MAMA : SHORT HORROR ADAPTATION & MARFAN SYNDROME

MAMA

Sutradara : Andres Muschietti

Produksi : Toma 78, De Milo Productions & Universal Pictures, 2013

MAMA1

            Well, I guess, dari short horror-nya yang cukup dikenal banyak orang hingga ke festival-festival di Eropa, ‘Mamá’ (2008), somehow we know, sineas Argentina Andres Muschietti akan punya kesempatan besar setelah itu. Meski lebih terlihat sebagai sekuens, short horror itu luarbiasa menyeramkan dibalik efektifitas terhadap durasinya yang sangat singkat. And yes, kala seorang Guillermo Del Toro yang ternyata tertarik dengan short horror itu berniat mengangkat adaptasinya ke layar lebar, ini tentu sangat mengundang, mostly for horror fans. Apalagi, Muschietti juga tetap diberi keleluasaan penuh untuk mengembangkan ceritanya bersama penulis novel Neil Cross yang juga sudah berkiprah di beberapa film TV seperti ‘Doctor Who incl. the upcomingPacific Rim’, serta istrinya, Barbara Muschietti, sekaligus menyutradarai langsung film ini.

MAMA10

            Now enter Javier Botet, pemeran Mama. Yup it’s not a woman, but actually a man. Aktor Spanyol yang mungkin belum banyak dikenal ini memang bukan aktor sembarangan. Oh yes, ia memang lebih sering berbalut polesan make-up dan efek digital memerankan monster dan creature lain, antara lain dalam ‘[Rec]’ dan dua sekuelnya, but what really special, adalah kondisi fisiknya yang dengan taktis digunakan Botet untuk masuk ke industri ini. Dibalik tubuh kurus tinggi dengan abilitas kelenturan lebih melakukan gerakan-gerakan anehnya, in terms of movie creatures, Botet adalah penderita sebuah kelainan genetik terhadap jaringan ikat penunjang tubuh (connective tissue) yang dikenal dengan istilah ‘Marfan/Marfan’s Syndrome’ . Dan kondisi kelainan Botet sama sekali tak main-main. Dalam tingkatan berat ringannya, dengan tipikal bentuk badan tinggi memanjang serta jari-jari yang lebih tipis pada penderitanya, kondisi kelainan itu juga mempengaruhi sistem pernafasannya yang harus terus terjaga. So yes, ini penuh resiko dan sama sekali tak main-main, tapi kita melihat keseriusan luarbiasa dari hasilnya. Mungkin masih ada beberapa faktor lain dan ia harus berbagi porsi dengan polesan digital wajah Hannah Cheesman yang juga lumayan mengerikan dalam mengisi wajah karakter Mama, tapi Botet-lah yang menjadi faktor utama terhadap kengerian fenomenal yang ada dalam adaptasi ini.

MAMA8

            Dalam sebuah insiden, Jeffrey (Nikolaj Coster-Waldau) yang membunuh istrinya sendiri, melarikan dua putri kecilnya, Victoria (Morgan MacGarry) dan Lilly (Maya/Sierra Dawe) ke sebuah kabin di hutan setelah mobilnya mengalami kecelakaan. Usaha sang paman, Lucas (juga diperankan Coster-Waldau) bersama kekasihnya Annabel (Jessica Chastain) melacak keberadaan mereka tak membuahkan hasil hingga 5 tahun berselang, Victoria dan Lilly ditemukan hidup, namun dengan kondisi sangat mengerikan bak hewan hutan. Victoria (now played by Megan Charpentier) dan Lilly (now played by Isabelle Nélisse) pun dibawa ke rehabilitasi psikiatrik dibawah pengawasan dr. Gerald Dreyfuss (Daniel Kash) yang sekaligus membantu Lucas untuk memperoleh hak pengasuhan mereka. Perlahan-lahan, Victoria mulai bisa kembali pada kesadarannya, namun Lilly tak begitu. Dan ada kenyataan lebih mengerikan dibalik semua ini atas keberadaan sosok misterius yang tampaknya terus mengikuti Victoria dan Lilly demi melindungi mereka. Saat korban mulai berjatuhan, Annabel terpaksa menelusuri kembali setiap clue yang ada dalam proses perawatan Dreyfuss sambil terus berusaha menyelamatkan Victoria dan Lilly.

MAMA7

            Seperti short horror aslinya, Muschietti menggelar paruh awalnya dengan sangat meyakinkan. Mengundang rasa penasaran atas guliran ceritanya sambil terus menggempur satu persatu sekuens menegangkan dibalik akting luarbiasa dari dua pemain ciliknya, Megan Charpentier dan Isabelle Nélisse. While Charpentier dengan sukses menghidupkan turnover karakter Victoria menjadi sorotan utama yang fragile, Nélisse hadir dengan hyperactive gesture yang sangat dahsyat memerankan karakter Lilly yang creepy. Dan masih ada Jessica Chastain, an actress with thousand faces, yang lagi-lagi menunjukkan kepiawaian aktingnya masuk ke karakter yang berbeda dari sebaris film-film sebelumnya, sebagai Annabel, cewek band tomboy bertato dengan hati yang tercuri oleh dua karakter anak perempuan ponakan kekasihnya yang diperankan Nicolas Coster-Waldau, aktor Denmark yang tengah naik daun di Hollywood lewat ‘Headhunters (Hodejegerne)’ serta ‘Game Of Thrones’, yang sayang tak diberi kesempatan lebih buat karakternya. Selebihnya adalah pameran efek dan motion capture karakter Mama dari Javier Botet dan Hannah Cheesman untuk atmosfer horor-nya yang meyakinkan.

MAMA6

            Then comes the last half, which is, lebih berupa pilihan ke banyak penontonnya. Tak bisa ditampik bahwa bagi penggemar film-film horor, kengerian yang mereka alami saat menyaksikan short horror-nya sudah memunculkan ekspektasi berlebih yang semakin gede saat gempuran paruh awal itu digelar Muschietti dengan mantap. But do remember, bahwa faktor Guillermo Del Toro pasti juga sangat besar dalam adaptasi produksi Spanyol-Kanada ini. Di tangan Del Toro, paruh akhir plus konklusi ‘Mama’ ternyata mengalihkan tone-nya jadi sebuah horor fantasi yang lebih mengharu-biru ketimbang tetap konsisten seperti paruh awalnya, lengkap dengan feel yang sangat lekat ke film-film fantasi Del Toro yang senada sampai ke gestur dan gerakan-gerakan Mama yang sangat mengingatkan ke ‘Pan’s Labyrinth’ ataupun creatures-creatures dalam ‘Hellboy’. Mereka memang tetap memunculkan full  remake sequence dari short horror aslinya dalam klimaks yang harus diakui masih tetap terasa intens di adegan uber-uberannya, but mostly, kalaupun sebagian penonton merasa konklusi itu kelewat predictable lewat penggalan-penggalan menuju twist-nya yang sangat jelas, ini lebih kental di nuansa fantasi ketimbang horor, terlebih lagi di part-part ending-nya. Score dari Fernando Velázquez juga semakin mengesankan tone mellow-nya. But then again, ini adalah sebuah pilihan, dan ‘Mama’, bukan lantas jadi jelek dengan pendekatan itu.

MAMA9

            So be it. ‘Mama’ jelas bukan sebuah horor yang jelek dalam segala sisi sinematisnya, dari penggarapan, efek digital, kekuatan cast hingga pameran seram-seramnya yang cukup menggedor jantung terutama di paruh awal berikut beberapa sekuensnya yang sangat memorable. Del Toro dan Muschietti juga sudah sangat berhasil menghidupkan karakter creature ini sebagai list baru dalam sinema horor yang dengan mudah melekat dalam ingatan penontonnya sebagai film horor yang tak mudah buat dilupakan begitu saja, namun bagi sebagian lagi, tone mellow serta fantasi yang lebih kental itu adalah sebuah letdown.

MAMA3

           For me, I’d chooseMama’ sebagai momentum lahirnya bakat-bakat baru dalam genre ini di layar lebar, mostly Andres Muschietti dan tentunya Javier Botet yang membuat kita semakin menyadari bahwa tak ada bagian lebih jagoan dalam industrinya ketimbang orang-orang yang bisa menyiasati kekurangan mereka untuk jadi suatu kelebihan yang remarkable, sekaligus juga memancing pemirsanya memperoleh informasi sangat berharga tentang apa yang ada dibalik prosesnya. Satu yang sangat jarang bisa kita dapatkan dari sinema horor kita yang masih terus rata-rata salah kaprah. Botet boleh jadi hidup dengan keterbatasan dari Marfan Syndrome-nya, tapi kiprahnya untuk membuat ‘Mama’ jadi terasa begitu hidup, that’s limitless. And for that, yes, ‘Mama’ adalah sebuah sajian yang sangat, sangat, memikat. A hurtful fantasy horror yang tetap, apapun alasannya, sangat berhasil menggedor perasaan penontonnya. (dan)

About these ads

~ by danieldokter on February 4, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,996 other followers

%d bloggers like this: