BANGUN LAGI DONG LUPUS : ANAK MAMI TERNYATA SUDAH BESAR

BANGUN LAGI DONG LUPUS

Sutradara : Benni Setiawan

Produksi : Komando Pictures & RCTI, 2013

L1

            Decades after, dengan dorongan comeback trend di dunia entertainment yang juga ikut merambah ke Indonesia, apalagi sudah didahului ‘Catatan Harian Si Boy’ tempo hari, mungkin ini saat yang tepat untuk membangkitkan Lupus kembali. Ah, saya tak percaya juga kalau anak sekarang tak pernah mendengar karakter legendaris ciptaan Hilman Hariwijaya ini secara gaungnya masih cukup terdengar dimana-mana, mulai dari novel-novel lanjutan seperti ‘Lupus Kecil’, ‘Lupus ABG’, ataupun rentang waktu tak sampai terlalu jauh bagi generasi ’80-‘90an buat masih bisa ngoceh kemana-mana soal jagoan mereka dulu. Toh sejak era awalnya muncul sebagai cerpen di majalah remaja Hai, jadi series of best selling novels sampai diangkat ke 5 film layar lebar plus dua versi sinetron melalui dekade ke dekade itu, Lupus masih bisa dikenali generasi sekarang.

L4

            Now let’s take a fast look. Lupus, yang kabarnya diilhami dari karakter Hilman sendiri, with bunch of his friends, Boim yang ‘sok’ playboy (cap duren tiga, katanya), Gusur yang puitis, Anto dan segenap karakter tambahan lain, juga terinspirasi dari bassis grup band yang di tahun ’80-an sangat melegenda. John Taylor dari Duran-Duran, yang jelas terlihat di rambut jambulnya. Kegemarannya, mengulum permen karet, and bubbling it big enough. Kelakuannya, jahil dan ngocol luarbiasa, penuh dengan jargon-jargon plesetan, tapi dibalik itu, Lupus adalah sosok heroik yang sangat membumi ke lingkungan sekitarnya. Tak bombastis serta bergelimang kehidupan jetset seperti Si Boy, tapi cukup bersahaja. Ia adalah ‘anak mami’, bukan dalam artian negatif tapi anak yang sangat sayang pada ibunya yang sudah ditinggal mati ayahnya. Pahlawan dalam keluarga kecilnya. Lantas ada Mami yang sangat bijaksana, Lulu adiknya yang kerap jadi korban kejahilan Lupus, serta Poppy, pujaan hatinya, yang diinspirasi dari sosok Ita Purnamasari, yang sangat dikagumi Hilman dulunya. Selebihnya masih banyak lagi karakter-karakter memorable dalam sejarah panjangnya. Ada Fifi Alone, ada Engkong-nya Gusur, Om Pinokio, and many others.

L6

            But note this. Karakter-karakternya, boleh saja berkembang jadi begitu legendaris bersama penjualan novel-novelnya. Tapi dalam konteks adaptasi film, juga sinetron, meskipun bukan juga semua jeblok, bisa dibilang, Hilman tak pernah mencapai kejayaan sebesar Si Boy. Film pertama yang diangkat dari novel perdananya, berjudul sama, ‘Tangkaplah Daku, Kau Kujitak’ (1987, plesetan dari judul ‘Kejarlah Daku, Kau Kutangkap’ yang cukup fenomenal kala itu), memang mendapatkan cast yang tepat memerankan Lupus. Alm. Ryan Hidayat, yang terlihat lebih Lupus daripada Hilman sendiri, though only physically. Film yang disutradarai Achiel Nasrun itu dihancurkan produser yang lebih ingin melihat karakter Poppy yang diperankan Nurul Arifin, kala itu masih kental dengan seksi-seksiannya sebagai bintang layar lebar, berbikini ria di beberapa adegan. Meski Hilman kecewa, sekuelnya masih berlanjut ke ‘Makhluk Manis Dalam Bis’ (1988) yang jauh lebih baik dan mengurangi porsi seksi-seksian-nya. Lantas Hilman masuk mengambil alih peran Lupus bersama sahabat-sahabatnya yang sama sekali tak punya pengalaman akting. Ita Purnamasari pun berhasil digaetnya memerankan Poppy dalam film ketiga, ‘Topi-Topi Centil’ (1989). Hasilnya adalah kegagalan total. Ia menyerah dan mengembalikan lagi Lupus ke Ryan Hidayat di ‘Anak Mami Sudah Besar’ (1990) dan ‘Iih.. Syereem’ (1991). Namun gaungnya semakin meredup. Then comes dua versi sinetron dalam waktu tak berselang kelewat lama, masing-masing dibintangi Oka Sugawa (berganti dengan Rico Karindra) dan Irgi Ahmad Fahrezy (berganti dengan Attar Syah). Lupus tak hanya kehilangan jambulnya, tapi juga popularitasnya.

L3

            So, mungkin sudah saatnya Lupus dibangunkan kembali. Usaha resurrection yang sungguh tak mudah dari Eko Patrio sebagai produsernya. Tetap dibawah supervisi Hilman yang menulis skenario bersama sutradara barunya, Benni Setiawan, yang seharusnya cukup potensial, mereka menghabiskan pre produksi untuk mencari pemeran Lupus melalui audisi di beberapa kota. Konsepnya, adalah memulai semuanya dari awal, dengan konteks serba masa kini. Rambut gondrong berjambul yang sudah tidak jadi trend dihilangkan sebagaimana sinetron-sinetronnya, meski mereka lupa membuang julukan ‘Le Bon’ sebagai nama belakang Boim secara itu terinspirasi dari vokalis Duran-Duran, Simon Le Bon, berikut semua atribut yang dipindahkan dengan penyesuaian. Sebagian masih dipertahankan, sebagian lagi dihilangkan. Toh kebiasaannya mengulum permen karet tetap ada. Tapi satu hal paling fatal dari semua, nanti dulu pesan-pesan nasionalis dan relijius, bahwa Hilman memilih untuk melupakan kejahilan Lupus, dan membangun sosoknya serba sempurna selagi ‘Catatan Harian Si Boy’ tempo hari dengan cerdas memutar balik karakternya sebagai benang merah berkelanjutan. Well, ini pilihan. But trust me, keputusan itu, sungguh tidak bijaksana.

L8

            Begitulah. ‘Bangun Lagi Dong Lupus’ pun kembali ke awal saat Lupus (Miqdad Addausy) baru masuk ke SMU Merah Putih. Disanalah ‘anak mami’ yang tinggal bersama Mami-nya (Ira Maya Sopha) dan adiknya Lulu (Mella Austen) ini berkenalan pertama kali dengan Boim (Alfie Alfandy), Gusur (Jeremy Christian), Anto (Fabila Mahadira) dan Poppy (Acha Septriasa) yang langsung menarik hatinya. Poppy yang masih menjalin hubungan dengan Daniel (Kevin Julio) pun pelan-pelan mulai tertarik pada Lupus, namun masih ada sederet konflik dengan keterlibatan Poppy di majalah sekolah sementara Lupus dan teman-temannya sibuk dengan proyek perlombaan ‘go green’ untuk sekolah mereka. And oops, many others.

L5

            Di satu sisi, Hilman dan Benni memang kelihatan berusaha sekali menemukan formula yang tepat untuk membangkitkan lagi karakter ini. Judulnya catchy dan sangat penuh makna, begitu pula theme song berjudul sama yang ikut dinyanyikan Miqdad dan Mella sendiri, selain jualan OST lain dari Kotak berjudul ‘Inspirasi Sahabat’. Beberapa keputusan yang mereka ambil termasuk dalam pemilihan cast bisa bekerja dengan baik. Alfie Alfandy dan Jeremy Christian bisa memerankan Boim dan Gusur dengan aura yang pas seperti novelnya, Acha Septriasa sebagai Poppy pun sama sekali tak jelek. Begitu pula latar cerita yang sama, di SMU Merah Putih yang sama memorable-nya, permen karet Lupus plus sepenggal adegan ending yang mengulang scene jagoan dalam film pertamanya dulu selain juga ‘sangat’ Lupus. Dan masih ada sederetan aktor senior seperti Deddy Mizwar, Didi Petet, Ira Maya Sopha berikut Eko sendiri, yang meski tak semua berhasil membangun karakternya termasuk Ira yang malah jadi Mami secara kelewat melankolis ketimbang bijaksana atau Eko yang malah muncul dengan lawakan ‘Poco-Poco’ yang jadi garing akibat terlalu repetitif, tetap bisa mewarnai versi baru ini. Ada pula sedikit faktor ‘pesanan’ penuh pesan dari Departemen Kehutanan tapi dialihkan ke final plot yang memang, tak bisa dipungkiri, masuk dengan sempurna ke wilayah heroisme-nya Lupus yang serba down to earth. Jangan lupakan juga penampilan Firdha Razak (credited as Firda Kussler), pemeran Lulu di film versi Ryan Hidayat, sebagai homage yang cukup menarik.

L7

            Tapi sayangnya, mereka gagal memberi penokohan yang pas dibalik sosok Miqdad Addausy sebagai Lupus. Anak muda yang punya tampang sangat menjual dan potensi akting lumayan, tapi tak bisa membangun ikon karakternya dengan baik, selain diperparah oleh karakterisasi baru dalam skripnya. Begitu pula dengan Anto yang digambarkan kelewat geeky. Tak hanya membunuh ikon terpentingnya sendiri dengan penokohan serba tak konsisten, termasuk Lupus yang jadi sangat wise melebihi sang Mami dan kelewat relijius dengan simbol-simbol dangkal, mengada-ada dalam subplot lovestory-nya yang masih harus dilebarkan lagi ke masalah-masalah klise gang bully dan cinta segitiga, Hilman dan Benni juga memaksakan penambahan konflik pribadi Boim dan ibunya (Cici Tegal) dengan karakter yang diperankan Agung Hercules, Gusur dengan ipar (Firda Kussler) dan engkongnya (Didi Petet) yang kesannya (mau) sangat dramatis, Daniel dan ibunya yang diperankan oleh Ira Wibowo dan seabrek subplot lain tentang Kepala Sekolah dan Guru Olahraga yang diperankan Deddy Mizwar dan Eko Patrio, walau dua yang terakhir ini hanya untuk membangun sisi komedinya. Plus banyaknya karakter-karakter sampingan lain lagi sebagai teman-teman mereka, ‘Bangun Lagi Dong Lupus’ jadi terasa penuh sesak dengan akibat storytelling yang terasa sangat tak lancar dan melompat-lompat. Adalah sebuah kesalahan terbesar untuk menempatkan bangunan komedi sebagai unsur yang tak bisa lepas dari source material aslinya berpindah dari tangan anak-anak muda karakter utama ini ke karakter-karakter lainnya.

L2

            So begitulah. Sulit untuk mengatakan kita tak melihat mereka berusaha menghidupkan kembali karakter ini, tapi mungkin ada konsep lain yang bisa dikembangkan secara lebih konsisten dalam skrip dan karakterisasinya. There’ll be two sides of coins, dan rasanya dua-duanya tak akan punya resepsi seperti yang diharapkan. Di saat generasi penonton barunya tak akan dapat merasakan keunikan Lupus yang harusnya bisa jadi sosok ikonik sekaligus memorable, generasi yang pernah mengenalnya dulu harus berhadapan dengan sebuah kompromi yang sedikit banyak bakal mengecewakan mereka. Lupus yang serba lepas, jahil tapi pintar dan punya heroisme itu terbangun dengan sosok ‘anak mami ternyata sudah besar’ dan juga kelewat dewasa. Apa boleh buat. Hingga Hilman bisa datang dengan konsep lebih fresh kalaupun ada sekuelnya nanti, Lupus ini agaknya harus tidur kembali. (dan)

About these ads

~ by danieldokter on April 9, 2013.

3 Responses to “BANGUN LAGI DONG LUPUS : ANAK MAMI TERNYATA SUDAH BESAR”

  1. review yang sangat bagus sekali, saya setuju semua dengan yang anda tulis, saya penggemar berat lupus, terutama novelnya. saya baru saja lihat bangun lagi dong lupus, dan baru 20 menit saya urungkan melihatnya, saya sangat kecewa. Hilman bisa dibilang gagal menghidupkan lupus sejak lupus milenium tayang, dimana lupus sudah naik motor dan penuh konflik yang kurang “lupus”, apalagi di film barunya ini, memang lupus harus disesuaikan dengan era sekarang, tapi merubah kejahilan, tingkah konyol dan gokil serta menghilangkan banyak tebak-tebakan adalah kesalahan yang sangat fatal sekali. di film bangun dong lupus ini, saya pikir hanya karakter Boim yang paling mendekati dengan novel (sejauh 20 menit yang saya lihat sih hehehe). Susah memang menghidupkan Lupus dari novel, tapi setidaknya dalam sinetron awalnya saya pikir itu yang paling mendekati, dimana oka sugawa sebagai lupus, nia paramitha sebagai lulu, neni triana sebagai mami dan cast lainnya sangat dekat sekali dengan karakternya, entah karena mereka memang sejaman (80s – 90s era) dengan lupus, tapi saya pikir hanya itu yang paling mendekati. Dan terakhir saya sangat setuju dengan anda, semua karakter dalam Bangun lagi dong Lupus ini harus di tidurkan lagi, dan mungkin membuat Lupus kecil mungkin bisa jadi pertimbangan Hilman :)

  2. Sebagai satu dari jutaan penggemar Lupus dan Hilman Hariwijaya, izinkan saya untuk berbagi sedikit berita yang saya ketahui dari banyak perbincangan yang saya dengar, bahwa Bangun Lagi Dong, Lupus (BLDL) yang kita lihat bukanlah hasil dari skenario yang ditulis oleh Hilman sepenuhnya, bahwa dalam proses produksinya (dengan pertimbangan dari para filmmaker-nya) mengalami perubahan yang dilakukan oleh Benny Setiawan (sutradaranya).

    Dari yang saya dengar, salah satu yang menyebabkan hal di atas terjadi adalah hilangnya hak suara Hilman akibat transaksi hak produksi Lupus ke film (mungkin untuk 2 atau 3 tahun ke depan) dibeli oleh rumah produksi Ekomando milik Eko Patrio.

    Masukan ini bukan bermaksud untuk menyalahkan Benny atau Eko Patrio atau pihak mana pun, karena saya percaya bahwa semua pihak akan punya keinginan agar film yang mereka produksi sukses di pasaran, yang dalam hal Lupus tentunya sasaran utamanya adalah para pembaca novel Lupus dan pecinta karakter Lupus.

    Masukan ini lebih merupakan keperdulian saya terhadap perjuangan yang dilakukan Hilman untuk tetap menghadirkan “Hilman’s 1st baby” dari masa ke masa. Mahalnya biaya untuk memproduksi sebuah film dengan kondisi industri film di tanah, serta perubahan pendekatan konten yang terjadi di TV saat ini, merupakan tantangan serius yang sedang kami perjuangkan untuk menjadi lebih baik ke depannya.

    Semoga satu hari (yang jangan terlalu lama yaaa ^^) nanti, kita akan kembali menemukan Lupus (baik versi original atau dalam bentuk terjemahan baru) yang kita cintai dan rindukan bersama.

    Ayo Lupus, bangunin Hilman lagi dong…!

  3. pemeran bukan seperti lupus yang diperan alm ryan hidayat kurang begitu gaya rambutnya bukan seperti lupus kalo bisa menyamailah, kurang image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,353 other followers

%d bloggers like this: