REPUBLIK TWITTER : RETWEET!

REPUBLIK TWITTER

Sutradara : Kuntz Agus

Produksi : Amalina Pictures, RupaKata Cinema, 2012

Gadget dan jejaring sosial. Facebook? Kita sudah punya ‘I Know What You Did On Facebook’. Lumayan. Blackberry? Ada ‘My Blackberry Girlfriend’. Agak parah. And now comes twitter. ‘Republik Twitter’ yang jauh-jauh hari sudah memulai viral marketingnya lewat jejaring sosial sesuai judulnya, sedikit beda. Ketimbang bermain-main dengan plot, penggagasnya memilih menyajikan sebuah human drama penuh sentilan sosial sampai politik yang membalut sebuah tema paling universal. Cinta. Itu juga yang mungkin membuat sentilan-sentilannya terasa kena ketimbang hanya menggunakan simbol jejaring sosial sebagai ajang selingkuh-selingkuh. Betapa sebuah intrik politik memang banyak bertabur disini. Mau menghina pemerintah dan pejabat sampai character killing terhadap sosok mereka yang kurang disuka? Kalau dulu sulit, sekarang mudah. Adu pendapat? Dari baik-baik sampai ribut-ribut pun ada.  Orang-orang besar itu pun dengan mudahnya berinteraksi tanpa harus takut ini-itu. Mau didengar lebih banyak? Termasuk jualan atau promosi? Gampang. Retweet, and the whole world will hear you, apalagi kalau sampai jadi trending topics. So yes, mau masih ada yang betah ber-facebook ria, burung biru ini sudah muncul sebagai fenomena sosial baru. Dan ini bukanlah sebuah dokumenter. Dari luar, ia mungkin terlihat hanya sebagai kisah cinta cupu untuk membangun komedi satir. Atau sekedar drama sosial atau politik dengan gambaran cukup informatif. But look deeper. Plot yang dibesut oleh E.S. Ito itu sudah efektif memaparkan semua cerminan sosial penggunaan jejaring sosial yang satu ini. Dari kopdar, permainan media sampai politik kotor. Lengkap pula dengan galau-galau generasi tertentu yang jadi satu lagi sisi menariknya. And luckily, mereka mendapatkan kasting cukup solid yang interaksinya penuh dengan akting dan chemistry erat satu dengan yang lain. Like tweeting dimana Anda memakai jempol, ini layak dapat jempol.

Sukmo (Abimana Arya, credited as Abimana Aryasatya), internet geek dari Jogja dengan username twitter @lorosukmo, seketika ingin bertolak ke Jakarta ketika gadis dambaannya, Hanum (Laura Basuki), jurnalis di media Linimasa menantangnya di timeline. Demi sebuah komitmen, ia memaksa ikut dengan sahabatnya, Andre (Ben Kasfayani) yang punya keluarga dan pacar SMU-nya, Nadya (Enzy Storia) di Jakarta. Namun ia kecewa saat tahu Hanum berada jauh di atas harapannya. Keahlian Sukmo kemudian membawanya pada Belo (Edi Oglek), orang Batak pemilik warnet yang menjalankan bisnis pencitraan politik lewat jejaring sosial bersama karyawan-karyawannya, digawangi oleh oportunis Kemal Pambudi (Tio Pakusadewo). Proyek untuk membidik Arif Cahyadi (Leroy Osmani) jadi gubernur DKI atas siasat Kemal ini membuat Sukma mulai percaya diri untuk kembali mengejar impiannya dengan Hanum, apalagi Hanum tengah berusaha keras membuktikan eksistensinya sebagai pemburu berita di dunia jurnalisme. Namun Sukmo tak menyangka, pengorbanan dan usahanya justru bisa merembet menghancurkan orang-orang di sekitarnya.

140 karakter bisa memicu seribu masalah. Premis simpel namun pengembangannya bisa menyentuh banyak problem sosial di seputar fenomenanya. Skenario E.S. Ito yang dipenuhi dialog-dialog menarik tapi sentil sana sentil sini itu terlihat sukses divisualisasikan oleh sutradara Kuntz Agus. Karakterisasinya menarik, dan para pendukungnya menerjemahkan semuanya sama bagusnya. Abimana yang sudah bermetamorfosis dari awal karirnya sejak ‘Catatan Harian Si Boy’ tempo hari, kelihatan makin sakti dengan dialog-dialog yang terlihat bersinergi penuh dengan kewajaran aktingnya. Laura Basuki lagi-lagi menunjukkan kualitasnya sebagai cinematic sweetheart yang mampu menyita perhatian penuh penontonnya tanpa harus berekspresi over. Pemeran pendukungnya, Ben Kasfayani, serta aktor senior Tio Pakusadewo dan Leroy Osmani juga cukup bagus, namun yang tampil dengan kualitas scenestealer adalah Enzy Storia sebagai siswi SMU ababil dan Edi Oglek yang overkomikal but still, funny at times. Chemistry mereka satu sama lain benar-benar terbangun secara mempesona. Pemilihan soundtracknya yang kian sering menghiasi radio-radio kita juga cukup mendukung naik turun konfliknya. Just like twitter itself, kisah yang digelar E.S. Ito tak hanya menyentil jejaring sosial dan dunia maya serta manusia-manusianya, namun sampai ke media cetak dan visual yang ikut membangun komedi-komedi yang terjadi dalam kehidupan bangsa ini sehari-hari. Sepintar usaha penggunanya yang hampir selalu mencoba jadi pintar menuangkan kata namun tak jarang juga jadi kelihatan naif luarbiasa. In the end, apa yang tertuang ke 140 karakter itu memang tak selalu jadi gambaran nyata dan memenangkan mimpi orang-orangnya. Heart is all that matters, dan film ini sudah menunjukkan fenomenanya dengan bagus. A satirical human drama with over-fascinating dialogues and chemistry between characters. Retweet! (dan)

About these ads

~ by danieldokter on February 16, 2012.

4 Responses to “REPUBLIK TWITTER : RETWEET!”

  1. wah, baca kalimat penutupnya, ini reviewnya bagus sekali, kayak waktu review ummi aminah, juga dipuji2. mau ikutan nonton ah, pasti yg nonton film ini sama kayak ummi aminah, bisa jutaan orang.

  2. :)

  3. Hahaha… lucu juga username si tokoh Sukmo “lorosukmo” yang kalau diartikan ke Bahasa Indonesia adalah “sakit jiwa”. Film ini sepertinya bagus…

  4. [...] Republik Twitter [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,820 other followers

%d bloggers like this: