THE LAST STAND : A BLAZING TRAIL OF MODERN KIMCHI WESTERN

THE LAST STAND

Sutradara : Kim Jee-woon

Produksi : diBonaventura Pictures, Lionsgate, 2013

LS1

            Ok. Lepas dari fans-nya Arnold Schwarzenegger yang sudah lama menantikan kemunculannya kembali sebagai on-screen action hero pasca karir pemerintahannya, what do you see in ‘The Last Stand’ trailer? Nobody will ever blame you. Trailer itu memang tampil sedemikian tak menarik, begitu pula poster-posternya, kecuali the painted-style diatas. Yang terlihat mungkin hanya film action seadanya seperti ‘Walking Tallremake tahun 2004-nya The Rock, yang tak juga punya gaung kemana-mana. Apalagi mereka sama-sama punya Johnny Knoxville yang seperti biasa, jadi penggembira dalam nuansa komedi nyeleneh yang jelas. Dan ah, sulit untuk tak mengakui secara fisik Schwarzenegger memang sudah kelihatan tak segar lagi di usianya yang menua. Kecuali fans-nya, who cares? Sebagian pun mungkin sudah tak percaya ia akan bisa menghasilkan a pack of loaded actions. After all, semua promonya sudah memberi kesan template klise di film-film action Hollywood. Sheriff tangguh, kota kecil perbatasan, sekelompok bandit, agen FBI, machine guns riot dan car chase actions. Modern westerns. Tak heran, meski resepsinya di kalangan kritikus cukup berimbang, perolehan box-officenya, payah. Tapi coba perhatikan lagi sineas yang ada dibaliknya.

LS2

            Now who’s Kim Jee-woon? Untuk penggemar sinema Korea atau yang mengikuti perkembangan distribusi internasional film-filmnya, pasti sudah mengenal film-film Jee-woon. Sebagai salah satu sutradara berstatus ‘internationally acclaimed’, Jee-woon sudah menghasilkan banyak remarkable K-movies, walau di genre yang beda-beda tanpa style khas yang jelas. Dari ‘The Foul King’, ‘A Tale Of Two Sisters’, ‘A Bittersweet Life’,  hingga salah satu pencapaian terbaik sinema mereka di ground-breaking genre Kimchi Western-nya, ‘The Good, The Bad And The Weird’ dan tentu yang paling diingat banyak orang, ‘I Saw The Devil’. Diimpor jauh-jauh dari Korea, tentu karena Jee-woon punya sesuatu. Clearly, ia adalah seorang storyteller jagoan.

LS12

             Di kursi produser, ada nama Lorenzo diBonaventura, mantan eksekutif Warner Bros yang kini mendirikan company-nya sendiri di bawah Paramount Pictures. Selain sukses lewat franchise ‘Transformers’, dan memproduseri banyak film-film sukses, dari sekian banyak kiprahnya di Warner Bros, diBonaventura paling dikenal sebagai orang yang menggolkan proyek ‘The Matrix’ dan pembelian franchise ‘Harry Potter’ dari J.K. Rowling ke Warner. Cerita dan skripnya memang digagas oleh nama yang masih cukup baru, Andrew Knauer, namun disupervisi oleh George Nolfi (‘The Adjustment Bureau’, ‘The Bourne Ultimatum’) bersama revisi Jeffrey Nachmanoff (‘Traitor’, ‘The Day After Tomorrow’). Tapi sekedar nama, bisa saja menghasilkan karya yang meleset dari perkiraan. Who knows?

LS11

            Sebagai seorang Sheriff di small bordertown Sommerton Junction, Arizona yang penuh dengan imigran Meksiko, Ray Owens (Arnold Schwarzenegger) punya keinginan santai setelah melepas karirnya di LAPD dengan sebuah trauma. Tapi bukan berarti ia membiarkan ketidakadilan terjadi di kotanya, meskipun deputy-deputy-nya kelihatan sangat tak bersemangat. Ada Lewis Dinkum (Johnny Knoxville), orang aneh yang suka mengkoleksi senjata vintage dan menembaki daging bersama Mike ‘Figgy’ Figuerola (Luis Guzmán) dan Jerry Bailey (Zach Gilford) yang sudah bosan berkutat di kota kecil. Hanya deputy Sarah Torrance (Jaimie Alexander) yang cukup tangguh namun harus menghadapi ulah mantan kekasihnya sekaligus sahabat Bailey, Frank Martinez (Rodrigo Santoro) yang suka membuat kerusuhan. Namun sekali ini mereka harus bersiap menghadapi sekelompok orang-orang misterius yang dicurigai Owens sejak awal, apalagi dengan terbunuhnya seorang pemilik peternakan, Parsons (Harry Dean Stanton) secara misterius. Dipimpin oleh Burrell (Peter Stormare), ternyata orang-orang ini adalah serdadu bayaran yang disiapkan gembong kartel narkoba Gabriel Cortez (Eduardo Noriega) demi memuluskan pelariannya membawa Corvette dengan modifikasi canggih bak jet tanpa suara melewati Sommerton menuju perbatasan Meksiko. Dibuntuti oleh agen Bannister dan Hayes (Forest Whitaker & Daniel Henney), Cortez yang menyandera agen Ellen Richards (Génesis Rodríguez) pun harus berhadapan dulu dengan Owens yang sudah menyiapkan kekuatan untuk melindungi kotanya berjibaku melawan gerombolan Burrell. Not in his town. Not in his watch.

LS10

            Di tangan Knauer, ‘The Last Stand’ tanpa bisa ditampik memang seolah memadukan ‘High Noon’ (1952, Fred Zinnemann), sebuah western klasik Gary Cooper-Grace Kelly dengan cult car chase favoriteThe Vanishing Point’ (1971, Richard C. Sarafian) atau film-film yang melibatkan elemen-elemen sejenis. Tough Sheriff and car chases through border towns. Namun tribute-tribute klasik itu justru berubah dan bertambah bagus dengan masuknya sutradara Kim Jee-woon di tengah gaya khas sinema mereka. K-cinema yang sudah ditunjukkannya dalam Kimchi WesternThe Good, The Bad And The Weird’ tadi, yang mencampurkan unsur western klasik dengan riot showdown ala modern westerns-nya Robert Rodriguez.

LS5

            Dengan cerdas, Jee-woon meninggalkan jejak-jejak khas sinema Korea tak hanya dalam storytelling, sinematografi dari Kim Ji-Yong yang bekerjasama dengannya di ‘Doomsday Book’, tapi juga music scoring unik dari komposer Korea, sekaligus musisi electro/experimental/nu jazz terkenal mereka, Mowg, yang juga sudah sering menggarap scoring film-film Jee-woon, hingga ke karakternya. Setengah jam pertama akan berlalu dengan perlahan seperti rata-rata film Korea, kadang menjelaskan karakter-karakternya yang cukup banyak, seringkali sebagiannya aneh dan nyeleneh demi sedikit sempalan humor, juga tanpa relevansi yang benar-benar terlalu diperlukan. But once the engine starts, it goes wildly into excitements. Nonstop actions filled with bloodbath goryness menuju klimaks dengan intensitas memuncak, dengan banyak eksplorasi action stunts baru dari blazing gunshots, corvette modif yang keren hingga car chase yang sangat seru menembus ladang jagung, yang bahkan membuat dialog-dialog cheesy penuh candaan-nya jadi terasa sangat fresh membangun semua fun factor itu dengan luarbiasa hilarious.

LS9

            And it’s true. Schwarzenegger memang sudah tak lagi muda. Meski masih beraksi di sebagian adegan body wrestling dan banting-membanting melewati batas umurnya, tetap dalam koridor mindblowing gunshots di film-film action tipikalnya, ia harus mengalah dengan kepentingan pendamping. Jae-woon memang kelihatan berusaha menyempalkan karakter warna-warni lintas etnis pendukungnya secara komikal sesuai genre-nya dibalik nama-nama dan tampang yang lumayan menjual. Dari Knoxville, dua pemeran wanita cantik Génesis Rodríguez dan Jaimie Alexander, Rodrigo Santoro sebagai sidekick utama sang Sheriff, senior seperti Forest Whitaker dan Luis Guzmán, Peter Stormare yang sangat tipikal termasuk villain utamanya oleh Spanish Tom Cruise  Eduardo Noriega plus idola sinema Korea Daniel Henney. Tak semuanya berhasil dieksplor dengan seimbang untuk bisa mencuri perhatian lebih, bahkan sebagian nama-nama itu hanya dapat porsi terbatas, namun ini mungkin memang buat kepentingan tetap menonjolkan feel Schwarzenegger yang biasanya beraksi secara one-man show. Tak mengapa juga.

LS8

            So yes, aturan ‘don’t judge a movie by its trailer’ agaknya sangat berlaku bagi ‘The Last Stand’. Trailer itu memang sedemikian payahnya membuat kita kehilangan selera melihat kembalinya seorang Arnold Schwarzenegger dibalik penuaan usia serta fisiknya, tapi ternyata tidak dengan filmnya. Di tangan Jee-woon dan nama-nama lain tadi dibalik penggarapannya, ‘The Last Stand’ tampil sebagai sebuah actionfest yang sangat solid, nyaris bersamaan dengan dua lagi film-film aksi pentolan Planet Hollywood, ‘A Good Day To Die Hard’-nya Bruce Willis dan ‘Bullet To The Head’-nya Sylvester Stallone yang sangat layak buat ditunggu. But for a start, this is a blazing trail of modern kimchi western you really can’t miss! (dan)

About these ads

~ by danieldokter on January 30, 2013.

2 Responses to “THE LAST STAND : A BLAZING TRAIL OF MODERN KIMCHI WESTERN”

  1. [...] punya fanatisme sekaligus obsesi buat bikin Genre film KIMCHI WESTERN. Mungkin Bos gue yang namanya Mas Daniel bener bahwa ini adalah sebuah film Action yang bergenre KIMCHI WESTERN. Kim Jee-Woon adalah Sergio [...]

  2. [...] punya fanatisme sekaligus obsesi buat bikin Genre film KIMCHI WESTERN. Mungkin Bos gue yang namanya Mas Daniel bener bahwa ini adalah sebuah film Action yang bergenre KIMCHI WESTERN. Kim Jee-Woon adalah Sergio [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 7,169 other followers

%d bloggers like this: