MIKA : SISTEM INFORMASI FILM KITA YANG SALAH KAPRAH

MIKA

Sutradara : Lasja F. Susatyo

Produksi : IFI dan First Media Indonesia, 2013

Mika1

            Selain menghibur, tujuan sebuah karya visual, termasuk film, adalah sarana informasi. Tentang apa yang diangkat, tentang apa yang digambarkan dalam karakterisasinya, bahkan sampai hal-hal terkecil. Dan masih ada batasan-batasan lain. Sebagian bisa dimaklumi menurut kesesuaian genrenya, misalnya Anda boleh saja bicara apapun dalam sebuah fantasi, tapi sebagian juga tanpa kompromi, tak boleh salah-salah. Dalam bentuk paling simpel, coba bayangkan bila ada film anak-anak tentang pendidikan, bukan dalam template fantasi, yang mengajarkan 1+1 tidak sama dengan dua, atau sistem pengajaran lain yang tak dianggap benar oleh apa yang sudah menjadi sebuah konsensus dalam masyarakat. Begitu pula, saat tema-tema ini menyentuh sebuah keahlian. Riset dan pembelajaran, seharusnya sangat diperlukan. Dan ada lagi sistem informasi yang sudah mutlak seharusnya diketahui oleh masyarakat luas, seperti penyuluhan-penyuluhan penyakit yang bukan lagi hanya menjadi milik medis, tapi sudah diharuskan menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat, dimana penonton, termasuk di dalamnya sebagai sasaran sosialisasi dan pemberian informasi itu. Pasal HIV dan AIDS, misalnya. Bahkan di sekolah-sekolah, sejak dini pun, sistem pengetahuan ini sekarang sudah diajarkan. Artinya, masyarakat, juga dituntut untuk tahu buat membangun suatu sistem kewaspadaan, dan di sisi lain, guna bersosialisasi dengan penderitanya yang kemungkinan, ada di tengah-tengah kita. Mungkin teman, mungkin kerabat, atau diri sendiri.

Mika3

            Hal-hal inilah yang sering sekali luput dari media-media kita, termasuk film. Di saat tenaga medis selaku pihak yang paling bertanggung jawab dalam sosialisasi itu, bersama badan-badan atau yayasan yang peduli sibuk menyampaikan informasi yang benar, ada kepentingan lain yang masuk ke tengah-tengahnya. Tulisan-tulisan dari sekedar forum, blog, novel atau apalah, yang kadang melaju saja seenaknya dengan cakupan luas untuk dinikmati kalangan luas baik dari media cetak, visual maupun elektronik, yang ingin mendapatkan popularitas, promosi, atau malah keuntungan materi. Di saat media-media luar sangat berhati-hati atas kesalahan informasi, disini, ia dibiarkan tumbuh subur. Banyak orang angkat bicara di bidang yang tak dikuasainya hanya dengan bermodalkan sumber-sumber yang belum tentu punya kebenaran yang otentik. Dan bagi film Indonesia, dari dulu hingga sekarang, ini pula yang paling sering dibidik dalam bentuk jualan. Memancing kesedihan melalui tontonan dengan banyaknya unsur gaya-gayaan yang tak lagi sesuai dengan pengetahuan kreatornya. Everyone can be something they wanna be, tanpa tanggung jawab, dan di-endorse pula oleh masyarakat luas dengan sistem edukasi kacau-balau. Salah satu penyebab mengapa mitos paling banyak terjadi disini.

Mika5

            Dan inilah yang dilakukan ‘Mika’, yang diangkat dari novel bergaya letters diary ala ‘Diary Of A Wimpy Kid’, berjudul asli ‘Waktu Aku Bersama Mika’ karya seorang anak remaja bernama Indi. Saya tak tahu sejauh mana batas kebenaran kisah nyata dengan fiksi berikut ketidaktahuan yang menyusun unsur-unsur yang ada dalam novel itu, baik dari dua tema yang dipilihnya sebagai sandaran karakternya, satu penderita skoliosis (sebuah keadaan kelengkungan tulang belakang abnormal ke arah samping), dan satunya HIV/AIDS, yang jelas jadi sasaran empuk produser untuk sebuah adaptasi film tearjerker dibalik sebuah melodrama cinta remaja. Mungkin saja sesuai dengan kisah nyatanya, kalaupun benar, mereka-mereka ini adalah masyarakat yang sama tidak tahu-nya soal pengetahuan medis itu. Tapi untuk menjadi sebuah santapan publik, baik dari novel maupun filmnya, mereka seharusnya sadar, ada bagian-bagian yang harusnya lebih diutamakan dalam penyampaian informasi. Jangan hanya aji mumpung mengangkat novel best seller ke layar lebar sebagai salah satu komoditas jaminan laku sekarang ini tanpa cek dan ricek ke kontennya.

Mika7

             Apalagi, para pembuatnya mempublikasi sebuah ajakan untuk sebuah kepedulian terhadap dua keadaan medis ini, dimana penulis novelnya kabarnya juga salah seorang skolioser (penderita skoliosis). Riset atau tidak, menggunakan mentor yang tepat atau tidak, dari medis atau sekadar aktifis yayasan yang kadang juga masih sering salah kaprah, kenyataannya, apa yang ada di dalamnya, terutama soal HIV/AIDS, kebanyakan justru menunjukkan ketidaktahuan mereka. Ada usaha untuk mensosialisasikan kepedulian itu lewat sebuah adegan karikatural di dokter gigi yang menolak ODHA, tapi itu bukan yang poin terpenting sebelum penyampaiannya dilakukan dengan benar. Ketika bicara soal HIV/AIDS, salah satu hal terpenting yang harus diketahui oleh semua, adalah perbedaan antara HIV+ dan AIDS, untuk tak sembarangan menggunakan istilahnya, itu kalaupun tadi, if this is really based on true story, dan karakter-karakter yang diilhami aslinya memang tak tahu. Saya akan gambarkan secara singkat dengan bahasa awam, bahwa walau sama-sama disebut ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), istilah HIV+ diperuntukkan untuk orang-orang yang telah terserang virus penyebabnya, yang menyerang daya tahan tubuh, namun belum sampai ke titik dimana daya tahan itu hilang sama sekali serta masih bisa diterapi dengan obat guna mempertahankan keadaan ini. Sementara AIDS adalah keadaan dimana tubuh tak bisa lagi menahan serangan kuman-kuman dari luar dengan kondisi yang hampir bisa dipastikan memerlukan tindakan rawatan, walau ini pilihan. Bukan karena virusnya bisa menular, tapi infeksi-infeksi oportunistik oleh kuman lain yang ada dan bisa mengkontaminasi, mengharuskan sebuah perawatan isolatif yang tak lagi membuat Anda bisa bebas bersosialisasi dan bergerak seenaknya dengan kriteria diagnosis pasti yang sudah ditetapkan secara medis. So tell me apakah yang Anda saksikan dalam film ini merupakan penggambaran berikut penyuluhan atau penyampaian informasi yang layak. Tetap, dalam sebuah informasi, Anda harusnya tak langsung melangkah ke Z tapi lebih dulu dari A. Dengan kebenaran informasi yang otentik demi sebuah edukasi. Sebagaimana wajarnya tanpa bombastisme bertujuan lain. Itu kalau Anda-Anda semua punya hati. Atau, kalau tidak, resikonya malah akan jadi bumerang ke keduabelah pihak baik penderita maupun orang di sekitarnya. So, have a heart. Have a heart.

Mika10

            Dalam liburan pasca SMP-nya, Indi (Velove Vexia) yang menderita skoliosis dan harus menggunakan brace (penyangga tubuh), berkenalan dengan Mika (Vino G. Bastian), cowok mantan pengguna narkoba yang belakangan mengaku sebagai penderita AIDS (begitu kata skrip dan novelnya, dengan dialog-dialog yang entah berapa kali menyebut AIDS, AIDS, dan AIDS, bukan HIV+ sesuai dengan apa yang digambarkan melalui karakternya). Namun Indi yang terlanjur menyukai Mika menerima permintaan Mika untuk menjadi kekasihnya. Lama kelamaan, masalah ini semakin terungkap ke lingkungan sekitar mereka, baik orangtua dan teman-temannya di sekolah. Padahal, justru dengan hubungan itu, masing-masing mereka mulai belajar untuk bisa menerima keadaan, terutama Indi dengan kekurangan fisiknya. Mika yang mulai jatuh kondisinya dengan tekanan-tekanan ini lantas berusaha menjauhi Indi, namun perlahan-lahan Indi tahu, bahwa walau sudah tak ada nanti, Mika akan terus hidup untuk menyemangatinya, dan Indi akan terus menulis surat buat Mika.

Mika6

            Tak ada sebenarnya yang salah dengan plot itu untuk membangun sebuah melodrama cinta yang menyentuh. Tapi, dengan catatan, bila dilakukan dengan cermat dan tak melewati batas-batas kewajaran yang ada, pun begitu halnya dengan informasi-informasi medis yang ingin disampaikannya. Namun ‘Mika’ lagi-lagi terjebak dalam skrip besutan Indra Herlambang dan Mira Santika yang sangat tipikal dalam film-film kita. Seenak perutnya membangun konflik tanpa lagi mementingkan kewajaran antara hubungan-hubungan karakternya. Belum lagi seabrek penyuluhan lain ikut masuk seperti tentang narkoba tanpa sekalipun bisa tampil relevan, dari konflik klise antar siswa-siswi SMU sampai ke sempalan-sempalan adegan action yang entah untuk apa diikutsertakan ke dalam dengan karakter antagonis komikal yang diperankan Dallas Pratama. Motivasi karakternya pun serba tak jelas dibalik gambaran karakter Mika yang dari awal ngomong kesana kemari soal AIDS tapi seolah tak punya beban walau sahabatnya yang diperankan Framly Daniel Nainggolan sudah jadi korban, tapi sibuk mencari keseriusan hubungan dengan Indi yang kadang juga adem-ayem saja mengaku tahu ini itu dari internet untuk menjalani hubungannya dengan Mika. Tanpa kedalaman penggalian karakter, karakter-karakter sampingannya pun diperparah dengan dialog-dialog antar orangtua (diperankan Iszur Muchtar yang seperti biasa, sangat sinetron-ish di part-part drama, Donna Harun dan Henny Zuliani) yang sangat tak masuk akal demi bombastisme penyuluhan sikap non-diskriminatif ODHA. Meski benar, dialog yang muncul untuk penekanan itu bukannya menyentuh tapi terdengar luarbiasa naif-nya.

Mika8

            Lagi dalam masalah visual, apa yang tergambar juga mereka lakukan tanpa pendalaman riset. Untuk apa riasan gigi kuning karakter Mika kalau hanya mau menggambarkan dia mantan pemakai narkoba atau penderita HIV+ tanpa memperhatikan aspek lain yang lebih penting, dan ini jadi bertambah kacau kala karakternya jatuh ke kondisi menyedihkan. Penderita AIDS memang tak mampu menahan serangan infeksi oportunistik termasuk radang paru yang digambarkan, namun dari sejuta bentuk infeksi yang bisa mewakili, mereka memilih tipikalisme adegan (lagi-lagi) batuk-batuk ala orangtua dan kemudian bukan mengeluarkan darah, tapi lebih seperti muntah darah. Dan entah maunya seperti ‘Philadelphia’-nya Tom Hanks dalam menggambarkan kondisi keganasan kulit (Sarcoma Kaposi) yang dideritanya tapi malah mirip borok mengerikan karena bingung dengan infeksi jamur oportunistik, mungkin, sementara riasan bagian wajah hingga ke scene akhir tetap dibiarkan rapi hanya dengan makeup pucat yang lagi-lagi sangat tipikal ala film kita. Jadi senjatanya kebanyakan hanya batuk-batuk dan dangkal sebatas itu. But on the other hand, tak ada kesalahan serius dalam informasi mengenai skoliosis-nya, yang memang tak lebih dieksplor ketimbang plot HIV/AIDS-nya. Yang jelas, semua orang yang terlibat disini tak tahu apa bedanya HIV+ dengan AIDS dalam pengistilahannya, dan mereka tak mencoba berusaha jadi benar. Boro-boro mengajak memberi semangat dan kepedulian, tapi pembuatnya sendiri tak mau peduli dengan apa yang ingin mereka sampaikan.

Mika4

            However, sutradara Lasja F. Susatyo, sebagaimana yang kita tahu lewat karya-karyanya yang sangat layak seperti  ‘Dunia Mereka’, ‘Langit Biru’ (lupakan ‘Bukan Bintang Biasa’), segmen terakhir ‘Perempuan Punya Cerita’ yang jauh lebih layak menceritakan kondisi mirip, memang terlihat masih mencoba membangun sebuah melodrama tearjerker yang menyentuh bersama sejumlah elemen-elemen pendukung lain. Sinematografi dari Amalia T.S. dan Padri Nadeak, sebagaimana andalan film-film kita sekarang yang lebih mengedepankan gambar, tampil dengan shot-shot yang cantik. Musik dari Aghi Narottama dan Bemby Gusti serta beberapa sempalan adegan gigs dari lagu-lagu soundtrack-nya juga sangat bercitarasa khas Lasja yang selalu punya elemen musik yang melekat ke film-filmnya pun menghias ‘Mika’ dengan cukup baik. Namun sayangnya mereka tak menyadari bahwa mereka berusaha berjuang diatas sumber cerita dan skenario yang bertolak belakang. Dan ini juga turut mempengaruhi akting para pendukungnya. Bukan mereka bermain jelek dengan emosi akting tak ter-handle dengan baik, termasuk Velove Vexia dan Vino G. Bastian yang kita tahu bukan aktor sembarangan. Namun karakterisasi yang ada dalam skrip itu memang mengacau-balaukan semuanya. And I’m sure, penonton lain yang sama tak pahamnya dengan mereka akan bisa menerima tearjerker ini sebagaimana yang mereka harapkan. Tapi lagi, ini berarti, penonton kita akan terus dibodoh-bodohi dalam sebuah sistem penerimaan informasi yang harusnya wajib mereka ketahui secara lebih. Mendukung Film Indonesia itu memang penting. Tapi yang menyesatkan masyarakat atas informasinya yang salah kaprah, sebaiknya jangan. Karena itu artinya, kita tak akan pernah bisa belajar.

Mika2

        And I’m gonna end this with a sort of love letter, terutama bagi sineas-sineas yang masih punya hati. To dear Indonesian writers and filmmakers, tolonglah tidak lagi mencoba menyampaikan penyuluhan apapun yang menyangkut keahlian, bila tak didasari dengan knowledge serta riset yang layak. Apalagi dengan embel-embel bombastisme buat sebuah tendensi mencari untung lebih banyak, karena efeknya bisa berubah menjadi bumerang baik bagi penonton dan orang-orang yang kalian jadikan objek penderitanya. Oh have a heart. Please have a heart.  (dan)

About these ads

~ by danieldokter on January 17, 2013.

7 Responses to “MIKA : SISTEM INFORMASI FILM KITA YANG SALAH KAPRAH”

  1. tulisannya bagus banget om daniel..keadaannya hampir sama dgn penyakit social media yang sering menyebarkan pesan yang belum tentu diketahui kebenarannya dengan alasan ingin berbuat baik..what a poor mindset..

  2. Itulah kenapa saya belum punya alasan kuat nonton film indonesia..film sama dngan judul beda..dia lagi,si itu lagi,aktingnya begitu lagi,..

  3. Kualitas informasi ???

  4. [...] mendalam, ‘Sang Pialang’ sangat patut dihargai lebih. Choose this one for the week, ketimbang melodrama adaptasi novel satunya yang dipenuhi alasan-alasan mulia untuk penyuluhan padahal kenyataannya menyampaikan informasi tak [...]

  5. […] selebihnya, lagi-lagi cuma drama berlatar HIV/AIDS tak jauh dari film terakhir Lasja F. Susatyo, ‘Mika’ yang juga dipenuhi informasi salah kaprah dengan pesan yang sama-sama salah kaprah, ini sangat […]

  6. Im sure… film ini hny mereproduksi dr realitas yg ada tnp adanya suatu solusi yg baik… dampaknya malah akan mengkonstruksi masyarakat seperti bullying thpd odha dlm film mika

  7. Om saran saya kalo nulis blog itu langsung to the point gk usah embulet ribet gitu. Yg mw disampaikan juga cuma film mika salah tapi kok malah berputar putar gitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,307 other followers

%d bloggers like this: