BROKEN HEARTS : SUSAHNYA SINEMA KITA MEMBANGUN REALITA

BROKEN HEARTS

Sutradara : Helfi Kardit

Produksi : Starvision, 2012

No, I won’t call it SPOILER. Terserah Anda, tapi rasa-rasanya, kalau semua press release termasuk leaflet-leaflet bersinopsis di loket-loket bioskop dan ‘Behind The Scenes’ itu sudah membuka semuanya, there won’t be any other spoiler left. So inilah proyek Starvision yang dipromosikan gede-gedean sejak jauh-jauh hari, termasuk OST ciptaan Melly-Anto Hoed yang dinyanyikan Acha Septriasa dan Reza Rahadian sendiri. Deretan bintangnya, terus terang, menjanjikan. Mengapit Julie Estelle, one of our cinema’s loveliest babe dengan performa yang juga bukan asal-asalan, ada Reza Rahadian, juga salah satu cinematic treasure kita, dan Darius Sinathrya, seleb yang selalu tampil dengan akting overconfidence-nya. Tak ada yang salah. Trio yang ditampilkan di posternya itu, killer cast dan sangat menjual.

Then comes the director. Helfi Kardit. Oh yes, ini memang proyeknya yang sangat personal. Karena Helfi kali ini tak hanya menyutradarai naskah orang. Ia menyiapkan sendiri skenarionya, yang katanya sudah di-develop sejak satu dasawarsa lalu. Tentang sebuah kisah cinta segitiga yang katanya, termasuk tanggapan penonton di cuplikan premiere dalam behind the scenes itu, sangat-sangat menyentuh. Lengkap dengan gimmick khas Asia. Khas Indonesia. Penyakit, untuk membangun dramatisasi (yang sudah bisa dipastikan) tragis. Toh kali ini mereka tak memilih kanker-kanker-an, ah, masih, tapi tak langsung dan bukan organ yang melulu sama, adegan mimisan, batuk-batuk darah dan sebagainya. Meski sedikit terasa aneh, pilihannya jatuh ke ‘Anoreksia Nervosa’ (boleh baca overview/artikelnya di bawah) dan komplikasi, berupa kanker hati. Begitu yang tertulis di sinopsisnya.

Dan Helfi, in terms of predicting movie qualities dari tipikal film kita, which mostly the director, ini ada di kelas-kelasnya Hanny R. Saputra. Komersil dan seringkali sinetron-ish seperti rata-rata production house-nya. Saya tak bicara masalah sinematografi, tentunya. Tapi bangunan plot rata-rata di film mereka, yang sedikit banyak meskipun faktor paling gedenya ada di penulis, nyangkut-nyangkut juga ke style penyutradaraannya dalam menyampaikan keseluruhan cerita. Kata salah satu aktor senior kita juga dalam behind the scenes itu, Helfi menunjukkan kemajuan besar disini. Mudah-mudahan, debut menulisnya tak diwarnai kebiasaan jelek penulis-penulis kita dalam menyampaikan satu sisi bagian keahlian, in this case, medis, yang dari dulu terus salah kaprah dan tak terbenahi seperti film-film luar termasuk Korea dan Thailand yang detilnya akurat. Superficially googling dan wiki-ing instead of supervisory asking. Mudah-mudahan.

Broken Hearts’ pun dimulai dengan tone sendu yang meyakinkan dibalik storytelling tak linear. Olivia (Julie Estelle) yang masih menyimpan trauma atas kekasihnya, sosok sempurna dibalik nama Jamie (Reza Rahadian) tiba-tiba menghilang, didekati oleh penulis novel yang menawarkan novelnya diterbitkan perusahaan tempat Olivia bekerja sebagai editor. Meski usaha Aryo (Darius Sinathrya) mendekatinya dengan sejuta bahasa-bahasa puitis dan bunga mawar merah kesukaan Olivia awalnya ditampik, lama-lama Olivia luluh juga. Ia memulai hubungan baru dengan Aryo sambil pelan-pelan memupus harapannya terhadap kembalinya Jamie. Tapi dibalik itu ternyata ada Jamie di sebelah apartemen Aryo yang tetap tak bisa merelakan Olivia jauh dari dirinya. Jamie yang menderita Anoreksia Nervosa dengan komplikasi kanker hati-lah yang mengirim Aryo, sahabat terdekatnya sejak kecil, untuk mendekati Olivia ketimbang Olivia jatuh ke hati lelaki lain.

Sampai disini, semuanya masih terhandle dengan cukup baik. Chemistry akting ketiganya bekerja dengan baik, dan usaha Helfi untuk menggambarkan latar Jamie sebagai cowok perfeksionis dalam penampilannya, dalam sinkronisasi terhadap gambaran penyakit itu, muncul cukup detil. Bahasa-bahasa puitis yang kadang terasa awkward juga masih bisa masuk ke karakter Aryo yang memang seorang penulis. Selain sinematografi cantik dan alunan musik yang cukup menyentuh dari Melly-Anto Hoed, transformasi keadaan Jamie setelah sakit pun, digagas Helfi dengan cukup meyakinkan walau tetap dengan cacat-cacat kecil. Akting Reza dibalik kesan tubuh kurus dengan perut membuncit (in medical terms, ‘Ascites’) sebagai salahsatu gambaran kegagalan fungsi hati, plus gerakan tertatih, awalnya sangat bagus, sampai akhirnya ia mulai entah atas dasar apa bereaksi terus-terusan seperti orang mau muntah (walaupun salah satu ciri Anoreksia Nervosa dalam tahapan kronis adalah kerusakan lambung) dibalik makeup pucat dengan bibir yang dibuat kering seperti orang dehidrasi berat. Lama-lama akting Reza makin over dan tak dihandle semestinya oleh Helfi yang kelihatan makin asyik dengan itu, sampai terasa tak lagi wajar pada tahapan penyakit kankernya di kondisi itu untuk tak dirawat secara intensif.

Dan Aryo, bisa ditebak, jatuh cinta pada kecantikan dan kerapuhan Olivia sejak pandangan pertama. Maksud demi mempertahankan cinta Jamie ke Olivia pun berubah, tapi ia tetap berdalih hubungannya dengan Olivia semata-mata untuk pengorbanannya pada Jamie. Sesekali, Jamie mencuri-curi masuk ke apartemen Aryo untuk memperhatikan Olivia yang sedang tidur. Helfi mulai membombardir dramatisasi ala film kita untuk memancing airmata penonton, tapi menyampingkan jauh-jauh bangunan empati terhadap karakter-karakternya, dalam template yang dipilihnya. Realita. Bukan fantasi seperti ‘Love Story’-nya Hanny R. Saputra yang membuat romantisasi bahasa puitis itu tetap terasa wajar. Kita yang dibuat bingung, harusnya bersimpati terhadap ketiganya tapi karakter Aryo mulai dirusak seperti itu. Dan ini berlanjut makin aneh ketika Jamie tiba-tiba menyuruh Aryo menjauhi Olivia. Meski menolak, dengan berat hati Aryo berbalik menuruti Jamie.

Di tengah kekecewaan Olivia, Jamie berubah lagi. Ia memilih menjauh ke dunia masa kecil mereka di Semarang diam-diam, melarikan diri dari rumah sakit setelah ditemukan Aryo jatuh di apartemen mereka. Satu blunder lagi, bahwa dalam kondisi separah itu di ruangan Jamie di rumah sakit, yang lebih terlihat seperti apotik dengan pintu kaca transparan berisi satu bed itu, hanya ada satu selang infus dan dokter mondar-mandir tak karuan. Dan oh ya. Dalam perjalanan pelariannya di bus, setelah menerima telfon Aryo yang sudah membuka sedikit misteri hubungannya dengan Jamie pada Olivia, tapi sepertinya belum semua walaupun Olivia mengikutinya ke rumah sakit, Jamie membuang ponselnya keluar bus. Means, ia tak ingin lagi ditemui. Dan datanglah tragedi itu saat Aryo menyusulnya meninggalkan Olivia yang masih bingung-bingung tak jelas bersama temannya. Selayaknya dramaturgi film kita, when there’s no option, just kill one. Mobil ngesot dalam kondisi pengemudi galau, ditabrak truk. Template wajib. Gubrak!

Then on the next scene, Olivia yang mendadak sudah tenang kembali di rumahnya dikabari ada telfon dari Jamie. Ia terkejut, dan menerima telfon itu dengan gerakan slo-mo. Muncullah dialog yang lagi-lagi (wajib) ada di lebih dari ratusan bahkan mungkin ribuan film kita. ‘Ke-ce-la-ka—–an?’, lantas ditimpali lagi, ‘Apa sebenarnya hubungan kalian?’. Oh, jadi mungkin yang dikatakan Aryo sebelum mereka ke rumah sakit hanya ilusi, atau mungkin Olivia amnesia saking bingungnya. And yes, sesekali isak tangis penonton terutama para wanita masih kedengaran di bioskop tempat saya menyaksikannya. Gubrak lagi !. Entah darimana Jamie yang barusan membuang ponselnya bisa ditemukan untuk memberitahukan tragedi yang menimpa Aryo.

Scene selanjutnya adalah tanah kuburan basah. Lagi-lagi template wajib. Di tengah Olivia yang lagi menangisi nisan Aryo, muncullah tante-tante Belanda (Meriam Bellina) yang kita sudah tahu adalah ibu Jamie. ‘Tante?’, mereka pun saling berpelukan. Olivia pun dibawa ke rumah sakit menjumpai Jamie yang terduduk tanpa selang infus, terlihat lebih sehat dari sebelumnya. Oh, mungkin dia shock atas kematian Aryo sekaligus bersyukur saingannya lenyap. Yeah, right. Dan muncullah dialog yang mengarah ke judul awal skenario Helfi. ‘Ikhlas’. A dialogue that goes so awkward, tanpa rasa, walaupun Julie dan Reza berusaha setengah mati berakting serius dengan posisi Olivia bersimpuh di kaki Jamie. Ibu Jamie bersama seorang bule yang menemaninya sejak di kuburan pun menangis sesenggukan tapi feelnya tetap seperti melihat ibu Mae di ‘Get Married’. Lalu saya tersentak. Nah lho! Ini ternyata film reliji?. If it meant to be a genre-twist, saya hanya bisa speechless.

Dan inilah yang merupakan dosa terbesar ‘Broken Hearts’, jauh lebih dari sekedar gambaran medis yang kurang akurat namun paling tidak masih punya usaha merubah postur dan penampilan Reza Rahadian dengan cukup meyakinkan di awal-awalnya,  Bahwa sinema kita, memang sulit sekali membangun realita. Membangun plot dan turnover-turnover karakter yang wajar, sewajar bila konflik itu kita proyeksikan ke kehidupan sehari-hari. Semua terkesan jauh dari kewajaran. Demi tangis-tangisan yang disukai penonton, seorang penulis atau sutradara seringkali tak lagi memperdulikan empati-empati ke karakternya walaupun dalam sebuah suguhan drama apalagi lovestory yang mutlak memerlukan itu untuk keintiman komunikasinya ke penonton. Mau seribut apapun toh jawaban mereka akan terpulang pada penonton rata-rata yang cuma mau dibuat terisak-isak tanpa otak. Apa boleh buat. Julie Estelle, Reza Rahadian dan Darius pun tersia-sia di tengah ketidaksinkronan plot yang digagas Helfi (kabarnya) dalam hampir satu dasawarsa itu walau mereka tetap berusaha menampilkan akting maksimal. Just like any other shit happens in our movies. Bakat-bakat yang terpaksa menyerah demi kepentingan produser membuat film tanpa hati. And for that, it is our hearts that broken. (dan)

MENGENAL ANOREKSIA NERVOSA

(as posted in Harian Waspada, 20 Mei 2012)

Kalau Anda menyaksikan salah satu film Indonesia yang hadir minggu ini, ‘Broken Hearts’, Anda mungkin ingin tahu lebih jauh tentang penyakit yang lebih digolongkan secara medis kepada bentuk gangguan makan ini. ‘Anoreksia Nervosa’ menjadi bagian penting dari storyline film itu, bersama salah satu komplikasinya berupa kanker hati, namun sayangnya tak digambarkan secara benar-benar akurat. Seperti biasa, penggambaran penyakit dalam film-film kita memang penuh dengan tendensi dramatisasi sehingga tak jarang mengundang mitos-mitos salah kaprah dalam masyarakat kita. Dalam sejarahnya, salah satu penyanyi terkenal yang menderita ‘Anoreksia Nervosa’ adalah Karen Carpenter dari The Carpenters, yang akhirnya meninggal karena gagal jantung.

Sekilas Tentang Anoreksia Nervosa

Anoreksia Nervosa ditandai dengan keinginan untuk membatasi makanan secara berlebihan dengan tujuan untuk menghindari kenaikan berat badan dan seringkali dibarengi dengan gangguan psikologis baik sebagai pemicu atau akibatnya. Penderitanya biasa memiliki gangguan perilaku kognitif secara bersamaan, seringnya menjaga secara rinci penampilan mereka, bahkan cenderung memiliki perilaku obsesif kompulsif terhadap penampilan fisik, karena itu kebanyakan gangguan biasanya dimulai dari usia remaja atau sangat muda dimana masa pertumbuhan akan memperberat kecenderungan komplikasi, dan sering dari kalangan dimana penampilan menjadi faktor penting karir mereka termasuk artis, penari balet dan sebagainya. Mereka bisa terperinci sekali menghitung nilai kalori yang masuk dengan pembatasan berlebihan, tak lagi menuruti kadar perhitungan ideal sehingga lambat laun bisa mempengaruhi metabolisme dan gangguan lain dari hormonal hingga kerusakan organ.

Sedikit berbeda dengan istilah ‘Anoreksia’ yang rata-rata dialamatkan ke adanya gangguan selera makan, ‘Anoreksia Nervosa’ rata-rata tak memiliki gangguan tersebut namun lebih pada ketakutan yang berlebihan dimana penderita yang sudah memiliki berat badan dibawah rata-rata tetap merasa kelebihan berat badan. Beberapa ketidakseimbangan hormon pengatur rasa lapar juga sering menjadi pemicu seperti yang dilaporkan lewat beberapa riset, dan tak terlalu banyak juga kasus yang berujung pada komplikasi fatal, namun cenderung pada gangguan kejiwaan yang berlanjut. Kebanyakan penderitanya adalah wanita dibandingkan pria, dan atas adanya gangguan penyerta sekaligus bisa menjadi pemicu itu, terapinya seringkali memerlukan kombinasi dari berbagai terapan ilmu medis menyangkut pengaturan diet, medikasi, konseling bahkan lebih berat bila ditemukan komplikasi atas gangguan yang sudah berjalan dalam waktu panjang.

Gejala-Gejala Yang Ditemukan

Atas kurangnya intake gizi yang masuk melalui pembatasan tersebut, penderitanya biasanya menunjukkan gejala yang mirip dengan orang kelaparan meskipun pada fase awal masih tertutupi hingga tubuhnya perlahan-lahan mengarah ke malnutrisi yang cukup berat dan mengganggu fungsi organ yang lain. Bergantung pada adaptasi metabolisme tubuh mereka, gejala serta komplikasinya juga kerap bervariasi, begitu pula bentuk gangguan perilakunya secara psikologis.

Secara pemeriksaan, yang didapati pada penderita ‘Anoreksia Nervosa’ ini biasanya berat badan yang menurun drastis, kemudian hipokalemia, menurunnya kadar kalium dalam darah, sehingga sering mempengaruhi kerja organ termasuk jantung, kelelahan, gangguan lambung dan konstipasi hingga kerusakan otot-sendi dan kelumpuhan organ bila terus tak tertangani. Pada wanita, siklus menstruasinya juga biasanya ikut terganggu. Gangguan psikologis hingga psikosis yang dijumpai juga beragam, namun yang tersering adalah depresi, perilaku obsesif kompulsif (termasuk sering berkaca, memikirkan hal yang sama terus-menerus hingga terus merangsang muntah secara fisik yang mirip dengan bentuk gangguan makan lainnya, ‘Bulimia Nervosa’) hingga penggunaan laksatif atau obat-obat diet lainnya secara berlebihan.

Gangguan yang terus terjadi kemudian akan merubah perkembangan fisik terutama bagi yang mengalaminya di usia muda dengan retardasi dan gangguan hormonal yang mengganggu kedewasaan seksualitas. Gejala lainnya yang berkaitan dengan akibat lanjut ini berupa perut yang menegang dan kadang membesar seperti busung lapar, rambut yang menipis dan biasanya ditandai dengan pertumbuhan rambut tipis di kepala, badan dan tubuh lainnya (lanugo), berikut gangguan-gangguan kulit seperti bercak hingga gatal-gatal karena faktor alergi yang meningkat dengan turunnya imunitas. Sirkulasinya juga akan ikut terganggu mulai dari tekanan darah rendah, hipotermia dan kehilangan tenaga yang mirip dengan kelumpuhan pada tahapan-tahapan awal. Komplikasi yang muncul sebagai akibatnya pun beragam mulai dari Osteoporosis, Neuropati, Anemia, hingga yang lebih parah seperti kerusakan otak permanen, kegagalan fungsi hati yang biasanya diawali dari perlemakan hati yang mirip dengan gejala malnutrisi, serta gagal ginjal atau jantung. Beberapa komplikasi juga bisa berkembang menjadi keganasan misalnya pada organ-organ pencernaan dan ekskresi. Berdasarkan gejala-gejala ini, banyak panduan diagnosis yang dijadikan patokan ditambah beberapa jenis screening/pemeriksaan laboratorium secara detil. Dan yang harus diingat, bila berujung fatal, penyebabnya bukanlah Anoreksia-nya sendiri, namun lebih ke komplikasi-komplikasinya.

Konsep Penatalaksanaan

Atas pemicu, gejala serta komplikasi yang seringkali terjadi secara multifaktorial, penatalaksanaannya diarahkan pada tiga tujuan umum. Yang pertama adalah mengembalikan berat badan penderita, yang kedua adalah mengatasi gangguan psikologis penderita serta yang ketiga, mengurangi gangguan perilaku sebagai pemicu awalnya. Pemberian medikasi biasanya meliputi pemberian suplemen yang dinilai banyak mengalami kekurangan dalam gangguannya, seperti zinc, asam-asam lemak esensial serta mikronutrien yang lain, obat-obat peningkat selera makan atau obat-obat untuk mengatasi gangguan psikologisnya. Konseling dalam hal diet dan gangguan psikologis juga menjadi kebutuhan mutlak dalam penatalaksanaan terhadap perilaku kognitif. Pengobatan secara kombinasi ini sering terbentur pada banyak kesulitan, namun banyak penelitian mencatat persentase kesembuhan yang cukup besar dalam rentang waktu bervariasi, bisa dari berbulan hingga tahun, terlebih pada kasus-kasus yang sudah berlanjut dengan komplikasi dimana kebutuhan terhadap medikasi lain meningkat sementara penerimaannya dalam metabolisme tubuh semakin berkurang. Dan seperti kasus-kasus gangguan psikologis yang lain, kemungkinan berulangnya juga ada dengan persentase lebih besar tetap pada wanita. (dr. Daniel Irawan)

About these ads

~ by danieldokter on May 16, 2012.

6 Responses to “BROKEN HEARTS : SUSAHNYA SINEMA KITA MEMBANGUN REALITA”

  1. I’m agree with you, no doubt. Menyaksikan trailernya saja sudah bisa membaca kearah mana film ini akan mengalir. Satu2nya yang twist adalah kecelakaan…twist dari trailer, bukan twist dari filmnya :)

    Thank u dr Daniel, semoga sineas kita bisa membaca tulisan ini agar bisa belajar how to make a good movie.

  2. amin. :). tapi puluhan tahun kayanya mereka gak juga belajar dari kesalahan. selama filmnya laku, mereka ga pernah perduli :)

  3. Ini yang terjadi jika anda menggabungkan seorang dokter dan cinephile: sebuah review maha panjang yang sebagian besar isinya dalam perspektif medis ketimbang konten filmnya itu sendiri, hehehe, sudah habit ya, dok?. Kasihan sekali film Indonesia….sudah kualitas filmnya kebanyakan buruk, dalam segi akurasi cerita juga dipertanyakan.

  4. Tapi aku juga merasakan sih, film Indonesia emang kurang banget researchnya, dalam segala hal! Jadinya ketika orang yang ‘ngerti’ nonton filmnya ketauan banyak plot-holes. Aku jadi ingat film Jamila Dan Sang Presiden: Jamila yang self-defence terancam dihukum mati dan menggantungkan nasibnya sama putusan pengadilan negeri tanpa ada usaha banding dan kasasi, malah ngarepin pengampunan dari presiden, hahaha. Pertama: yang dilakukan Jamila adalah self-defence, kedua: kalaupun itu dikategorikan pembunuhan, runtutan kejadian yang disajikan dalam narasi memperlihatkan tidak adanya ‘willen-wetten’, jadi seharusnya masuknya ke pembunuhan 338 (ancaman maksimal 15 tahun*), bukan masuk ke hukuman mati 340.

    Ps: just a thought, doc :)

  5. nah itu dia. film luar mau repot2 mencari supervisi tanpa hanya googling atau wiki-ing. kenyataan. kita punya sineas2 yg mau serius kok melakukan itu, tapi sayangnya cuma segelintir. The upcoming ‘Finding Srimulat’-nya Charles Gozali itu salah satunya. terlepas dari hasil akhirnya ntar, dari awal pengembangan skenarionya, utk kupasan medis disana, filmmaker-nya ga keberatan untuk berkonsultasi. Niat yg harus dihargai krn sama sekali ga susah, masa penulis2 itu ga punya kenalan berkaitan dgn sisi keahlian yg mereka taruh dalam plotnya, mau medis, mau hukum, mau science lain sekalipun. Akhirnya kesannya jadi sok tau. Parahnya lagi, udah syuting di RS, bukannya nanya ke petugas2 disana alat apa aja yg diperlukan utk penanganannya. selalu cuma selang infus yg keliatan pdhl yg mereka gambarin selalu parahnya setengah mati. But however, kesalahannya Broken Hearts ini bukan cuma di sisi medisnya yg gak akurat. tapi bangunan plot dan karakterisasinya seperti yg saya tulis di tag judul itu. Kita susah sekali membangun realita. ini templatenya kan dunia nyata, jadi kalo turnovernya ga masuk akal, ya susah buat bisa berempati ke karakternya. Kasarnya, rata-rata film drama romantis kita ini suka dibangun dari logika anak-anak. Tiga karakter dalam cinta segitiga, tiga2nya idiot. sebodoh2nya orang di dunia nyata krn cinta, ga akan reaksi-reaksinya spt yg ditunjukin di film kita. Arent you agree with that? :)

  6. Anyway itu gunanya review dari sisi ahli ya. Saya juga baru tau kalo secara gambaran hukum Jamila itu plotnya ga bener krn saya bukan lulusan hukum. tuh kan, jadi penonton kita emang perlu disadarkan atas informasi-informasi salah yg mereka dapet dari penulis2 googling atau wiki-ing, biarpun yang udah punya nama sekalipun. malah,yg sering kejadian nih, semakin punya nama semakin songong utk ga bertanya :) .thanks anyway buat infonya seputar Jamila.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 7,031 other followers

%d bloggers like this: