HIJRAH CINTA : A WELL MADE AND SUPERBLY ACTED LOVE STORY

•August 4, 2014 • Leave a Comment

HIJRAH CINTA

Sutradara : Indra Gunawan

Produksi : MVP Pictures, 2014

HC9

            Seperti antusiasme kebanyakan orang menyaksikan liputan-liputan selebritis, biopics, memang masih jadi komoditi unggulan untuk film Indonesia. Keberhasilannya jelas tergantung dua faktor terbesar di luar faktor-faktor sinematis lainnya. Seberapa jauh sosoknya menginspirasi banyak orang, dan yang kedua, kemana pendekatannya dibawa untuk membangun emosi. Dalam konteks pertama, sosok alm. Ustadz Jefri Al-Buchori – dibalik sebutannya sebagai ustadz gaul / ustadsz seleb yang kerap disapa Uje, jelas memenuhi syarat untuk dijadikan sebuah biopic.

HC3

           Bukan saja karena sosoknya yang inspiratif sebagai pendakwah setelah lepas dari titik terendah kehidupannya sebagai seorang pecandu obat-obatan terlarang, riwayat hidupnya memang menyenggol banyak selebritis lain yang cukup dikenal dan masih pula menyisakan sosok Pipik Dian Irawati – akrab disapa dengan Umi Pipik sebagai warisan terbesarnya di ranah profesi yang sama. Lebih lagi, Umi Pipik merupakan amunisi emosi kuat untuk memindahkan kisah mereka ke jalur yang jauh lebih universal diatas sebuah love story yang menggambarkan ketabahan seorang wanita dalam perjuangan tokoh utamanya. Walaupun mungkin masih terbentur di segmentasi reliji atas profesi itu, tapi paling tidak, ini adalah sebuah true love-tale yang cukup universal, dan adalah sebuah kejelian pasar untuk melepasnya di momen Idulfitri yang masih jadi salah satu standar emas perilisan film-film lokal kita.

HC4

            And no, skrip yang ditulis Hanung Bramantyo memang tak serta-merta membahas sepak terjang Uje sebagai pendakwah. Menahan penceritaannya di ranah kisah cinta menyentuh itu, bersama Dapur Film dan Indra Gunawan, astrada Hanung di film-film seperti ‘Pengejar Angin’, ‘Perempuan Berkalung Sorban’ dan ‘Get Married’, ia membawa kita kembali ke masa-masa kejatuhan Uje (Alfie Alfandy) dalam titik terendah hidupnya, dan bagaimana perjuangan seorang Pipik (Revalina S. Temat) begitu teguh mencoba menyelamatkannya. Talenta yang dimilikinya dalam meniti karir di dunia hiburan ternyata menyeret Uje ke obat-obatan terlarang lewat Yosi (Ananda Omesh), seorang bandar yang selalu membantunya. Padahal, Uje datang dari keluarga soleh dengan ibunya Umi Tatu (Wieke Widowaty) yang berprofesi sebagai seorang pendakwah. Ia diusir oleh bapaknya (Piet Pagau), ditinggalkan oleh sahabat-sahabatnya termasuk Valentino (Gugun Gondrong) yang tak bisa lagi mempercayainya. Hanya Pipik, rekan sesama model yang sejak awal saling tertarik dengan Uje, yang terus setia berdiri di sampingnya, walau tetap diingatkan oleh sahabatnya, Widi (Fikha Effendi). Melepas karir modelnya bahkan rela mengenakan hijab atas permintaan Umi Tatu demi menghindari tudingan masyarakat, Pipik yang baru belakangan mengetahui masalah Uje tak pernah menyerah. Terus berusaha membawa Uje hijrah ke jalan yang lebih baik, sekaligus menjadi saksi dari perubahan hidupnya.

HC2

            Inilah yang menjadi faktor keberhasilan ‘Hijrah Cinta’ sebagai sebuah biopic yang bisa membangun emosinya dengan mengharu-biru. Bahwa Hanung, Indra dan tim mereka tak membawa kita menyaksikan kisah lahirnya seorang pendakwah terkenal dengan segala macam pesan moral berlimpah untuk menekankan sisi relijinya, tapi memindahkan template-nya dengan halus ke tema-tema ‘how far would you go for someone you loved’ yang begitu menyentuh. Skrip dengan penceritaan back and forth beserta line-line dialog yang kuat itu dengan efektif menempatkan sosok Uje dengan manusiawi diantara karakter-karakter pendamping lain tanpa melebih-lebihkannya sebagai idola banyak orang, sementara titik emosinya dibangun begitu hidup lewat sosok Pipik pada titik sentralnya. Peranan Hanung memang tetap terasa di tengah penyutradaraan Indra, namun storytelling-nya cukup efektif untuk tak terus-menerus mengulang adegan-adegan teler yang seperti biasa jadi salah satu spesialisasi banyak sineas kita. Kita juga sudah tahu ke titik mana ending tragis itu akan dibawa di pengujungnya, namun scene-nya dibangun dengan subtext personal yang mendalam.

HC7

            Namun secara sinematis, hal terbaiknya tetaplah ada di tangan Alfie Alfandy bersama Revalina S. Temat. Melawan banyak persepsi berbeda atas peran Uje yang jatuh ke tangan Alfie sebelumnya, aktor yang sebelumnya lebih banyak berkiprah di peran-peran komedi, termasuk satu yang paling diingat, sebagai Bo’im di rebootBangun Lagi Dong, Lupus’, Alfie menjelma nyaris sepenuhnya menjadi sosok Uje yang dikenal banyak orang selama ini. Meski tetap harus didukung make-up yang baik dari Cherry Wirawan dan timnya, mimicking acts dari ekspresi, gestur hingga ke tone suara dilakoninya secara begitu meyakinkan. Sementara dengan pengalaman jauh lebih senior, Revalina mengimbangi aktingnya dengan garis batas jelas tanpa harus meniru-niru sosok Pipik, tapi bekerja dengan emosi luarbiasa di sejumlah tearjerking moments terbaiknya. Berdua, mereka membentuk chemistry luarbiasa, dan masih ada dukungan yang solid dari Valentino sebagai Gugun Gondrong, Ananda Omesh dengan transformasi emosi yang kuat menjadi Yosi tanpa terus tampil bak orang teler, bahkan Epy Kusnandar dalam penampilan singkat di salah satu adegan terkuat film ini.

HC5

 

            Sisi teknisnya pun baik. Di luar theme song berjudul sama dari Melly Goeslaw yang dibawakan Rossa bagus namun terdengar tak jauh dari theme song Islami tipikal biasanya, scoring dari Andhika Triyadi tak lantas harus berlebihan mencoba memperkuat emosi yang sudah terbangun dengan baik, begitu juga sinematografi Faozan Rizal dalam beberapa penekanan emosinya, termasuk di adegan dermaga sebagai konklusi perjuangan cinta Uje dan Pipik itu. Apalagi tim tata artistik dari Allan Sebastian. Meng-handle setting akhir ’80 ke ’90-an dengan pernak-pernik ikoniknya, hasilnya cermat sekali. Oke, lagi-lagi, sebuah biopic memang masih akan berurusan dengan empati yang berbeda-beda dari segmentasi pemirsanya. Sebagai sebuah biopic, seperti persepsi berbeda terhadap fenomena ustadz gaul atau seleb, keberadaan sosok Uje dan Pipik sebagai pendakwah di konteks itu mau tak mau juga memberi sedikit resistensi untuk membuat ‘Hijrah Cinta’ bisa benar-benar maksimal jadi tontonan universal bagi semua kalangan baik dalam maupun luar relijinya. Tetap segmented, tapi paling tidak, ‘Hijrah Cinta’ sama sekali tidak ingin bicara soal reliji dalam emotional core-nya. See it at its deepest layer, and you’ve got yourself a well made and superbly acted love story. A true love story. (dan)

BAJAJ BAJURI THE MOVIE : A WELL CAPTURED ADAPTATION OF THE SERIES

•August 2, 2014 • 1 Comment

BAJAJ BAJURI THE MOVIE

Sutradara : Fajar Nugros

Produksi : Starvision, 2014

BB11

            Tak seperti Hollywood atau kebanyakan industri luar, adaptasi serial TV ke layar lebar di perfilman Indonesia masih tergolong sangat jarang, dan justru kebalikannya yang sering terjadi. Dan ‘Bajaj Bajuri’ jelas punya resiko lebih berat. Tak hanya karena sitcom aslinya dikenal begitu luas dengan masa tayang sangat panjang sejak 2002, dibalik elemen kultur Betawi yang kental, ia juga sudah menelurkan karakter-karakter ikonik seperti Bajuri, Oneng, Emak, Ucup, Mpok Hindun dan Mpok Minah yang sangat akrab di hati pemirsanya. Apalagi, memang sulit memisahkan image karakter-karakter itu dari pemerannya, diantaranya Mat Solar, Rieke Diah Pitaloka, Nani Wijaya dan Fanny Fadillah. Itu juga yang mungkin membuat rencana panjang mengadaptasinya ke layar lebar jadi berkali-kali gagal terlaksana.

BB4

            Ekspektasi ini jadi makin terdengar kontroversial ketika akhirnya deretan cast-nya dipublikasikan. Walaupun trend membawa sebuah adaptasi dalam inovasi reboot, kembali ke rentang awal sebelum timeline yang ada di source aslinya memang tengah marak di sinema luar, tetap saja, menempatkan terutama Ricky Harun dan Eriska Rein sebagai Bajuri dan Oneng terdengar sangat riskan. Selain faktor looks yang jauh berbeda, kita mungkin tak sepenuhnya percaya mereka bisa memerankan Bajuri dan Oneng dengan baik. Salah satu bandingannya adalah biopik Slank dari PH sama yang menebar banyak kekecewaan di soal-soal miscast. However, ketika teaser-nya muncul di ‘Marmut Merah Jambu’-nya Raditya Dika kemarin sebagai companion promo yang cukup jitu, skeptisisme itu mulai bergeser sedikit. So, seperti apa hasilnya? Let’s take a look at the plot, first.

BB1

            Adaptasi ini membawa kita kembali ke masa-masa awal Bajuri (Ricky Harun) dan Oneng (Eriska Rein) membina rumah tangga dengan intervensi Emak (Meriam Bellina) yang kerap tak percaya dengan niat baik Bajuri terhadap putrinya. Kecurigaan itu makin memuncak ketika Bajuri mendapat durian runtuh atas penjualan tanah warisan almarhum bapaknya sebesar setengah milyar rupiah, sementara ulah Soleh (Dimas Gabra) dan Sahili (Aqshal Pradana) meledakkan empang dengan bom ikan malah membuat Bajuri dan Ucup (Muhadkly Acho) tertuduh sebagai teroris. Ada pula gerombolan perampok (McDanny dan Randhika Djamil) yang digerakkan Hani (Nova Eliza) untuk mendapatkan uang tersebut, yang akhirnya menempatkan Oneng dan Emak sama-sama dalam bahaya.

BB8

            Dengan deretan cast baru, nyaris tanpa satupun cameo dari cast utamanya (kecuali pemeran Mpok Hindun dan Mpok Minah, Tuti Hestuti dan Leslie Sulistiowati yang memerankan karakter lain), membawa plot-nya kembali ke awal memang sebuah taktik yang baik untuk menggelar cerita baru. Namun lebih dari itu, keputusan Nugros bersama penulis skrip Chairul Rijal (‘Nazar’, ‘Bebek Belur’ dan ‘Operation Wedding’) membawa tone-nya ke sebuah chaos comedy dengan sentuhan komedi aksi (lihat saja adegan pembuka yang cukup heboh berikut atraksi kebut-kebutan bajaj di atas jembatan penyeberangan serta cliche climax scene diantara kontainer) diatas lovestory Bajuri – Oneng yang tampil cukup hangat, menggabungkan slapstick dan komedi situasi adalah kejelian lebih. Selain membuat resepsinya akan lebih universal terutama bagi penonton yang tak benar-benar akrab dengan serialnya, walaupun serba klise di ranah genre-nya, bangunan chaos comedy ini bisa tertata dengan balance yang oke.

BB2

            Di atas itu, yang lebih penting adalah keberhasilan Nugros menangkap elemen-elemen penting dalam serial aslinya. Oke, mungkin ada sedikit perombakan tone komedinya ke arah trend sekarang, tak jauh dari film-film komedi Nugros lainnya lewat style komedik cast pendukung seperti Muhadkly Acho, Soleh Solihun, McDanny dan Randhika Djamil, yang akan beresiko hit and miss bagi sebagian segmentasi pemirsanya, namun tak lantas berarti merubah pakemnya, unsur-unsur ikonik dalam source asli itu muncul secara tak terduga, baik sekali.

BB7

         Bahkan tanpa postur mirip dan harus sepenuhnya meniru mimik-mimik slapstick pemeran aslinya, Ricky Harun, Muhadkly Acho, Meriam Bellina serta highlight terbaiknya, Eriska Rein, berhasil menghadirkan jiwa karakter-karakter asli dengan celotehan khas mereka di tengah plot baru ini, dengan nafas romansa budaya Betawi yang kental pula oleh scoring Andhika Triyadi bersama penampilan khusus Jhonny Iskandar dan PMR (Pengantar Minum Racun) dengan iringan lagu-lagu mereka. Belum lagi hilarious supporting cast dan cameo lain yang muncul di sepanjang film. Selain Surya Insomnia yang cukup unik memerankan waria Susi, ada Enno Lerian, Rizky Hanggono, Rebecca Reijman, Joe P Project, Henky Solaiman dan Ingrid Widjanarko, serta yang menyematkan tribute ke serial/sinetron komedi lawas kita, Jimmy Gideon, Rohana ex-Srimulat, Firdha Razak (credited as Firdha Rizky) dan Ferina Widodo.

BB6

            So, against many skepticism, ‘Bajaj Bajuri The Movie’ sebenarnya adalah sebuah adaptasi yang berhasil menangkap nafas asli source-nya, apalagi dalam terms hiburan menyambut liburan Idulfitri yang jadi peak season perilisan film lokal kita. Walaupun masih ada resiko untuk resepsi komedinya secara keseluruhan, terutama segmentasi yang tak sejalan dengan gaya bertutur komedi Nugros biasanya, tapi bangunan chaos comedy yang oke diatas elemen-elemen sitcom asli berikut karakter ikoniknya yang tergelar dengan baik, itu jelas merupakan sebuah keberhasilan. A well captured and hilarious adaptation of the series. (dan)

STEP UP ALL IN : THE (NOT SO) BIG REUNION

•August 1, 2014 • Leave a Comment

STEP UP ALL IN

Sutradara : Trish Sie

Produksi : Offspring Entertainment, Summit Entertainment, Lionsgate, 2014

SUAI2

            Dance franchise tak pernah sebesar ini. Ada benarnya. Paling tidak, ‘Step Up’ adalah satu-satunya yang bisa bertahan hingga instalmen kelima sekaligus tetap menebar trend-nya ke tengah-tengah kecenderungan industri ke hi-tech blockbusters. Resepnya juga tak aneh-aneh. Kecuali bagi fans beratnya atau nama Channing TatumJenna Dewan yang membuka franchise-nya, kebanyakan kita tak juga mengingat karakter-karakter lainnya. Yang penting hanya satu. Inovasi dance moves and battle, which at least, masih menyisakan satu-dua highlight dari pendahulunya. Di saat epigon saingan terberatnya dari UK, ‘Street Dance’ sudah kehilangan nafas di instalmen kedua bersama spinoff film anak mereka, ‘Step Up’ masih terus berlanjut. Lagi-lagi, bad critics tak jadi masalah ketika box office terus bisa menyediakan jalan untuk kontinuitasnya.

SUAI1

            And so, dibandrol judul ‘Step Up All In’, instalmen kelima ini lebih berupa reuni sebagian karakter-karakter dari keseluruhan instalmennya, dengan lead yang masih tetap dipegang Ryan Guzman dari film sebelumnya, dipasangkan dengan Briana Evigan dari ‘Step Up 2’, plus beberapa karakter baru. Sementara karakter paling diingat, Moose yang diperankan Adam Sevani, yang sudah muncul terus sejak ‘Step Up 2’ terus menyambung benang merah diantara penggantian karakter-karakter lainnya. Tanpa inovasi plot macam-macam atau pengenalan ulang, characters trivia ini justru dengan sendirinya sudah menjadi daya tarik lebih bagi fans-nya bersama tagline keren yang sejalan dengan judulnya. ‘Every Step has Led to This’.

SUAI5

            Kesuksesan mereka dengan kontrak iklan sebuah brand terkenal di akhir film sebelumnya ternyata tak lantas membuat Sean (Ryan Guzman) dan dance crew-nya, ‘The Mob’ bisa bertahan di Los Angeles. Sementara mereka bertolak kembali ke Miami karena mulai kehabisan uang, Sean yang sudah lebih dulu kehilangan partner-nya Emily (Kathryn McCormick di ‘Step Up Revolution’) memilih tetap tinggal hingga ia menemukan kompetisi baru The Vortex dengan imbalan tiga tahun kontrak eksklusif di Las Vegas. Lewat bantuan Moose (Adam Sevani) yang mengenalkannya pada Andie (Briana Evigan), ia membentuk dance crew baru untuk menghadapi kompetisi ini. Namun semua tak berjalan semulus itu. Selain Andie yang masih harus menghadapi trauma akibat cedera masa lalu bersama hubungan mereka yang berkembang lebih dari sekedar partner, Sean juga tak menyangka The Mob beserta sahabat terbaiknya Eddy (Misha Gabriel) bakal jadi seterunya dalam kompetisi ini.

SUAI11

            Oh yeah. Tentu tak ada yang terlalu spesial di soal plot-nya. Walaupun dengan sedikit elemen baru friends became enemies di dalam dramatisasinya, plot utama ‘Step Up All In’ dari skrip yang ditulis oleh John Swetnam tetap ada di ranah dance battle yang harus dimenangkan para jagoannya berikut sempalan love story diantara lead-nya. Ada penampilan komikal yang proporsional dari Izabella Miko, one ofCoyote Uglys girls yang baru muncul juga di film sejenis, ‘Make Your Move’, dan David ‘Kid David’ Shreibman dari ‘Battle Of The Year’, plus chemistry yang cukup baik dari Guzman dan Evigan. Mereka tak berdansa sebaik yang lain, tapi jelas punya kekuatan cukup sebagai lead. Sementara menyambung perannya sebagai Moose, Adam Sevani masih tetap bisa meng-handle karakternya dengan menarik.

SUAI4

            Selebihnya tentu ada di soal koreografi tari, dan ‘Step Up All In’ untungnya tetap bisa menampilkan inovasi-inovasi yang berbeda dari instalmen-instalmen sebelumnya. Di tangan Christopher Kidd yang juga ikut berperan sebagai Hair sejak ‘Step Up 2’ dan Jamal Sims yang sudah menangani koreografi franchise ini sejak ‘Step Up’, sisi ini sama sekali tak tampil mengecewakan. Penyutradaraan yang berpindah ke tangan Trish Sie dari Scott Speer yang jelas lebih fasih atas kerjasamanya di webseriesThe LXD (The Legion of Extraordinary Dancer)’ bersama Jon Chu ternyata bisa mempertahankan adegan dance battle di skup arena jauh lebih kecil ini tetap terlihat fresh. Kiprah Trish Sie atas viral video Youtube-nya bersama band rock saudaranya OK Go mungkin tak banyak terdengar disini, tapi kemampuan lebih Sie lewat karirnya di sejumlah iklan dan music video paling tidak terlihat di dance scenes yang cukup asyik, salah satu yang terbaik ada di adegan Guzman – Evigan di sebuah dead Vegas theme park diiringi lagu pop RnB vintage milik Bobby Brown, ‘Every Little Step‘. Sayang penonton kita tak bisa menikmati versi 3D-nya yang jelas akan lebih menarik lagi.

SUAI10

            Hanya memang, sebagai reunion sequel, apalagi kalau benar sebagai instalmen pamungkasnya, ‘Step Up All In’ masih terasa kurang maksimal memadukan karakter-karakter dari sejarah franchise-nya sejak 2006. Selain arenanya jauh lebih kecil, isu tentang munculnya Channing Tatum dan Jenna Dewan ikut bergabung ke dalamnya, walaupun sekedar cameo, sayangnya tak terbukti. Mungkin hanya real fans-nya yang bisa benar-benar menjawab trivia-trivia kehadiran ulang karakter-karakter itu dengan tepat. Begitupun, ini memang bagian dari dance franchise yang jelas tak punya tendensi lebih selain menghibur penontonnya. Jadi tak usah mengharap lebih. As a (not so) big reunion, ‘Step Up All In’ juga masih jauh dari instalmen terbaiknya. But if you loved another installments, trust me, this one will work just fine. (dan)

SUAI9

DAWN OF THE PLANET OF THE APES : AN EMOTIONALLY GRIPPING MO-CAP TOUR DE FORCE

•July 16, 2014 • Leave a Comment

DAWN OF THE PLANET OF THE APES 

Sutradara : Matt Reeves

Produksi : Chernin Entertainment, 20th Century Fox, 2014

DOA1

            Sebelum kemana-mana, let me ask you one thing. How well did you rememberPlanet Of The Apes’? Oh, tentu bukan versi Tim Burton, yang meski punya visual effects sangat unggul namun lebih ke pure fantasy ataupun predecessor-nya yang juga jadi salah satu summer blockbuster terbaik tiga tahun lalu, tapi franchise awal dari tahun 1968-1973, not to mention serial teve dan animasinya. Sama seperti gagasan panjang yang ada dalam source aslinya, novel berjudul sama karya penulis Perancis Pierre Boulle, yang harus diingat, reboot ini bukanlah kali pertama mereka mengangkat interspecies conflict between apes and human dengan latar politik dan thought-provoked revolution theme yang kental di dalamnya. Pun bagi yang kelewat memuji darker exploration-nya, tak ada yang bisa mengungguli sekuel adaptasi pertamanya, ‘Beneath The Planet Of The Apes’ (1970) yang benar-benar melawan arus di tengah salah satu ending paling nihilistik yang sangat menakutkan di zamannya, di luar ribut-ribut soal justifikasi keterlibatan aktor Charlton Heston dalam pakem sekuel masa itu.

DOA6

            But, jauh dari sekedar nafas asli source-nya, kekuatan terbesar ‘Rise Of The Planet Of The Apes’ yang sebenarnya punya premis mirip dengan instalmen keempat/kelima franchise aslinya, adalah eksplorasi emosi dalam menuangkan tema itu. Jauh lebih dalam dari sekedar war ideas dan beda-beda interkoneksi dua spesies yang masih saling terhubung dari teori evolusi ini, ataupun usaha-usaha untuk membalik timeline di tengah twist post apocalyptic earth menjadi sebuah reboot dengan penjelasan origin lebih lagi buat menghubungkannya langsung ke core revolution theme itu. Padahal sebelumnya tak banyak yang meyakini langkah mereka memilih sutradara Rupert Wyatt serta duo penulis Rick Jaffa dan Amanda Silver untuk bisa berperang bersama summer blockbuster lain di tahun 2011 yang jelas-jelas jauh lebih high-profile darinya. Dan jangan lupakan pula pencapaian performance capture ataupun mo-cap, apapun sebutannya, serta visual effects lain dari Weta Digital yang sudah menunjukkan bahwa teknologi sinema sudah sampai ke detil-detil yang dulu tak pernah bisa terbayangkan.

DOA3

            Di tangan sutradara barunya, Matt Reeves, dari ‘Cloverfield’ dan ‘Let Me In’ yang jelas sudah punya profil lebih dibanding Wyatt di film pertama, masuknya penulis Mark Bomback dari ‘Total Recall’ dan ‘The Wolverine’, tetap bersama Jaffa dan Silver untuk menyambung benang merah kekuatan emosi itu, sekuel ini jelas menjanjikan. Selain efek-efek mo-cap yang sudah terlihat sangat dahsyat dari promo-promo-nya, mereka dengan berani membawa gagasan revolusi primata ini kembali mendekati plot aslinya. Rentang timeline-nya tetap jauh seperti instalmen-instalmen lamanya, namun kini dengan serangkaian shorts yang jadi penghubung untuk menjelaskan apa yang terjadi setelah ending ‘Rise’. Dengan konsep sama, bahkan nyaris tanpa star factor kecuali Gary Oldman yang jauh lebih dikenal ketimbang Jason Clarke dan Keri Russell, mereka tetap meletakkan kekuatan utamanya pada performa Andy Serkis sebagai Caesar, kini ditambah Toby Kebbell yang melanjutkan peran Koba, primata pendendam yang sudah muncul sebelumnya (di film pertama diperankan Christopher Gordon).

DOA11

            10 tahun setelah serangan virus ALZ-113 dari film pertama mulai memusnahkan peradaban umat manusia sejak tahun 2016, Caesar (Andy Serkis) memimpin spesiesnya ke tengah pedalaman Muir Woods. Disana, lewat anak Caesar bersama Cornelia (kini diperankan Judy Greer), Blue Eyes (Nick Thurston), mereka kembali berhadapan dengan sekelompok manusia yang karena panik menembak Ash (Doc Shaw), anak sahabat Caesar, Rocket (Terry Notary). Curiga dengan aktifitas manusia yang memasuki wilayah mereka untuk mencari source energi hidroelektrik, meski Caesar mengampuni mereka, atas saran Koba (Toby Kebbell) yang masih menyimpan kebencian terhadap kaum manusia, menyelidiki eksistensi mereka di sebuah situs terisolasi di San Francisco. Malcolm (Jason Clarke), salah satu dari mereka, bersama istrinya Ellie (Keri Russell) dan putranya, Alexander (Kodi Smit-McPhee), berusaha mempertahankan perdamaian dengan meyakinkan pimpinan manusia, Dreyfus (Gary Oldman) untuk membiarkannya mendekati Caesar. Sayangnya, Koba yang bergerak sendiri atas prasangka berlebihannya membuat semuanya berantakan. Berbalik merancang pemberontakan, perang antara dua spesies ini pun tak terhindarkan di tengah prinsip berbeda untuk mempertahankan eksistensi masing-masing.

DOA2

            Sama seperti pendahulunya, kekuatan utama ‘Dawn Of The Planet Of The Apes’ juga ada pada eksplorasi emosi yang sangat solid bersama plot yang bergulir sejak awal. Bertolak belakang dengan franchise aslinya yang kerap kurang memberi batas jelas dengan keberpihakan yang saling berpindah di sepanjang instalmennya, bersama Bomback, Jaffa dan Silver sekali lagi berhasil memberi penekanan-penekanan kuat dalam latar kisah-kisah revolusi tanpa penghakiman, menempatkan karakter-karakternya dengan lapis-lapis motivasi berbeda, meski masih punya batasan hitam putih, but with various causes and consequences secara sangat wajar, menggugah emosi sekaligus thought-provoking atas banyak peristiwa yang ada sekarang ini.

DOA4

        Yang lebih membuatnya terasa unik, bersama eksplorasi solid itu, mereka juga tak sekali pun menghilangkan feel-nya sebagai sebuah blockbuster. Meski memang terbentur pada kepentingan fun factor yang digerus sedalam mungkin, lebih ke tipikal sekuel blockbuster melankolis kegemaran kritikus dan penikmat tontonan serius ala ‘Empire Strikes Back’ bahkan ‘The Dark Knight’, Reeves menjaga keseimbangan storytelling-nya tak jadi kelewat berputar-putar secara ruwet atau njelimet. Dialog-dialog dan turnover para karakternya tetap terasa sangat pop dengan mengandalkan quote-quote cukup memorable baik dari interaksi spesies sama ataupun berbeda, terlebih buat memberi penjelasan bahasa primata lewat subtitel hingga kemampuan sebagian apes character ini berbahasa manusia, semua bisa dihadirkan dengan wajar serta cukup pas. Ini juga yang membuat pace-nya sedikit bisa melebihi ‘Rise’. Mungkin tak sampai sedahsyat salah satu promo poster-nya yang lagi-lagi menjual tampilan Golden Gate Bridge menggantikan ikon patung Liberty di franchise lamanyanamun peningkatannya menuju klimaks rampage battle itu masih terbilang sangat seru. Satu yang terpenting, bahkan dengan detil yang membuatnya jadi seolah missing link dari instalmen-instalmen selama ini, mereka tak perlu menggagas konklusi-nya jadi se-nihilistik ‘Beneath The Planet Of The Apes’ sambil menahan realitanya untuk tak terbentur jadi sebuah pure fantasy tanpa kedalaman lebih, dan dengan sendirinya sudah punya pakem baru untuk membangun atmosfernya sendiri, tapi tak juga berarti mengkhianati political elements yang ada dalam source aslinya.

DOA9

           Dan jangan tanyakan sisi teknisnya. Performance capture dan visual effects tambahan lain dari Weta Digital yang dimotori Joe Letteri dan Dan Lemmon bahkan secara luarbiasa melampaui detil-detil pencapaian mereka di film pendahulunya. Lihat saja serangkaian proses-proses teknis pembuatannya, yang mengundang ketakjuban kala melihat hasilnya. Dari tiap gerakan, ekspresi hingga sorot mata para primata terutama tokoh-tokoh sentralnya, karakterisasi itu sudah terbangun sedemikian detil, bahkan lebih dari live actors-nya. Sinematografi Michael Seresin, DoP senior belum pernah tampil sebagus ini sejak kiprahnya di ‘Midnight Express’ dulu, begitu pula pace editing dari William Hoy, editor senior yang memang sudah biasa meng-handle film-film besar sampai kecil degan kedalaman lebih, dan scoring dari Michael Giacchino pun terdengar jauh lebih epik serta megah dibanding apa yang dilakukan Patrick Doyle di film sebelumnya. Konversi 3D-nya memang tak menyembul, tapi memberikan depth yang bagus.

DOA5

         Kalaupun ada satu-satunya kekurangan, justru pada deretan human characters-nya yang tak bisa sebaik ensemble yang ada di ‘Rise Of The Planet Of The Apes’. Jason Clarke masih cukup lemah meng-handle potensinya sebagai lead, Keri Russell dan Kodi Smit-Mc Phee tak diberi kesempatan lebih, dan Gary Oldman, meski tetap tak perlu ditanyakan kualitas keaktorannya, tak mendapat justifikasi ending yang layak buat penjelasan karakter yang tetap hanya terbatas sebagai side character tanpa bisa mengungguli John Lithgow di instalmen pertamanya. Tapi toh pakem franchise-nya memang kerap lebih menempatkan aktor-aktor yang mengisi peran primata seperti yang ada di judulnya, sebagaimana dulu Roddy McDowall lebih diingat ketimbang Charlton Heston atau aktor-aktor lain seperti James Francsicus atau Ricardo Montalban yang melanjutkan sekuel-sekuelnya. Andy Serkis dan Toby Kebbell adalah dua yang sangat patut mendapat kredit lebih tanpa memunculkan sosok asli mereka dalam permainan mo-cap yang sebenarnya juga punya eksplorasi akting sama bahkan mungkin jauh lebih sulit ini.

DOA8

         So, memang tak berlebihan kalau resepsi ‘Dawn Of The Planet Of The Apes’ baik dari sisi kritikus maupun penonton terdengar sangat meyakinkan. Ini memang bukan sekedar summer blockbuster yang melulu hanya menjual fun factor, yang tetap perlu ada satu atau dua di tengah pameran boom-bangs dan gegap gempita keseluruhan selebrasinya. Bukan saja jadi kandidat summer blockbuster terbaik tahun ini, but also one of the year’s best and absolutely the best among allPlanet Of The Apesinstallments. An emotionally gripping mo-cap tour de force! (dan)

DOA7

BLENDED : THE PERFECT BLEND OF SANDLER – BARRYMORE

•July 13, 2014 • Leave a Comment

BLENDED 

Sutradara : Frank Coraci

Produksi : Happy Madison, Gulfstream Pictures, Karz Entertainment, Warner Bros Pictures, 2014

BL5

            Mungkin Adam Sandler adalah versi aktor dari sutradara Michael Bay di mata para kritikus. Mungkin. Then again, memang ada batasan kenapa dalam konteks film sebagai produk hiburan, penonton kebanyakan dan kritikus menjadi arch enemy to each others. Sekali waktu, kritikus berhasil menenggelamkan box office film yang mereka hajar habis-habisan, tapi di waktu yang lain, suara mereka seakan sama sekali tak berarti, dengan beda-beda tipe movie buffs dan like or dislike in comedic style seorang komedian yang ada di tengah-tengahnya.

BL12

          Dan jangan salah juga, meski sudah berkali-kali diganjar Razzie Awards atas tuduhan bahwa komedi Sandler kebanyakan membodohi generasinya, ada banyak argumen kenapa Sandler merupakan one of the biggest comedian in this century di luar hasil box office film-filmnya. Sesekali ia bisa lari, bahkan mencari pembuktian lewat film-film macam ‘Punch Drunk Love’, ‘Spanglish’, evenFunny People’. Tapi bagi kolega-koleganya, Sandler tetap punya jasa besar mengangkat sebagian besar mereka ke puncak popularitasnya. Like a big brother who cares for more, ada kenyataan, bahwa dibalik sickjokes cenderung kasar, gila dan kurangajar yang digelarnya, ia tak pernah lupa memuat pesan di konklusi cerita-ceritanya, memutar balik komedi ke heartfelt atmosphere yang membuat mata penontonnya basah di tengah tawa mereka. Satu yang jelas, Sandler jalan terus. Dari sosok komedian kurus ceking ke penuaan usia dan postur yang berubah, ia selalu meng-update komedinya dengan bagus.

BL7

              And so, di salah satu senjata terkuat yang lahir sejak ‘The Wedding Singer’, Sandler menemukan chemistry luarbiasa dengan Drew Barrymore serta berlanjut ke ’50 First Dates’, ia tahu kalau penonton masih menunggu reuni itu kembali. Here comesBlended’, yang bukan saja mempertemukannya kembali dengan Barrymore dan sutradara Frank Coraci dari ‘The Wedding SingerplusThe Waterboy’ dan ‘Click’, ketiganya adalah film-film terbaik Sandler, tapi juga menandakan awal kerjasama Sandler dan PH Happy Madison-nya bersama Warner Bros. Oh sure, tomat busuk bagi kritikus pun bisa jadi permata bagi penonton kebanyakan yang masih menyukai kombinasi sickjokes – heartfelt ala Sandler.

BL6

           Bermula dari sebuah blind date berujung kacau, serangkaian peristiwa malah terus mempertemukan Lauren Reynolds (Drew Barrymore), janda cerai dengan dua putra ; Brandon (Braxton Beckham) – Tyler (Kyle Red Silverstein) dan Jim Friedman (Adam Sandler), duda dengan tiga putri ; Hillary (Bella Thorne), Espn (Emma Fuhrmann) dan Lou (Alyvia Alyn Lind). Di tengah masalahnya masing-masing dengan keluarga mereka, dimana Lauren masih kerap didatangi mantan suaminya Mark (Joel McHale) dan Jim terus berurusan dengan trauma kematian istrinya ke anak-anaknya, mereka tak bisa menolak tiket ke Afrika yang batal digunakan sahabat Lauren, Jen (Wendi McLendon-Covey) dan atasan Jim. Kedua keluarga ini pun terpaksa berinteraksi dalam sebuah liburan penuh kekacauan di Afrika, yang tak pernah mereka sadari merupakan program yang dinamakan ‘blended familymoon’ bagi pasangan keluarga baru dimana masing-masing makin mengenal satu sama lain lebih dekat dibalik rasa antara Lauren dan Jim yang mulai berbalik.

BL11

             Biarpun skripnya ditulis oleh penulis baru Clare Sera bersama Ivan Menchell yang jauh sebelum ini pernah menulis komedi ‘The Cemetery Club’ versi teater dan layar lebar, yang muncul paling kental tetap saja sickjokes Sandler untuk menghantarkan keseluruhan plot-nya. Bersama resep baku komedi Sandler, dari kemunculan cameo rekan-rekannya (meskipun kali ini tak sebanyak biasanya, but includes Alexis Arquette dan Allen Covert – masing-masing dari ‘The Wedding Singer’ dan ’50 First Dates’), strong tribute reference to 80s – 90s musical touch – soundtracks dan karakter-karakter pendukung cukup dikenal diantaranya Kevin Nealon, Joel McHale, Shaquile O’Neal dan former football star Terry Crews dari ‘The Expendables’ yang dipaksa melucu sambil menyanyi dan menari, masih ada aktor-aktor baru yang mencuri perhatian sebagai side characters-nya seperti Bella Thorne, Zak Henri, Jessica Lowe dan Abdoulaye N’Gom sebagai Mftana the concierge.

BL10

       Tapi tetap saja dayatarik utamanya ada pada chemistry sempurna antara Sandler dan Barrymore yang ternyata tak lekang tergerus waktu. Dalam update karakter berbeda mengikuti usia mereka, from pre-marriage young couple di ‘The Wedding Singer’, grown-ups di ’50 First Dates’ dan widower to divorcee disini, chemistry itu masih terjalin dengan kekuatan luarbiasa, dari dramatisasi, romantic scenes ke comedic response masing-masing. Sulit rasanya membayangkan ‘Blended’ bisa membentuk blend sebaik ini tanpa kehadiran mereka.

BL1

      Di tengah faktor tersukses chemistry pasangan ini, subplot-subplot komedi dan dramatisasi itu bisa bergabung membentuk blend yang sangat nyaman buat disaksikan. Komedi dan sickjokes-nya lucu dan hilarious, sementara sisi drama di tiap side characters-nya bisa mengimbangi secara luarbiasa menyentuh. Sandler bukan saja membahas hubungan-hubungan yang gagal dalam interaksi keluarga, tapi juga ke masalah kehilangan sosok tercinta yang lebih dalam lewat bentukan family figures dan konflik-konflik yang sangat relatable ke setiap kelas usia pemirsanya. Di satu sisi, karakter-karakter ini bisa terlihat gila dan sangat unlikely dalam penyampaian komedinya, namun di sisi lain, they’re also everyone of us. Scoring dari Rupert Gregson-Williams juga bisa meng-handle turnover emosinya dengan bagus.

BL9

           So go figure. Hanya kalau Anda memang sangat membenci style komedi Sandler, ‘Blended’ mungkin akan dipandang punya banyak sisi ketololan dalam bangunan komedi itu. But I’ll tell you what, menepis begitu saja heartfelt emotions yang tak pernah lupa disempalkan Sandler di setiap filmnya would be your loss, too. Di tengah hingar-bingar gempuran boom-bangs penuh efek visual summer blockbusters, adalah sebuah hal bagus kalau Hollywood masih tak melupakan film-film simple yang tetap mengingatkan kita ke interaksi-interaksi keluarga seolah memberikan cermin untuk berkaca sambil tertawa bersama fun factor tak kalah solid. Dan jangan lupa bahwa komedi terbaik, adalah komedi yang bisa membuat kita tertawa keras dengan mata berkaca-kaca. Trust me, ‘Blended’ masih bekerja sebagaimana kita dulu dibuat begitu terhanyut dengan elemen-elemen yang ada dalam ‘The Wedding Singer’ dan ’50 First Dates’, mostly in the perfect blend of that chemistry. Films may come and go, but Sandler and Barrymore, stays. (dan)

BL2

DELIVER US FROM EVIL : UNUSUAL TAKES ON EXORCISM HORROR

•July 13, 2014 • Leave a Comment

DELIVER US FROM EVIL

Sutradara : Scott Derrickson

Produksi : Jerry Bruckheimer Films & Screen Gems, 2014

DUFE1

            To avid horror fans, jauh sebelum waktu rilisnya, ‘Deliver Us From Evil’ sudah jadi film horor yang ditunggu-tunggu. Bukan hanya karena tema exorcism adalah salah satu yang paling populer di horor Hollywood serta juga potentially creepy, ini adalah filmnya Scott Derrickson, sutradara yang sudah menghasilkan ‘The Exorcism of Emily Rose’, ‘Sinisterand if you paid more attention, ‘Scream 4uncredited writer. Co-writer-nya, Paul Harris Boardman, juga seperti life long partner Derrickson di kebanyakan filmografinya, dengan sentuhan kental di genre horor.

DUFE3

            Last but not least, tentulah karena ‘Deliver Us From Evil’ memang dijual sebagai sebuah adaptasi buku non fiksi ‘Beware The Night’ karya Ralph Sarchie dan Lisa Collier Cool, film berdasar real life account of Sarchies exorcism events, NYPD Sergeant turned demonologist, yang jika ditarik panjang juga punya hubungan dengan sejumlah paranormal lain yang pernah diangkat ke layar lebar, salah satunya Ed & Lorraine Warren dari ‘The Conjuring’.Dan okay, faktor Jerry Bruckheimer yang duduk di kursi produser mungkin tak termasuk salah satunya, secara Bruckheimer memang tak punya kredit meyakinkan di genre-nya, tapi belum tentu tak bisa memberikan sentuhan baru terhadap pendekatannya.

DUFE4

            Menyelidiki serangkaian kasus pembunuhan misterius dengan latar supranatural yang saling terhubung dan sulit terjelaskan, walau awalnya ditentang partnernya, Butler (Joel McHale), NYPD officer Ralph Sarchie (Eric Bana) mau tak mau terpaksa bekerjasama dengan pendeta Castilian Catholic urakan Joe Mendoza (Edgar Ramirez). Misi yang bukan saja menenggelamkan Sarchie dalam obsesi-obsesi terpendam terhadap rahasia masa lalunya, tapi juga punya resiko terbesar, menempatkan istri dan putrinya (Olivia Munn & Lulu Wilson) dalam bahaya.

DUFE9

            Kredibilitas Derrickson meng-handle elemen-elemen krusial dalam genre horor, creating goosebumps dari usual jumpscares, exorcism scenes, pengaturan angle dan feel found footage sebagai pelengkap ke penggunaan simbol-simbol wajib seperti children toys, jelas tak perlu diragukan. Seperti ‘Sinister’ dan ‘The Exorcism of Emily Rose’, bersama feel vintage sinematografi Scott Kevan dan score Christopher Young, style-nya juga sangat terasa dalam ‘Deliver Us From Evil’. Namun tanpa bisa dihindari, pendekatan plot yang dibangun lewat skrip atas porsi partnership-nya dengan karakter Mendoza dengan latar belakang drugs junkie dan sedikit sempalan classic rock reference, mostly dari ‘The Doors’ di soal-soal keterlibatan demoniknya mau tak mau memang menciptakan sebuah tahanan kuat untuk bisa sepenuhnya bermain di horror pace itu.

DUFE2

            Disini juga mungkin sentuhan Bruckheimer, yang lebih terbiasa bermain di ranah-ranah buddy movie, jadi terasa sangat mendistraksi atmosfer horor-nya. Walau tetap lumayan menyeramkan, sempalan komedi yang secara alami harus terbangun dalam skrip itu, bukan saja dari dialog tapi juga dari penjelasan unlikely characters-nya, terutama Mendoza dengan rambut gondrong ala rocker dan Butler dengan asesoris Red Sox-nya, ternyata punya potensi mengecewakan penggemar horor yang mengharapkan pendekatan murni genre-nya. Namun di sisi lain, ini seperti menghadirkan suatu racikan baru diatas banyaknya tema-tema sama yang sudah pernah kita saksikan di film-film sejenis.

DUFE5

            Eric Bana jelas pilihan tepat untuk memerankan Sarchie. Dari Queens accent ke aura war-vet serta tough cop tipikalnya yang kuat, ia juga membangun chemistry unik dengan gaya rocker Mendoza yang di-handle Edgar Ramirez dengan baik sekali. Dari karir awalnya sebagai pin-up model ke sejumlah film-film kelas B, walau tetap memberikan dayatarik lebih ke filmnya, Olivia Munn mungkin tak diberi kesempatan lebih, namun Joel McHale benar-benar berhasil mencuri perhatian di tengah fokus duet Bana serta Ramirez.

DUFE7

            So this really depends on what you’re looking for. ‘Deliver Us From Evil’ bisa jadi sedikit mengecewakan bagi para penggemar horor yang mengharapkan purity dalam substansi genre-nya, tapi buat yang mau melihat lebih, walau belum sepenuhnya membentuk perfect blend, ini benar-benar menciptakan kombinasi unik secara keseluruhannya. Guliran plot-nya bisa jadi tetap klise, tapi tidak demikian dengan detil-detilnya. Now go figure, kapan terakhir kita melihat buddy movie yang tak lantas meninggalkan sentuhan komedi serta sedikit action namun dibalut bersama konklusi horor? Dan kapan pula sebuah exorcism-horror dilengkapi dengan referensi musik rock secara kental di dalamnya? Unusual takes on exorcism horror, dan itu artinya bagus. (dan)

DRIVE HARD : A FAILED SPEED TEST

•July 6, 2014 • Leave a Comment

DRIVE HARD

Sutradara : Brian Trenchard-Smith

Produksi : Odyssey Media, 2014

DH5

            Rata-rata cult classic lovers pasti tahu siapa Brian Trenchard-Smith. Sutradara kawakan asal Australia yang terbilang cukup konsisten menekuni karirnya di genre cheesy action ini sudah menghasilkan ‘The Man From Hong KongJimmy Wang Yu dan George Lazenby (1975), ‘Turkey Shoot’ (1982), ‘BMX Bandits’ (1983), ‘The Siege Of Firebase Gloria’ (1989) hingga satu-satunya blockbuster terbesar dalam sejarah karirnya, ‘Sahara’ (1995), sebelum akhirnya terjebak ke sejumlah DTV (Direct To Video) Movies.

DH2

            Kini, dengan aktor-aktor yang juga belum bisa keluar dari ranah yang sama, John Cusack dan Thomas Jane, kolaborasinya mungkin terdengar punya potensi sebagai comeback vehicle bagi ketiganya. Tapi sayangnya tak begitu. Skala produksinya juga tak jauh beda. Datang dari studio yang sebelumnya juga memproduksi film-film DTV dan hanya jadi konsumsi bioskop di beberapa negara Asia, satu paket dengan ide cerita oleh duo scriptwriter Chad dan Evan Law dari sederet DTV Movies yang dibintangi Cuba Gooding, Jr.

DH3

            Peter Roberts (Thomas Jane), instruktur mengemudi mantan pembalap profesional, seketika mendapatkan dirinya berada dalam penyanderaan Simon Keller (John Cusack), pembunuh bayaran yang hendak membersihkan namanya dari hukum sekaligus merancang pembalasan terhadap kelompok mafia yang menjebaknya. Meski awalnya kerap mencoba melarikan diri, lama kelamaan Peter mulai memahami motivasi Simon, sekaligus menggunakan kesempatan ini demi sebuah pembuktian diri terhadap istri (Jesse Spence) dan putrinya.

DH6

            Oh ya, plot se-simple itu memang bukan hal baru lagi dalam film-film Trenchard-Smith sebelumnya. ‘Drive Hard’ juga bukan sama sekali gagal membangun chemistry antara dua lead actor-nya. Komedinya cheesy tapi masih bisa bekerja dengan cukup baik. Set Gold Coast yang tak jauh-jauh dari kampung halaman Trenchard-Smith pun bisa memberikan latar visual agak beda dari kebanyakan produk Hollywood. Hanya saja, dialog-dialog dalam skripnya tak bisa membawa ‘Drive Hard’ keluar dari box-nya, selain urusan action, terutama car chase scenes yang mungkin harus berhadapan dengan budget terbatasnya sebagai DTV. Ini bisa bagus kalau saja Trenchard-Smith membuatnya seheboh poster promonya, car chase trash alaThe Vanishing Point‘ atau ‘Gone In 60 Seconds‘ versi jadul. Sayangnya, tak bisa maksimal, ketimbang sebuah car chase action, ‘Drive Hard’ malah cenderung terlihat seperti road comedy yang hanya mengandalkan interaksi Jane dan Cusack dimana atraksi kejar-kejarannya hanya sebatas jadi tempelan.

DH7

      Meskipun Thomas Jane sudah terlihat mencoba masuk ke peran berbeda bersama John Cusack yang seharusnya bisa mengulang tipikal charming antihero character yang sangat cocok buat sosoknya seperti dalam ‘The Grifters‘ atau ‘Grosse Pointe Blank’, akting keduanya tetap terlihat seadanya. Ada juga aktris Australia Zoe Ventoura yang cukup mencuri perhatian sebagai Agent Walker yang mengejar mereka. Namun sisi terbaik ‘Drive Hard’, mungkin ada di scoring-nya. Membentuk blend yang baik dengan tone old fashioned drive-in trash-nya, score dari Bryce Jacobs, musisi all-rounder Australia yang sudah jadi bagian dari banyak orkestrasi Hans Zimmer dan Ramin Djawadi dari ‘Happy Feet’, ‘Clash Of The Titans’, ‘Pirates Of The Caribbean’ hingga ‘Rush’, mengiringi ‘Drive Hard’ dengan sentuhan melodic rock dan elektronik keren plus salah satu single Jacobs sebagai end credits songGolden Sunset’.

DH4

       Okay, being one of the ‘so bad it’s quite entertaining’ trashy action comedy, ‘Drive Hard’ mungkin sedikit lebih baik dari DTV Movies lain yang digarap Trenchard-Smith ataupun deretan filmografi Chad dan Evan Law, terlebih untuk penyuka John Cusack atau Thomas Jane. Namun secara keseluruhan ia tetap saja jadi action serba tanggung yang berpotensi forgettable dan lewat begitu saja, apalagi sebagai comeback vehicle yang layak untuk nama-nama itu. A failed speed test, namun untuk sekedar trashy-nostalgic entertainment, bolehlah. (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,921 other followers