SANG PIALANG : A STOCK MARKET CALLED LIFE

SANG PIALANG

Sutradara : Asad Amar

Produksi : PT Garuda Nusantara Cinema, MP Entertainment, 2013

SP12 

            So, ‘The First Indonesian Wall Street Drama’, katanya. Ah, kita mungkin tahu bahwa Bursa Efek Indonesia (dulunya Jakarta) skalanya tak pernah jadi sebesar itu dalam dunia bursa efek dan pasar modal. Sekedar promosi, karena istilah ‘Wall Street’ juga merupakan istilah ikonik untuk fenomena ini, sah-sah saja. Tapi yang pasti, pialang saham, sebagai salah satu bagian dari profesinya, juga sekali-sekali pasti layak mendapat sorotan publik untuk lebih dikenal. Jangankan dunianya. Karakternya saja masih jarang-jarang muncul di film kita. Nanti dulu hasilnya, namun dalam keragaman tema film kita, ini adalah suatu eksplorasi baru, mengingat film kita juga jarang sekali sarat informasi. Popular knowledge, se-sedikit apapun, apalagi yang ada di sekitar kita sehari-hari, itu penting buat sekali-sekali dilirik. Apalagi ‘Sang Pialang’ ini dibuat dengan dukungan penuh dari Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Pasar Modal (Bapepam-LK RI – Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Republik Indonesia). So what’s the story all about?

SP8

            Meski kesehariannya berteman akrab bersama sahabat-sahabat se-profesi mereka ; Analea (Kamidia Radisti), Irfan (Mario Irwinsyah) serta Gilang (Alblen Fillindo Fabe), dua pialang dari Barata Sekuritas, Kevin (Christian Sugiono) dan Mahesa (Abimana Aryasatya) punya celah yang bisa meledak sewaktu-waktu. Pasalnya, Kevin yang notabene anak pemilik perusahaan stock exchange itu, Rendra (Pierre Gruno), merasa ayahnya berat sebelah ke Mahesa yang sering memegang rekor sales tertinggi atas kejujurannya. Sementara Kevin cenderung lebih berani dalam meng-handle klien. Apalagi, ketertarikan Kevin ke Analea selalu terhalang rasa suka Analea terhadap Mahesa yang kelewat memendam perasaannya. Ketimbang mengurusi urusan pribadinya, Mahesa lebih fokus ke usaha meyakinkan ayahnya, Hadi (Slamet Rahardjo Djarot) untuk menginvestasikan uangnya ke permainan saham. Ambisi Kevin akhirnya berujung pada sebuah kecerobohan yang membuatnya melanggar batas. Bukan saja membuat persahabatan mereka retak, perusahaan tempat mereka bekerja juga kini terombang-ambing dalam bahaya atas penarikan modal nasabah terbesarnya, Gustom (Ferry Salim).

SP14

            Dibesut oleh sutradara Asad Amar yang sebelumnya mengisi posisi astrada dalam film-film seperti ‘Mendadak Dangdut’ dan ‘Otomatis Romantis’, skrip yang ditulis oleh Titien Wattimena dan Anggoro Saronto sayangnya terlalu asyik menggambarkan hura-hura hedonis dibalik tema persahabatannya di paruh awal film. Tak juga terlalu fokus ke penekanan karakterisasi lima tokoh utamanya, apa yang kita lihat hanyalah hangouts to hangouts, clubs to clubs, restaurants to restaurants, diselingi dengan pameran branded accesories dari luxurious wardrobes, apartments, cars and ladies handbags, padahal chemistry-nya sudah jelas terbentuk rapi sejak awal.  Ini mau tak mau membuat durasinya molor sepanjang 117 menit meninggalkan pengenalan profesi yang harusnya jauh lebih penting untuk dieksplorasi. Bukan juga artinya harus semua, tapi memang hanya karakter Mahesa yang dibahas lebih dalam bersama konflik intern keluarganya yang sesekali menyempil diantara highlife exhibition itu.

SP10

            Baru di paruh kedua skrip itu mulai lebih efektif mengulik tema finansial-nya dibalik profesi para pialang saham ini. Walau hadir cukup sebatas superfisial, namun beberapa informasi populer-nya mengalir cukup mulus membangun konflik cerita dan gambaran profesinya secara umum. Dari pola turun naik pasar modal, resiko-resiko yang ada di dalamnya hingga otoritas badan pengawas yang dituangkan lewat dialog dan beberapa karakter tambahannya. Hanya sayang penampilan aktor-aktor seperti Joe P. Project, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo harus dibiarkan hanya seolah cameo dalam karakterisasi mereka yang sambil lewat saja. Sementara Ferry Salim dan Pierre Gruno, dengan penampilan tipikal perlente mereka agak sedikit kelewat komikal tanpa intensitas serta motivasi maju-mundur yang jelas. Mungkin Asad dan penulisnya tak mau repot menambah subplot dengan mengorbankan pameran highlife-nydi paruh awal tadi,  sebagai jualan yang disukai penonton kita.

SP2

            Tapi tak bisa dipungkiri juga, chemistry pendukung utama Abimana Aryasatya, Christian Sugiono dan Kamidia Radisti plus Mario Irwinsyah dan Alblen Fillindo Fabe yang cukup menonjol di sisi entertaining-nya hadir dengan baik. Di saat Christian tampil pas sekali menokohkan Kevin yang ambisius, Kamidia cukup manusiawi sebagai a person of interest di tengah-tengah tema cinta segitiganya, Abimana, biarpun cenderung tipikal, selalu juara meng-handle dialog-dialog wiseass yang kelihatannya memang khusus ditulis buat karakternya. It’s like, just throw him a bunch of wiseass dialogues, and Abimana will deliver it at his very bestSlamet Rahardjo Djarot, as ever, juga turut memberi warna ke konflik yang melibatkan karakternya tanpa sekalipun pernah jadi berlebihan. Selebihnya adalah kekuatan sinematis kita yang sering sekali menyelamatkan kekurangan penceritaan sebuah film. Ada sinematografi Gunung Nusa Pelita yang dengan cermat menghadirkan tak hanya shot-shot cantik dibalik pameran highlife berikut kesibukan stock exchange dibalik set-nya yang terbatas,  bersama tata artistik Allan Sebastian yang jelas dibutuhkan di tema-tema yang tersangkut-paut dengan pengenalan profesi ini. Bisa jadi sedikit narsis, tapi juga di sisi lain, informatif.

SP5

            And so, ini adalah sebuah pilihan. Asad dan timnya mungkin sedikit banyak juga sadar bahwa penonton kita belum saatnya diberikan tontonan yang murni membahas masalah finansial yang bisajadi belum akrab ke semua lapisan ketimbang kehidupan jetset yang menjual mimpi. Dan ternyata senjatanya cukup ampuh, dengan mengimplementasikan seluk-beluk stock market dan profesi ini, biar sebatas superfisial namun sudah cukup jelas memberi informasi yang tak juga mengada-ada, ke sebuah gelaran paling simpel yang bisa secara universal diterima oleh semua pemirsanya. Persahabatan, keluarga, dan cinta. A stock market called ‘Life’. Sekali lagi, di tengah hanya segelintir film kita yang bisa hadir membangun plotnya dengan informasi genuine, walau tak sekalipun jadi mendalam, ‘Sang Pialang’ sangat patut dihargai lebih. Choose this one for the week, ketimbang melodrama adaptasi novel satunya yang dipenuhi alasan-alasan mulia untuk penyuluhan padahal kenyataannya menyampaikan informasi tak benar. (dan)

Oh, hey, wait! This one would’ve been much better as the official poster, don’t you think?

SP13

About these ads

~ by danieldokter on January 18, 2013.

2 Responses to “SANG PIALANG : A STOCK MARKET CALLED LIFE”

  1. bagus ceritanya

  2. mantap kayanya nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,759 other followers

%d bloggers like this: