THE RAID (SERBUAN MAUT) : AIN’T THAT A KICK IN THE ASS?

THE RAID (SERBUAN MAUT)

Sutradara : Gareth Evans

Produksi :  Merantau Films, XYZ Films, 2011

Indonesia belum pernah seperti ini. Punya film yang sejak pembuatannya sudah banyak dibicarakan, dan janji itu bukan omong kosong. Premiere perdananya di kategori prestisius Toronto International Film Festival (TIFF), ‘Midnight Madness’ sudah diganjar banyak pujian  kritikus internasional dan membuahkan ‘The Cadillac People’s Choice Award’ disana. Prestasi ini berlanjut lagi ke Dublin Film Festival dimana ‘The Raid’ memenangkan kategori Best Film di kategori Audience Award dan Critics Award, Frightfest, Glassgow dengan standing ovation, hingga kategori ‘spotlight‘ di Sundance Film Festival, bahkan sebelumnya, early footage-nya sudah menimbulkan buzz gede di Cannes Film Festival yang membuat hak distribusinya untuk Amerika dibeli oleh Sony Pictures Worldwide Acquistions dengan judul ‘The Raid : Redemption’ dan sejumlah distributor lain untuk peredaran serentaknya di tanggal 22-23 Maret 2012 mulai dari Australia, New Zealand, serta menyusul Perancis, Rusia, dan Inggris serta sederet lainnya nanti. Sony juga meminta Mike Shinoda dari Linkin Park bersama Joseph Trapanese mengerjakan komposisi skor baru untuk peredaran AS selain merencanakan remake Hollywood-nya di bawah bendera Screen Gems. Masih belum cukup? Beragam komentar penuh pujian dari kritikus dunia sudah membuatnya bertengger di list 50 Top Action Movies of All Time versi IMDB di peringkat ke-30. But above all, ‘The Raid’ sudah semakin memperkenalkan budaya seni beladiri pencak silat ke mata dunia. So yes, Indonesia, belum pernah seperti ini. Belum pernah seperti ini.

Dan adalah seorang Gareth Evans yang berdiri di belakang semuanya. Sutradara asal Wales, Inggris, yang sebelumnya sudah membawa genre martial arts action Indonesia ke wilayah baru lewat ‘Merantau’ (2009), kini kembali dengan sebagian besar tim yang sama. Ketertarikannya ke film-film action Asia era 80-90an sudah membuat Gareth menemukan bakat-bakat luarbiasa ini dari kiprah awalnya di perfilman kita, sebuah dokumenter berjudul ‘Mystic Arts of Indonesia : Pencak Silat’. Kesuksesan sekaligus kritik-kritik yang muncul dari animo penonton lewat ‘Merantau’ sudah membuatnya menggagas formula baru seolah sebuah redemption. Meminimalisir porsi drama dan makin menggali potensi bakat tarung para aktornya. Hasilnya, walau sempat tertunda dua bulan dari jadwal edar luas awalnya terkait akuisisi Sony, adalah penantian penuh ekspektasi yang kini terbayar sudah. Sebuah pengalaman yang belum pernah kita dapatkan dari film Indonesia manapun di ranah martial arts action, lengkap pula dengan pameran senjata yang menggelegar dengan eksplosifitas maksimum. A real treat for action lovers, melibas semua inovasi yang pernah ada. Yup, ini luarbiasa.

Atas tendensi terhadap formula itu, premisnya pun simpel. Sebuah tim polisi elit ala SWAT yang dikepalai Sersan Jaka (Joe Taslim) memulai misi mereka menyatroni gedung apartemen tua yang merupakan markas gembong narkoba milik Tama (Ray Sahetapy) bersama dua tangan kanannya, Mad Dog (Yayan Ruhian) dan Andi (Donny Alamsyah) serta algojo-algojonya. Bergabung dengan Letnan Wahyu (Pierre Gruno), polisi-polisi ini kemudian terjebak dalam mimpi buruk yang tak pernah terbayangkan. Apartemen yang tak pernah bisa tersentuh sebelumnya, dilindungi penduduk setempat dan sekaligus jadi safehouse para pesakitan dalam berbagai rupa itu  menjadi perangkap begitu Tama mengetahui penyerbuan mereka. Darah mulai bercucuran, nyawa mulai melayang satu demi satu, dan disana, Rama (Iko Uwais), salah seorang anggota tim elit itu harus bertahan hidup demi menuntaskan takdirnya di tengah desingan peluru, sabetan senjata tajam dan pukulan-pukulan maut sekaligus sebuah rencana pengkhianatan.

Oh yeah. You already can imagine Gareth’s show of action dari premis itu. Minimnya plot serta dialog-dialog yang sekilas hanya muncul sebagai penghias tak penting tak lantas membuat ‘The Raid’ kehilangan kedalamannya sebagai sebuah pameran aksi yang digagas dengan pendakian intensitas mirip level fighting videogame yang mantap menuju sebuah puncak dimana adrenalin Anda akan meledak sejadi-jadinya. Ingat, sebagai sebuah pameran aksi, bukan yang lain. Seperti seorang Roger Ebert yang jadi terlihat beda sendiri melibasnya dari kacamata pendalaman plot, trust me, you’re gonna miss the moment bila menikmatinya dengan pengharapan yang salah. ‘The Raid’ bukannya tak punya kedalaman. Namun Gareth memang tak sedang mendramatisir plot simpel berikut sepenggal twist yang diselipkannya sebagai pemanis, tapi membiarkan dramatisasinya berjalan sendiri lewat menu utamanya. Sebuah adrenaline action dengan penggarapan cermat yang terhandle nyaris sempurna dan hampir tak membiarkan satupun detil sampai ke jurus-jurus pencak silat dari Yayan dan Iko terlihat main-main. And we need no more depth, if it’s already kick-ass.

Lewat tampilan wajah-wajah cemas setengah mati, tetesan peluh, postur menyeramkan, hingga adegan-adegan pertarungan full body contact, tembak-menembak, ledakan keras hingga sobekan-sobekan daging yang tergambar jelas, berikut ultimate scoring versi Indonesia besutan Fajar Yuskemal dan Aria Prayogi, we already have its dramatization di tengah nonstop action yang menggedor jantung makin keras menuju klimaksnya. Bahkan beberapa artikulasi yang dibiarkan tak jelas pun jadi semakin mengesankan realitasnya yang mengerikan, sekaligus membuat pendalaman akting para pendukungnya sampai ke figuran-figuran juga kelihatan jauh diatas kelas film aksi biasa yang hanya mengandalkan bak-bik-buk di sana-sini. Oh ya, bagaimana cara jatuh saat Anda tertembak, tertusuk ataupun dihajar habis-habisan hingga bisa terlihat realistis, itu juga akting, yang jarang-jarang bisa tergelar dengan baik di kebanyakan film kita. Dan Iko, Yayan, Donny, Joe, Pierre Gruno, Ray Sahetapy serta Alfridus Godfred yang mantan atlit tarung drajat pemenang medali emas PON 2004 sebagai algojo Ambon menyeramkan itu sudah membangun highlightnya masing-masing. Bloody intense.

Di lain sisi, ‘The Raid’ juga jadi redemption tersendiri untuk Gareth. Sejumlah letdown dari ‘Merantau’ pun terbayar dengan tuntas disini, bila Anda merasa belum puas dengan adegan pertarungan dalam lift antara Iko dan Yayan disana, Donny Alamsyah yang tak dibiarkan beraksi dalam adegan baku hantam, durasi aksi yang terasa masih kurang panjang atau harapan ke sekuel yang juga kandas. Ok, saya tak akan lagi memanjang-manjangkan pujian ini. Satu yang jelas, sebagai sebuah groundbreaking show of action, ‘The Raid’ jauh lebih dari sekedar pulse-pounding atau heart-wrenching. This is like a shock. One nonstop, crazy, shocking, action ride that will leave you breathless, whoppin’ long whoaaa or even give standing applauses. Bila Gareth Evans bisa, kenapa yang lain tidak? Now ain’t that a kick in the ass? (dan)

About these ads

~ by danieldokter on March 23, 2012.

10 Responses to “THE RAID (SERBUAN MAUT) : AIN’T THAT A KICK IN THE ASS?”

  1. memenuhi ekspektasi penggila film laga..breakthrough action-flick kita lewat sinematografi dan act koreografinya.mudah2an bisa best movie di FFI.tapi ga yakin..

  2. Sekarang saya tahu kenapa film ini begitu menuai banyak pujian di luar! Omagah, bela2in nntn hari pertama jam pertama gak sia2. Suka bgt shoot kameranya beauuutiful!! Emang definisi film bagus itu cuma sesederhana : you just can’t stop thinking and talking about it. :)

  3. gua jalan ke block m square sabtu kmaren lalu mampir ke 21 lihat itu poster the raid saat beli ticket agak ragu ini film bagus nggak ya dan setelah detik menit pertama hinggah the end saya tegang berkeringat dan kata saya kepada istri saya Ma BELUM PERNAH SAYA NONTON FILM ACTION SEBAGUS INI !!!!! BRAVO LIMA JEMPOL

  4. Yup. Sederhana aja. This brought us back to the most classic rules of movie-genres. simpel sesuai genrenya tanpa harus muluk2 lari ke premis bolak balik dan susah payah kaya benang kusut. like a comedy, disebut komedi krn harusnya lucu, like a thriller, disebut thriller krn harusnya thrilling, dan action, disebut action artinya harus penuh aksi. SERU!!

  5. The best Indonesian action film evaaaaaaaaah

  6. [...] THE RAID : REDEMPTION [...]

  7. [...] THE RAID (SERBUAN MAUT) [...]

  8. [...] The Raid : Redemption [...]

  9. film aksi dengan simply story dan minim dialog kayak begini justru membantu film ini masuk ke pasaran internasional . karena orang luar sana kurang suka nonton yang bersubtitle palagi orang US dan UK . nah dengan minim dialog begini mereka bisa memaklumi untuk menonton film berbahasa asing bagi mereka .
    saya pernah baca mini-review dari orang luar trus ada yang komen begini :

    ” films like this make me despair about the
    numerous people i know who won’t watch
    anything subtitled – this film deserves to be
    seen by as many people as possible ”

    trus ada juga yang komen kurang lebih bunyinya kyk gini :
    ” kalian tidak perlu khawatir film ini dialognya bahasa asing dan tidak dimengerti , karena sebagian besar dialognya berbunyi aarrrghhh
    arrggghhhh ,dan itu adalah suara internasional orang kesakitan ”

    trus ada lagi yang bilang begini :
    ” sangat sulit menonton film ini kalo kita hanya duduk dan menonton , aku bahkan tidak mengerti yang mereka ucapkan dan aku juga tidak membaca subtitlenya . tapi aku merasa berada di dalam film tsb. sesekali aku geram dan berdiri . bahkan bukan hanya aku yang seperti itu ”

    ada juga yang komen begini :
    ” bagi kita pecinta film aksi thriller ,ini adalah mimpi kita yang terwujud , kita tidak perlu menyaksikan banyak dialog basa basi ”

    trus ada komen lagi kurang lebih begini
    ” aku tidak bisa bayangkan , Hollywood Remake PG-13 The Raid . dengan aktor misalnya Liam Hemsworth , dengan kwalitas gambar dan storyline yang lebih bagus . itu bahkan tidak akan bisa menandingi The Raid : Redemption”

    dan banyak lagi mini-review dari orang luar yang menyampingkan storyline nya.

    dan buat saya ini film ratingnya 11/10 .haha angka sepuluh aja lewat . pokoknya legend !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,307 other followers

%d bloggers like this: