muhammad’ (lagi-lagi) Thamrin (Angga Putra) juga lebih difokuskan untuk lucu-lucuan. Hanya Cak Kumis (Indro Warkop), tukang ketoprak yang dialog-dialog serta tempelannya relevan dan pas hingga ke epilog yang sangat mengalir.

Kekurangan kedua ada pada ‘paksa-memaksa’ lain dalam hal casting. Sayef sebagai bintang baru sebenarnya punya ekspresi lumayan kecuali terlepas jadi over di beberapa adegan. Tapi intonasinya mengucapkan dialog yang parahnya digunakan sebagai narasi, sama sekali menenggelamkan emosinya ke dasar paling dalam dengan kelihatan seolah membaca tanpa perasaan. Seharusnya, mereka bisa mencari kualitas seperti Emir Mahira di ‘Garuda Di Dadaku‘ ataupun Yosie Kristanto di ‘Tendangan Dari Langit‘. Ferry Salim pun begitu. Tampilannya sebagai seorang guru fisika simpatik sangat meyakinkan. Tapi seperti biasa, Ferry was trying so hard to look good on screen, dengan mimik selalu diatur-atur secara over. Yang terparah adalah Feby Febiola yang serba tak jelas karakterisasinya entah mau ke arah mana. Hanya Lukman Sardi dan Revalina S.Temat, di luar dialek Madura mereka yang sedikit terdengar canggung, yang masih bisa menyajikan akting yang cukup pas biar tetap tak bisa berchemistry dengan Sayef, bersama beberapa pemeran anak-anak plus tentunya Indro Warkop yang jadi dayatarik tersendiri kehadirannya disini.

Then comes the third. Bukannya lagu Mestakung dengan refrain yang ‘childishly catchy’ dibalik dentuman gitar rocknya yang mengesankan sebuah anthem itu tak bagus, tapi pelantunnya, Goliath, agaknya masih terlalu mentah untuk mengisi beberapa adegan penting yang seharusnya bisa jauh lebih beremosi. Ya begitulah,’ Semesta Mendukung‘ akhirnya hadir seperti masakan sehat namun belum matang yang keburu disajikan ke meja. Ada momen yang hadir cukup baik seperti tentunya visualisasi terapan fisika yang informatif, akurat dan terlihat sangat asyik itu, sesi-sesi latihan yang meski terlalu singkat namun cukup penting serta adegan kompetisi akhir yang cukup proporsional biarpun tak terlalu intens. H. German G. Mintapradja sebagai director of photography-nya pun menyajikan gambar-gambar latar yang cantik. Namun satu yang terpenting dalam film-film seperti ini, emosi dalam membangun kaitan adegan-adegan yang harusnya bisa jauh lebih touching termasuk nasionalisme merah putih yang dikibarkan di atas kemenangan itu, ternyata lebih banyak lewat begitu saja. Untuk film berpremis begitu inspiratif yang membuka mata kita terhadap sebuah pengetahuan serta prestasi anak-anak bangsa, ini benar-benar sayang sekali. Sayang sekali. (dan)

About these ads

~ by danieldokter on October 20, 2011.

One Response to “SEMESTA MENDUKUNG (MESTAKUNG) : MISFORMULATED EQUATIONS”

  1. [...] Semesta Mendukung [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,353 other followers

%d bloggers like this: