PENGEJAR ANGIN : PRETENTIOUSLY OVERLOADED, SAVED BY THE CASTS

PENGEJAR ANGIN

Sutradara : Hanung Bramantyo

Produksi : Putaar Production & Pemprov Sumsel, 2011

Belum bosan dengan drama pengenalan kawasan? Masih terlalu cepat sepertinya, mengingat Indonesia ini memang salah satu keunikannya di ragam budaya yang berbeda. Kali ini, Sumatera Selatan yang mendapat kesempatan. Selain pengenalan kawasan itu, plotnya memang jauh-jauh diarahkan ke event SEA Games yang digelar minggu ini. So selain menyorot seputar kehidupan anak (remaja), temanya lagi-lagi adalah olahraga. Tak mengapa, sepanjang memperkaya juga wawasan kita tentang seluk-beluk ragam budaya negeri ini. Kali ini tentang seorang atlit anak pelari profesional dengan suka duka kehidupannya. Dapunta, nama karakter utama yang awalnya juga turut dijadikan judul sebelum berubah menjadi hanya ‘Pengejar Angin’ menjelang waktu rilisnya. Dan oh ya, ini filmnya Hanung Bramantyo, satu dari segelintir sutradara berkelas yang karyanya sering-sering hadir ke tengah kita.

Sebagai anak seorang perampok di wilayah rawan, Lahat, Sumatera Selatan, yang terkenal dengan bajing loncatnya, Dapunta (diperankan oleh pemeran debutan Qausar Harta Yudana) sebenarnya tak pernah merasa nyaman. Ayahnya (Mathias Muchus) yang sekaligus pendekar atau jawara, pemimpin para perampok itu memang memiliki dominasi kuat terhadap cita-cita Dapunta yang masih polos dan ingin melanjutkan kuliah dibalik bakatnya yang besar sebagai pelari. Sang ibu (Wanda Hamidah) pun tak bisa berbuat banyak meski selalu mau berkorban demi keinginan Dapunta. Persaingan Dapunta dengan murid kaya sekelasnya, Yusuf (Giorgino Abraham) akhirnya membuka identitas keluarga yang selama ini dirahasiakan Dapunta dari teman-temannya. Padahal, atas prakarsa pak guru Damar (Lukman Sardi ; oh ya, ini bukan film Mizan, jadi tak ada karakter sentral guru perempuan berjilbab) yang sejak lama mencium kecerdasan all-rounder Dapunta, ia tengah dipersiapkan ke olimpiade matematika di Jepang bersama Nyimas (Siti Helda Meilita) dan Yusuf yang dipromosikan kepala sekolah (Joshua Pandelaki). Namun dana ke sekolah yang terbatas membuat tujuan ini susah terlaksana, maka Damar pun mempromosikan juga Dapunta ke sahabatnya dari Jakarta, Ferdy (Agus Kuncoro) yang tengah mencari bakat pelari dari daerah. Keinginan Dapunta pun terpecah dengan konflik ke ayahnya yang makin meruncing, sementara penegak hukum sudah siap meringkus gerombolan bajing loncat ini.

Satu yang terasa sejak awal adalah tendensi-tendensi yang serba tumpang tindih dalam racikan plotnya. Selain ide-ide untuk memasukkan unsur pendidikan yang mirip dengan ‘Mestakung’ namun ini di bidang matematika, serta olahraga dari bakat Dapunta sebagai pelari, drama pengenalan budaya dan kawasannya juga kelihatannya diintervensi penuh oleh Pemprov Sumatera Selatan yang ikut mendanai produksinya demi promosi SEA Games. Sang Gubernur sampai nyaris terasa dikultuskan di banyak pemaparan plotnya. Penggunaan dialek dan bahasa daerahnya cukup baik meski sering pincang di penggunaan kata ‘kau’ dan ‘kamu’ diantara dialognya. Akibatnya, skenario besutan Ben Sihombing, yang barusan menulis ‘Senggol Bacok’ jadi bingung mau memfokuskan arahnya kemana. Yang akhirnya muncul paling ke depan justru seluk-beluk kehidupan bajing loncat serta mitos harimau jadi-jadian dalam karakter ayah Dapunta yang memang menampilkan Mathias Muchus dalam salah satu peran terbaiknya. Begitu berwibawanhya Muchus memerankan sang jawara ini sampai filmnya sendiri sulit memposisikannya sebagai seorang antagonis. Promosi turisme daerahnya juga agak salah kaprah dengan sorotan ke daerah Lahat yang rawan, sementara promosi SEA Games-nya juga terlihat begitu obvious, sehingga akhirnya subtema olahraga dan pendidikan itu tertutupi, belum lagi dialog-dialog penuh protes terhadap sistem dana pendidikan disana secara sekaligus. Dramatisasinya pun jadinya sedikit berantakan dengan klise-klise penyelesaian konflik seketika ala film Indonesia. Untunglah, ada faktor lain yang tak lantas menenggelamkan ‘Pengejar Angin’ ke dasar yang paling dalam.

Adalah Qausar sebagai aktor debutan pemeran Dapunta yang begitu bersinar mempertahankan karakternya tetap menjadi tokoh sentral dengan tumpang tindih kacau balau itu, untuk tetap menyita perhatian penonton buat memperdulikan karakternya. Tak hanya punya tampang, ekspresi akting dan intonasi dialognya juga juara. Ia kelihatan tak canggung berhadapan dengan banyak nama besar tapi malah membangun chemistry yang asyik dengan semuanya termasuk ke pemeran-pemeran sampingan. Ketrampilan beladirinya di beberapa adegan aksi yang diselipkan dalam tekanan karakter Dapunta sebagai anak jawara juga remarkable. Benar-benar sebuah bakat besar yang sayang dibuang begitu saja. Selain itu, masih ada kekuatan lain dari Agus Kuncoro, salah satu underrated actor di negeri ini yang selalu kelihatan nyaman jadi penghias penting dalam banyak film-film bagus. Chemistry dari dialog-dialognya yang begitu lepas dengan Lukman Sardi menjadi highlight lain untuk membuat ‘Pengejar Angin’ jadi tontonan yang sangat mengalir di sela kekurangannya. Terakhir, saya yakin ini adalah kekuatan Hanung, yang bisa menyiasati tujuan-tujuan pretensius itu ke sebuah winning finale penuh metafora lewat adegan bergantian yang tampil cukup menyentuh. Tak sampai sehebat ‘Tendangan Dari Langit’ atau ‘Garuda Di Dadaku’ memang, tapi sudah cukup untuk menutupi muatannya yang overloaded itu. Sebuah produksi kelewat pretensius tapi terselamatkan oleh bakat-bakat besar dalam penggarapannya. (dan)

About these ads

~ by danieldokter on November 12, 2011.

5 Responses to “PENGEJAR ANGIN : PRETENTIOUSLY OVERLOADED, SAVED BY THE CASTS”

  1. Betul banget, pemeran Dapunta *meskipun baru* bener2 berbakat.. Gak tampak canggung atau aneh dalam aktingnya.. Salut!! :)

  2. Harusnya jadi rebutan produser untuk film2 laga :). main bareng Iko Uwais, barangkali :)

  3. Tapi aku kemaren nonton film ini sebenernya karena filmnya Hanung.. Ternyata emang bagus.. Hampir gak ada bloopers, kecuali adegan di pinggir sungai yg terasa agak janggal krn cahaya terangnya cuman pas di Dapunta n ayahnya..

  4. kan harimau jadi2an :)

  5. [...] Pengejar Angin [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 7,169 other followers

%d bloggers like this: