KEHORMATAN DI BALIK KERUDUNG : RESEPSI RANJANG DI BALIK POLIGAMI

KEHORMATAN DI BALIK KERUDUNG

Sutradara : Tya Subiakto Satrio

Produksi : Starvision, 2011

Apa sih sebenarnya yang menjadikan sebuah film itu di genre reliji? Plot? Atribut? Judul? Semua bisa. Tapi ternyata perfilman negara ini masih kerap hanya bisa bicara sebatas roman, dimana atribut reliji cuma sebatas jadi tempelan dengan pesan yang tak jarang malah salah kaprah. Kehormatan Di Balik Kerudung ini masih salah satu diantaranya. Menggamit nama Tya Subiakto Satrio, komposer yang, terus terang, harus diakui kehebatannya di banyak film kita, sebagai sutradara dibalik image kental seorang Nayato Fio Nuala yang dikredit menjadi DOP, film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Ma’mun Affany. Bernuansa relijius juga? Ah, itu sama seperti patokan sebuah film. Terserah pembaca atau penontonnya sejauh mana mereka menilai. But here’s one thing. Sebuah film reliji yang baik adalah film yang menggunakan atribut reliji sebagai bagian utuh yang mengandung pesan dengan gambaran yang benar. And sadly, ini bukan salah satu diantaranya. Let’s go to the plot.

Saat mengunjungi kediaman kakeknya, Syahdu (Donita) bertemu dengan Ifand (Andhika Pratama) yang langsung menarik hatinya dengan kata-kata. Ternyata, Ifand yang soleh dan aktif di kegiatan-kegiatan mesjid ini berasal dari kampung kakeknya juga. Mereka pun menjalin hubungan  meskipun gadis lain sekampung Ifand, Sofia (Ussy Sulistiawaty) dengan setia menunggu perasaan yang sama dari Ifand. Now comes the Indonesian pattern. Ibu Syahdu pun terjebak dalam masalah kesehatan yang membutuhkan biaya besar. Muncullah mantan kekasih Syahdu untuk menyediakan biaya itu dengan satu syarat. Syahdu harus menikah dengannya. Dengan berat hati Syahdu menerima walaupun akhirnya tak bisa membohongi hatinya sampai diusir dari rumah sang suami. Sementara Ifand yang patah hati berhadapan dengan cliche pattern yang lain. Ia menerima Sofia menjadi istrinya. Aji mumpung? Ah, memang begitu polanya kok. Syahdu yang mengetahui ini pun jatuh sakit. Obatnya cuma satu. Yup, Ifand harus kembali padanya. Egois? Ya, begitulah polanya. Lantas muncullah ‘kehormatan’ itu. Sofia dengan ikhlas, ya, ikhlas, membiarkan Ifand menyambangi Sofia bahkan melamar Syahdu menjadi madu demi menyelamatkan nyawa cewek sakit kritis karena cinta ini. Poligami yang digambarkan sangat, sangat Islami, dimana sang suami selalu menggunakan baju koko dan dua istrinya, walaupun Syahdu tak pernah mengenakan jilbab secara Islami dengan benar, berjilbab. Saat akhirnya cemburu demi cemburu muncul, datanglah pola film kita yang lain. A very Indonesian pattern. Matikan salah satunya. And you know who’s in the dead chair. Untuk tetap membuatnya berada dalam koridor reliji? Si korban yang menderita kanker rahim itu pun meninggal di atas tempat tidur rumah sakit dengan wajah pucat dan nafas satu-satu tapi tetap mengenakan atribut Islami secara lengkap. Mungkin rumahsakit di desa mereka belum dilengkapi fasilitas baju rawat inap pasien yang steril. Begitu ya? Yeah, right. Boom! There goes another idiots.

Dibalut dengan bahasa novel serba puitis yang meski kedengaran luarbiasa kaku tapi sebenarnya sah-sah saja secara setnya pun bukan di lokasi yang jelas, Kehormatan Di Balik Kerudung sebenarnya dimulai dengan cukup baik. Tak ada juga yang salah dengan sinematografi Nayato yang seperti biasa tampil dengan style panoramik lumayan indah. Namun adalah pengembangan karakterisasinya (saya tak tahu apakah novel Ma’mun memang seperti itu karena pengakuannya sendiri filmnya banyak melenceng dari novel) yang merusak semua tatanan pilihan itu. Bahasa serba puitis itu justru membuat turnover-turnover karakternya semakin ridiculously stupid, seakan meminta pembenaran dari aspek-aspek aji mumpung yang mereka pilih. Bahkan banyak penonton pun tertawa-tawa di tengah dramatisasi poligami yang digelarnya. Konflik yang harusnya menggempur keadaan dilematis tiga karakter ini justru digelar serba dangkal sehingga yang tampil ke layar hanya sebatas urusan ranjang dan ranjang lagi. Baik Andhika, Donita dan Ussy pun jadi kelihatan serba salah menerjemahkan karakternya. Selagi karakter Ifand jadi kelihatan naif dan aji mumpung luarbiasa, Syahdu nyaris jadi antagonis tak tahu diri, Sofia pun bukan malah kelihatan terhormat, tapi justru tolol dibalik penderitaan dan tangis-tangisan mereka. Dan ya, kita tak akan tahu sampai dimana kemampuan seorang Tya Subiakto menyutradarai sebuah film karena style Nayato yang kelewat kental di film ini. Pinjam nama atau tidak, wallahu’alam. Tapi satu yang jelas, kalaulah atribut jilbab yang seharusnya bisa jadi pesan buat film-film sejenis lagi-lagi hanya digunakan sebatas resepsi untuk urusan-urusan ranjang dalam sebuah pembenaran poligami, then shame on you, people. Such message, and shame on you. (dan)

About these ads

~ by danieldokter on November 10, 2011.

9 Responses to “KEHORMATAN DI BALIK KERUDUNG : RESEPSI RANJANG DI BALIK POLIGAMI”

  1. hm si Nayato kebanyakan ‘bantuin’ yah?

  2. [...] Kehormatan di Balik Kerudung [...]

  3. [...] KEHORMATAN DI BALIK KERUDUNG  [...]

  4. Film ini gw liat berkali kali, krn gw pnya vcd nya
    ˚◦°•Ħммм…(―˛―“)… •°◦ keren, gw tipe org puitis
    Nonton film ini pun smp nangis :)
    Apa pun kritikan ttg film ini yg jelas bagus bgt dh
    Ceritanya bnr2 hidup n seakan nyata
    Good Job buat smua yg trlibat utk film ini yach

  5. ini lokasi syutingnya dimana ya? keren banget

  6. jujur,
    ni film yg bikin bagus cuma tmpat suting ny doang..

    kalo sajian ceritany..
    emmm… (gue bukan ahli perfilman)
    tpi sbg ‘pemirsa’, ini film anehh bin gag jelas..
    setuju bgd sama kritikan diatas..

    gue tipe yg gmpang mewek’n..
    tpi anehnya, dsaat adegan nangis gue mala ktawa..
    film ny gaje banged boo… :(
    kecewa…

    kalo dtanya knpa gue buka situsny, it cuma krna gue pngin tau tmpat sutingny doang..
    hehehe…

  7. thanks anyway, udah mampir :)

  8. Haahaahaahaha bener banget ulasan ini, masak pas ustadnya berduaan melulu! Trus habis kecelakaan kereta api kok gak pada nyari jasadny mpe akhirnya tiba2 ketemu ternyata masih hidup si sahdunya. Jaman smsan maasih aja emaknya sahdu sakit pake gak menelpon segala. Anehnya lagi si ratih adiknya sahdu pake kirim surat segala. Wong ada hapenya

  9. jujur film ini membuat saya terharu
    top banget film ini mengajarkan kehidupan yang harus zbar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,869 other followers

%d bloggers like this: