3SUM : A FRESH TAKE BEYOND ADMIRABLE EFFORTS

3SUM

Sutradara : Andri Cung, Witra Asliga, William Chandra

Produksi : EC Entertainment, Avatara 88, PT Graha Visual Nusantara, 2013

3SUM9

            Selalu kita bertanya, apa sih yang kurang dari film Indonesia, yang belakangan mengalami kemerosotan jumlah penonton di negerinya sendiri? Momen akhir tahun itu memang terasa bagai sebuah kemenangan berturut-turut dengan ‘5cm’ dan ‘Habibie & Ainun’, namun pasca dua itu, beberapa minggu belakangan, penonton kembali merosot. Apa penonton sudah kehilangan kepercayaan atas banyaknya film-film horor serta komedi berbalut seks yang kualitasnya sangat di bawah standar? Tapi toh yang seperti ini yang terbukti lebih digemari penonton secara rata-rata. Well, jauh dibalik itu, sebenarnya ada sebuah stagnansi dalam banyak aspek sinematisnya. Baik di genre, tema serta pendekatan-pendekatannya. Sementara, sayangnya, sebagian bakat-bakat baru yang mencoba merangsek dengan keterbatasan-keterbatasan skala produksi lebih kecil, the ones you called indies, bersama sebagian lain yang mencoba mendobrak dengan pembaharuan genre, rata-rata tak juga mendapat sorotan lebih secara komersil. Let’s admit it. Bahkan promosi gencar pun tak membuat kebuntuan itu bergeming. Satu-dua atau tiga, sampai titik ini, dalam skup jualan ke kandangnya sendiri, mungkin lebih bisa kita anggap sebagai keberuntungan. Tapi semoga, mudah-mudahan, tak begitu.

            So, sebagai penonton yang peduli, kita harusnya senang dengan pergerakan gerilya yang penuh dengan keterbatasan itu. At least, orang-orang yang masih punya hati ini mencoba. Tak hanya sebatas indie shorts yang nangkring ke festival-festival, walau sebagiannya punya kans berjuang di negeri orang, sineas-sineas new talents ini memberanikan diri maju dengan treatment layar lebar ber-skup nasional. Dan ‘3SUM’ hadir atas prakarsa tiga sutradara muda. Andri Cung yang sebelumnya sudah lebih terdengar lewat internationally acclaimed shorts-nya, ‘Merindu Mantan’, dan ‘Payung Merah’, berikut William Chandra, selain ‘Guk!’ juga pernah berkolaborasi bersama Andri di shortsBuang’, serta Witra Asliga yang baru memulai kesempatan debutnya dari sepak terjangnya selama ini sebagai movieblogger dan founder akun @film_bioskop di twitter. Konsepnya juga unik. Tiga genre yang dipadu dalam sebuah omnibus tentang cinta, hidup dan kematian. Mari menganggapnya sebagai sebuah angin segar. Bahwa perjuangan mendobrak stagnansi itu mungkin masih perlu waktu panjang, namun kemunculan mereka satu-persatu bukan juga sama sekali tak berarti. Now let’s go to each segments.

INSOMNIGHTS

3SUM2

            Di tengah malam demi malam tak berujung yang dilaluinya, Morty (Winky Wiryawan) yang menderita insomnia berat, mencoba membuka misteri atas hal-hal aneh yang dialaminya sambil mengumpulkan kepingan-kepingan hidup dan masa lalunya, dari konflik keluarga dan hubungannya dengan Nina (Gesata Stella).

3SUM11

            Sebagai segmen pembuka, ‘Insomnights’ yang dibesut Witra Asliga bersama Andri Cung sebenarnya punya tema yang sudah berulang kali kita lihat di film-film bergenre horor atau thriller psikologis, lengkap dengan twist yang bagi sebagian moviebuffs juga akan dengan mudah tertebak. Tapi lewat skrip dan pengadeganannya, Witra dan Andri men-tackle cliche twist itu dengan cukup fresh. Penggunaan serta penempatan elemen-elemen yang sangat relevan menuju twist-nya tergarap dengan detil bagus dibalik usaha mereka membangun atmosfer menyeramkan sejak scene-scene awalnya. Sinematografi dari Rico Manuel juga cukup cermat memanfaatkan komposisi dalam nuansa claustrophobic dari set sempitnya, juga dengan perbedaan colour tone untuk membawa penontonnya ke dalam feel creepy yang jelas terasa, bersama mockup yang dikerjakan dengan sangat serius  dan scoring dari Raden Anom Prakoso (R.A.P.) untuk meneror penontonnya. Akting tipikal Winky lewat sorot mata dan mimiknya mungkin kerap terasa sedikit over, namun secara keseluruhan tak sampai keluar jalur. Sebuah appetizer yang baik untuk melangkah ke segmen selanjutnya.

RAWA KUCING

3SUM5

            Membawa kita kembali ke tahun 1980 dibalik sisi historikal daerah Rawa Kucing Tangerang, segmen ini mengisahkan kisah cinta antara Ayin (Aline Adita), wanita hedonis dari keluarga Cina Benteng dengan Welly (Natalius Chendana), pemuda bisu-tuli yang terpaksa bekerja sebagai pemuas nafsu wanita-wanita kaya raya. Bahwa latar belakang, kadang tak jadi penghalang untuk menemukan cinta sejati tanpa disadari.

3SUM7

            Dengan tata artistik detil dan sinematografi cantik masing-masing dari Andromedha Pradana dan Rico Manuel dalam membangun nuansa vintage dan kontras dua sisi kehidupan dibalik sisi historical ethnic-nya, ‘Rawa Kucing’ dari Andri Cung ini tampil sebagai menu utama yang tergarap paling baik. Cast-nya sangat kuat dari Natalius yang memunculkan gestur tuna rungu dan tuna wicara-nya dengan baik bersama Aline yang menebarkan aura erotisme hingga ke bintang-bintang pendukung dengan kualitas scene-stealer ; Ronny P. Tjandra sebagai Koh Abong, Novita Savitri sebagai A Fung dan Royanah sebagai Lenny. Scoring dari R.A.P. berikut theme song dari Valent juga ikut menekankan feel romantismenya dengan cukup efektif. Kalaupun ada kekurangan dengan keterbatasan durasinya yang mungkin agak sedikit mem-blur-kan inti dari jembatan penceritaan yang sebenarnya sangat diperlukan, namun kekurangan ini bisa tertutupi dari dialog-dialog juara serta aura eksotismenya yang walau penuh hal-hal sexually cliche dalam sinema kita, tapi tampil sangat membius.

IMPROMPTU

3SUM6

            Now comes life as a dessert. Dua pembunuh bayaran, Amin (Dimas Argoebie) dan Lina (Hannah Al Rashid) harus berhadapan dengan sekelompok polisi gadungan aji mumpung di sebuah terowongan gelap sebelum menuntaskan tugas mereka menghabisi Ali Ferzat (Joko Anwar), politikus yang tengah berniat memberantas korupsi dari carut-marut dekadensi di sebuah kota megapolitan.

3SUM14

           Sebagai segmen penutup yang menghadirkan highlight genre action lewat adegan-adegan body combat dan martial arts yang cukup stylish, ‘Impromptu’ dari sutradara William Chandra sebenarnya memiliki potensi paling gede buat jadi dayatarik luarbiasa bagi penontonnya. Sayang sekali penggarapannya terlihat kurang maksimal di banyak unsur sinematisnya, padahal dua pentolan utamanya, Dimas Argoebie, runner up L-Men of the Year 2009 sekaligus seorang atlit sepakbola yang sudah malang-melintang di dunia showbiz, and mostly Hannah Al Rashid yang punya kemampuan martial arts remarkable yang jelas terlihat sangat kick-ass, betul-betul memenuhi syarat dibalik gestur mereka. Tata kamera dari Abdul Habir, sound dan scoring yang kurang menghentak, serta penyuntingan adegannya kurang berhasil menangkap detil-detil koreografi untuk membuat nonstop action-nya jadi lebih intens. But however, segmen ini tetap menyisakan usaha yang patut dihargai lewat sarcasm jokes serta metafora tema yang sangat menarik tanpa harus berpanjang-panjang bercerita, bahwa dalam dua kubu dan sisi pandang berbeda, karakter-karakternya tetap beresiko menghadapi ancaman-ancaman yang sama. Seperti apa adanya problem-problem di negeri ini. Just like life. Our lives.

            And so, inilah ‘3SUM’, whether you like it or not. Seperti kebanyakan gerilya dalam skala produksi lebih independen dibandingkan produk-produk komersial dengan bujet berlipat ganda di sinema kita, ‘3SUM’ memang membuat kita seolah menyaksikan indie shorts dengan treatment berbeda dibalik keterbatasan-keterbatasan yang ada. Sama sekali bukan berarti tak bagus, ini justru membawa kita ke sebuah eksplorasi berbeda dari visi-visi yang sangat diharapkan bisa mendobrak stagnansi-stagnansi pendekatan tipikal tadi, sekaligus menunjukkan betapa hebat perjuangan mereka menghadapi keterbatasan itu dengan talenta-talenta yang cukup menjanjikan. Apalagi dalam menggabungkan variasi genre dalam sebuah omnibus. Apapun itu, tiga tunas baru perfilman kita ini sudah menghadirkan sebuah usaha yang sangat patut untuk dihargai dan mendapat dukungan lebih. And I’d say, we need more of these kinds. A fresh take beyond admirable efforts! (dan)

About these ads

~ by danieldokter on January 31, 2013.

2 Responses to “3SUM : A FRESH TAKE BEYOND ADMIRABLE EFFORTS”

  1. Bang, kok aku ingetnya di cuplikan berita ttg Ali Ferzat (Joko Anwar) itu jabatannya Ketua (atau Kepala ya?) Badan Investigasi Korupsi ya.. correct me if I’m wrong, soalnya aku juga lagi mau nulis review film ini, hehehe..

  2. Filmnya lumayan , spirit indie nya kentara banget . Sayang belum bisa menarik banyak penonton. Rawa kucing dan impromptu bisa jadi film panjang yg bagus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 7,181 other followers

%d bloggers like this: