MIRROR MIRROR : AN UNDENIABLY CHARMING STRAIGHT FAIRYTALE

MIRROR MIRROR

Sutradara : Tarsem Singh

Produksi : Relativity Media, 2012

Tarsem Singh means the beauty of cinematography. Bergerak dari beberapa videoklip grup terkenal, termasuk satu yang paling mengangkat namanya, ‘Losing My Religion’-nya R.E.M., sutradara ini memulai debut layar lebarnya lewat ‘The Cell’-nya Jennifer Lopez. Kekuatan utama Tarsem memang terletak pada keindahan sinematografi yang jauh lebih menonjol ketimbang unsur lainnya. Dan ‘Mirror Mirror’, mencatat satu lagi dualisme ide produksi Hollywood bersama ‘Snow White and The Huntsman’ yang akan menyusul belakangan. Namun ‘Mirror Mirror’, meski ditambahi embel-embel ‘The Untold Adventure of Snow White’, bukanlah sebuah rombakan total dari fairytale karya Brothers Grimm yang lebih dikenal populer sebagai animasi klasik Walt Disney itu. Sisi dongengnya boleh saja dirombak demi beberapa twist baru dan sebuah re-telling, tapi ini tetap se-murni-murninya sebuah sajian fairytale. Ia tak tampil dengan ke-absurd-an baru seperti ‘Alice In Wonderland’-nya Tim Burton, bahkan jauh lebih light dari ‘Ever After’ sebagai re-telling Cinderella. Ini lebih ke, kalau Anda pernah menyaksikannya, serangkaian produksi Cannon di tahun 90an yang dinamakan ‘Cannon Movie Tales’ yang beberapa diantaranya juga sempat hadir ke layar lebar kita. And however, apapun pilihannya, paras polos Lily Collins, prince charisma dari Armie Hammer dan tampilan Julia Roberts sebagai the evil queen, itu sudah memenuhi syarat sebagai sebuah fairytale murni. So, yang tertinggal hanya selera Anda-Anda terutama penonton dewasa yang seringnya malah merasa jengah berada di tengah-tengah penonton belia buat genre ini.

Sepeninggal istrinya saat melahirkan Snow White, Sang Raja (Sean Bean) menikah lagi dengan Clementianna (Julia Roberts) yang merupakan gadis tercantik di kerajaannya, tanpa menyadari rencana jahat Clementianna yang menggunakan kekuatan sihir lewat cermin ajaibnya. Ia kemudian hilang di tengah hutan dan Snow White dewasa (Lily Collins) pun terkungkung dalam pemerintahan baru Clementianna yang menyengsarakan rakyatnya dengan segala macam pajak. Snow White yang memberanikan diri keluar dari istana kemudian bertemu dengan Pangeran Andrew Alcott (Armie Hammer) bersama pengawalnya, Renbock (Robert Emms) yang menjadi korban perampokan tujuh kurcaci saat menuju istana untuk sebuah pesta dansa. Demi melihat Snow White, Pangeran Alcott langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, namun Snow White yang baru menyadari kejahatan Clementianna berniat melanjutkan perjuangannya sendiri untuk membebaskan rakyatnya. Sementara Clementianna justru menenung Alcott di bawah sihirnya dan memerintahkan pelayannya, Brighton (Nathan Lane) untuk menghabisi Snow White. Snow White yang awalnya menjadi tawanan tujuh kurcaci pun kemudian berkolaborasi dengan mereka untuk membebaskan Alcott sekaligus menggulingkan Clementianna dari tahtanya.

Bagi pencinta kisah-kisah straight fairytale, sama seperti karya asli Grimm dan adaptasi paling terkenalnya dari Disney, ‘Mirror Mirror’ jelas merupakan sebuah treat dibalik tampilannya yang serba charming. Sinematografi yang dibangun Tarsem dari set dan kostum-kostum kerajaan bersama cast yang juga menarik itu muncul dibalik dialog dan humor-humor campy yang memang sangat childish namun tak berarti tak bagus untuk tendensi genre-nya. Cerita aslinya yang dirombak disana-sini, membalik banyak unsurnya dengan sudut pandang berbeda dari skenario Mark Klein dan Jason Keller, termasuk apel ikonik dalam dongeng aslinya, juga tak lantas menghilangkan feel-nya sebagai fairytale segala umur. Apalagi skornya yang digarap Alan Menken, yang tercatat sebagai komposer langganan di film-film animasi Disney.

Jadi adalah kesalahan persepsi bila penonton yang menyangka rombakan Tarsem lantas akan memasukkan juga absurditas sang sutradara di karya-karya sebelumnya yang terkesan serba gelap. Tarsem memang tak sedang bermain-main dengan gayanya yang biasa. Hanya ada keindahan sinematografi biasanya yang muncul dalam menggarap adaptasi baru dongeng ‘Snow White’ ini, plus tribute terhadap budayanya lewat theme song ‘I Believe In Love’ di kredit akhir dimana ‘Snow White’ berjoget India di tengah aransemen yang serba Bollywood. Oh ya, Tarsem seolah benar-benar melepas jiwa kanak-kanaknya untuk membalut keseluruhan ‘Mirror Mirror’ menjadi dongeng yang tetap dimulai dengan  ‘once upon a time‘ dan berakhir dengan ‘and they lived happily ever after‘.  So, kalau sutradara seperti Tarsem saja sesekali mau melepas komprominya demi menyampaikan fairytale murni seperti ini, then why don’t you? After all, membiarkan sisi ‘Peter Pan’ yang tersimpan jauh dalam kenangan masa anak-anak kita untuk lepas keluar menikmati sajian-sajian seperti ini toh tak akan ada salahnya. Sama seperti performa Lily Collins yang se-charming Audrey Hepburn di masa-masa keemasannya, this is an undeniably charming straight fairytale. Go with your little loved ones, fall under the spell and hold them as dear to your deepest hearts! (dan)

~ by danieldokter on April 22, 2012.

3 Responses to “MIRROR MIRROR : AN UNDENIABLY CHARMING STRAIGHT FAIRYTALE”

  1. [...] Mirror Mirror [...]

  2. [...] MIRROR MIRROR – Eiko Ishioka [...]

  3. [...] MIRROR MIRROR – Eiko Ishioka [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 7,166 other followers

%d bloggers like this: