THE WOMAN IN BLACK : THE RESURRECTION OF HAMMER HORROR

THE WOMAN IN BLACK

Sutradara : James Watkins

Produksi : Hammer Film Productions, Alliance Films, Momentum Pictures & CBS Films, 2012

Sebagai adaptasi novel berjudul sama karya Susan Hill (1983), ‘The Woman In Black’ memang dianggap sebagai gothic horror klasik Inggris. Bukan hanya sudah beberapa kali diangkat ke teater, versi televisinya di tahun 1989 dengan sutradara Herbert Wise juga mendapat nominasi BAFTA di beberapa kategori teknis. Namun ada yang lebih penting dari predikat klasik itu, bahkan bukan juga nama Daniel Radcliffe yang jadi dayatarik jualannya selepas franchise ‘Harry Potter’ berakhir. Bahwa film ini merupakan jadi penanda kembalinya ‘Hammer Film Productions’, once a very success movie company di Inggris yang dulunya, dari era ‘50an-‘70an terkenal sebagai pionir film-film horor Inggris (meski juga berkutat di beberapa thriller, sci-fi, film noir hingga parodi) yang terkenal dengan sebutan ‘Hammer Horror’ termasuk franchise ‘Dracula‘, ‘Frankenstein‘ hingga ‘The Mummy‘ jauh setelah era ‘Universal Horror’ ke akarnya. Gothic Horror. Oh ya, Hammer memang sudah dibangkitkan dari tidur panjang mereka oleh para eksekutif barunya di tahun 2007 lewat beberapa film termasuk thriller ‘The Resident’ dan ikut memproduksi ‘Let Me In’ bersama Hollywood, namun nafas klasik itu benar-benar baru terasa disini. Untuk genrenya sendiri, gothic horror memang sedikit berbeda dengan banyak horor modern sekarang. Sentuhan serba klasik dari set rumah-rumah kuno hingga kostumnya, bagi banyak fansnya, punya banyak sisi yang dianggap jauh lebih menakutkan.

Setelah sebuah tragedi yang mengakibatkan tiga gadis kecil tewas bunuh diri secara mengenaskan di awal 1900an di Inggris, Arthur Kipps (Daniel Radcliffe), duda dengan seorang putra berusia 4 tahun, Joseph (Misha Handley) yang merupakan pengacara perdata ditugaskan menyelesaikan kasus kepemilikan sebuah rumahtua di perbukitan terisolasi bernama ‘Eel Marsh House’ dari mendiang bangsawati Alice Drablow yang dulunya tinggal disana bersama suami, anak serta adiknya, Jennet Humfrye (Liz White). Kipps sendiri masih dirundung kesedihan mendalam atas meninggalnya sang istri saat melahirkan Joseph dan terbelit masalah finansial. Kedatangannya ke daerah itu disambut sinis oleh penduduk lokal disana, kecuali seorang tuan tanah kaya, Sam Daily (Ciarán Hinds) bersama istrinya, Elizabeth (Janet McTeer) yang juga menyimpan trauma atas kehilangan putra mereka. Kipps mulai menemukan kejadian-kejadian aneh di ‘Eel Marsh House’ berikut di lingkungan sekitarnya, bersama sebuah legenda kutukan ‘The Woman In Black’ yang mengambil korban anak-anak dalam pembalasan dendam arwahnya. Tanpa mengindahkan pengusirannya dari warga lokal, Kipps pun terus menyelidiki kejadian ini hingga akhirnya menyadari bahwa Joseph bakal jadi korban berikut dari kutukan itu.

Dalam koridor gothic horror, sutradara James Watkins yang sebelumnya banyak ikut menulis skenario horor Inggris dan menyutradarai ‘Eden Lake’ yang mendapat sambutan gede di kalangan penggemar film-film slasher, sudah bekerja dengan sangat baik. Atmosfer eerie dan haunting yang turut dibangun oleh set, desain produksi tradisional Inggris dan sinematografi Tim Maurice-Jones yang sama menakutkan itu sudah dimulai sejak opening scene-nya meski style Eropa-nya di bagian awal sedikit terasa agak lamban. Namun semakin menuju pembukaan twist-twistnya ke bagian klimaks, pemunculan hantu dan adegan seram yang mengejutkan penontonnya itu digelar Watkins dengan efektif dan intensitas yang makin meningkat, plus skor garapan Marco Beltrami yang menghandlenya dengan sama menyeramkan.

Sayangnya, usaha penulis skenario Jane Goldman, yang sudah bekerja dengan baik di ‘Kick-Ass’ dan ‘X-Men:First Class’, untuk sedikit lebih memfokuskan latar karakter Kipps yang stressful ketimbang mantan penghuni ‘Eel Marsh House’ itu justru membuat Daniel Radcliffe, yang entah dengan sengaja atau tidak di-cast menjadi Arthur Kipps karena film teve produksi 1989 dulu diperankan oleh pemeran James Potter di franchise ‘Harry Potter’, Adrian Rawlins, makin kepayahan melepas imej Harry Potter-nya. Tak hanya unsur pemaksaan umur yang makin membuat karakter Kipps sebagai duda dewasa sedikit timpang dengan wajah babyface-nya walaupun sudah dipoles dengan bekas cukuran kumis dan jenggot yang jelas terlihat, gestur mellow Potter terasa tak bisa hilang dari penampilan Radcliffe disini. But however, itu tentunya bukan faktor kelewat penting untuk bisa menikmati ‘The Woman In Black’ dalam usahanya menakut-nakuti penggemar horor terlebih genre gothic ini. Apalagi kesuksesannya pasti bakal membuat Hammer akan semakin tertarik memproduksi film-film sejenis yang membawa kembali nafas klasik produksi-produksi mereka. So yes. If you’re into gothic horror, mostly classic ones, ini cukup menggedor jantung. (dan)

About these ads

~ by danieldokter on March 19, 2012.

One Response to “THE WOMAN IN BLACK : THE RESURRECTION OF HAMMER HORROR”

  1. [...] The Woman In Black [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,307 other followers

%d bloggers like this: