CITA-CITAKU SETINGGI TANAH : SIMPLE PREMISE, BIG HEARTS

CITA-CITAKU SETINGGI TANAH

Sutradara : Eugene Panji

Produksi : HumanPlus Production, 2012

I’m gonna tell you the story again, dari sebuah pengalaman saat saya menjadi salah seorang dewan juri di Festival Film Anak, event festival film pendek indie nasional yang diselenggarakan rutin setiap tahun sejak 2008. Spirit-nya adalah film dengan tema anak, serta mengikutsertakan anak-anak sebagai pekerja film. Disitu, dari kebanyakan film fiksi yang diikutsertakan, rata-rata menampilkan anak dalam wujud akting yang seolah meniru orang dewasa, dan yang paling krusial, usaha buat edukasi dalam spirit penyelenggaraannya, justru muncul lewat idealisme tipikal kita yang mengatasnamakan realita. Kira-kira seperti ini. Yang muncul, kebanyakan bukan ‘Nakalnya Anak-Anak’, tapi ‘Daun Di Atas Bantal’. Salah satu film peserta misalnya, yang juga dikerjakan oleh sekelompok anak, bicara masalah ‘pelacuran anak’. Dalam film pendek itu, yang mengambil porsi paling menonjol adalah bagaimana transaksi seks-nya dilakukan lewat calo/germo yang kemudian membawa si anak mengendap-endap di koridor hotel menjumpai seorang om-om yang juga sangat tipikal di film kita. Endingnya? Pelacur anak itu sakit parah sampai meninggal. Tertular HIV dan meninggal dalam pengadeganan yang mengenaskan karena AIDS. Selain seolah gambaran karma hanya ditimpakan pada si anak, juga ada latar (yang lagi-lagi) keluarga susah yang tak punya pilihan. Sejauh mana edukasi yang ingin disampaikan kepada anak sebagai yang terlibat dalam pembuatannya dan juga pemirsanya dari tema-tema seperti ini? Dan mereka, pembuatnya, sangat menaruh harapan atas kemenangannya. Oh my. Kami, para dewan juri, entah semua setuju dengan saya atau tidak, akhirnya memilih salah satu film yang sangat ‘anak-anak’ dalam semua sisinya untuk menjadi pemenang. Film pemenang itu mengisahkan sekelompok anak-anak yang bermain bajak laut mencari harta karun dari sebuah peta yang mereka temukan, dan saat ketemu, peti harta karun itu berisi selembar kertas yang isinya ‘Jangan Lupa Belajar’. Simpel, tak pretensius, tapi mengena. Mengapa penting, karena inilah gambaran tipikalisme kebanyakan orang kita dalam memandang film anak. Dan kebanyakan, menempatkan mereka dalam posisi dan sudut pandang serba dewasa. Saya tak tahu yang lain, namun bagi saya, film anak, haruslah memiliki spirit anak, serta edukasi yang juga sesuai dengan mereka. Punya hati, dan juga punya niat baik.

Beruntung sekarang film anak mulai tumbuh kembali menjadi trend yang seakan berlomba-lomba dibuat meski tak semuanya mendatangkan keuntungan buat produser, seperti di akhir tahun ‘70an dulu. At least, pemirsa belia kita bisa mendapatkan hiburan yang pas buat usia mereka disamping sisi edukasinya lewat tontonan. Karena itu juga, film anak, perlu untuk tetap dibuat. Jadi siapa Eugene Panji, sutradara ‘Cita-Citaku Setinggi Tanah’ ini? Ia adalah sutradara yang sejak lama malang-melintang di dunia videoklip, iklan dan film pendek, yang datang dengan sebuah niat baik membuat film anak. Film yang katanya, baik dan bermanfaat bagi orang-orang yang menontonnya. Proses panjang yang kabarnya terbentur masalah pengumpulan dana akhirnya selesai, dan inilah hasilnya. Apalagi, seluruh pendapatannya akan disumbangkan ke anak-anak penderita kanker lewat Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI). Yup, ini adalah niat baik, dan pesan moral atau edukatif, memang jadi persyaratan penting buat genre-nya sendiri.

Seperti juga film pendek yang memenangkan festival tadi, dibalik niat baiknya, ‘Cita-Citaku Setinggi Tanah’ muncul dengan premis yang sangat, sangat simpel. Ini seperti ‘Children Of Heaven’ yang bercerita soal sepatu, atau ‘Rumah Tanpa Jendela’-nya Aditya Gumay, misalnya, yang ketimbang harus menuangkan plotnya berpanjang-panjang, hanya punya satu premis :  ‘Anak yang mendambakan jendela di rumah kumuh-nya.’ Simpel, tapi langsung membuat jatuh hati. Premis yang juga sangat menunjukkan pola pikir serba polos dari seorang anak. Dalam ‘Cita-Citaku Setinggi Tanah’, yang bercerita soal cita-cita, yang pasti dimiliki setiap anak,  muncullah Agus (M. Syihab Imam Muttaqin), anak dari desa kecil di lereng Merapi, Muntilan, Jawa Tengah. Berbeda dengan kawan-kawannya yang memiliki cita-cita setinggi langit, Agus hanya punya satu cita-cita dengan pikiran polos kanak-kanaknya. Bermimpi untuk bisa makan di restoran Padang. Tak peduli bagaimana dunia sekitarnya menertawai Agus, ia tetap teguh memperjuangkan keinginannya. Karena cita-cita, tak seperti tugas yang diberikan gurunya, memang bukan buat ditulis, tapi untuk diwujudkan.

See how simple that was. And I won’t spoil you with any details tentang apa dan mengapa yang ada dibalik cita-cita Agus dari skrip yang ditulis oleh Satriono itu. Eugene dan Satriono mungkin tahu bahwa premis simpel ini sulit untuk dibawa kemana-mana, hingga introduksi para karakternya memakan hingga separuh durasi. Namun selain justru jadi sisi baik yang tak membuatnya bias kesana kemari, skenario itu juga dengan cerdas membawa kita ke detil-detil pemikiran Agus yang serba polos sebagai anak-anak, dialog-dialog bagus hingga ke scene-scene akhir serta epilog-nya yang benar-benar muncul dengan menarik. Seolah sebuah pemaparan twist, alasan dibalik cita-cita Agus tertuang dengan storytelling yang unik dengan pesan demi pesan yang dimuat dengan taktis. Tampilan ala dokumenter dalam prolog dan credits scene-nya terasa padu dengan keseluruhan filmnya. Tak juga harus mengeksploitir kesedihan atas kondisi anak-anak miskin itu, tapi cukup dengan menyentil beberapa pola kehidupan orang desa yang dipenuhi mimpi. Dan tak harus pula tampil dengan sajian sinematografi serba wah seperti kebanyakan film anak-anak kita sekarang. Cukup dengan sederhana, tapi tak sekalipun kehilangan detilnya.

Cast-nya pun tak kalah menarik. Meski rata-rata menampilkan pemeran baru, M.Syihab muncul sepolos karakter Agus bersama rekan-rekannya, Dewi Wulandari Cahyaningrum yang bermain menarik sebagai Sri yang bercita-cita jadi artis bersama obsesi ibunya yang pemilik salon dengan rambut dicat pirang, Rizqullah Maulana Daffa sebagai Jono serta Iqbal Zuhda Irsyad sebagai Puji. Anak-anak ini mampu membawakan karakter mereka masing-masing sebagai pemeran utama di film ini dengan santai, luwes dan luarbiasa polosnya tanpa harus mencoba meniru-niru orang dewasa. Masih ada juga deretan pemeran senior antara lain Agus Kuncoro sebagai ayah Agus, Nina Tamam dan Iwuk Tamam sebagai ibu dan neneknya, serta cameo Donny Alamsyah dan pemeran si Mbah Tapak yang meski muncul sangat singkat tapi punya line-line dialog yang jadi memorable quote dalam penyampaian pesan-pesan edukatif di film ini. Alunan skor dari Endah N Rhesa juga sangat masuk memberi feel yang pas ke tiap adegannya.

So yes, if you asked me how good it was, I’m telling you. ‘Cita-Citaku Setinggi Tanah’ adalah film anak yang sangat bagus. Punya sisi hiburan sekaligus edukasi sama tinggi dibalik premis simpelnya, dan sangat pantas jadi contoh untuk pola pikir kebanyakan sineas yang memberat-beratkan tontonan anak hanya buat sebuah tujuan prestisiusme sinematis. Dan diatas semuanya, ini yang paling penting. Bahwa dalam mengusung genre-nya, kita bisa jelas melihat niat baik dan penggarapan keseluruhannya yang penuh dengan hati. Miris sekali rasanya kalau film baik seperti ini lagi-lagi harus hanya mampir di bioskop dalam waktu kurang dari seminggu karena keengganan banyak penonton film kita yang lebih memilih horor-horor mistis tanpa juntrungan ataupun bombastisme lainnya. This is definitely something you should learn and be proud of. Simple premise, Big Hearts! (dan)

About these ads

~ by danieldokter on October 11, 2012.

5 Responses to “CITA-CITAKU SETINGGI TANAH : SIMPLE PREMISE, BIG HEARTS”

  1. Wah, setuju banget sama reviewmu ini, Bang! film ini emang sederhana tapi ngena banget.. Yang paling bikin jleb sih sebenernya bukan kemiskinan si Agus, tapi orang tuanya yang karena kemiskinan mereka jadi kayak kurang mendukung Agus buat ngeraih cita-citanya gitu.. apalagi waktu bapaknya bilang, tugas sekolah jaman sekarang harus pake duit, kalo dulu cuma pake otak aja.. untung si Agus cerdas dan bisa muter otak buat nyari duit :)

  2. SARAN SAJA… LEBIH BAIK JUGA DIBERI RATING MENURUT PAK DANIEL… KARENA JIKA SAYA BACA, KEBANYAKAN FILM DINILAI SELALU BAGUSSS.

  3. maksud utamanya cuma buat memberi info kok, dont wanna be too judgmental. however ntar tiap akhir tahun ada rating-nya kok buat semua. dan ga semua jg bagus :), barusan ada rumah kentang yg review-nya jg mengecewakan. tapi saya ga mau cuma kritik melulu terus ngesampingin sisi baiknya. penilaian utama tetep seberapa berhasil film itu masuk ke genre dan tujuannya. mgkn krn itu kedengeran sekilas semuanya bagus :)

  4. [...] CITA-CITAKU SETINGGI TANAH [...]

  5. [...] Cita-Citaku Setinggi Tanah [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,307 other followers

%d bloggers like this: