DJENDERAL KANTJIL (1958) & JENDRAL KANCIL THE MOVIE (2012)

DJENDERAL KANTJIL (1958) & JENDRAL KANCIL THE MOVIE (2012)

Sutradara : Nja’ Abbas Akup / Harry Dagoe Suharyadi

Produksi : Perfini, 1958 / Dagoe Film Workshop, 2012

Jauh sebelum film-film anak dari luar dihujani trend premis anak-anak cerdas menghadapi para penjahat, lewat seorang Usmar Ismail yang saat itu menduduki kursi produser, film kita sudah memulainya lewat ‘Djenderal Kantjil’ (1958) yang disutradarai Nya Abbas Akup (credited as Nja’ Abbas Akup). Begitu legendarisnya karakter yang diinspirasi dongeng / fabel anak-anak tentang si kancil yang terkenal dengan kecerdikannya hingga karakter itu berlanjut ke buku-buku, komik anak, dan operet-operet di seluruh Nusantara, termasuk yang dibawakan oleh Adi Bing Slamet dulunya. Film itu juga mengangkat nama Ahmad Albar (credited as Achmad Albar) yang saat itu masih menjadi aktor cilik dalam memulai karir aktornya sebelum lebih dikenal sebagai penyanyi rock vokalis band God Bless.

Namun Harry Dagoe Suharyadi, sineas yang memang sering berkecimpung di genre anak ini bukan me-remake karya klasik itu dengan ‘Jendral Kancil The Movie’ ini. Nama besar ‘Djenderal Kantjil’ versi Nya Abbas Akup itu kini digunakannya sebagai jembatan untuk sebuah revisited ke sinetron anak-anaknya, ‘Ratu Malu dan Jendral Kancil’ yang bersinar sekali di sebuah televisi swasta dari 2002-2004, sebanyak 63 episode yang ditayangkan pula di slot primetime. Sinetron yang dibintangi Nikita Willy kecil bersama M.I.M. Sultan Maks, yang juga mendapat banyak penghargaan itu kini menjadi film layar lebar Indonesia pertama dengan gimmick 3D. Karakter-karakternya tak persis sama, namun salah satu pemeran antagonisnya masih muncul disini dengan themesong yang sama pula. Dan Ahmad Albar, pemeran Arman sang ‘Djenderal Kantjil’, kini dikisahkan menjadi kakek Guntur, ‘Jendral Kancil’ di versi baru ini. So ini adalah daur ulang dari sinetron itu, tapi sebagai sebuah tribute pada karya klasik tadi, ini juga bisajadi kelihatan sebagai sebuah sekuel dalam rentang waktu amat panjang yang saling tak bisa terlepas satu sama lain. Let’s take a deeper look at both movies.

Djenderal Kantjil (1958)

Menjelang kenaikan kelas, tak ada yang lebih diinginkan Arman (Ahmad Albar) selain pistol-pistolan yang sedang mewabah jadi permainan anak-anak sekampungnya. Awalnya, ayahnya (Rendra Karno) menolak karena khawatir dengan efek buruknya bagi anak-anak seusia Arman, namun dorongan sang ibu (Chitra Dewi) meluluhkan juga hatinya. Arman pun menjadi pemimpin geng anak-anak di kampungnya. Bersama Hamdan (Mangopul Panggabean) dan rekan-rekan lainnya, mereka mulai mengumpulkan pasukan di masa yang tak terlalu jauh dari awal kemerdekaan itu. Sasarannya adalah aksi sekawanan pencuri yang meresahkan desa mereka, yang tak pernah disadari Arman ternyata dipimpin oleh orang terdekat sekaligus pekerja ayahnya, Bang Hamid (Menzano). Saat Arman berhasil diculik Bang Hamid dan komplotannya, pasukannya pun mulai merancang misi penyelamatan. Tak lagi harus dengan senjata namun menggunakan kecerdikan masing-masing, bersama-sama mereka menghadapi para pencuri ini demi keamanan desanya.

Sebagai seorang sineas pada masanya, Usmar Ismail memang tak pernah sekedar membuat tontonan atau hiburan. Visinya di awal pendirian Perfini memang penuh dengan pesan moral dan didikan atas kondisi bangsa kita di masa-masa pasca kemerdekaan itu. Wujudnya boleh saja sebagai hiburan, namun film-film baik yang disutradarai langsung atau diproduseri olehnya, banyak menyorot kondisi sosial masyarakat yang juga dipenuhi kritik-kritik pedas dalam dialog dan bangunan karakternya. Dan pendekatannya, sudah jauh melampaui waktunya. Subplot-subplot film-filmnya terasa maju sekali di masa itu dalam menggagas konflik demi konflik dalam hubungan sosial antar karakter itu, termasuk dalam premis-premis musuh dalam selimut yang mengajarkan sistem kewaspadaan pada bangsa ini.

Dari sisi filmnya sendiri, Ahmad Albar bermain luwes sekali sebagai Arman yang jadi tokoh utama diantara aktor-aktor senior yang sudah jauh lebih berpengalaman. Sebagai pemimpin anak-anak seusianya, sosok Arman dibawakan Ahmad dengan luarbiasa tengil namun jenaka serta tak pernah sekalipun kehilangan kepolosan anak-anaknya. Gambaran geng anak-anak dan cara perekrutannya juga tak kalah asyik. Seperti tentara nasional, aksi mereka ditampilkan sutradara Nya Abbas Akup dengan sangat seru. Hubungan Arman dengan Bang Hamid juga berhasil muncul sebagai subplot yang membuat dramatisasinya berjalan dengan kuat bersama unsur musikal yang jarang ketinggalan dari film-film Usmar Ismail. Dan sesuai prolog penuh nasehatnya (wajar saja pada zaman itu) untuk mengambil contoh-contoh yang baik, ending ‘Djenderal Kantjil’ terasa sangat unik dengan pesan sang ayah untuk membubarkan pasukan abal-abal dengan senjata mainan tadi, sekaligus menghapus kultus pemimpin dalam geng-geng-an ala anak-anak. A perfect children movie with important message, sebuah klasik yang takkan pernah akan lekang ditelan zaman.

Jendral Kancil The Movie (2012)

Guntur (Adam Farrel Xavier), bocah cilik populer di sekolahnya, SD Lentera Hati dijuluki sebagai ‘Jendral Kancil’ atas usahanya memimpin teman-temannya, diantaranya Badil (Audric Adrian Pratama), Ucok (M. Alif Amalfie), Noni (Paramitha Sekar Ayu) dan lain-lain menghadapi ketidakadilan yang terjadi di lingkungannya. Namun misi mereka menyerbu tiga orang preman (Peppy, Jimmy The Upstairs & Malauw) yang suka memalak anak-anak dari sekolah mereka justru membuat Guntur diskors karena dua gurunya, Bu Sinaga (Mpok Atiek) dan Pak Purwanto (Rasyid Karim) menganggapnya menyulut tawuran. Lantas datang pula Ratu Pelangi (Ersya Aurelia), artis cilik murid baru disana yang langsung menggusur Guntur dari kepopulerannya serta membuat Rogus (Qaidi Rozan) serta Kodir (Dandi Febrianto), dua siswa yang sirik dengan Guntur jadi tambah senang. Guntur sebenarnya tak menganggap ini masalah, namun pertentangan diantara teman-temannya kian memuncak hingga akhirnya mereka semua mengetahui kalau sekolah mereka tengah jadi incaran gerombolan mafia yang dipimpin oleh Mafia Italia (Eugenio Cimolin) dengan tangan kanannya (Indra Bekti) untuk sebuah penggusuran. Saat Ratu Pelangi dan Kepala Sekolah (Wawan Wanisar) berhasil ditawan, Guntur sekali lagi harus menggunakan kecerdikan dalam memimpin teman-temannya menghadapi ketidakadilan ini.

Sebagai film anak-anak di era serba modern, mau tak mau banyak penyesuaian berbeda yang harus dilakukan untuk mendaur ulang sinetron sekaligus melanjutkan nyawa karakter yang kini berpindah ke tangan sang cucu, Guntur. Ahmad Albar meski tak dikredit sebagai Arman muncul sebagai cameo yang menekankan hubungan ini. And so, atmosfer anak-anaknya pun tak lagi muncul dengan petuah berlebih seperti versi tahun 1958-nya. Semua disesuaikan dengan era sinetron dari celotehan-celotehan dan tingkah polah para karakternya. Tak ada lagi metafora pistol-pistolan, tapi hanya anak-anak yang menggunakan kecerdikan serta kecerdasan mereka. Pesan moral yang paling mencuat pun lebih diarahkan pada keragaman etnis seperti ‘Upin Dan Ipin’, ketimbang harus mempermasalahkan kultus kepemimpinan dalam pencarian jatidiri anak-anak atau kecenderungan kekerasan/tawuran yang dikhawatirkan berlebihan oleh dua karaternya. Karakter penjahat-penjahatnya juga digagas jauh lebih komikal sebagai sebuah tontonan anak-anak yang menghibur, dan dengan unsur musikal bersama sebaris bintang senior terkenal yang juga menampilkan Sita Nursanti sebagai ibu Guntur, Vincent Rompies sebagai penjaga sekolah serta Shahnaz Haque sebagai ibu Ratu, ‘Jendral Kancil The Movie’ mampu tampil sebagai tontonan anak yang menghibur.

Sayangnya, ada ketimpangan yang terjadi di karakter-karakternya sendiri. Selain terlalu banyak karakter dewasa dengan banyolan-banyolan berlebih yang ditampilkan, ketimpangan itu juga menimpa karakter anak-anaknya sendiri. Adam Farrel Xavier memang punya postur yang menggemaskan dibalik wajah lucunya sebagai Guntur, tapi Harry menempatkan Sang Jendral hanya melulu sebagai ahli strategi ketimbang bertindak sehingga terasa lemah sekali dalam urusan mendominasi layar sebagai peran utama. Bahkan Ersya Aurelia sebagai pendamping utamanya pun tak terlalu diberikan porsi berlebih selain menonjolkan kecantikannya. Justru pemeran-pemeran sampingannya, dari Ucok dengan dialek Batak-nya, Tia Kribo (Zsazsa Utari) yang jenaka, Rogus si sirik dan diatas semuanya, Badil sebagai tangan kanan Guntur yang muncul paling mencuri perhatian sekaligus jadi bintang utama sebenarnya dari penampilan mereka. Dan entah atas alasan apa Harry lantas menambahkan subjudul di dalam filmnya, ‘Ratu Pelangi dan Cermin Emas’ seolah sebuah episode dari sinetron, sementara peranan ‘Cermin Emas’ dalam filmnya sama sekali lewat tanpa berarti. Intensitas dramatisasi serta aksi-aksiannya juga terasa masih di bawah versi lama dengan penuh sesaknya banyolan sambilan yang disempalkan ke tengah-tengahnya.

Namun begitu, rasanya tak ada yang lebih layak dari sebuah penghargaan lebih yang harus diberikan pada Harry Dagoe atas niat baiknya masih mau menghasilkan tontonan murni bagi anak-anak, meskipun dua film layar lebarnya dalam genre sama, ‘Ariel dan Raja Langit’ serta ‘Melodi’ tidak mendapat sambutan yang baik dari penonton. Anda boleh saja menilai ini-itu, dari gagasan, akting hingga faktor-faktor teknis dalam film anak sebagai unsur pendukung yang membuatnya penuh dengan kelebihan, tapi satu faktor tambahan yang tak pernah boleh dilupakan dalam genre sejenis, apalagi demi kelangsungannya tetap ada sebagai variasi tontonan usia belia, adalah hati. And for those, mari tak mempermasalahkan secuil kelemahan-kelemahan itu. Harry sudah punya niat baik menyuguhkan tontonan keluarga yang menghibur dibalik pesan yang ada, dan melihat anak-anak bangsa ini bisa tertawa lepas dan terhibur menyaksikan sajian yang pas buat usia mereka, itu akan tetap jadi sesuatu yang spesial. Have a heart, dan dukung terus film anak Indonesia! (dan)

Sinetron ‘Ratu Malu & Jendral Kancil’ (2002-2004)

About these ads

~ by danieldokter on July 8, 2012.

4 Responses to “DJENDERAL KANTJIL (1958) & JENDRAL KANCIL THE MOVIE (2012)”

  1. kerenan jendral kancil dan ratu malu,,

    (karena disitu ada temen gua yang suting ) hahag

  2. ya begitulah, sebagai sinetron anak bisa bertahan 2 tahun itu emang rekor. jarang2 :)

  3. [...] Jendral Kancil The Movie [...]

  4. gw seneng bgt sama Jendral Kancil (2002-2004), bersyukur hidup masa kanak2 di zaman itu.. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 7,169 other followers

%d bloggers like this: