THE HUNGER GAMES : BATTLE ROYALE WITH MORE HEARTS

THE HUNGER GAMES

Sutradara : Gary Ross

Produksi : Lionsgate & Color Force, 2012

Only God knows if Suzanne Collins, penulis novel ‘The Hunger Games’ (2008) terinspirasi ‘Battle Royale’ atau tidak. Di luar banyaknya pujian atas novel yang sudah berkembang menjadi trilogi bersama fanbase yang hampir sebesar ‘Twilight’ atau ‘Harry Potter’, premisnya memang mirip dengan novel ‘Battle Royale (Bataru Rowaiaru)’ karya Koushun Takami yang hadir duluan di tahun 1999, bahkan sudah diadaptasi ke layar lebar setahun berikutnya oleh sutradara Kinji Fukasaku. But let’s look back. ‘Battle Royale’ juga mungkin tak seluas itu dikenal oleh pemirsa-pemirsa Amerika, dan pengakuan Collins bahwa ‘The Hunger Games’ terinspirasi oleh beberapa reality show termasuk ‘Badlands’ yang juga senada, berikut mitologi Yunani tentang Theseus serta Perang Irak juga agaknya bisa jadi pembenaran dari latar belakang novelnya. However, jauh sebelum ‘Battle Royale’, film-film Hollywood yang berpremis mirip, tentang survival dari gladiator ala arena modern, juga sudah banyak. Salah satunya, ‘The Running Man’-nya Arnold Schwarzenegger. Jadi mari tak meributkan itu. Toh di luar beberapa bagian yang mirip, seperti hutan yang jadi latar pertarungan karakter-karakternya, ‘The Hunger Games’ tak digagas oleh background politik se-kritis ‘Battle Royale’ yang mirip sebuah protes sosial. Seperti banyak fantasi-fantasi dunia barat, ini cenderung dilandasi setting futuristik ala sci-fi, lengkap dengan ‘universe’nya sendiri, yang jauh lebih rumit dari ‘Battle Royale’. Lagipula, Collins meramunya lagi dengan style young adults yang menambah atmosfer romansa dalam novelnya.

Proses adaptasi yang sudah dimulai sejak awal 2011 itu jelas sangat dinanti oleh para penggemarnya. Yang pertama tentu soal cast. Dari lebih 30 artis yang menjadi kandidat, seperti Emma Roberts, Saoirse Ronan, Hailee Steinfeld, Chloe Moretz hingga Shailene Woodley-nya ‘The Descendants’, peran karakter utamanya, Katniss Everdeen akhirnya jatuh ke Jennifer Lawrence, yang meski berusia 4 tahun lebih tua dari karakter novelnya, namun didukung penuh oleh Collins sendiri yang ikut serta di kursi produser dan penulis skenario. Kedua, adalah hal klise dalam adaptasi novel ke layar lebar. Menerjemahkan universe rumit dengan detil-detil novelnya ke dalam film berdurasi terbatas tentu bukan soal gampang. Perbandingan itu pasti muncul terutama dari fans novelnya yang seringkali merasa tak puas saat bagian yang mereka rasa penting tak muncul ke dalam film. Namun sutradara Gary Ross, the man behind ‘Big’ (penulis) serta ‘Pleasantville’ dan ‘Seabiscuit’ (sutradara) bersama Collins dan Billy Ray memang lebih memilih jalur aman dalam mengadaptasinya jadi sebuah tontonan pop berikut rating yang lebih dialamatkan pada pemirsa belia seperti pembaca novelnya. So yes, akan sangat tak adil untuk membandingkannya dengan tingkat intensitas dan kesadisan ‘Battle Royale’, meski sulit dipungkiri, persepsi itu akan dengan mudah muncul dalam banyak resepsinya.

Sometimes in the future, kawasan Amerika Utara yang sudah terpecah-belah oleh pemberontakan kini berdiri sebagai negara Panem, yang dipimpin oleh tirani Capitol dengan presidennya Coriolanus Snow (Donald Sutherland). Diawasi oleh tangan kanannya, Seneca Crane (Wes Bentley), penghukuman atas pemberontakan rakyat yang kini terbagi menjadi 13 distrik dimana distrik ke-13 telah punah dan distrik ke-12 merupakan kawasan pertambangan yang paling miskin namun diperbudak untuk menunjang seluruh kehidupan, digagas di sebuah arena gladiator bernama ‘Hunger Games’ disaksikan oleh puluhan ribu penduduknya. Kontestannya (tributes) diundi melalui proses yang mereka namakan ‘reaping’, berupa pasangan anakmuda berusia 12-18 tahun dari tiap-tiap distrik yang diseleksi lagi untuk bertarung sampai mati, hingga hanya ada satu yang tersisa untuk menerima hadiah berupa status, penghargaan hingga suplai makanan yang membuat mereka bisa hidup layak sebagai rakyat Panem. Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dari distrik 12, gadis 16 tahun tangguh yang memiliki ketrampilan berburu dan memanah bersama sahabat sejak kecilnya, Gale (Liam Hemsworth), masuk menggantikan adik kecilnya, Prim (Willow Shields)  sementara tribute satu distriknya, Peeta Mellark (Josh Hutcherson), ternyata diam-diam mencintai Katniss sejak kecil. Dipersiapkan oleh stylist Cinna (Lenny Kravitz), escort distrik 12, Effie Trinket (Elizabeth Banks) serta Haymitch Abernathy (Woody Harrelson), mantan pemenang (victor) dari distrik 12, mereka pun digembleng untuk bertarung dengan 22 tributes lainnya, termasuk Cato (Alexander Ludwig), tribute paling ambisius dari distrik 2 di penyelenggaraan ke-74 Hunger Games. Popularitas Katniss yang melonjak cepat belakangan dipolitisir Capitol atas cinta terpendam Peeta, termasuk bagi Haymitch yang ikut memanipulasinya jadi faktor penting untuk membantu perjuangan mereka lewat para sponsor dari pihak penonton. Namun ini sekaligus mengganggu hubungan Katniss dengan Gale yang juga sama-sama mengharapkan hatinya.

Universe novel ‘The Hunger Games’ yang punya segudang detil karakterisasi hingga istilah-istilah khusus mau tak mau membuat penonton yang belum akrab dengan novelnya harus memberikan perhatian ekstra untuk dapat mengikuti satu jam pertama adaptasi yang sebenarnya sudah cukup baik digagas Ross, Collins dan Billy Ray dari skenarionya, sementara sebagian fans dan pembacanya masih merasa ada beberapa informasi tertinggal serta penerjemahan yang tak benar-benar sesuai dengan visi mereka. Bagi penonton lain, bagian paling menarik adalah ‘Hunger Games’-nya sendiri di sisa durasi satu jam lebih itu, namun salahnya banyak ekspektasi yang mengarah pada intensitas serba gore ala ‘Battle Royale’. Bagaimanapun, eksistensinya sebagai konsumsi yang lebih ke pemirsa belia membuat Ross tetap menjaga atmosfer young adults itu, dengan mengalihkan daya tarik utama pertarungan ala gladiator modern-nya bukan ke arah sadis-sadisan tapi lebih menonjolkan beberapa sisi dramatisnya. Untuk menggelar intensitas adegan seru dibalik kompetisi mematikan itu, Ross lebih memilih visual lewat teknik sinematografi shaky cam/handheld camera yang sebenarnya jadi companion yang tepat ketimbang teknik konvensional atau malah slo-mo serba modern, namun di satu sisi ini justru jadi resiko complain lebih besar dari pemirsanya.

As to me, ‘Hunger Games’ sudah hadir dengan cukup proporsional sebagai bagian pertama dari triloginya, termasuk ke penonton yang belum akrab dengan novelnya. Satu jam pertama pengenalan hingga sampai ke highlightnya dalam batasan-batasan yang sesuai bagi sebuah produk adaptasi young adults novel aslinya. Introduksi karakter-karakternya dibawakan pendukungnya dengan menarik, dari Woody Harrelson, Wes Bentley hingga Stanley Tucci sebagai MC nyeleneh Caesar Flickerman secara komikal, dan terutama Jennifer Lawrence yang menghandle leading heroine part-nya dengan penuh pesona. Kecantikan alaminya tak harus hilang kala ia harus masuk ke karakter Katniss yang di satu sisi menunjukkan kerapuhan dibalik kepolosan seusianya namun bisa berubah cepat saat ancaman-ancaman itu menuntutnya bertindak tanpa hati. Josh Hutcherson dan Liam Hemsworth yang masih mendapat porsi lebih sedikit mungkin belum lagi bisa menggelar chemistry-nya ke plot cinta segitiga antara Peeta-Katniss dan Gale sekuat franchise ‘Twilight‘ sejak film pertamanya, but then again, kita semua pasti tak mau melankolisme itu jadi jauh mengubur bagian aksinya, dan after all, ini masih bagian pertama dari triloginya. Klimaksnya juga masih terasa terlalu melompat namun shaky cam yang digunakan Ross sudah mengalihkan intensitas seru-seruan di tengah sempalan isu politis dan informasi universe-nya dengan baik tanpa harus mengumbar kesadisan. Terakhir, yang patut mendapat kredit adalah skor James Newton Howard dan themesong ‘Safe And Sound‘ dari Taylor Swift & The Civil Wars. Yup, ini memang seperti ‘Battle Royale’, tapi dalam konteks dan detil-detil yang jauh berbeda. This has more tales and more hearts. Sebuah kombinasi baru yang bagus, dan sebagai awal franchise yang menjanjikan seperti kesuksesan novelnya, kekuatannya sudah jelas terlihat. (dan)

About these ads

~ by danieldokter on March 23, 2012.

One Response to “THE HUNGER GAMES : BATTLE ROYALE WITH MORE HEARTS”

  1. [...] The Hunger Games [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 7,031 other followers

%d bloggers like this: