MY 2011’S LIST OF 11 BEST MOVIES
MY 2011’S LIST OF 11 BEST MOVIES
Now the year 2011 has reached its end, for a while I thought I’d be putting not 10, but 20 on my list of this year’s best movies. Ada banyak sekali film bagus di tahun ini dibanding tahun sebelumnya. And oh yeah, sebagian dari mereka justru datang dari small productions. Saya jadi teringat bagaimana hebohnya Hollywood dan Academy Awards di tahun 1997 dulu dengan kedigdayaan ‘The English Patient’nya Miramax sebagai perusahaan ber-skup kecil yang bila sekarang tak digandeng perusahaan besar, lebih serba indie dalam skala produksinya. Sekarang, gerilya film-film ini semakin hebat. Sehebat banyaknya perusahaan baru yang muncul dan digandeng perusahaan besar sebagai divisinya, sampai sineas dan bintang-bintang kelas satu pun berlomba untuk masuk ke dalam produksinya demi sebuah pengakuan karir. Dari penghujung tahun lalu, ‘Rabbit Hole’, ‘Blue Valentine’, ‘The Tree Of Life’ sampai ‘Drive’, it’s all about small movie, kalaupun Anda tak mau menyebutnya indie karena toh sebagian sudah tak lagi berstatus itu dengan nama distributor atau perusahaan induknya. Semua tampil dengan kedalaman luarbiasa dibalik kualitas yang rata-rata over the top dan punya paling tidak satu cast dan crewnya yang bakal terlempar ke dalam nominasi Oscar atau piala bergensi lainnya. Yup, semua itu film bagus. Bahkan film-film unik seperti ‘We Need To Talk About Kevin’, ‘Tyrannosaur’ dari Inggris atau ‘Martha Marcy May Marlene’ yang depresif setengah mati dengan bintang yang bukan tergolong penarik penonton pun, kualitasnya tak sekecil skala produksinya.
But let’s admit something here. Perjuangan itu memang sudah melangkah jauh, namun di saat kita bicara film sebagai sebuah produk komersil, selera penonton awam yang jumlahnya tak se-segelintir penonton serius, kritikus atau moviebloggers pun, agaknya masih belum sampai ke sana, termasuk dalam skup dunia sekalipun. As I’m sure, penggemar nonton termasuk para bloggers ini pastinya lebih tahu seluk-beluk segala macam hal filmis sehingga penilaiannya tak lagi terlalu pop, sebuah media mungkin masih lebih berguna jadi patokan buat jumlah penonton mayoritas itu. Misi untuk menggiring selera ke arah sana mungkin tetap perlu, tapi kita masih perlu waktu. Thus, in this year’s list, saya mencoba memilih sesuatu yang lebih berada di tengah-tengah dengan tak terlalu beranjak ke list serba arthouse serta memberi ruang untuk film luar Hollywood yang juga lebih bisa dinikmati kebanyakan orang. Mungkin ada satu-dua produk arthouse yang masih bisa masuk ke dalamnya, but mostly, this is more to bigger reasons on why movies are created, and why we love it then. Dalam tendensi paling mendasar bahwa hobby itu datang dari sebuah kebutuhan akan hiburan. Trust me, arthouse itu luarbiasa bagusnya, but a little smile when you got entertained by something named movies, itu pasti masih berarti. So here’s my list of, not 10 or 20, but 11 best movies of 20’11′, and hope you’ll be enjoying it as well!
Komik Herge yang legendaris. Steven Spielberg. Peter Jackson. Motion capture animation instead of live action demi mempertahankan feel dan atmosfer klasik komiknya, tapi tak lantas kehilangan intensitasnya sebagai sebuah film adventure yang luarbiasa seru. Ini adalah sebuah ekspektasi yang terwujud di atas kolaborasi spektakuler, dengan penghargaan penuh pada kreatornya. Sejuta topan badai!
Violent love story itu sudah biasa. Tapi intensitas dengan simbiosis sempurna antara keduanya, call it like this, semakin keras pukulan, semakin sadis tampilannya, semakin dalam juga lovestory itu Anda rasakan, itu tidak biasa. Apalagi love translation-nya tak perlu banyak dialog dan love scenes, tapi cukup dengan tatapan. While ‘True Romance’ is still consider a classic, film Nicolas Winding Refn ini melangkah lebih ekstrim dengan trend visual sekarang. A top notch soundtrack with oldskool style, Ryan Gosling’s tough guy with no name, transformasi Albert Brooks, dan tentunya, jaket scorpio yang sama kerennya. This is a combination of coolness, gore, and above all, romance beyond words.
Last year’s predicted Oscar winner yang tak hanya bicara tentang sebuah uplifiting true story, but most of all, humanity. That even in silence, a man can find his values of life, and so were the audience. Brilliant performances by its leads.
‘Courage sometimes skips a generation’. A terrifying human story that will leave you breathless holding your tears. This upcoming Oscar contender is the most beautiful movie of this year with the strong performance by Viola Davis, Octavia Spencer & the rising Jessica Chastain over the two beautiful leads.
Film Indonesia dengan kualitas baik hingga sangat baik sejak kebangkitannya mungkin ada banyak. Tapi ini adalah salah satu pencapaian terbaik dalam sejarah sinema kita. Cermat, informatif, penuh protes terhadap ketimpangan ideologi yang mengakar dibalik sebuah kisah kasih tak sampai, dan tak sedikitpun bertendensi main-main dalam sinematografi dan semua aspeknya yang sempurna.
- THE YELLOW SEA (HWANG HAE)
Punya baru 2 film yang langsung mendapatkan atensi lokal sampai internasional, itu spesial. Sutradara Na Hong-Jin tetap menggunakan dua bintang utama dalam ‘The Chaser’, film debutannya itu, hanya kali ini posisinya berbeda. Just like ‘The Chaser’, this is an over-intense thriller drama yang sama-sama akan meninggalkan rasa sesak di dada setiap penontonnya.
- 13 ASSASSINS
Takashi Miike is goryness. Namun 13 Assassins tak sekedar itu. Memberikan intensitas penuh ke gelaran panjang yang hanya diawali 15 menitan inti plotnya diikuti nonstop rumbling action, you’ll be crawling for even more.
- THE TREE OF LIFE
Seperti film-film Terrence Malick lainnya yang dipenuhi nama bintang besar, ‘The Tree Of Life’ tetap tak menjadikan mereka sebagai kompromi. Malick memang seolah berpuisi dalam penyajiannya, seperti sebuah monolog yang kadang diam dan kadang bisa penuh teriakan. Bagai sebuah lukisan indah, memahaminya mungkin susah, tapi di situ sekaligus inti plot tentang kegelisahan dan kehilangan yang dituangkan lewat kegilaan Malick biasanya, tak perduli akan komunikasi pada penontonnya. Haunting, luar biasa cantik dan sama dalamnya, sayangnya, ‘The Tree of Life’ bukan sebuah film yang bisa dinikmati dengan nyaman oleh semua orang.
Dari kecermatan penggarapan serta paparan informatif yang disupervisi langsung oleh CDC, (Centers for Disease Control and Prevention) AS, ‘Contagion’ bisa jadi terlihat sebagai sebuah medical thriller secara sekilas. But look deeper. Ini bukan sekedar thriller virus-virusan ataupun pameran bintang ala Soderbergh, melainkan penelusuran dalam terhadap sebuah rasa takut masing-masing manusia di saat bencana seharusnya tak lebih ditakuti ketimbang sebuah histeria. Atmosfer semidokumenter Soderbergh dengan multikarakter ensemble castnya yang juara semakin menambah intensitas thrilling-nya.
Penyegaran yang sangat berhasil bagi franchise X-Men sekaligus pembuktian bahwa Marvel can easily beats DC in their adaptation’s concepts. Michael Fassbender sebagai Magneto muda. Being Bond of the mutants, ini adalah summer blockbuster terbaik tahun ini.
11. WARRIOR
Might be ‘Rocky’ of this decade dari spirit di subtema sportnya, but mostly, ini adalah sebuah human or family drama dengan cast yang juara di semua penerjemahan karakternya terutama Nick Nolte dan Tom Hardy yang tampil dengan sempurna. Dibalik otot penuh tampilan steroid dan temperamen over-masculine, we can feel love as well. This heartpunchin’ knockouts is simply going to blow your heart away!























dari awal tahun pengen banget liat 13 Assassins!
[...] (Dan at the Movies) [...]
Rangkuman “Top Ten List” Dari Para Blogger: “The Tree of Life” dan “A Separation” Memimpin « Awya Ngobrol® said this on January 20, 2012 at 11:17 am |