ANNABELLE : JUST A FORMULAIC HORROR SPIN-OFF

•October 11, 2014 • 1 Comment

ANNABELLE 

Sutradara : John R. Leonetti

Produksi : New Line Cinema, Atomic Monster, The Safran Company, Warner Bros, 2014

ANN

            Like it or not, ‘Annabelle’ sudah menciptakan fenomena antrian penonton dimana-mana. Entah memang horror tak pernah jadi genre yang ditinggalkan dalam konteks film sebagai komoditas, dari industri film negara manapun, tapi yang jelas, kuncinya adalah permainan formula. Okay, yang dicari tiap orang dalam genre-nya bisa jadi beda-beda, namun hal yang paling umum, kita semua tahu. Seperti hype menaiki wahana yang memancing adrenalin, orang-orang yang datang ke bioskop untuk menyaksikan film horor memang mencari satu hal kebanyakan. Ingin ditakut-takuti.

            Then, keberadaannya sebagai bagian dari franchise horor yang luarbiasa sukses, spin-off sekaligus prekuel dari ‘The Conjuring’, yang punya status acclaimed atas keberhasilan tim yang sama melepaskan similaritas film itu dengan ‘Insidious’ yang sama-sama sukses, adalah daya jual yang jelas membuat hype-nya sangat memuncak. Though overall, tak peduli bahwa ‘Child’s Play’ dan epigon-epigonnya sudah bermain di wilayah yang sama ataupun embel-embel based on true events, premis yang dibawa para penggagasnya (oh ya, nama James Wan dan produser Peter Safran dari ‘The Conjuring’ ada di kursi produser) punya keyword termudah serta paling singkat untuk menjelaskan jualannya. Boneka Setan. That’s it.

            Pasangan John dan Mia Gordon (Ward HortonAnnabelle Wallis) yang tengah menanti kelahiran anak pertama mereka seketika diteror oleh sebuah serangan misterius setelah John menghadiahi Mia sebuah boneka untuk melengkapi koleksinya. Menyadari serangan ini punya kaitan dengan boneka tersebut, mereka pun membuangnya. Namun setelah John dan Mia mencoba melupakan kejadian itu dengan kepindahan mereka ke apartemen baru setelah melahirkan seorang putri, serangkaian kejadian mengerikan kembali menghantui mereka. Melalui bantuan Father Perez (Tony Amendola) dan wanita pengelola toko buku Evelyn (Alfre Woodard) yang menyimpan sebuah trauma masa lalu, mereka pun mencoba memecahkan misteri ini.

            Dari premisnya, memang tak ada yang spesial dari ‘Annabelle’. Begitu pula konklusi akhir yang dianggap banyak real horror fans cenderung mengada-ada. Tapi mungkin James Wan dan Peter Safran sebagai penggagasnya tahu betul bahwa penampakan boneka Annabelle yang lewat epilog-nya diketahui tersimpan di museum Ed & Lorraine Warren, merupakan highlight spesial dan ultimate scary scene dalam ‘The Conjuring’, sehingga sekalipun statusnya dipenuhi aji mumpung, spin-off ini sekaligus menjadi keinginan banyak orang.

            Melengkapi status itu, deretan cast-nya pun seakan dengan sengaja tak mencoba menyamai ‘The Conjuring’ dibalik bujet pembuatan yang jauh lebih serba hemat. Dengan hanya satu aktor senior, aktris Afrika-Amerika Alfre Woodard, selebihnya adalah wajah-wajah yang tergolong baru. Annabelle Wallis, keponakan aktor Inggris legendaris Richard Harris yang memulai debutnya lewat film Bollywood, ‘Dil Jo Bhi Kahey…’ bersama Amitabh Bachchan, Ward Horton dan Tony Amendola yang seolah-olah versi KW dari aktor-aktor lain yang sudah dikenal pun tak juga bermain kelewat spesial. Penulisnya, Gary Dauberman, juga baru memulai debutnya di film layar lebar. Namun lagi, the real lead-nya jelas adalah title character-nya sendiri, dan ini yang paling perlu ditonjolkan dengan treatment lebih.

            By all means, di luar itu, ‘Annabelle‘ jelas bukan horor yang jelek. Malah, profil seadanya tetap tak membuatnya jatuh seperti horor-horor low budget kelas B diatas kesan blockbuster yang terlihat jelas. Ia memang tak menggunakan kekuatan set untuk dengan sendirinya membangun atmosfer menyeramkan seperti ‘The Conjuring’, walaupun penyutradaraan John R. Leonetti, DoPThe Conjuring’ tetap memberikan nuansa yang mirip dibalik vintage set bersama scoring Joseph Bishara yang tak peduli seberapa tipikal tetap bisa memicu ketegangan, tapi cukup sebatas bermain-main di usaha menakut-nakuti penontonnya. Combining all kinds of scare, dengan permainan jump scare tetap menjadi yang terdepan, ini ternyata bisa bekerja dengan cukup baik bagi penonton yang memang mencari hal itu dari sebuah film horor.

            So, semuanya akan terpulang lagi pada beda-beda tipe penonton film horor yang punya keinginannya masing-masing. ‘Annabelleis clearly just a formulaic horror spin-off penuh alasan aji mumpung dari James Wan bersama timnya, tapi paling tidak, ada beberapa spine-tingling scenes yang benar-benar kuat dalam keseluruhan permainannya. Untuk yang mementingkan plot, mungkin harus berpikir dua kali kalau tak sekedar mengikuti hype-nya, sementara ‘Annabelle’ juga jelas tak sedetil ‘The Conjuring’ dalam bangunan atmosfernya. Tapi buat penyuka hal paling umum bagi genre-nya, senang ditakut-takuti sambil sesekali berteriak di dalam bioskop, this is absolutely for you! (dan)

LET’S BE COPS : AN AVERAGE FUN BUDDY COMEDY

•October 11, 2014 • Leave a Comment

LET’S BE COPS 

Sutradara : Luke Greenfield

Produksi : WideAwake, 20th Century Fox, 2014

LBC

            Bukan rahasia lagi kalau akhir-akhir ini ada stagnansi tema yang melanda film-film Hollywood, yang kerap membuat mereka membongkar kembali resep-resep lama di banyak genre-nya. Genre buddy comedy sendiri sebenarnya tak pernah mati, namun mungkin cukup lelah mencari inovasi baru seperti yang berhasil dibawa franchise reboot21 Jump Street’, hal termudah yang bisa dilakukan adalah cukup dengan bongkar pasang lead baru.

            But, ‘Let’s Be Cops’ yang boleh dibilang cukup berani bersaing di tengah waktu-waktu akhir summer blockbusters ini, bukannya sama sekali tak punya profile. Sutradaranya, Luke Greenfield, sudah menghasilkan beberapa subgenre komedi dari ‘The Animal’, ‘The Girl Next Door’ dan ‘Something Borrowed’, dan punya nama Simon Kinberg di produsernya, lebih hebat lagi. Mengisi part ‘buddy’-nya, ada Damon Wayans, Jr., pemegang legacy Wayans Brothers dan Jake Johnson, aktor-komedian yang kerap menyeberang ke film-film indie yang kredibel (‘Safety Not Guaranteed’ dan ‘Drinking Buddies’ ada diantaranya). Belum lagi menyebut Andy Garcia dan James D’Arcy sebagai supporting actor-nya. Dengan profile cukup lumayan dan keberaniannya, perolehan box office-nya pun tak sekedar main-main.

            Dua sahabat, Justin (Damon Wayans, Jr.), desainer video game idealis yang tertekan dengan atasannya dan Ryan (Jake Johnson), mantan quarterback kampus yang gagal meraih puncak popularitasnya tengah berada dalam krisis identitas di usia mereka. Secara tak sengaja, akibat salah kostum di reuni kampusnya, mereka malah keterusan menyaru menjadi polisi. Semakin dalam menikmati identitas hoax-nya, mereka akhirnya terjebak dalam intrik operasi mafia Albania dan terpaksa meneruskan semuanya demi keselamatan mereka sendiri.

            Meski premisnya tak lagi fresh, ‘Let’s Be Cops’ sebenarnya sudah memenuhi satu syarat terpenting dalam sebuah buddy action comedy. Walau Damon Wayans, Jr. masih tergolong jarang dijadikan jualan utama dalam filmnya (oh, lupakan ‘Dance Flick’ produksi keluarganya itu) dan masih terlihat belum total menemukan style komedi khas seperti sang ayah diantara saudara-saudaranya sesama komedian, ia membentuk chemistry yang erat dengan Jake Johnson. Luke Greenfield yang menulis sendiri skripnya bersama Nicholas Thomas juga bisa membagi batasan karakternya dengan baik untuk membiarkan keduanya saling mengisi dalam sebuah improvisasi komedi yang cukup meriah.

            Sementara supporting cast-nya juga mampu memberikan dukungan yang baik terhadap penampilan mereka. Bersama Nina Dobrev yang secara fisik cukup bekerja menambah dayatarik jualannya, ada komedian Rob Riggle serta Keegan-Michael Key yang sangat mencuri perhatian di tengah obrak-abrik tampilannya sebagai Pupa. Namun tampil lebih menonjol ketimbang Andy Garcia, adalah James D’Arcy, juga dibalik mockup looks-nya, sebagai karakter antagonis utama yang tak harus ikut-ikutan melucu diantara permainan slapstick para komedian ini.

            Sayangnya, usaha mereka menampilkan ragam komedi slapstick yang menyerempet profanity serta sickjokes-sickjokes lain masih dipenuhi hit and miss. Di saat sebagiannya terasa benar-benar hilarious hingga membuat penontonnya bisa tertawa hingga sakit perut, masih cukup banyak joke-joke yang terasa datar di tengah kecanggungan Wayans, Jr. dan tingkah over Johnson.

                Sementara, sisi action-nya pun tak di-push untuk terlihat seperti buddy action comedy blockbuster lain dengan profil lebih tinggi seperti ‘Bad Boys’ ataupun ’21 Jump Street’. Greenfield agaknya lebih memilih tampilan old fashioned buddy comedy era ’80-an yang hampir tak pernah menampilkan action yang benar-benar menggelegar. An average fun buddy comedy, yes, namun paling tidak, dengan kesuksesan yang diraih lewat pendapatan lebih dari lumayan itu, kalaupun nantinya ‘Let’s Be Cops’ akan berlanjut ke sebuah sekuel, this is quite a good start. (dan)

THE GIVER : CHILDREN’S NOVEL ADAPTATION WITH HIGHER CONCEPT

•October 11, 2014 • Leave a Comment

THE GIVER 

Sutradara : Phillip Noyce

Produksi : Walden Media, The Weinstein Company, 2014

GVR

            The Giver’ memang seakan dikemas sebagai Young Adult (YA) movie adaptation yang tengah mengikuti trend-nya. Tapi mungkin disini tak terlalu banyak yang tahu, bahwa dalam batasan tipis definisi genre-nya, source aslinya yang datang dari buah karya Lois Lowry memang banyak digolongkan dalam children’s novel series. Tak ada sebenarnya yang salah dengan konsep dystopian dalam dua genre berbatas tipis berdasarkan beda-beda persepsi umur tersebut. ‘The Chronicles of Narnia’ pun sudah pernah melangkah kesana, namun balutan fantasi dalam ‘The Giver’ memang sedikit terasa lebih dewasa, terlebih dalam adaptasinya, untuk lebih terlihat sebagai YA genre.

            Dan proses adaptasinya sudah sangat lama menjadi ambisi aktor Jeff Bridges, yang awalnya ingin menyutradarai sendiri adaptasi ini bersama sang ayah, alm. Lloyd Bridges. Namun tak terlaksana hingga belasan tahun, akhirnya rights yang sudah dibeli Warner Bros sejak 2007 baru mendapat lampu hijau di akhir 2012. Bridges sendiri tak dibuang dari proyeknya. Menjadi produser, memerankan title character-nya, deretan cast hingga sutradaranya pun bukan main-main. Disutradarai Phillip Noyce, ada Meryl Streep, Katie Holmes, Alexander Skarsgård dan penyanyi Taylor Swift di dalamnya, sementara young leads-nya diperankan oleh Brenton Thwaites yang tengah naik daun bersama Odeya Rush.

            Di tahun 2048, setelah perang dikabarkan memusnahkan umat manusia, sisa-sisa yang selamat membentuk komunitas baru yang menghilangkan semua perbedaan ras dan perasaan dari penghuninya. Dikepalai Chief Elder (Meryl Streep) dari kelompok The Elders, masing-masing anak yang sudah menginjak usia remaja diserahi tugas masing-masing, namun ada satu yang bertugas sebagai penerima memori dari The Giver (Jeff Bridges) yang meneruskannya ke berbagai generasi. Jonas (Brenton Thwaites), anak dari pasangan suami istri (Alexander Skarsgård dan Katie Holmes) yang terpilih menjadi Receiver of Memory kemudian menemukan kenyataan bahwa hal ini sebenarnya melawan nuraninya, terlebih ketika mengetahui masa lalu rahasia The Giver dan Receiver of Memory sebelumnya, Rosemary (Taylor Swift). Jonas mulai memperkenalkan perasaan ini pada sahabat yang diam-diam disukainya setelah itu, Fiona (Odeya Rush), namun sahabat mereka yang lain, Asher (Cameron Monaghan), yang diserahi tugas menjadi Guards, sudah diperintahkan Chief Elder untuk menggagalkan misi Jonas.

            Sedikit berbeda dengan YA atau children’s novel lain sebagai source aslinya, ‘The Giver’ memang memiliki kadar serius lebih tinggi dalam menggelar universe-nya lewat skrip yang ditulis oleh Michael Mitnick dan Robert B. Weide. Mungkin karena itu juga, kesan ‘fun’ yang hampir sepenuhnya tertutupi oleh dark dystopian theme dalam elemen tontonan-tontonan sejenis di genre-nya membuat resepsi box office-nya jauh berkurang. Ini pula yang membuat sasaran mereka ke kalangan usia penontonnya jadi berada di sebuah garis tak jelas. Bahkan melibatkan scene baby killings, ‘The Giver’ jadi terasa kelewat berat bagi pemirsa belia, terlebih anak-anak, sementara orang dewasa bisa jadi tetap melihatnya sebagai YA.

            Walau tak terlalu spesial, Jeff Bridges tetap tampil bagus sebagai titular character itu. Sementara baik Katie Holmes, Skarsgård dan Meryl Streep tak terlalu banyak diberi kesempatan sebagai karakter antagonis yang sebenarnya dibalut motivasi abu-abu dibalik penjelasan historikal serta dilematis dalam konflik-konflik utamanya. Begitu juga Taylor Swift yang sungguh tak jelek memerankan Rosemary. Tapi yang paling menonjol bersama Bridge adalah tiga karakter muda lainnya, Thwaites, Rush dan Monaghan, yang bisa membentuk ensemble yang baik di tengah aktor-aktor senior itu.

            Di tangan Phillip Noyce, berikut unsur-unsur lain dari efek, visual dan scoring dari Marco Beltrami hingga soundtrack yang sangat bernafas YA, ‘The Giver’, walau bukan terlalu wah, tetap merupakan sebuah tontonan yang terlihat elegan di segala sisi teknisnya. Ide-ide thought provoking-nya yang mau tak mau disampaikan sedikit kelewat verbal lewat dialog-dialog di pengujung film juga masih berada dalam batasan yang bagus. A children’s novel adaptation with higher concept. Namun masalahnya, kebingungan ke sasaran pemirsa tadi memang tak bisa terhindarkan, dan ini artinya, apa boleh buat, akan ada resiko untuk kelanjutan sekuelnya. (dan)

THE EQUALIZER : STYLISH VIOLENCE AMONG TIRED PLOT AND GENRE-CLICHES

•October 3, 2014 • Leave a Comment

THE EQUALIZER

Sutradara : Antoine Fuqua

Produksi : Village Roadshow Pictures, Escape Artists, Columbia Pictures, 2014

EQ3

            So it’s officially a trend now in Hollywood. Membawa aktornya ke batas yang tak terbayangkan dalam tampilan badass action hero penuh dengan kekerasan serba vulgar. Menyusul Liam Neeson, kini giliran Denzel Washington yang dijadikan maskot action oleh Antoine Fuqua dalam kerjasama mereka yang kedua setelah ‘Training Day’. Di satu sisi, Denzel memang sudah lebih dulu merambah genre ini dengan progress yang juga makin meningkat, namun kalau di rata-rata filmnya Denzel masih memerlukan bintang lain untuk mendongkrak aksinya, disini, Denzel dibiarkan beraksi seorang diri menumbangkan musuh-musuhnya. Seperti ‘Man On Fire‘, tapi dengan body counts serta kekejaman yang lebih lagi.

EQ6

            But still, ini adalah filmnya Antoine Fuqua. Meski dikenal lewat karya-karyanya di genre action, Fuqua hampir tak pernah kelewat melepas filmnya dengan feel pop yang sangat komersil, dimana seringkali final showdown di bagian klimaks film-filmnya gagal menjadi highlight terkuat diantara action sequence yang ada di sepanjang film. ‘Olympus Has Fallen’ bisa jadi sebuah anomali, memang, namun, meski masih terlihat sangat dipengaruhi nafas film-film aksi ala ‘Die Hard’, ‘The Equalizer’, agaknya merupakan sebuah kasus berbeda lagi.

EQ10

            Diangkat dari serial televisi CBS berjudul sama di tahun ’80-an yang dibintangi Edward Woodward (sempat ditayangkan TVRI) dan sebenarnya tergolong cult, terbatas bagi penggemar-penggemar setianya saja, versi layar lebar ini juga tak terlalu setia mengambil penokohan hasil kreasi Michael Sloan dan Richard Lindheim, kecuali pada nama karakter dan sedikit trivia newspaper ad yang selalu tampil di pembuka serial aslinya. Tapi mungkin Fuqua dan scriptwriter Richard Wenk (‘The Expendables 2’, ‘The Mechanic’) punya alasan untuk itu. Bahwa tak jauh beda dari trend yang ada di banyak remake sekarang, mereka mengembalikan referensi source-nya berbentuk prequel, sebelum event yang selama ini dilihat atau dikenal orang.

EQ9

            Tak banyak yang tahu kalau Robert McCall (Denzel Washington), yang sehari-harinya bekerja di sebuah swalayan alat-alat perumahan dan akrab dengan semua pekerja lain, termasuk trainee asal Meksiko Ralphie (Johnny Skourtis) yang dibimbingnya secara pribadi buat melewati ujian di departemen sekuriti, menyimpan sebuah identitas masa lalu. Namun ketika seorang PSK belia Teri/Alina (Chloë Grace Moretz) yang kerap dijumpainya di sebuah kafe seusai kerja terancam oleh eksploitasi mafia-mafia Rusia pelaku sex trafficking, nuraninya terguncang. Menggunakan segenap keahlian dari identitas rahasia itu, McCall kembali untuk membantai sindikat ini sampai ke akar-akarnya. Sounds familiar? But no, ini bukan Azrax. Lulz.

EQ11

            Tired plot tentang seorang ex-soldier yang terpicu mengembalikan seluruh kekuatannya demi membela seorang korban sex trafficking yang memerlukan perlindungan? Check. Genre-cliche yang melibatkan mafia-mafia Rusia? Baru juga kita saksikan dalam ‘A Walk Among The Tombstones’. Check. Jagoan tanpa tanding yang terjebak dalam situasi dan terpaksa menghadapi sekumpulan sindikat penjahat seorang diri? Check. Oh ya, ‘The Equalizer’ memang punya semua faktor itu. Ini sama sekali bukan sesuatu yang baru maupun yang kita harapkan dari seorang Antoine Fuqua, at least sebelum ‘Olympus Has Fallen’.yang sama-sama bermain di genre-cliches.

EQ8

 

            Lantas, apakah berarti Fuqua semakin meninggalkan signature-nya untuk jadi melenceng ke genre action dengan tampilan kelewat pop? The answer lies between yes or no. Di satu sisi, Fuqua tetap memberi penekanan berbeda lewat storytelling-nya. Hampir sama seperti apa yang kita lihat terhadap Liam Neeson di ‘A Walk Among The Tombstones’, walaupun genre-nya sedikit berbeda serta tanpa embel-embel kompleksitas psikologis, paruh pertama ‘The Equalizer’, biarpun sudah diselipi adegan-adegan action dengan intensitas naik turun, sempat menghentak kemudian melemah lagi dan berulang kali seperti itu, bergerak dengan pace tak konsisten. Slow burn serta terkadang terasa lambat setengah mati, yang memang menjauhkannya dari feel kelewat pop.

EQ4

            Namun coba lihat tampilan keseluruhannya. Walau tak lantas terasa kelewat serupa dengan film-film Denzel dengan alm. sutradara Tony Scott, pemilihan DoP Harry Gregson-Williams yang hampir selalu berada dibalik film-film mereka jelas makin menjauhkan looks-nya dari signature Fuqua. Gregson-Williams memang terlihat berusaha memberi batas perbedaannya di banyak adegan, dengan shot-shot bagus terutama di action scenes-nya, namun sebagian penggunaan slo-mo di sekuens-sekuens klise karakter utamanya berjalan di tengah ledakan, mostly menjelang showdown climax-nya, mau tak mau tetap sangat mengingatkan ke ‘Man On Fire’ atau film Denzel lain yang disutradarai Tony Scott.

EQ7

            And then, seberapa efektifkah karakter-karakter lainnya mendukung penceritaan serba klise itu? Disini, ‘The Equalizer’ malah terjebak dalam flaws terbesarnya. Meninggalkan hanya Denzel dan Marton Csokas yang memang berhasil menampilkan sosok villain dengan kekuatan seimbang ke titular character-nya, sementara di lini kedua ada David Harbour, yang baru saja kita lihat di ‘A Walk Among The Tombstones’ dan Johnny Skourtis dengan porsi yang lumayan, hampir semua karakternya terkesan tersia-sia. Dari Haley Bennett hingga dua aktor senior Bill Pullman dan Melissa Leo tak ubahnya sebagai penghias tak penting. Dan yang terparah, Chloë Grace Moretz yang justru jadi motivasi terhadap konflik utamanya seakan tertinggal begitu saja di tengah-tengah penceritaannya, even hardly became adamsel in distress‘. Tak ada juga memorable TV scoring dari Stewart Copeland, walaupun scoring Mauro Fiore masih bekerja menambah feel-nya.

EQ5

            Tapi bagaimanapun juga, ‘The Equalizer’ sama sekali tak jatuh sebagai sebuah tired action. Walau sosok Denzel Washington boleh terlihat tired dengan perut membuncit bersama penuaan usianya, Fuqua benar-benar bisa melahirkan Denzel baru yang bahkan lebih tangguh, badass dan jauh melewati batasan yang selama ini kita lihat di ‘Man On Fire’, ‘The Book Of Eli’ atau film-film buddy action-nya. Seakan menggabungkan Batman dengan ketangguhan tanpa tanding Steven Seagal di awal-awal karirnya serta sadisme ala psikopat di genre-genre slasher ke tengah aksi 1 lawan 100 ala ‘Die Hard’, violent realism yang ada di serial tevenya dibawa ke level jauh melambung lagi. Fighting choreography-nya yang bagus diterjemahkan Denzel dengan luarbiasa bersama inovasi adegan-adegan pembantaiannya, with body parts close-ups, terutama di 30 mins final showdown yang benar-benar jadi nonstop action climax-nya.

EQ12

            Bagi sebagian, apalagi yang menyukai kelebihan Fuqua dalam keseimbangan plot serta kekuatan karakter dalam genre-nya, ‘The Equalizer’ bisa jadi sebuah kemunduran cukup jauh, bahkan bila dibandingkan popcorn ringannya di ‘Olympus Has Fallen’, namun in terms of action blockbusters, yang dilakukan Fuqua jelas tak salah. ‘The Equalizer’ tetaplah sebuah action dengan stylish violence yang seru. Paling tidak, ia sudah membuka jalan bagi Denzel Washington untuk bersaing dengan Liam Neeson di ‘A Walk Among The Tombstones’ yang hadir di minggu yang sama. Battle of the badasses! (dan)

A WALK AMONG THE TOMBSTONES : A GRITTY BUT BADASS – OLD FASHIONED NEO-NOIR THRILLER

•October 3, 2014 • Leave a Comment

A WALK AMONG THE TOMBSTONES

Sutradara : Scott Frank

Produksi : Cross Creek Pictures, Exclusive Media, Endgame Entertainment, Jersey Films, Double Feature Films, Universal Pictures, 2014

WATT5

            No, untuk sebagian aktor, tak perlu waktu lama untuk merubah image mereka. Hampir tak ada yang menyangka kalau Liam Neeson bisa mendarat di ranah screen’s action heroes sebelum ‘Taken’ (Pierre Morel, 2008) –nya Luc Besson jadi hits dimana-mana. Begitu melekatnya instant image ini, menggerus semua karirnya di film-film lebih serius bahkan ketika Neeson masih menerima tawaran bermain di genre lain setelahnya. Dan resepsi penontonlah yang memang paling menentukan. Dalam rentang waktu setelahnya, predikatnya malah diserahi body count mendekati legenda-legenda nyeleneh seorang Chuck Norris. And oh yes, setelah ini, ‘Tak3n’, instalmen pionir perubahan karirnya itu sudah siap untuk dirilis.

WATT7

            Then who’s Scott Frank? Do look back. Biar mungkin banyak orang baru mengingat namanya dari ‘The Wolverine’, instalmen superhero Marvel yang menyelamatkan spinoff solo karakter itu, dalam filmografinya, Frank ada dibalik skrip film-film thriller yang bagus seperti ‘Dead Again’, ‘Malice’, ‘Heaven’s Prisoners’, ‘Minority Report’, and for those who remembered, ‘The Lookout’, small thriller yang sama bagusnya di tahun 2007 sudah mencatat debutnya sebagai sutradara.

WATT2

         Tak hanya punya genre yang sama, ‘A Walk Among The Tombstones’ yang diangkat dari novel series karya Lawrence Block (1992) dari karakter fiktif Matthew Scudder, ex-cop turns private investigator yang sebelumnya sudah pernah diangkat sutradara Hal Ashby dalam ‘8 Million Ways To Die’ (diperankan Jeff Bridges dan melejitkan nama Andy Garcia yang berperan antagonis disana) sekaligus jadi ambisi Frank sejak lama. Dikembangkan lewat skrip Frank sejak 2002 dengan rencana Harrison Ford di lead dan sutradara D.J. Caruso, proyek ini akhirnya baru diteruskan tahun lalu dengan Neeson yang dipilih sendiri oleh Frank dan memutuskan menyutradarai sendiri filmnya.

WATT8

      Walaupun diangkat dari novel ke-10 karakter sentralnya, Matthew Scudder (Liam Neeson), Frank memulai ‘A Walk Among The Tombstones’ dengan Scudders sparks of origins, sebuah peristiwa traumatis yang membuatnya beralih dari seorang polisi alkoholik menjadi detektif swasta yang mencoba keluar dari kecanduannya. 8 tahun kemudian, Scudder ditawari salah seorang informan-nya (Boyd Holbrook) untuk menerima permintaan saudaranya, Kenny Kristo (Dan Stevens) mencari dalang dibalik pembunuhan sadis terhadap istrinya. Scudder yang langsung bisa menebak profesi Kenny awalnya menolak, namun adanya kecurigaan atas beberapa kasus pembunuhan berantai yang menimpa orang-orang dengan profesi sama seperti Kenny, membuat Scudder melawan etos kerjanya demi memecahkan kasus ini. Dengan bantuan seorang bocah Afrika-Amerika yang punya antusiasme tinggi terhadap investigasi kriminal, T.J. (Brian ‘Astro’ Bradley), Scudder mulai menelusuri intrik dan misteri yang perlahan mulai menggerogoti jiwanya untuk benar-benar bisa keluar dari masa lalu traumatis itu.

WATT9

       Oh yes, ‘A Walk Among The Tombstones’, seperti original source-nya, memang sejatinya lebih berada di ranah thriller kriminal ketimbang ‘Taken’ ataupun film-film action Neeson lain yang sangat terlihat dari trailer-nya. Dalam usaha Frank menggagas wujudnya sebagai sebuah neo-noir thriller, alurnya pun berjalan secara slow burn membawa penontonnya seolah mengeksplor sebuah novel misteri, dengan karakter-karakter sentral dengan sisi psikologis yang jauh lebih kompleks. Tapi tetap saja, screen presence Neeson yang memang dilepas Frank buat menyamai ketangguhan karakternya dalam franchiseTaken’, tak bisa menyembunyikan aura badass action hero-nya ke keseluruhan film. Ini mungkin mirip seperti kasus ‘Blitz’ –nya Jason Statham yang juga lebih berada di genre thriller, namun jauh lebih baik dalam kompleksitas karakter dan persepsi action yang sama-sama kuat.

WATT3

            Di deretan cast-nya, tak banyak juga nama lain yang kelewat dikenal, namun rata-rata bisa mengimbangi dominasi Neeson dengan potensi scene-stealer yang kuat. Ada Dan Stevens dari ‘Downtown Abbey’ yang karirnya semakin menanjak sejak akhir tahun lalu, pemeran T.J., Brian ‘Astro’ Bradley, rapper cilik dari kompetisi ‘The X-Factorseason 1 mereka, serta David Harbour sebagai salah satu karakter antagonisnya. Dan meski departemen teknisnya banyak memuat nama-nama baru, termasuk scoring dari Carlos Rafael Rivera dan sinematografi Mihai Malaimare Jr., semuanya bisa membentuk blend sempurna ke racikan serba gritty yang ditampilkan Frank. Menuangkan eerie title itu ke dalam shot-shot yang terkesan sangat muram dengan dominasi paduan warna-warna monokromatik.

WATT6

        Ini juga yang sekaligus menjadi keunggulan terbesar ‘A Walk Among The Tombstones’ sebagai sebuah thriller yang dipenuhi inovasi beda dengan rata-rata pendekatan di genre-nya sekarang. Selagi semua sibuk membangun twist ini dan itu, Frank lebih memilih subtext kuat dari pemilihan set yang berpegang setia ke set waktu di source aslinya ke kombinasi genre-cliche bahkan stylish looks yang kuat sebagai sebuah neo-noir thriller. Subtext paranoia orang-orang di era-nya terhadap perkembangan teknologi informasi memasuki Y2K digarap Frank dengan begitu menarik lewat tampilan mikrofilm, old-generation computers dan ragam alat komunikasi di tata artistik hingga ke selipan dialog-dialog yang ada di dalamnya.

WATT10

          Lantas lihat juga bagaimana adegan klimaks yang seru yang meski dikacaukan dengan religious voiceover tanpa menanggalkan kekuatan pengadeganannya. Dan Frank menjaga tampilannya untuk tetap terlihat old-fashioned, seolah kita tengah menyaksikan thriller yang diproduksi di tahun latar set-nya. Hampir tak ada motivasi yang ditahan-tahan sebagai twist, dengan penjelasan dari karakter-karakter ke layered mysteries yang dibuka dengan narasi begitu rapi satu-persatu. Sementara unlikely partnership antara karakter Scudder dengan bocah T.J. berhasil memberikan distraksi hangat di tengah-tengah feel gritty yang dibangun dengan taburan genre-cliche yang selama ini kerap jadi resep baku di genre-nya, dari psychopath killers, kidnappings, gory murders, torturing scenes and mutilations, tanpa sekalipun menurunkan tensi suspense-nya.

WATT1

         So yes, dengan penokohan serba abu-abu yang menempatkan karakternya hanya seolah berada di lapisan-lapisan antagonis berbeda, ‘A Walk Among The Tombstones’ boleh saja berada di genre criminal thriller yang getir dan lamban dibalik stylish violence dan tampilan neo-noir-nya. Sebagian dari kita mungkin tak suka disodori kompleksitas seperti ini, tapi tak usah khawatir. Feel-nya, tetap tak jauh beda dengan film-film action Neeson lain yang jauh lebih terus terang. Badass. (dan)

TABULA RASA : THE CLEANEST SLATE OF MIND CALLED FOOD

•September 26, 2014 • Leave a Comment

TABULA RASA

Sutradara : Adriyanto Dewo

Produksi : Lifelike Pictures, 2014

TARA1

            Tak terlalu banyak mungkin yang tahu, kalau kata ‘Tabula Rasa’, meski kedengaran sangat lokal, bukan bahasa kita. Instead, ‘Tabula Rasa’ yang merupakan bahasa Latin dan berasal dari kebudayaan media tulis tradisional Romawi, dan kemudian digunakan dalam teori-teori filsafat dan epistemologi untuk menjelaskan hal-hal berbau ‘nature vs nurture’, salah satu yang paling populer dari pendapat John Locke sebagai filosofis abad ke-17, punya definisi ‘clean slate’ atau kertas kosong. Bahwa semua manusia lahir bagaikan kertas kosong untuk kemudian diisi menurut pengalaman inderanya secara alami. In popular culture, istilah ini kemudian banyak digunakan dalam beragam media, dari novel, episode-episode film TV dari ‘Buffy The Vampire Slayer’, ‘Lost’, ‘Criminal Minds’ bahkan animasi ‘Justice League’, hingga sebuah PC videogame yang cukup dikenal di luar.

TARA2

            But okay, kita tak sedang membahas teori-teori filsafat disini. Oleh Lifelike Pictures dengan produsernya, Sheila Timothy / Lala Timothy, serta Vino G. Bastian yang pertama kali cukup berada di belakang layar, ‘Tabula Rasa’ menjadi sebuah metafora untuk memuat gagasannya terhadap sebuah genre film yang masih jarang-jarang diproduksi di Indonesia. Walau dulu sempat ada ‘Brownies’, ‘Madre’ atau yang lebih terus-terang, rom-comSaus Kacang’, ‘Tabula Rasa’ memang dimaksudkan untuk jadi sebuah foodporn, istilah ekstrim untuk genre food movies dimana elemen kuliner Minang yang menjadi dasar ide itu tak hanya jadi sekedar pelengkap atau ‘tamu’ tapi jadi bagian yang menyatu dalam kisahnya.

TARA3

             Bahwa makanan adalah sebuah iktikad baik untuk bertemu, seperti yang didengung-dengungkan sebagai tagline-nya, menjadi bagian penting dalam kaitan konflik yang membawa empat karakter dalam ruang lingkup sempitnya saling bertemu, berinteraksi, sekaligus jadi fondasi yang membangun ‘rasa’ diantara mereka. That in nature vs nurture, a thing to feed those clean slates, yang dialamatkan pada kepribadian masing-masing karakternya, adalah sebenar-benarnya, makanan.

TARA11

          So yes, ini menarik. Bukan saja disana penulis Tumpal Tampubolon bisa menyelipkan pesan-pesannya tentang kebhinekaan yang unik antara ragam interaksi dua etnis yang dibenturkan ke tengah-tengahnya ataupun nilai-nilai sosial budaya kuliner lokal, serta yang harus mendapat perhatian lebih, proses marketing yang mereka tempuh dalam memasarkan filmnya, yang sungguh jadi one of a kind dalam sejarah film kita. Dari menggandeng franchise restoran Padang yang cukup dikenal, kemasan soundtrack dalam format vinyl sesuai nafas lagu-lagu klasik seperti ‘Iseng Bersama’ dari Sam Saimun, ‘Mak Inang Pulau Kampai’ dari Orkes Tropicana Medan dan theme songTeluk Bayur’ dari penyanyi berdarah Minang Ernie Djohan dalam blend yang solid ke scoring rancak Lie Andri Perkasa yang juga diwarnai alunan etnis Minang yang kental dengan sound saluang dan talempong, hingga gimmick merchandise popcorn box yang sangat menarik. Pertama kali untuk sebuah film lokal kita.

TARA8

               Mimpi Hans (Jimmy Kobogau), pemuda asal Serui, Papua untuk menjadi seorang pesepakbola nasional sayangnya kandas setelah hijrah ke ibukota. Dalam puncak keputusasaannya, ia bertemu dengan Mak (Dewi Irawan), yang bersimpati atas keadaannya. Mak yang mengelola lapau nasi padang Takana Juo bersama waiter Natsir (Ozzol Ramdan) dan tukang masak Parmanto (Yayu Unru) berusaha untuk mengajak Hans masuk ke dalam kehidupan mereka, namun sayangnya semua tak lantas jadi semudah itu. Apalagi, di tengah lesunya usahanya, restoran padang Caniago yang dibuka tepat di depan lapau-nya turut jadi ancaman. Disana, pribadi-pribadi ini saling berbenturan dibalik latar belakang dan rahasia pahit masa lalu masing-masing. Tapi makanan, adalah iktikad baik untuk bertemu.

TARA12

         Okay, sebagai sebuah karya yang sama-sama didasari iktikad baik untuk menghasilkan sesuatu yang tak biasa, masalah pertama ‘Tabula Rasa’ tak ubahnya seperti sebuah quest untuk menemukan resep yang pas buat meracik masakan Minang yang berbeda. ‘Tabula Rasa’ sangat terasa berusaha menghindari sentuhan kelewat pop tanpa merubah wujud dasar genre movies-nya sampai tergelincir sebagai sebuah tontonan arthouse. Tentu tak ada yang salah dengan itu. Toh sebagai genre-movies kebanyakan food movies juga bertabur metafora, dari yang memunculkan inspirasi bagi Lala, ‘Eat Drink Man Woman’-nya Ang Lee, bahkan ‘Ratatouille’ sekalipun, tak sepenuhnya terlihat sangat pop. Apalagi baik Adriyanto Dewo yang salah satu karyanya sudah kita saksikan lewat segmen ‘Menunggu Warna’ dalam ‘Sanubari Jakarta’ dan latar Tumpal Tampubolon, ada di ranah yang hampir senada.

TARA4

        Namun agaknya memang sedikit sulit mencari jalan pas untuk berada di tengah-tengahnya, terlebih sebagai konten yang bisa sepenuhnya acceptable ke penonton awam. Dan masalah kebanyakan sineas kita dalam lingkup pemikiran sempit adalah bahwa usaha-usaha untuk menghindari anggapan ‘pop’ itu masih terbatas di restrained emotions yang di satu sisi berusaha membangun karakternya secara natural tanpa elemen-elemen penyelesaian konflik kelewat bombastis, namun saat terbentur dalam durasi terbatas akan membutuhkan pendalaman karakter lebih lagi. Kira-kira seperti itu, walaupun bukan berarti ‘Tabula Rasa’ sepenuhnya gagal, somehow, entah mungkin terpaksa terlewat dalam editing final oleh Dinda Amanda, sebagian bangunan karakter serta konflik hingga ke proses-proses naik turun sebab akibat itu masih terasa agak sulit dipercaya, menahan sparks of emotions, totalitas chemistry sekaligus usahanya untuk terlihat benar-benar natural demi kedekatan komunikatif ke ragam lapisan pemirsanya.

TARA7

            Begitupun, sisi ini masih bisa sangat terselamatkan oleh akting kuat empat ensembel utamanya. Jimmy Kobogau yang karakternya dimunculkan dengan dominasi lebih mampu membawakan karakter Hans dengan solid di tengah sedikit inkonsistensi dalam skrip itu, terutama setelah melewati perempat awal film, selagi Ozzol Ramdan dari sitkom ‘Suami-Suami Takut Istri’ tampil sebagai scene-stealer yang kuat dengan dialek Minang-nya untuk mencairkan kebanyakan konflik yang ada di dalamnya. Seperti orang yang tengah menjaga kondisi makanan, ia berhasil menjaga interaksi dan chemistry keempat karakternya untuk tetap terasa hangat.

TARA10

            Begitu juga dengan Yayu Unru. Di tengah penerjemahan karakter yang terpaksa berhadapan dengan motivasi abu-abu dalam bangunan konfliknya, Yayu yang sudah punya pengalaman lebih ini, meski sedikit masih terasa kelewat teatrikal, bisa menutup performanya dengan sangat baik di bagian-bagian pengujung film termasuk di salah satu adegan solo terbaiknya. Dan jangan tanyakan lagi kualitas akting Dewi Irawan. Meski latar karakternya terasa agak digerus oleh kepentingan durasi, ia tetap berhasil membawakan karakter Mak dengan permainan emosi yang cukup konsisten seperti biasanya, membuat metafora ‘ziarah’ dalam memasak tak jadi terbatas hanya jadi milik karakternya, sekaligus mempertahankan sisi heartfelt dalam dramatisasi itu tak benar-benar terkesampingkan atau luntur sepenuhnya.

TARA5

           Di luar itu, keunggulan lain ‘Tabula Rasa’ yang lebih menonjol ada pada tata teknisnya. Bersama tata artistik Iqbal Rayya, sinematografi Amalia Trisna Sari (Amalia T.S.) benar-benar bisa membawa ‘Tabula Rasa’ ke presentasi terbaiknya dalam penekanan kelas tadi. Tak hanya dalam meng-capture set-set-nya, peranan Amalia jelas cukup besar untuk membangun atmosfer foodporn-nya. Menghadirkan dapur tradisional dengan tumpukan kayu bakar di bawah kuali besar berisi makanan yang menggugah selera itu, Amalia adalah sebuah crucial factor dalam tendensi itu.

TARA6

          Dan inilah hal terbaik dalam ‘Tabula Rasa’. Bahwa pada akhirnya, gagasan makanan sebagai sebuah iktikad baik sekaligus elemen utama untuk memuat seluruh pesan dan nilai-nilai penyatuan budaya dari barat ke timur Indonesia, berikut spirit-spirit kerinduan akan kampung halaman yang sama dalam plot-nya, walau tak sepenuhnya sempurna, tetap bisa bekerja membentuk racikan lezat sebagai sebuah tontonan lokal dalam kelas yang berbeda. The cleanest slate of mind called food. Dan yang terpenting, elemen foodporn-nya benar-benar berhasil memancing rasa lapar, membuat kita segera ingin melangkahkan kaki ke lapau nasi padang mencari dendeng batokok lado mudo atau gulai kepala ikan seusai film, bahkan pada penonton awam yang gagal terkoneksi sepenuhnya ke restrained factors termasuk pemilihan ending-nya. Seperti kuliner Minang yang selalu bisa menarik hati, ‘Tabula Rasa’ sudah menjadi pemenang buat sebuah heartfelt foodporn yang menggugah selera. Lamak bana ko ha! (dan)

TARA1b

 

THE MAZE RUNNER : AN ENGAGING AND FAST-PACED YOUNG ADULT FANTASY

•September 23, 2014 • Leave a Comment

THE MAZE RUNNER 

Sutradara : Wes Ball

Produksi : Gotham Group, Temple Hill Entertainment, 20th Century Fox, 2014

MR5

            Name all Young Adult (YA) adaptation in the last few years. Oh ya, yang berhasil dan bisa menonjol diantara penuh sesaknya ranah itu mungkin tak banyak, tapi toh tak membuat genre ini berhenti diproduksi, at least untuk sekarang. Dalam semua genre cliche YA fantasy atau dystopian adventure, pakemnya pun tak jauh berbeda. Jualannya jelas, berupa fresh young pretty faces ataupun yang sedang naik daun, dengan kombinasi bintang senior yang sudah lebih dulu dikenal. Tapi dibanding beberapa yang lain, ‘The Maze Runner’ yang diangkat dari buku pertama novel trilogi best seller berjudul sama karya James Dashner, justru tak punya profil setinggi itu, apalagi bila dibanding saingan terdekatnya, ‘The Giver’, yang meski source-nya lebih berupa children’s novel, tapi adaptasinya digagas dengan pendekatan YA.

MR2

            Lihat saja deretan cast-nya. Meski bukan berarti sama sekali baru, bahkan beberapa diantaranya sudah punya peran ikonik di sebagian filmografi TV dan layar lebarnya, terutama Thomas Brodie-Sangster dan Will Poulter, yang lainnya, Aml Ameen, aktor Korea-Amerika asal Seoul Ki Hong Lee, serta lead-nya, Dylan O’Brien bukanlah berada di A-list young actors. Bintang seniornya juga hanya diisi satu nama yang kurang begitu dikenal, Patricia Clarkson. And that includes sutradara Wes Ball, yang meski sudah punya karir di art department dan visual effects, tapi baru memulai debut layar lebarnya sebagai sutradara. However, Fox sebagai distributornya memang melancarkan promosi gencar atas statusnya sebagai salah satu blockbuster di masa-masa sepi seusai musim panas. Mungkin mereka punya alasan, tapi kenyataannya, selain resepsi sangat lumayan dari critics, box office-nya juga mendekati banyak prediksi atas publisitas yang dianggap menarik bagi para pengamat tadi.

MR3

            Menemukan dirinya terbangun dalam sebuah lift tua yang dinamakan ‘The Box’ tanpa bisa mengingat identitasnya, Thomas (Dylan O’Brien) seketika tergabung dalam sekelompok remaja ‘The Glade’ yang dipimpin oleh Alby (Aml Ameen) hidup terisolasi dibalik tembok raksasa berlapis labirin dengan peringatan penuh ancaman. Thomas yang kemudian bisa mengingat identitasnya lantas bersahabat dengan bocah Chuck (Blake Cooper). Dari Chuck (Thomas Brodie-Sangster), tangan kanan Alby, Thomas mengetahui bahwa sebagian diantara mereka, termasuk dirinya, berpotensi menjadi ‘Runners’ yang bisa menempuh usaha pelarian menelusuri labirin dibalik tembok itu, namun tak pernah ada yang berhasil bertahan di malam hari dari serangan ‘Grievers’, monster laba-laba raksasa yang berkeliaran di sepanjang labirinnya. Sekarang, melawan ketakutan Gally (Will Poulter) dan sebagian habitat ‘The Glade’, bersama Alby, Newt, Chuck, Minho (Ki Hong Lee) – survivor pertama dan Teresa (Kaya Scodelario), gadis misterius yang dikirim kesana dan ternyata mengenalnya, Thomas memulai quest hidup atau mati untuk bisa benar-benar menaklukkan labirin itu dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada mereka semua.

MR4

            Satu hal terunik dalam yang menggaris kemenangan ‘The Maze Runner’ diantara penuh sesak genre YA adalah pola penceritaannya. Walau masih berisi elemen-elemen genre-cliche berupa particular names untuk menjelaskan kelompok dan golongan-golongan karakter, creatures ataupun latar dystopian adventure-nya yang juga bukan baru sekali ini hadir dalam genre sejenis, skrip dari Noah Oppenheim, Grant Pierce Myers dan T.S. Nowlin memilih jalur berbeda dengan adaptasi YA yang lain.

MR8

         Tanpa bla-bla-bla ini itu di prolog penuh penjelasan universe dan segala tetek bengeknya, ‘The Maze Runner’ menggelar storytelling itu seakan langsung ke tengah titik pacu porsi aksinya. While the rest goes after, meski final twist-nya mungkin terasa basi, tapi trik storytelling itu bekerja memicu rasa penasaran penontonnya sekaligus ke pengenalan karakter-karakternya di tengah alur yang berjalan cepat, membiarkan porsi aksi secara dominan mengantarkan adegan-adegan seru dari satu ke yang lainnya dengan intensitas meningkat. Creature design dari art illustrator and concept artist Ken Barthelmey juga berhasil membuat tampilan ‘Grievers’ terlihat sangat hidup bersama balutan visual efeknya.

MR4

            Kekuatan berikutnya ada pada cast-nya. Soal pretty faces boleh jadi relatif, tapi terlihat seperti Kevin Bacon muda, Dylan O’Brien yang sebelumnya kita lihat dalam ‘The Internship’ dan ‘Teen Wolf’ versi TV hadir dengan performa yang meyakinkan sebagai lead diantara karakter lainnya. Selagi Ki Hong Lee akan bekerja buat penonton yang menyukai tampang Asia, Thomas Sangster yang sudah lebih dikenal lewat ‘Game of Thrones’ juga cukup menguasai lapangan dengan british accent-nya yang kental. Sementara Kaya Scodelario, sebagai satu-satunya female lead diantara para lelaki ini belum terlalu banyak diekspos walaupun punya karakter penting dalam source-nya. Kecuali tight editing Dan Zimmerman, tak ada yang terlalu spesial soal teknis sisanya, tapi semuanya menyatu membentuk blend yang baik bersama storytelling tak biasa itu.

MR1

            So yes, kita mungkin tak akan tahu seberapa yakin para penggagasnya bersama Fox dibalik rencana mereka mengadaptasi keseluruhan triloginya menjadi sebuah franchise YA baru. Yang jelas, bersama kesuksesan masa awal perilisannya, sekuelnya, ‘The Scorch Trials’, sudah disiapkan dengan sutradara dan main cast yang sama. In sparks ofThe Hunger Games‘, ‘Lord of the Flies‘ and ‘Resident Evil‘, ‘The Maze Runnersuccessfully draws its difference to the other Young AdultsAn engaging and fast-paced YA fantasy, yang bukan hanya berhasil keluar dari kebosanan yang tengah melanda genre-nya, tapi juga bekerja sebagai sebuah pembuka franchise yang cukup solid. (dan)

MR6

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 7,166 other followers