HATTRICK : KARENA PERBEDAAN ADALAH KEKUATAN

HATTRICK

Sutradara : Robert Ronny

Produksi : MVP, 2012

Robert Ronny mungkin masih tergolong nama baru di dunia penyutradaraan film kita. Tapi kiprahnya di film tak lagi baru. Selain menjadi produser, ia juga memegang porsi second unit director di serangkaian rom-com musikalnya Indra Yudhistira, ‘Andai Ia Tahu’, ‘Biarkan Bintang Menari’ dan ‘Vina Bilang Cinta’. Segmen ‘The Gambler’ dalam ‘Dilema’ sedikit banyak sudah memperlihatkan gayanya sendiri, yang tak jauh berbeda dengan latar premis ‘Hattrick’ sebagai film bertema futsal pertama Indonesia untuk layar lebar. Style itu juga yang membuat ‘Hattrick’ tak sepenuhnya tampil seperti yang terbaca sekilas dalam promonya sebagai sports movie. Entah influence atau memang sekedar interest, dua film Robert, terlebih ‘Hattrick’ ini, kental sekali atmosfernya terhadap template film-film oldfashioned Asia ‘80an terutama film-film Hong Kong. Seperti gado-gado dengan racikan campur aduk menyentuh segala macam genre, dari drama, action sampai komedi, lengkap dengan sindiran-sindiran terhadap benturan budaya karakter-karakter di dalamnya. Sesekali ia menyelipkan juga style chaotic film-film ala Guy Ritchie ke dalamnya, dalam menekankan ke-nyeleneh-annya itu. In terms of entertainment, sah saja. Karena tendensinya memang adalah sebuah hiburan.

Atas perintah Bu Bos (Ira Wibowo) yang punya ambisi meneruskan impian mendiang suaminya demi membawa nama Indonesia, lima anak muda berbakat direkrut ke dalam tim Garuda Merah dengan cara unik oleh Toro (Lukman Sardi), seorang pelatih futsal untuk mengikuti turnamen internasional futsal yang digelar secara underground oleh mafia-mafia seluruh dunia. Mereka adalah Samuel (Fauzan Nasrul), tukang ojek dan pemain sepakbola bayaran, Halil (Lionil Hendrik Tikoalu), anak muda dengan ambisi menjadi anggota boyband dan pemain sepakbola terkenal, Alung (Dion Wiyoko), pemuda keturunan Cina berjiwa nasionalis yang mendambakan status WNI, Markus (Michael Jakarimilena), pemuda asal Papua yang merantau ke Jakarta sebagai kuli pelabuhan serta Anand (Amrit Punjabi ; putra Raam Punjabi sekaligus eksekutif produser film ini), keturunan India yang pencuri sekaligus jago lari. Dalam waktu singkat, mereka harus belajar menyesuaikan diri dibawah gemblengan Toro sekaligus ancaman Bu Bos sambil mengatasi problem dan ambisi masing-masing. Namun tepat menjelang pertandingan berlangsung, insiden yang terjadi pada Anand membuat Toro terpaksa merekrut seorang pemain andalan dari tim saingan milik Pak Dedy (Pong Hardjatmo), Gilang (Denny Sumargo), yang sebelumnya berseteru dengan mereka. Masih ada lagi Sophie (Arumi Bachsin), gadis muda yang menyimpan niat terselubung atas kedekatannya dengan Samuel. Tapi apapun yang terjadi, Toro tetap yakin bahwa perbedaan yang dimiliki masing-masing anak muda ini dapat menjadi kekuatan untuk memenangkan pertandingan.

Dimulai dengan pengenalan yang cukup menarik terhadap para karakternya, walau tone ‘ngaco’ itu sebenarnya sudah terlihat dibaliknya, bagian-bagian awal ‘Hattrick’ masih terasa cukup efektif. Namun bukannya memacu pace-nya jadi tambah baik, Robert malah terlihat kelewat asyik bermain-main di satu-persatu latar karakternya dengan lawakan-lawakan slapstick yang mungkin tak terlalu diperlukan. Some jokes worked well, namun sebagiannya juga kerap terasa garing di tengah usahanya. Tak cukup hanya itu, Robert malah masih menyisipkan juga part-part drama keluarga dan lovestory antara beberapa karakternya sambil menyindir beberapa isu sosial beda-beda rasnya.

Begitupun, aktor-aktor senior seperti Lukman Sardi bersama Ira Wibowo tetap terlihat berusaha bermain serius di kekacauan serba klise yang digelar Robert dari kombinasi gado-gado ini. Sebagian adegan berikut karakternya mungkin terasa mubazir dan tak benar-benar sinkron, tapi lagi, ini tampaknya lebih cenderung ke sebuah pilihan sebelum Robert kembali merapikan plotnya menuju adegan klimaks pertandingan yang kabarnya tak menggunakan stunt dan sempat mengakibatkan Denny Sumargo mengalami cedera ringan saat syuting. Secara keseluruhan, chemistry dari pendukungnya bisa dibilang cukup baik sehingga sedikit banyak bisa menyelamatkan kekurangan dari racikan overloaded tadi. Usaha Fauzan Nasrul untuk menghandle skenario dengan performa yang menonjolkan karakternya juga cukup lumayan.

Jadi begitulah. Robert agaknya sudah menentukan pilihannya, dan ia lebih memilih untuk bermain-main di template klasik sinema Asia itu. For some, ini memang bisa jadi sangat mengganggu, but if you’re into those kinds of movies, belokan-belokan plotnya pasti bisa dimengerti. Bahwa in terms of entertainment, usaha buat menghibur, meskipun tak keseluruhannya bisa berhasil, sah-sah saja. Toh adegan pertandingan dan koreografi yang digelar di klimaksnya tak menunjukkan sebuah ketidakseriusan meski tetap penuh canda, dan meski sebagian klise-klise itu tampil preachy, dialog yang jadi tendensi seperti tagline dan judulnya bisa tampil dengan spirit yang pas. ‘Perbedaan adalah kekuatan’, dan pilihan Robert untuk menampilkan kombinasi genre yang berbeda, juga sama-sama jadi kekuatan untuk menyelamatkan ‘Hattrick’ menjadi sebuah sajian yang cukup variatif. Not bad at all. (dan)

About these ads

~ by danieldokter on May 11, 2012.

2 Responses to “HATTRICK : KARENA PERBEDAAN ADALAH KEKUATAN”

  1. [...] Hattrick [...]

  2. [...] Selain sudah banyak berkiprah di animasi-animasi luar, mereka juga sudah menggarap ‘Sing To The Dawn’, sebuah animasi produksi Singapura yang di-dubbing ke Indonesia dengan judul ‘Meraih Mimpi’(2009) diproduseri oleh Kalyana Shira Films tempo hari. Ke depannya, kabarnya, ‘Man Of Tai Chi’ Keanu Reeves dan Iko Uwais itu pun sebagian proses produksinya akan dilakukan disini. So yes, dengan eksistensi studio yang dibangun di Nongso, Batam, dengan luas 10 hektar bersama fasilitas internasional dari replika-replika setting, dua panggung besar berukuran 14.000 dan 30.000 sqf, workshops, efek visual, 3D hingga studio animasi, yang juga digerakkan oleh pekerja-pekerja lokal, plus tercatat juga sebagai program promosi kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kita, tak salah juga kalau ‘Dead Mine’ bisa digolongkan sebagai film nasional. Dan Wiluan sendiri memegang jabatan produser bersama Robert Ronny (‘Dilema’, ‘Hattrick’). [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,870 other followers

%d bloggers like this: