DRIVE : A VIOLENT ROMANTICISM

DRIVE

Sutradara : Nicolas Winding Refn

Produksi : Bold Films & Film District, 2011

I bet you’ll have few different ways to look at ‘Drive’. Sebuah film dengan style cenderung sangat indie, cult, vanguard atau apapun Anda menyebutnya. But I’d say, ini adalah budaya pop yang beda. Seperti yang membandingkan atmosfernya yang sangat ‘80s dibalik warna, angle-angle kamera, wardrobes, tusuk gigi yang selalu bertengger di mulut karakter utamanya, hingga soundtrack serba synth-pop yang sengaja digagas mengarah kesana bukan dengan menggunakan lagu-lagu lawas, serta juga pakem cerita yang tak serba ingin kelihatan pintar seperti trend sekarang. Atmosfernya memang mirip seperti filmnya William Friedkin yang jadi salah satu agenda wajib tontonan tahun ‘80an, ‘To Live And Die In L.A.’. Sah saja. Then comes another viewer yang membanding-bandingkannya dengan ‘Le Samourai’-nya Alain Delon atau ‘The Driver’-nya Ryan O’Neal-Bruce Dern yang disutradarai Walter Hill, juga nama besar lain, juga kemiripan satu sama lain, entah atas karakter tanpa nama dengan sebutan sama dalam ‘The Driver’ atau skenario yang pelit dialog, serta action dengan gaya berbeda. Sah juga. And to some others, ini adalah sebuah violent love story, yang juga akar-akarnya dulu berasal dari sinema Eropa. Tapi tunggu. Bangunannya menjadi sebuah violent love story tadi bukan sekedar kisah cinta antar para kriminal dan pesakitan lain yang kemudian banyak bertabur menjadi tema-tema berbeda di genre itu termasuk rata-rata sinema Asia-nya Andy Lau, tapi lebih ke sebuah sinergisme sangat padu dimana semakin kejam atau sadis gambaran action yang digelar, maka semakin dalam serta romantis pula part ‘how far would you go for someone you love’-nya terasa. Ini juga sah. But I’d say, this is ‘True Romance’ of this decade, sebagai satu dari segelintir film yang meraih pencapaian atas sinergisme antara dua kombinasinya. A ‘Lovigilante’, kalau saja ada istilah itu untuk penggabungannya.

So, referensi-referensi keren itu sudah mengantarkan wujud ‘Drive’ yang sesungguhnya. Diadaptasi lepas dari novel berjudul sama karya James Sallis (2005) yang sebentar lagi bakal punya sekuel berjudul ‘Driven’ dan juga sudah dalam negosiasi untuk diangkat ke film, skenario besutan Hossein Amini (‘Shanghai’, ‘Killshot’, dan ‘The Wings Of The Dove’ yang memberinya nominasi Oscar 1997) agaknya juga bekerja dengan baik sekali menerjemahkan style neo-noir Sallis dengan penuturan egosentris tokohnya dibalik atmosfer westcoast L.A. yang dipresentasikan secara muram. Tapi bukan itu yang paling spesial. Justru sedikit berbeda dengan novelnya, Amini, atas draft awal dari visi Nicolas Winding Refn sang sutradara, membuat kombinasi baru dengan sebuah awkward lovestory tanpa banyak dialog tapi menyentuh kedalamannya dengan luarbiasa. Refn sendiri yang sebelumnya menghasilkan film asal negaranya, Denmark, berjudul ‘Pusher’ yang digagas jadi trilogi, serta ‘Bronson’ sebelum ditarik ke level lebih besar dengan ‘Valhalla Rising’, memang punya style cult yang sangat khas. Masuk ke produksi ‘Drive’ menggantikan rencana awal sutradara Neil Marshall, cast utamanya, Hugh Jackman, pun diganti dengan bintang yang tengah bersinar-bersinarnya di kelas festival belakangan ini, Ryan Gosling. Now plus Carey Mulligan yang sejak awal sudah diinginkan Refn ketika meningkatkan porsi karakter Irene sebagai tokoh sentral wanitanya, serta, yup, if you noticed, Albert Brooks yang dipaksa menanggalkan atribut komediannya, you’ll know what you’re gonna get. Lebih dari sebuah action, ini adalah sebuah karya arthouse yang bertopeng serba grindhouse di pameran kekerasan dan atmosfernya.

The Driver (Ryan Gosling) yang bekerja sebagai stuntdriver di produksi film Hollywood sambil sesekali melakukan kerja kriminal sebagai supir sewaan sekaligus mekanik bagi Shannon (Bryan Cranston) yang sudah seperti mentor dan agensinya buat pekerjaan-pekerjaan itu, memang memiliki skill mengemudi sangat spesial. Atas bakatnya ini, Shannon yang berniat menjadikan Driver sebagai pembalap profesional mendekati mafia kenalannya, Bernie Rose (Albert Brooks) untuk meminjam modal, walaupun partner bisnis Rose, Nino (Ron Perlman) pernah bermasalah dengannya dulu. Begitu melihat skill Driver, Rose sebenarnya sudah setuju, namun perkenalan Driver dengan Irene (Carey Mulligan), tetangga apartemennya dengan satu putra, Benicio (Kaden Leos), yang langsung mengisi kesepian Driver, membawa masalah lain. Kembalinya suami Irene, Standard (Oscar Isaac) dari penjara membuat Irene dan Benicio berada dalam bahaya. Pasalnya, Standard diancam mafia-mafia yang melindunginya selama di penjara untuk balas budi. Sasarannya adalah perampokan berencana di sebuah toko gadai. Demi melindungi Irene dan Benicio, Driver pun bernegosiasi dengan Cook (James Biberi) untuk membantu Standard melakukan perampokan ini. The heist went chaos, then comes the big part. Apapun taruhannya, keselamatan Irene dan Benico jadi tujuan satu-satunya.

Ini memang seperti ‘True Romance’-nya Tony Scott, namun dengan penuturan yang berbeda. Ketimbang menyajikan style ala Quentin Tarantino yang bercampur baur di mainstream dan cult, Refn memilih untuk menyajikan bagian-bagian awalnya dengan penuturan lambat demi membangun empati penonton terhadap para karakternya. Pemaparannya dilakukan bagai sebuah arthouse yang bergerak sama lamban dan minim dialog, namun shot-shotnya yang dibesut secara digital menekankan atmosfer grindhouse yang kental. Penonton yang tak punya arah gambarannya mungkin sempat dibuat bingung hingga mengantuk, namun Refn agaknya meyakini betul bahwa ini adalah cara efektif untuk menggelar part love story-nya di bagian-bagian awal. Tak hanya di interaksi Gosling dengan Mulligan, namun juga kedekatan Driver dengan Shannon seperti father to sons. Cukup dengan beberapa penggal dialog, gestur dan ekspresi mereka saling bergerak dan memandang dimanfaatkan secara detil oleh Refn dengan pergerakan kamera yang juga lambat, then we all know what they’re actually felt to each other. Like a picture that tells even a million words. Bersama body language chemistry Gosling dan Mulligan itu, semua pendukungnya melakukan tugas mereka dengan sempurna, termasuk Cranston, where you’ll love him like Dennis Hopper’s character in ‘True Romance’, dan tentunya, Albert Brooks, yang terlihat menakutkan disini.

Setelah itu barulah Refn menggelar adaptasi yang lebih setia ke novelnya dalam bangunan action, dan emosi yang sudah dibangun dengan sempurna itu seakan meledak dengan seketika. Dan pilihannya, lagi-lagi bukan berada di jalur yang biasa. No, it might titled ‘Drive’ tapi jangan harapkan kebut-kebutan seru serba hi-tech. Disini Refn justru menampilkan style-nya yang kian menekankan batasan emosi sejauh kebesaran rasa itu jauh dari sekedar sebuah kata-kata, pelukan atau lovescenes lain-lain. Gory-ness yang dihadirkan dengan detil, dari letusan senjata yang melepaskan organ tubuh hingga meremukkan kepala, yang diakui Refn terinspirasi dari sutradara asal Perancis yang dikaguminya, Gaspar Noe. Skor yang dibesut Cliff Martinez, yang juga kiprah awalnya di film-film non mainstream seperti ‘Sex, Lies And Videotape’ juga ikut mewarnai atmosfer Refn di bagian-bagian ini. Dan nomor-nomor soundtracknya? Ah, kecuali Anda memang maniak pengoleksi album-album OST atau lagu terkenal yang memang dipakai sebagai soundtrack, lagu-lagu itu pasti akan membuat penontonnya memburu OST-nya selepas film ini berakhir, terlebih end title song ‘A Real Hero’ dari College feat Electric Youth. Lebih dari ‘True Romance’ yang memang di kala itu belum seberani ini menyentuh deskripsi gore, inilah ekstrimisme kekejaman yang jadi begitu spesial dalam romantisasi ‘Drive’, dimana setiap letusan, muncratan darah, remukan kepala dan sobekan tubuh, justru membuat Anda semakin merasakan kedalaman rasanya sebagai sebuah cinta yang harus diperjuangkan sejauh resiko apapun. A very violent romanticism, and over-the-top cinematic experience of this year! (Yang ini dengan catatan tak banyak sensor seperti di bioskop kita) (dan)

About these ads

~ by danieldokter on December 13, 2011.

9 Responses to “DRIVE : A VIOLENT ROMANTICISM”

  1. sungguh aneh melihat banyak kaskuser yg mencap film ini boring. Semoga mereka lekas menemukan jalan yg benar.

  2. :). style si Refn ini memang sangat gak mainstream. tapi disini cuma di bagian2 awal. banyak kok yg bosen/ngantuk di awal bahkan ga ngelanjutin. thing is, mereka mesti tahu dulu ekspektasinya stlh ngelewatin 40 menit itu, tp utk yg bener2 nyimak, kunci buat naikin adrenalinnya justru di awal2 yg emang lambat itu.

  3. ya, ekspektasi mereka terpancing lewat judulnya. Tapi bisa karena faktor LSF. Unsur gore nya mungkin bisa menyeimbangkan ekspektasi kebut-kebutan. Mungkin mereka harus ngintip versi dvd nya (paling nggak versi piracy-nya, biar terbayar). Toh sebenernya ini bukan film Hollywood juga (bakal ditolak mentah-mentah sama cannes bisa-bisa).

  4. :). Refn justru menang best director award di Cannes barusan, lewat film ini .

  5. ulasan yg mantab :thumbup:

  6. […] Drive […]

  7. […] DRIVE […]

  8. […] DRIVE – Lon Bender and Victor Ray Ennis THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO – Ren Klyce HUGO – Philip Stockton and Eugene Gearty TRANSFORMERS : DARK OF THE MOON – Ethan Van der Ryn and Erik Aadahl WAR HORSE – Richard Hymns and Gary Rydstrom […]

  9. Thumbs up. Drive jelas-jelas adalah film favorit gue. Chemistry Gosling-Mulligan is a top notch. True that, justru lewat semua kesadisan film ini, gue ngerasain ‘kehangatan cinta’nya. Thanks for the review :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 7,287 other followers

%d bloggers like this: