PERAHU KERTAS (PART 1) : DONGENG CANTIK TENTANG CINTA

PERAHU KERTAS (PART 1) 

Sutradara : Hanung Bramantyo

Produksi : Starvision, Mizan Production/Bentang Pictures & Dapur Film, 2012

Ask any Indonesian booklovers. Dan mereka akan tahu ‘Perahu Kertas’, novel Dee (Dewi Lestari) yang sebenarnya merupakan karya perdananya jauh sebelum fenomena ‘Supernova’ dan novel-novel setelahnya. Sama seperti novel-novel Dee yang lain, walau jauh lebih terkesan ringan, ‘Perahu Kertas’ bukanlah sebuah kisah cinta biasa. Ada filosofi dongeng yang kental di dalamnya dengan balutan rangkaian kata ala Dee yang selalu terasa lebih cerdas. Dee memang tengah mewujudkan mimpinya selama ini, menulis skenario dari ceritanya sendiri. Dan ia berjuang untuk itu. Sejak rencana pembuatannya, Dee sudah menggaris batas-batas persyaratannya, termasuk menulis sendiri skenarionya, bahkan ikut serta dalam pemilihan sutradara sampai cast-nya. Namun bukan berarti ia tak mau berkompromi. Seperti yang dikatakannya dalam beberapa interview, bahwa diskusi panjang dalam pre-produksinya itu sudah meyakinkan Dee pada seorang Hanung Bramantyo, yang selain sutradara juga ikut duduk di kursi produser bersama Mizan dan Starvision. Skenario adaptasi yang digarap penulis asli sebuah novel memang akan sangat setia pada sourcenya dengan detil-detil yang tidak bisa tidak harus ikut divisualkan, namun resikonya, jelas adalah durasi dan kompromi-kompromi sinematis tadi. Bahwa menurut Dee sendiri, ini adalah ‘Perahu Kertas’ dengan Kugy dan Keenan, karakter utama novelnya yang akan sedikit berbeda, walaupun tak lari dari benang merah keseluruhan kisahnya.

Dan itu juga yang akan selalu menjadi benturan dalam sebuah adaptasi. Bahwa ekspektasi pemirsa pembaca novel dengan non-pembaca, jelas juga akan beda. Jadi tak usah heran kalau resepsinya sangat beragam. Di tengah begitu banyak protes-protes yang terutama mengarah pada pemilihan Maudy Ayunda dan Adipati Dolken sebagai Kugy dan Keenan yang berbeda dari harapan banyak pembacanya, tak sedikit juga penonton yang memberikan apresiasi bagus terhadap adaptasi layar lebar ini. Tapi faktor penggarapan Hanung, dari banyak kiprahnya di film-film yang bukan saja berhasil secara kualitas dan komersil, juga tak bisa dianggap remeh. Hasil akhirnya, walau kabarnya sangat ditentang oleh Hanung dari kacamata produser yang khawatir terhadap durasi panjang yang akan mengurangi jumlah pemutaran per hari, penerjemahan skrip yang setelah selesai diedit memakan durasi hingga 4,5 jam itu akhirnya dibagi ke dalam dua film dalam jarak beberapa bulan. Begitupun, ekspektasi dan animo penonton tetap tinggi. Sebagai blockbuster lebaran yang harus bersanding dengan ‘The Expendables 2’, ‘Step Up Revolution’ hingga ‘Cinta Suci Zahrana’, pesaing terberatnya dalam kelas-kelas selera penonton yang berbeda, ‘Perahu Kertas’ nyatanya bisa terus melaju cukup kencang dalam peredarannya.

Kugy (Maudy Ayunda), gadis pemimpi yang menyukai dunia dongeng dalam tulisan-tulisannya, bertemu dengan Keenan (Adipati Dolken) lewat sahabatnya, Noni (Sylvia Fully R.) dan pacarnya, Eko (Fauzan Smith) yang merupakan sepupu Keenan. Keenan yang baru kembali dari Belanda untuk memupus hobi melukisnya demi menuruti keinginan orangtuanya (August Melasz & Ira Wibowo) kuliah di Fakultas  Ekonomi ternyata bisa memahami semua fantasi Kugy terhadap dunia dongeng hingga langsung menarik hati Kugy, tanpa peduli ia masih menjalin hubungan dengan pacar SMU-nya, Ojos (Dion Wiyoko). Sayang, rencana Noni dan Eko untuk menjodohkan Keenan dengan sepupu Noni, Wanda (Kimberly Ryder) membuat hubungan mereka terpecah. Kugy kemudian sibuk menjadi relawan pengajar anak-anak, dan Keenan yang kecewa akhirnya menghentikan kuliah dan bertolak ke Bali untuk menemui Pak Wayan (Tio Pakusadewo), teman ibunya yang pemilik galeri lukisan disana. Takdir kemudian membawa Keenan pada Luhde (Elyzia Mulachela), keponakan Wayan, sedangkan Kugy yang selepas kuliahnya di Sastra bekerja di sebuah perusahaan advertising pada atasannya, Remi (Reza Rahadian), yang juga penggemar lukisan Keenan. Hubungan ini tetap terombang-ambing hingga rencana pernikahan Noni dan Eko mempertemukan lagi keduanya. Will true love find its way? Pembacanya pasti sudah mengetahui endingnya, tapi sebagian lagi penonton yang baru mengikuti kisahnya, harus menunggu bagian keduanya dalam beberapa bulan ke depan.

Ekspektasi dari kelas pemirsanya boleh saja berbeda. Begitu juga sejumlah kekurangan yang ada di dalamnya, dari ketimpangan akting karakter-karakternya dan pace storytelling yang tak bisa tidak harus dimaklumi dalam sebuah adaptasi. Tapi memang sulit untuk tak jatuh hati dengan elemen-elemen yang dibangun Hanung dan timnya lewat skenario Dee. Dialog yang kadang kelewat filosofis tapi tetap jadi terasa wajar keluar dari karakterisasi dan latar belakang tokoh-tokohnya, sinematografi cantik Faozan Rizal yang sangat menjelaskan sebuah lovestory dibalik tata artistik hingga kostum yang cukup detil menjelaskan rentang waktu panjangnya, dukungan aktor-aktor senior yang tampil pas di kelas mereka, chemistry kuat diantara sebagian karakternya, berikut skor dari Andhika Triyadi (meski di satu bagian terdengar mirip dengan satu nomor instrumental Ryuichi Sakamoto dalam ‘Babel’) dan lagu-lagu soundtracknya, adalah alasan untuk itu.

Maudy dan Adipati boleh saja tak sesuai dengan gambaran banyak pembacanya, namun lewat film-filmnya, Maudy sudah menunjukkan kualitas pesonanya menjadi tokoh sentral dalam genre-genre sejenis. She’s sparkling in any kind of characterization, dan disini, Kugy yang hidup introvert dalam dunia dongengnya, berikut caranya menghidupkan radar neptunus dan berdialog dengan binar mata penuh harap saat menyampaikan dongengannya, muncul dengan sangat hidup. Adipati  sendiri memang sudah tertempa jadi pasangan dengan chemistry yang bagus sejak ‘Malaikat Tanpa Sayap’ tempo hari, dan masih akan berlanjut dengan bagian kedua ‘Perahu Kertas’ serta ‘Cinta dan Rangga’ nanti. Namun di sisi lain, dibalik tampilannya yang punya faktor looks cukup gede buat para penonton wanita, aktingnya masih terasa flat kala harus menunjukkan emosi secara mendalam. So jangan heran kala seorang Reza Rahadian yang kualitas aktingnya tak perlu dipertanyakan lagi, muncul ke layar di perempat akhir filmnya, chemistry itu terasa begitu terbanting cukup jauh. Padahal, mereka justru harus bisa memberi penekanan berat ringan pilihan dalam esensi kisahnya dimana sebuah cinta sejati, will not work for the second best. Aktris baru pemeran Luhde, Elyzia Mulachela, juga masih sebatas menunjukkan paras ayunya di bagian pertama ini. Dukungan paling menarik justru datang dari karakter sampingannya, Sylvia Fully dan Fauzan Smith yang bermain lepas, mencuri perhatian dengan chemistry yang sama erat.

Dan lagi-lagi kembali pada usaha Dee untuk menuangkan hampir seluruh karakternya pada skrip adaptasi yang membuat durasinya jadi jauh melebar ini, mau tak mau membuat pace-nya jadi berjalan turun naik di bagian-bagian awal. Karakter-karakter sampingan yang diperankan Ben Kasfayani, Titi DJ atau Qausar Harta Yudana (pemeran Dapunta dalam ‘Pengejar Angin’) juga jadi terasa sambil lewat tanpa penjelasan cukup. Dalam durasi sepanjang itu, kita kerap disuguhi konflik setipe tentang ‘one wants the other who don’t want them back’ sebagai collateral damage karakter sentralnya. Tapi itulah. Dee mungkin terlalu sayang untuk menanggalkan detil-detil bagus dalam novel aslinya, atau tetap mau mempertahankan jiwa novelnya yang sangat dalam menyampaikan filosofi cinta sejati, persahabatan, pilihan hidup serta kekuatan semesta yang tak pernah ditinggalkannya sekali pun, bahkan kian mendalam di karya-karya dia berikutnya. However, pace storytelling yang jadi semakin baik di paruh kedua menuju penggalan dua bagiannya juga tak bisa ditampik, menyisakan rasa penasaran yang membuat kita semua makin dekat pada karakter-karakternya. Jadi begitulah. Semua yang ada di dalam adaptasi layar lebar ‘Perahu Kertas’ ini juga kurang lebih sama. Sebuah pilihan untuk menentukan arah akhirnya yang baru bisa kita lihat di bagian keduanya nanti. Tapi percayalah. Di luar beda-beda ekspektasi itu, ini adalah sebuah dongeng cantik tentang cinta yang sulit untuk tak membuat kita jatuh hati. (dan)

About these ads

~ by danieldokter on August 19, 2012.

15 Responses to “PERAHU KERTAS (PART 1) : DONGENG CANTIK TENTANG CINTA”

  1. Dan, i think you overated this movie. PK is boring and flat :(

  2. i said it too, terlalu lambat di awal2nya, tapi paruh terakhir, or at least 40 menit terakhir waktu Reza mulai muncul ke layar, pacenya jadi lumayan kok. dan sinematografi, soundtrack sama bintang2 yg muncul cukup bisa mentackle kekurangan itu IMO :)

  3. Aku suka dgn ceritanya .. Dan pemainnya .. Hanya saja adipati wajib mengasah lg kemampuannya .. Adipasti jg oke d stu .. Ceritanya mampu ngebuat aku senyum dan sesak ..

  4. menurut sy agak flat di tengah2 jadi membosankan, agak kelamaan sedikit dan klimaks nya kurang dapet, tapi akting maudy menurut sy bagus cocok jadi kugy

  5. problem setiap adaptasi novel yg mencoba terlalu setia sama detil2nya. keterbatasan durasi akan membuat sebagiannya terasa kaya tempelan sambil lewat tanpa penjelasan cukup. harap maklum aja :). toh masih banyak sisi lain yg bisa dipuji dari penggarapannya. and yes, maudy is always irresistible :)

  6. Hmm
    blocking propertinya asik, pemainnya muda-muda jadi kalo agak kaku ya wajar saja, kelihatannya belum pernah jatuh cinta jadi rada bingung mengkespresikan orang ‘buta karena cinta. Anehnya, sayak kok malah terkesan justru pada peran Luhde yang begitu memberi warna pada hati Keenan sampai2 Keenan bersedia memberikan pahatan kayu inisial KKnya pada Luhde tanda dia menghapus kenangan pada si Kugy. Justru yang terasa true love kok itu ya, bukan si Kugy yang kekanak-kanakan dengan si Keenan… but, not bad lah, namanya hiburan ….

  7. [...] kertas ini, Dee tidak hanya menulis novelnya, namun beliau juga menjadi penulis skenarionya. Dari artikel yang telah saya baca, Dee ingin sekali menjadi seorang script-writer dari novel yang dia tulis [...]

  8. ada link film part 1 nya ga ???

  9. [...]           14. PERAHU KERTAS [...]

  10. saya stop nonton di menit ke-30 begitu mendengar karya Ryuichi Sakamoto berjudul Bibo No Aozora, yang dipakai juga di film Babel dan Pathology diambil sama persis sebesar tiga bar. terlalu berlebihan untuk sebuah kebetulan.

  11. [...] Perahu Kertas 1 [...]

  12. ingin menontonnya lagi,,
    gak bosenin

  13. aku suka dengan cerita ,.tokoh nya maudy ayunda cocok memerankan menjadi kugy,.dan adipati dolken juga bagus memerankan menjadi kinan .,.,mereka yang awal hnya sepasang sahabat yang akan menjadi sepasang kekasihh,..

    I like it perahu kertas

  14. ceritanya sangat bagus terharuh

  15. hmmmm sayang gk kayak nyatanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,350 other followers

%d bloggers like this: