WRATH OF THE TITANS : A PAYOFF TO ITS BAD PREDECESSOR

WRATH OF THE TITANS

Sutradara : Jonathan Liebesman

Produksi : Legendary Pictures & Warner Bros, 2012

Clash Of The Titans’ (2010) yang merupakan remake dari film berjudul sama karya pionir stop-motion effect, Ray Harryhausen di tahun 1981 yang sudah berkembang dengan atribut cult classic sekaligus punya fanbase, apapun ceritanya, adalah sebuah remake yang benar-benar mengecewakan. Ok, untuk sebuah blockbuster yang memenuhi ambisi Warner Bros dengan barisan bintang-bintang besar sekaligus nama Sam Worthington yang tengah dalam tanjakan jalur cepat di tahun itu, efek spesial dan adegan aksinya mungkin cukup memenuhi syarat, namun selebihnya adalah nol besar. Tak hanya mengecewakan fansnya atas rombakan mitologi asli yang terkesan seenaknya, menjadikan legenda para dewa itu tak lebih sekedar tempelan dan menggambarkan Zeus tak lebih dari seorang psikopat seksual, nama-nama besar diantaranya Liam Neeson, Ralph Fiennes, juga hanya dijadikan sebagai pajangan tak penting. Termasuk mereduksi tampilnya salah satu karakter memorable, burung hantu mekanik Bubo cuma seolah cameo.

Dosa lain yang paling parah dari duo penulis skenarionya, Phil Hay dan Matt Manfredi dalam penyempurnaan draft awal Travis Beacham yang juga belum punya nama besar di Hollywood, adalah menggeser kedudukan karakter Andromeda yang sudah melekat dengan karakter utamanya, Perseus, dengan love-interest baru, Io, yang diperankan Gemma Arterton, dalam sebuah twist lovestory yang sangat dipaksakan, mengingat Andromeda tetap ditampilkan sebagai motivasi utama perjuangan Perseus. Terakhir adalah keputusan Warner untuk mengikuti trend 3D yang baru marak dengan konversi yang juga kelewat dipaksakan karena keseluruhan film itu pada awalnya memang tak dimaksudkan untuk dirilis dalam format 3D. Tak hanya dihujat banyak kritikus serta penonton, effort tak berguna ini juga membuat orang memandang rendah pada banyak teknologi 3D konversi setelahnya.

Namun bagaimanapun juga, hype dari promosinya sudah berjasa menghasilkan worldwide box office hingga hampir 500 juta dollar AS. Jadi, tak ada alasan untuk tak melanjutkannya ke sebuah sekuel, dan mereka agaknya belajar banyak dari kegagalan kualitas itu. Dan Mazeau dan David Leslie Johnson dari ‘Red Riding Hood’ (2011) dan season 2 ‘The Walking Dead’ kemudian masuk menjadi penulis skenario yang bertugas membereskan sisi mitologinya ke arah yang lebih benar, dan sutradara Jonathan Liebesman dari ‘Battle: Los Angeles’ sudah merancang perbaikan dari gimmick 3D-nya. As Liebesman said, bahwa tak ada yang salah sebenarnya dengan teknologi 3D konversi sejauh proses syuting dan editingnya memang benar-benar digagas kesana. Sejumlah pemerannya pun dirombak total, dengan porsi lebih maksimal ke Neeson dan Fiennes yang bersedia tampil kembali. Dan oh ya, ini tak sama dengan sekuel animasi 2010 berjudul sama yang digagas sebagai sekuel lepas ke versi 1981-nya yang hanya aji mumpung mencuri momen. So they promised us a better excitement. A payoff to those sins. Will it work?

10 tahun setelah Perseus (Sam Worthington) mengalahkan Kraken dan menyelamatkan Andromeda, ia tetap tak sudi mengambil posisinya di kerajaan para dewa, Mount Olympus, biarpun sudah ditawarkan oleh Zeus (Liam Neeson) sepeninggal Io yang telah memberinya seorang anak bernama Helius (John Bell) yang dijauhkannya dari status separuh dewa. Zeus ternyata tak main-main dengan tawaran itu. Ia tahu bahwa zaman para dewa akan segera berakhir karena manusia tak lagi mau menyembah para dewa, dan itu artinya, Kronos, dewa kekacauan (dalam mitologi Yunani ia dikenal sebagai ayah Zeus, Hades dan Poseidon) akan merajalela. Zeus dan Poseidon (Danny Huston) kemudian malah dipecundangi Hades (Ralph Fiennes) bersama Ares (Edgar Ramirez), putra Zeus yang menyimpan kecemburuan pada Perseus dengan tujuan untuk membangkitkan Kronos beserta monster-monster yang selama ini terperangkap di lapisan terbawah underworld Tartarus. Perseus yang menyadari bahaya ini setelah serangan naga monster Chimera dan kematian Poseidon kemudian berkolaborasi dengan Ratu Andromeda (Rosamund Pike) bersama Agenor (Toby Kebbell), putra Poseidon. Mencari dewa senjata Hephaetus (Bill Nighy) untuk memperoleh Spear of Trium, satu-satunya senjata yang bisa mengalahkan Kronos, menghadapi Cyclops dan menempuh jalan ke Tartarus demi menyelamatkan Zeus, sekaligus mencegah dunia dari kehancuran.

Bersama timnya, Jonathan Liebesman ternyata mampu memenuhi janjinya untuk membayar kesalahan besar dalam film pendahulunya yang dibesut Louis Leterrier itu. Plot dan dialog-dialognya mungkin sama cheesy-nya dengan ‘Clash Of The Titans’, but after all, selain genrenya sungguh tak memerlukan kedalaman plot dan dialog secara berlebih, sedikit banyak usaha untuk mengembalikan pakem mitologinya ke arah yang benar terasa jauh lebih baik. Menghilangkan Io, mengembalikan Andromeda, serta membuat kharisma sosok Zeus dan para dewa itu lebih pada porsi seharusnya. Cast barunya juga tampil jauh lebih baik, Rosamund Pike dalam sosok Andromeda yang lebih tangguh, Edgar Ramirez sebagai Ares, dan pastinya duet Neeson-Fiennes yang tak lagi tampil sebagai pajangan belaka. Toby Kebbell yang muncul sebagai Agenor dengan tampang menyebalkannya juga bisa mencuri perhatian sebagai karakter yang punya porsi cukup penting. Justru Sam Worthington, yang belakangan sudah kehilangan separuh kharismanya sebagai salah satu Hollywood’s most promising leading man lagi-lagi terlihat kedodoran dengan ‘bad hair day’nya, rambut ikal yang dibiarkan memanjang tak beraturan dengan make-up lusuh-kotor yang terasa overportion.

But above all, dalam wujudnya sebagai sebuah big budget blockbuster, dari awal, sekuel ini sudah dipenuhi adegan pertempuran spektakuler. Seperti karya Liebesman sebelumnya, ‘Battle: Los Angeles’, eksplosif dengan style shaky-camera yang semakin menambah intensitasnya, serta penuh dengan gelaran efek spesial CGI yang juga sama bagusnya menuju ke final showdown yang menampilkan perang kolosal dan sosok Kronos sebagai main villain berukuran raksasa sebagaimana Kraken dalam ‘Clash Of The Titans’, dibalik sinematografi Ben Davis (‘Stardust’ dan ‘Kick Ass’) yang cukup fantastis menggambarkan perjalanan jagoan-jagoan setengah dewa ini ke underworld. Teknologi 3D konversinya pun tak lagi terbuang percuma, tapi tampil sebagai gimmick yang solid bahkan mendobrak pakemnya lewat sebuah adegan yang melintasi batas widescreen-nya dengan sangat menarik. Well, ini memang dayatarik utama dalam genre-genre seperti ini, so why bother? Go for the eye-candiest 3D, and enjoy the funride into the clash. This is quite a payoff to its bad predecessor, and also a spectacular one! (dan)

About these ads

~ by danieldokter on March 30, 2012.

One Response to “WRATH OF THE TITANS : A PAYOFF TO ITS BAD PREDECESSOR”

  1. [...] Wrath Of The Titans [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 7,275 other followers

%d bloggers like this: