LOVELY MAN : SURVIVAL OF HEARTS

•May 10, 2012 • 7 Comments

LOVELY MAN

Sutradara : Teddy Soeriaatmadja

Produksi : Karuna Pictures & IFI (Investasi Film Indonesia), 2011

Percaya atau tidak, memprediksi film kita sekarang-sekarang ini cukup mudah. Lihat nama sutradaranya, dan meski ada satu-dua anomali dalam karya-karya mereka, ini lebih merupakan jaminan ketimbang barisan nama bintang-bintangnya, yang masih sering menyeberang ke banyak tipe produksi. Nama Teddy Soeriaatmadja pun begitu. Dari kiprah awalnya di ‘Banyu Biru’, film yang bicara dengan artistisme gambar, film-film selanjutnya bukan film sembarangan. Oke, ‘Namaku Dick’ mungkin kelewat ngebanyol untuk style-nya, dan remake ‘Badai Pasti Berlalu’ yang ditunggu-tunggu punya kesalahan kecil di skenario yang tak update tentang penyakit diabetes dibandingkan kenyataan pada era film aslinya. Tapi ‘Ruma Maida’ adalah karya yang cukup baik, dan jangan pernah lupakan ‘Ruang’, salah satu romantisme terbaik dalam sejarah sinema kita dibalik semua keindahannya.

Now don’t get me wrong. Sekali dua kali, bintang, justru jadi faktor yang paling berjasa membuat sebuah film jadi begitu bersinar. Begitu bercahaya. Dari jauh-jauh hari, kita sudah mendengar berita kemenangan Donny Damara di Asian Film Awards 2012, Hong Kong, mengalahkan Andy Lau dalam ‘A Simple Life’. So now we got a chance to see this on theatres setelah beberapa waktu melanglang buana dari festival ke festival dengan prestasi yang juga bukan main-main, dari pemutaran perdananya di Q! Film Festival, Special Mention Awards di Osaka Asian Film Festival 2012 sampai Best Film dan Best Director di The Golden Reel Awards, Tiburon International Film Festival 2012, San Francisco, AS, you better not miss this.

Cahaya (Raihaanun), seorang gadis pesantren yang dari kecil tak pernah mengenal ayahnya memutuskan untuk pergi ke ibukota mencari sosok sang ayah. Namun yang didapatinya benar-benar jauh dari harapannya. Syaiful/Ipuy (Donny Damara) ternyata tak lebih dari seorang waria yang tiap malam menunggu langganan di tengah jalan. Tapi ikatan adalah ikatan, dan di tengah jalanan malam yang mereka susuri, hubungan yang hilang itu mulai terbangun lewat problem dua manusia dengan jiwa terluka ini.

Teddy yang mengaku mendapatkan idenya dari sebuah reallife scene yang disaksikannya memilih untuk membesut ‘Lovely Man’ dengan segudang kesederhanaan. Hanya dengan kamera handheld tanpa tripod, lighting minim dan  shot-shot dengan soft focus, lewat sinematografi Ical Tanjung, Teddy mungkin tak pernah menyadari bahwa ia tengah membangun sebuah keajaiban dari dua cast utama yang menerjemahkan skenario bagus hasil tulisannya, lengkap dengan dialog-dialog yang terdengar luarbiasa wajar, believable, tak pernah sekalipun terlepas dari koridor konflik-konfliknya, namun tetap bisa menyentuh dasar hati terdalam tiap pemirsanya. Setting outdoor-nya pun tetap terasa se-claustrophobic jiwa karakternya. Plot-plot sampingannya mungkin sedikit klise, tapi Teddy menyiasatinya dengan baik untuk tak lantas berakhir dengan ending cemen.

Dan di departemen cast yang minim karakter itu, selayak kemenangan Donny Damara di ajang Asian Film Festival, Anda akan terkejut setengah mati mendapati aktor remaja yang dulu kerap menghiasi film-film kita di era ‘90an bertransformasi menjadi seorang waria dengan gestur dan intonasi sempurna. Begitupun,  penyelaman karakternya sebagai sosok seorang ayah tak pernah sekalipun dibiarkan lepas dalam intensitas yang terus meningkat bersama turnover karakter itu. Interaksinya juga terjalin dengan chemistry luarbiasa terhadap Raihaanun, muse sekaligus reallife wife Teddy yang muncul sama baiknya. Dengan kecanggungan sempurna seperti premisnya dan tak harus meledak-ledak tanpa arah. Believable at the strongest intensity as she can be.

Di tengah kombinasi penggarapan serba sederhana itu, ada satu lagi faktor yang harus dicatat dari ‘Lovely Man’. Skor garapan Bobby Surjadi, that even at times may sounded too Hollywood dengan penggalan komposisi klasik Claude Debussy, ‘Clair de Lune‘ dibalik pameran arthouse-nya, berhasil membangun emosi tiap adegannya secara mendalam. So inilah keajaiban itu. Di tengah premisnya yang luarbiasa sederhana menggambarkan penderitaan demi penderitaan, ‘Lovely Man’ hadir dengan interaksi pencarian hubungan yang hilang semanis hasil penggarapannya. Anda bisa merasa miris setengah mati, tapi tetap akan tersenyum melihat sentuhan humanisme yang digelar Teddy ke dalam ‘Lovely Man’. This is a survival of hearts with plenty of them, and I’m gonna tell you once again. Ain’t nothing like movies that can put a smile on your lips and wet your eyes at the same time. (dan)

THE AVENGERS : MARVEL KNOWS HOW

•May 5, 2012 • 5 Comments

THE AVENGERS

Sutradara : Joss Whedon

Produksi : Marvel Studios, Paramount Pictures, 2012

Dalam sejarah sinematis, ini adalah ‘dreams come true’. Sejak mereka mulai merajut benang merahnya dari ‘Iron Man’, kita semua tahu bahwa Marvel tak lagi main-main dengan ambisi mereka menyatukan dream team ini. The Earth’s Mightiest Heroes. Walau sempat tergelincir di ‘Hulk’ –nya Ang Lee atas desakan Columbia yang ingin menoreh film superhero sentimentil berkelas Oscar namun gagal total, plus ‘X-3: The Last Stand’ yang memuakkan atas blunder Brett Ratner itu, Marvel belajar. Dan mereka sudah menggulirkan konsep ‘crystal clear’ di tiap franchisenya. Setia pada atmosfer komik, ke karakternya, dan overall, setia pula ke atmosfer superhero-nya.

Dan tak ada yang lebih sempurna dari pilihan cast masing-masing, meski Edward Norton lantas digantikan Mark Ruffalo yang awalnya banyak dicerca akibat fisiknya yang tak mirip Bruce Banner. Aroganisme nyeleneh Tony Stark yang begitu solid di tangan Robert Downey, Jr., Thor’s gods charisma dari postur kokoh dan glam hair Chris Hemsworth, hingga boyscout leadership Steve Rogers oleh Chris Evans. Jangan lupa juga Black Widow-nya Scarlett Johansson serta Hawkeye, yang dibawakan Jeremy Renner dengan porsi scene-stealing cukup besar sejak muncul di ‘Thor’, plus agen-agen S.H.I.E.L.D.; Nick Fury-nya Samuel L.Jackson yang dengan sukses merubah fisik tokohnya hingga ke komik, agen Coulson (Clark Gregg) yang sudah berkali-kali tampil jadi benang penyambung masing-masing franchisenya. And Joss Whedon sebagai penggagas dari skenario yang ditulisnya bersama Zak Penn hingga ke kursi sutradara? Oh yeah, you wish! Tak seperti DC yang masih terus meraba-raba konsep dengan tiruan sana-sini plus ke produk mereka sendiri, Marvel sudah sukses memberi garis batas warna-warni karakter untuk akhirnya disatukan ke sebuah universe yang sama. Marvel knows how. They just know how.

Serangan Loki (Tom Hiddleston), saudara Thor (Chris Hemsworth) dari Asgard untuk menguasai sumber energi Tesseract yang terbuang ke bumi demi membuka portal invasi bagi alien-alien Chitauri yang berkolaborasi dengannya membuat Nick Fury (Samuel L.Jackson) dari S.H.I.E.L.D. memutuskan untuk mengaktifkan program Avengers Innitiative. Apalagi Loki berhasil menyeret agen Clint Barton aka Hawkeye (Jeremy Renner) dan ilmuwan Dr. Erik Selvig (Stellan Skarsgård) dengan kekuatan Tesseract itu. Agen Natasha Romanoff aka Black Widow (Scarlett Johansson) pun dikirim untuk merekrut Dr. Bruce Banner aka Hulk (Mark Ruffalo) dalam pengasingannya, selagi agen Coulson (Clark Gregg) dan Nick Fury merekrut masing-masing Tony Stark aka Iron Man (Robert Downey, Jr.) dan Steve Rogers aka Captain America (Chris Evans) yang baru terbangun dari tidur panjangnya membeku di lapisan es. Maka superhero-superhero ini pun harus bekerjasama melacak keberadaan Tesseract sekaligus menghentikan serangan Loki di tengah adaptasi instan mereka ditambah Thor yang bergabung untuk membawa Loki kembali ke Asgard. Menggunakan kelebihan dan juga mengatasi alterego satu sama lain, sementara pihak pemerintah sudah menggaris deadline peluncuran nuklir buat menghadapi invasi itu. Avengers Assemble!

So, Welcome 2012 Summer Movies! Dalam salah satu deretan proyek-proyek paling menjanjikan di musim panas 2012 (minus ‘Battleship’ yang sudah lebih dulu hadir di sebagian Asia), ‘The Avengers’ sudah siap memuntahkan amunisi atas ambisi panjang melewati franchise dan sekuel demi sekuel itu. Proses mulai pre-produksinya tak main-main, dari pemilihan cast, sutradara, penulis berikut kru hingga menggamit sampai seabrek perusahaan efek spesial, dari Digital Domain, WETA Digital sampai ILM (Industrial Light & Magic)-nya George Lucas. Kesuksesan ‘Iron Man’-‘Iron Man 2’, ‘Thor’ yang awalnya diragukan di tangan Kenneth Branagh tapi berhasil membawa atmosfer mitologinya ke set modern, proses leadership yang jelas tergambar dalam ‘Captain America’ termasuk ‘The Incredible HulkLouis Leterrier yang sudah membuang jauh versi Ang Lee ke junk bin paling dasar, pun harusnya sudah membuat kita semua tahu bakal seperti apa penggabungannya. Marvel, paling tidak, tak mencoba terlalu dalam menggali sisi humanisme karakternya. Kualitas ‘super’ mereka tampil se-‘super’ mungkin, dalam atmosfer komikal yang sangat jelas. Dengan kostum (seperti yang tampil dalam salah satu dialog Captain America yang rasanya tak sekedar mau bercanda namun penuh sindiran ke trend humanisme superhero yang ada sekarang). Dengan senjata. Dengan sisi fun luarbiasa gede. Bukan sekedar tampang rusak dengan wardrobe orang biasa. And there, di tangan Joss Whedon sebagai pemersatu yang kita tahu juga tepat dengan visi fantasi tanpa kompromi, ‘The Avengers’ sudah dengan sendirinya tampil solid.

So how about the ‘Transformers’ similar plot? Ah, tak usah jauh-jauh. Jauh sebelum ‘Transformers’, komik ‘The Avengers’ sudah menggagas hal yang sama. Mereka justru lebih dulu meskipun adaptasinya tampil belakangan. Apapun alasannya, Whedon sudah membiarkan kita menelusuri dengan detil satu-persatu proses itu di masa putar keseluruhan lebih dari dua jam sebelum akhirnya menggempur klimaks panjang rumble ‘The Avengers’ vs Loki dan alien-alien Chitauri di tengah kehancuran kota sebesar ekspektasi terhadap kolaborasi special effects companies-nya. Sempalan humor yang diselipkan Whedon bersama berbaris punchlines khas komiknya dengan ampuh  juga terasa segar luarbiasa. Walau 3D konversinya tak tampil kelewat dahsyat, you’ll have no other options than to cheer out loud, clapping your hands dan screaming for more right to the very end.

Then about the casts, semua tampil dengan kesetiaan penuh pada karakterisasi mereka di film-film sebelumnya. Porsinya seimbang, tak saling menutupi, tapi tampil dengan perfectly blended chemistry. Whedon terlihat paham sekali dimana letak kelebihan masing-masing dan ia mengatur gasnya dalam posisi yang pas dengan masih menyisakan segmen-segmen yang makin menjelaskan kenapa Steve Rogers aka Captain America layak jadi pemimpin para superhero ini, lengkap dengan penggalan skor Alan Silvestri di ‘Captain America’. Yang berpotensi menjadi scene-stealer termasuk Scarlett Johansson, Clark Gregg and yes, Jeremy Renner, juga diberikan potensi scene-stealer makin besar. Tom Hiddleston pun tampil solid sebagai villain utama dengan karakterisasi yang lebih berkembang dari ‘Thor‘.  Namun tak ada yang lebih baik dari Mark Ruffalo yang sebelumnya banyak disangsikan menggantikan posisi Norton. Lupakan Eric Bana dengan postur Banner yang pas tapi bingung menerjemahkan karakternya di ‘Hulk’ versi Ang Lee. Melebihi Norton yang sesekali masih lebih kelihatan sedikit psycho dan kelewat depresif di ‘The Incredible Hulk’, Ruffalo, meskipun postur berikut rambut ikalnya sangat tidak seperti Bruce Banner, tampil dengan awkwardness Banner yang sudah lama kita tunggu-tunggu. Porsi Hulk juga jadi faktor paling fun seperti penggalan trailer percakapan Stark dengan Loki yang memorable itu, dengan suara yang diisi oleh Lou Ferrigno, pemeran asli versi adaptasi serial TV-nya yang legendaris. Jangan lupa juga Samuel L. Jackson sebagai pentolan S.H.I.E.L.D, Nick Fury, yang meski tak dibiarkan banyak beraksi di tengah rumble tapi membawa kualitas mirip ‘M’-nya James Bond dalam menangani The Avengers, Paul Bettany yang kembali menyuarakan Jarvis, Gwyneth Paltrow sebagai Pepper Potts, and above all, Cobie Smulders sebagai agen Maria Hill yang bakal jadi lebih besar dari peran-peran sampingan setelah ini. Pemeran serial TV ‘How I Met Your Mother’ dan pernah dikandidatkan Whedon untuk adaptasi film ‘Wonder Woman’ yang belum berlanjut hingga sekarang ini juga mampu mencuri layar diantara penampilan senior-seniornya.

So yes, dalam kualitas adaptasi komik superhero, filmis dan teknologi efek spesial serta fun factor-nya yang menghentak, ‘The Avengers’ sudah tampil sangat dahsyat bahkan melebihi ekspektasi lewat sempalan penuh thrill yang digagas Whedon. Semoga hype-nya tak padam di tengah gempuran penonton trend yang masih menunggu-nunggu satu-satunya andalan DC lewat akhir trilogi ‘The Dark Knight’ nanti, karena assemble ini belum bakal berakhir disini lewat after credits scene yang sudah menjelaskan villain barunya, salah satu karakter villain komik-komik Marvel yang paling ditunggu-tunggu, sebelum themesong ‘Live To Rise’ dari Soundgarden bergulir. Now fasten your seatbelts, and get ready for the bang and boom! Marvel knows how. They really know how. (dan)

THE DEVIL INSIDE : BEYOND EXORCISMS

•April 30, 2012 • Leave a Comment

THE DEVIL INSIDE

Sutradara : William Brent Bell

Produksi : Insurge Pictures & Paramount Pictures, 2012

Sama seperti genre-genre lain, horor dengan style found footage / mockumentary yang masih terus jadi trend pun ternyata tak punya formula pasti untuk bisa mendapat resepsi yang bagus di kalangan para penonton. ‘The Blair Witch Project’ mungkin memang sebuah pemula, namun tak ada yang menyangka bagaimana ‘Paranormal Activity’ yang sudah punya 4 film membelit-belit plotnya di situ-situ saja bisa berhasil luarbiasa, dan ‘The Last Exorcism’ masih bisa dianggap bagus oleh banyak orang. ‘The Devil Inside’ pun sebenarnya tak jauh berbeda, dan muncul di awal dengan antusiasme luar biasa juga. Bahkan Paramount pun menandai ‘The Devil Inside’ sebagai film pertama produksi divisi mereka, ‘Insurge’ yang khusus menangani produk low budget. Di weekend pertamanya, ia melambung ke puncak box office, namun di minggu berikutnya anjlok sampai memecahkan rekor hampir sebesar ‘The Jonas Brothers : 3D Concert Experience’, dengan satu dosa yang dianggap paling besar. Ending yang sangat ‘WTF’ hingga dianggap sebagai salah satu ending terjelek dalam sejarah sinema mereka. But hey, ain’t all found footage ended with ‘WTF’? Entah ini sebuah anomali, but it’s for you to decide.

Dibuka dengan opening scene yang meyakinkan untuk membangun atmosfer seramnya setelah embel-embel tak penting bahwa film ini tak didukung Vatikan, di tahun 1989, Maria Rossi (Suzan Crowley) membunuh tiga orang pendeta yang tengah melakukan pengusiran setan (exorcism) terhadapnya, secara mengenaskan. Maria kemudian dirawat di sebuah rumahsakit jiwa di Roma. Suaminya juga meninggal tiga hari setelahnya, meninggalkan seorang putri bernama Isabella. Isabella dewasa (Fernanda Andrade) lah yang 20 tahun kemudian berniat menelusuri jejak ibunya melalui sebuah film dokumenter tentang exorcism dengan bantuan dua pendeta, Ben (Simon Quaterman) serta David (Evan Helmuth). Ben dan David membawa Isabella ke exorcism terhadap Rosalita (Bonnie Morgan) sebelum menjumpai ibunya, tanpa menyadari mereka makin mendekati kejadian-kejadian mengerikan atas masa lalu mereka.

The truth is, secara sekilas, tak ada yang salah dengan ‘The Devil Inside’. Lokasinya yang berpindah-pindah dari Rumania, Roma dan Italia juga hadir dengan cukup menarik dibalik penjelasan detil tentang pro dan kontra paham-paham exorcism dari gereja dengan medis hingga kontradiksi setan dalam kitab suci, jauh lebih mendalam ketimbang ‘The Last Exorcism’. Horror sequence-nya juga sama sekali tak bisa dikatakan gagal dalam menakut-nakuti serta mengejutkan penonton, begitu pula departemen castnya yang bukan siapa-siapa tapi bermain cukup intens.

Namun disini juga mungkin letak ketidakseimbangan antara padatnya penyampaian informasi dengan usaha Bell bersama partner tetapnya, Matthew Peterman yang sebelumnya sudah menyuguhkan kita horor ‘Stay Alive’ yang juga kurang berhasil, untuk menggedor jantung penontonnya dengan adegan-adegan menyeramkan. Selagi found footage lain tak dibarengi dengan plot kelewat detil hingga memfokuskan perhatian penonton secara penuh ke gempuran kengeriannya, ‘The Devil Inside’, terkadang malah kelihatan kelewat cerewet memberikan pro dan kontra pandangannya terhadap seluk-beluk exorcism, sehingga penonton bisa jadi begitu terdorong untuk mengharapkan kesimpulan yang tuntas di ujung benang merahnya. But then again, Bell dan Peterman tetap memilih tipikalisme found footage horror seperti biasanya dengan ending yang dianggap banyak orang ‘WTF’ secara tak menyenangkan itu. As to me, a found footage is better end that way, dan selama gelaran seram-seramannya bisa cukup membuat Anda terpaku dengan bulu kuduk berdiri, tak ada alasan untuk menghujatnya ke dasar yang paling bawah dari sebuah pengalaman sinematis. So yes, ini sungguh tak sejelek yang dikatakan kritikus dan sebagian penonton, and you better get ready to scream! (dan)

MODUS ANOMALI : LET THE GAMES PLAY ON!

•April 26, 2012 • Leave a Comment

MODUS ANOMALI

Sutradara : Joko Anwar

Produksi : LifeLike Pictures, 2012

So what is a ‘mindfuck’ in terms of movies? Saya mengutip salah satu definisi yang rasanya paling tepat dari sebuah urban dictionary. ‘It’s a cinematic technique that uses misdirection to lead to an ending that is at first glance completely unexpected or contradictory, but its coherent and reasonable given hindsight and careful observation of the clues presented’. So yes. Di satu sisi, penonton mungkin seakan menerima penjelasan endingnya dengan tuntas, tapi ketika ditelusuri kembali tetap ada beberapa poin yang tidak sinkron. Anda bisa membicarakannya berulang-ulang, bumped in many different thoughts, dan ketika Anda mencoba menghubungkan semua, that’s when your mind got really fucked. Bisa jadi, kreatornya pun tak punya jawaban pasti. Or else, only God knows.

Dan membuat karya sinematis seperti itu bukanlah hal yang gampang. Tanpa harus membanding-bandingkan ke sineas luar, sinema Indonesia punya seorang Joko Anwar. Ia bisa halus ketika menulis skenario yang penuh punchlines, tapi bisa juga kasar luarbiasa. Tapi dalam karya-karya penyutradaraannya, meski awalnya hadir dengan ‘Janji Joni’ yang informatif tanpa mencoba bermain-main dengan pikiran, film-film selanjutnya, ‘Kala’ dan ‘Pintu Terlarang’ sudah menunjukkan kegilaan sangat liar, yang mungkin belum pernah kita temukan di sineas-sineas lain. Sambung-menyambung dengan segaris clue atau hint yang bisa saja saling berhubungan atau bisa juga tidak. Terserah Anda. Tapi karya terbarunya, ‘Modus Anomali’ ini memang spesial dan layak ditunggu. Tak usah heran kalau dari sebelumnya ia sudah meraih penghargaan Bucheon Award di Network of Asian Fantastic Film (NAFF) yang merupakan bagian dari Bucheon International Fantastic Film Festival di Korsel. World premierenya juga berlangsung di SXSW (South By Southwest Film Festival), Austin, Texas dengan beragam review yang menunjukkan kualitasnya sebagai salahsatu mastermind dalam genre sejenis. Ini juga tak jauh-jauh dari gaya Joko sebelumnya meskipun digagas dengan pendekatan yang sedikit terasa berbeda. Dan ia memang beruntung mendapatkan dukungan solid dari seorang Sheila Timothy yang punya visi sama. So when almost the whole plot filled with layered twist, I won’t spoil you with any details.

Seorang pria bernama John Evans (Rio Dewanto) terbangun di tengah hutan, tanpa identitas, dan kehilangan istri serta anaknya secara misterius. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah mengumpulkan petunjuk untuk bisa menemukan mereka dan keluar hidup-hidup dari ancaman yang datang dari sosok pembunuh misterius yang terus mengikuti jejaknya.

Nanti dulu perkara plot, karena titel keren ‘Modus Anomali’ yang juga bisa punya beragam arti menurut pendapat Anda masing-masing, memang dirancang sebagai sebuah mindfuck movie ala Joko Anwar. It could be a new idiom, gabungan dari dua kata atau malah mindfuck seperti filmnya. Namun secara filmis, hampir seluruh bangunan produksinya digagas dengan detil luarbiasa. Dari production values ke detil-detil penggarapan lain, ini sungguh tak main-main seperti filmnya yang bernuansa sedikit trashy. And somehow I’m sure, ketelitian dari tiap sisi yang tampak sangat jelas itu tak akan mungkin menyisakan borok-borok filmis secara tak sengaja. Dari penggunaan bahasa yang keseluruhannya menggunakan bahasa Inggris dengan dialek dan intonasi (sangat) broken english serta takkan pernah terasa relevan apapun alasannya, dialog-dialog trashy serta beberapa mimik over tokoh utamanya yang diperankan dengan sangat intens oleh seorang Rio Dewanto, salah satu aktor paling menjanjikan dalam sinema kita belakangan ini, semua seakan merupakan rancangan dari permainan gila yang digelar Joko. Sebaris aktor pendukungnya dari Surya Saputra, Marsha Timothy, pendatang baru Hannah Al Rashid, Aridh Tritama, Jose Gamo dan Sadha Triyudha (yang terakhir ini juga ikut bermain dalam film pendek Joko yang dirilis online di hari Valentine lalu, Durable Love) juga bermain cukup baik.

Dan sekarang Joko mengajak kita jadi bagian dari kengerian misterius yang diset dibalik tampilan hijaunya hutan luas namun terkesan claustrophobic dengan kabin-kabin yang juga terasa sangat hidup. Kerja kamera yang dibesut Gunnar Nimpuno dengan teknik handheld/shakycam dan long shot juga membawa kita seakan ikut berpetualang mengikuti karakter John yang berlari kesana kemari mengumpulkan puzzle, kadang tersesat, sekaligus bertahan hidup di tengah deskripsi kesadisan yang cukup gory. Sound design dari Khikmawan Santosa pun sangat luarbiasa merekam detil-detil terkecil bunyi-bunyian alam hingga senjata dari atmosfer itu bersama skor penuh teror dari trio Aghi Narottama-Bemby Gusti-Ramondo Gascaro yang merupakan aset komposer terbaik sinema kita saat ini. Jangan lupa juga dua theme songnya yang semakin memberi kesan misterius, ‘Bogor Biru’ dari Sore serta ‘Humaway’ yang dibawakan sendiri oleh Joko Anwar.

So yes, Anda boleh saja menebak-nebak labirin penuh kepingan puzzle dengan hint demi hint yang digelar Joko ke dalam twistnya yang berlapis. Tentang siapa sebenarnya karakter-karakternya, apa motif-motif dari tiap twistnya, atau kemana arah tiap adegan akan berlanjut secara unpredictable. Walaupun dianggap sebagian orang lebih linear dari dua karya Joko sebelumnya, ini sebenarnya tak layak untuk dibanding-bandingkan. Selagi ‘Kala’ mengusung style noir dibalik fantasi luarbiasa-nya dan ‘Pintu Terlarang’ malah lebih menyerupai gruesome arthouse yang serba cantik, ‘Modus Anomali’ digagas lebih ke arah thriller-thriller trashy yang memuaskan selera Anda terhadap film-film penuh pameran kesadisan dan suspense yang super-duper intens. Coba tonton lebih dari sekali, and just when you thought you’ve got it all, akan terus ada pertanyaan tak terjawab, dan disanalah sebenarnya Joko sudah sukses menggempur permainan mindfuck-nya ke pikiran Anda. Now press play, feel the fear and let the games play on! (dan)

THE WITNESS : THIS AIN’T NO JINX

•April 26, 2012 • 1 Comment

THE WITNESS

Sutradara : Muhammad Yusuf

Produksi : Skylar Pictures & GMA Films, 2012

Speaking of Skylar Pictures, lupakan ‘Jinx’ (2010), produksi layar lebar perdana mereka yang juga disutradarai Muhammad Yusuf. Meski kita sadar mereka mencoba mendobrak genre perfilman nasional, hasil film itu tak lebih baik dari karya indie pemula yang terlalu banyak menyelipkan scene yang mubazir dalam gaya penceritaannya yang terbata-bata. Lupakan juga ‘Tebus’, juga disutradarai Yusuf, yang meski belum cukup baik, digembar-gemborkan sebagai thriller Indonesia pertama bahkan mereka tak tanggung-tanggung menawarkan 100 juta rupiah untuk orang yang berani mengkritiknya. ‘Surat Kecil Untuk Tuhan’, terobosan mereka selanjutnya, adalah kasus lain yang merupakan permainan aman untuk memperoleh kredit lebih, dan berhasil mengakrabi sebagian besar penonton kita yang suka terpancing dengan akting penuh rengekan terhadap tema-tema tragedi keluarga. Sekarang, Skylar melebarkan sayapnya dengan sebuah produksi joint venture, yang menurut sebagian produser merupakan trik pemasaran yang jauh lebih aman setelah dibuktikan oleh beberapa film. Salah satu kerjasama yang mulai berkembang sekarang adalah Filipina, mengingat produk-produk lama dan selera penonton mereka juga tak jauh beda dengan sinema kita. However, mau bagaimanapun hasilnya, tampang-tampang rupawan artis kita memang masih sangat menjanjikan untuk dijual ke wilayah Asia. Itu kenyataan.

So here comes ‘The Witness’, produksi joint venture Skylar dengan GMA Films Filipina, yang memasang aktris teve mereka, Gwen Zamora, sebagai bintang utamanya. Dua kesalahan pertama memang agaknya sudah membuat Muhammad Yusuf belajar lebih banyak, dan meski belum sempurna, mari menganggapnya sebagai sebuah sisi baik. Sebelum peredarannya disini, ‘The Witness’ sudah lebih dulu diedarkan di Filipina, dan memperoleh resepsi yang rata-rata baik serta hasil box office yang sangat lumayan pula. Dan Yusuf, masih tetap tak beranjak dari kombinasi tema yang digunakannya di dalam ‘Tebus’. Bangunan dasarnya adalah sebuah thriller, namun ada sempalan drama, action hingga horor di dalamnya. Soundtrack berikut dua theme song-nya juga memakai band Filipina yang cukup dikenal disana, ‘Before I Die’ dan ‘Aurora’ dari Pika Airplay dan Izzal Peterson, berikut versi promosi ‘Before I Die’ yang juga dinyanyikan biduan Filipina, Derrick Monasterio.

Angel Williams (Gwen Zamora), asisten manager sebuah hotel yang baru saja pindah dari Manila ke Jakarta seketika dihadapkan ke sebuah tragedi berdarah dari seorang lelaki yang datang untuk membantai seluruh keluarganya dengan sebuah senapan laras panjang. Angel yang juga ikut terluka parah akhirnya mulai menelusuri tragedi itu setelah ia sadar, dari serangkaian visi yang seakan terus-menerus memberikan petunjuk padanya. Namun ini sekaligus berarti Angel harus menghadapi ketakutannya untuk berhadapan sekali lagi dengan sang pembunuh.

 

Usaha Beby Hasibuan yang juga menulis skenario ‘Tebus’ dan ‘Surat Kecil Untuk Tuhan’ untuk mengkombinasikan tampilan permukaan ‘The Witness’ berupa thriller-slasher dengan drama dan sedikit unsur supranatural sebagai latarnya agaknya bisa dibilang cukup rapi. Tak bermain-main dengan twist ‘whodunit’, Beby lebih memilih untuk memaparkan motif yang bisa membuatnya leluasa menyempalkan sisi supranatural meski sedikit menjadi terlalu draggy di second act-itu, sementara bagian dramanya meski tak jauh dari klise-klise otak penulis kita dalam menciptakan konflik tapi cukup well-blended  tanpa harus jadi overloaded. Toh di bagian-bagian akhir ia bisa kembali dengan feel thriller yang menghentak.

 

Penyutradaraan Muhammad Yusuf juga cukup jauh mengalami perbaikan dibanding film-film sebelumnya. Storytelling-nya cukup baik dan mengundang rasa penasaran, pace di awal dan akhirnya terasa efektif, dan yang terpenting, tak seperti ‘Tebus’ yang pupus entah kemana, empati yang dibangunnya ke karakter-karakter dalam ‘The Witness’ bisa tersambung dengan baik pada penonton untuk perduli nasib mereka satu-persatu. Untuk sebuah thriller, ini adalah unsur yang paling dibutuhkan agar part-part suspense-nya bisa memancing emosi penonton, and somehow I’m sure, ditambah dengan sound shotgun yang terhandle cukup rapi tanpa desingan tak wajar seperti biasanya film-film kita, penonton akan merasa gregetan terutama di pembuka dan klimaks film ini ketika Gwen menghadapi si pembunuh.

Di departemen akting, pendukung-pendukungnya juga bermain dengan cukup baik. Gwen Zamora meskipun lebih terkesan menonjolkan tangis dan teriakan namun porsi aktingnya cukup pas, and the point is, ia bisa membawa pesonanya sebagai main role tampil ke depan, begitu juga dengan Kimberly Ryder. Agung Saga yang sebelumnya bermain cukup lumayan dalam D’Love juga berchemistry cukup baik dengan Kimberly, dan Pierre Gruno yang kali ini mendapat porsi lumayan besar juga memerankan turnover karakternya dengan pas. Hanya Feby Febiola dan Marcellino Lefrandt yang terkesan muncul hanya sebagai tempelan kurang berarti.

Jadi begitulah. Kombinasi genre dalam ‘The Witness’ mungkin belum lagi hadir benar-benar pas tanpa cacat, namun blending racikannya sudah jauh lebih lumayan dari produk-produk Skylar lainnya secara sinematis. Dan kenyataan bahwa genre utamanya adalah sebuah suspense thriller, tak bisa disangkal, bekerja dengan cukup baik di first dan final act-nya. Ini berarti tim Skylar sudah belajar membenahi kekurangan mereka sejajar dengan ambisinya membawa perpaduan genre yang berbeda, dan itu bagus. Semoga karya-karya berikutnya bisa semakin baik lagi. (dan)

 

THE COLD LIGHT OF DAY : A NOT SO BAD PUBLIC FRAUD

•April 24, 2012 • Leave a Comment

THE COLD LIGHT OF DAY

Sutradara : Mabrouk El Mechri

Produksi : Intrepid Pictures & Summit Entertainment, 2012

Once in a while, sebuah film bisa seakan-akan muncul entah darimana. Kalau skala produksinya kecil, taraf kualitasnya ‘straight to video’ dan cast-nya ‘you don’t know who’, wajar saja. Tapi ini berisi nama-nama yang sangat menjual. Ah, agaknya memang ini sudah zamannya, dimana nama besar cast dan crew itu tak lagi harus berarti sebuah blockbuster, meski ini juga bukan produksi indie kecil-kecilan yang sama sekali tak komersil ataupun berbau-bau award. Sisi baiknya, bagus atau jelek, penonton di luar AS biasanya mendapat kesempatan untuk menyaksikannya jauh lebih cepat, sementara rilisnya di AS, yang notabene negara asal produksinya, bahkan bisa terancam sangat terbatas atau langsung ke home video. Sedikit banyak miris juga melihat nama-nama yang masih menjamin jualan mereka ikut serta di dalamnya, tapi toh ini sebuah pilihan, kebutuhan finansial, atau bahkan mungkin juga eksplorasi. So jangan heran bila nama segede Bruce Willis rela-relanya dipatok jadi  sebuah selling point. Toh ia juga mau tampil di film-film lain yang jauh lebih kacau seperti ‘Catch 44’ atau ‘The Setup’. Public fraud? Bisa jadi.

Tapi ‘The Cold Light Of Day’ tak hanya punya Bruce Willis seorang. Ada Henry Cavill yang masih terus menjalani ujiannya setelah gagal di ‘Blood Creek’ dan ‘The Immortals’ sebelum menjadi ‘The Man Of Steel’ di franchise terbaru Superman tahun depan, Sigourney Weaver yang kembali tampil dengan aura aksi-aksiannya, aktor aksi Perancis Roschdy Zem serta sutradara Perancis asal Tunisia yang dipuji-puji atas kiprahnya membawa sisi lain seorang Jean Claude Van Damme dalam ‘JCVD’ tempo hari. Oh ya, salah satu penulisnya juga punya kredit cukup baik. Richard Price, novelis dan screenwriter yang sebelumnya sudah terlibat di film-film bagus seperti ‘The Color Of Money’, ‘Sea Of Love’, ‘Ransom’, ‘Shaft’, ‘Mad Dog And Glory’, hingga ‘American Gangster’ (uncredited) bahkan konseptor klip panjang Michael Jackson, ‘Bad’. Novel-novelnya juga sudah banyak diangkat ke layar lebar, dari ‘The Wanderers’, ‘Clockers’, dan ‘Freedomland’ diantaranya. So ok, ini rasanya pasti tak bakal hanya jadi sekedar sampah.

Will Shaw (Henry Cavill) yang menyusul keluarganya yang tengah berlibur di Madrid sebenarnya merasa terpaksa, apalagi perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan di tengah liburan itu. Ia juga tak pernah cocok dengan ayahnya, Martin (Bruce Willis) yang selalu berlaku keras padanya. Namun Will tak menyadari rahasia dibalik pekerjaan sang ayah sampai ia mendapati ibu serta saudara dan iparnya jadi korban penculikan plus sebuah bonus, wanita misterius bernama Lucia (Veroncia Echegui). Sekarang Will terjebak di tengah-tengah konspirasi tingkat tinggi, diantara rekan ayahnya, Joanne (Sigourney Weaver) yang berseberangan dengan Zahir (Roschdy Zem), orang Israel yang memimpin pasukan bersenjata lengkap. Dan ia harus mengambil keputusan tepat untuk bisa menyelamatkan keluarganya.

Premis action thriller spionase penuh twist berlapis yang sedikit punya nuansa mirip ‘Bourne Identity’ bercampur ‘Teen Agent/If Looks Could Kill’, karakter utama yang berada di tempat dan waktu yang salah ini sebenarnya sudah tampil menarik dengan pemaparan cukup rapi. Selipan adegan-adegan aksi dan kejar-kejaran yang cukup real dan menghentak dibalik gaya penyutradaraan Mabrouk yang tak jauh dari tone ‘JCVD’, shakycam yang merekam chaos demi chaos dengan cukup intens, juga hadir dengan solid. Namun sayangnya penampilan Cavill dengan aksen Amerika-nya, Weaver yang lumayan showstealer tapi tak cukup femme-fatale, Zem yang tak diberi ruang lebih untuk beraksi hingga Willis yang kelewat terbatas, semuanya hadir serba tanggung. Bahkan Veronica Echegui, pendatang baru yang punya latin sex-appeal sekelas Gal Gadot atau Genesis Rodriguez tak terekspos dengan cukup, dan ini akan lebih parah ke penonton yang datang dengan ekspektasi tinggi ke nama Bruce Willis. ‘The Cold Light Of Day’ malah lebih terjebak lagi ke segmen-segmen ceritanya yang meski sah saja, namun percayalah, bukan yang diharapkan banyak penontonnya. So be it. Di sisi action dan thriller spionasenya, ‘The Cold Light Of Day’ memang punya amunisi cukup eksplosif dari penyutradaraan Mabrouk, namun tampilan nama-nama gede itu tak muncul memberikan kepuasan sebesar yang diharapkan. Penipuan publik? Hanya sekelas medioker? Terserah Anda, tapi ‘The Cold Light Of Day’ jelas tak juga sejelek itu. (dan)

SANUBARI JAKARTA : NOT PERVERSIONS, JUST HEARTS

•April 23, 2012 • Leave a Comment

SANUBARI JAKARTA

Sutradara : Tika Pramesti, Dinda Kanyadewi, Lola Amaria, Alfrits John Robert, Aline Jusria, Adriyanto Dewo, Billy Christian, Kirana Larasati, Fira Sofiana & Sim F.

Produksi : Kresna Duta Foundation, Ardhanary Foundation, Fond Foundation, 2012

LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender), sekarang mencuat menjadi singkatan yang lazim digunakan untuk menghaluskan anggapan kelainan seksual yang tak lagi jadi fenomena serba tertutup di kehidupan kaum urban. Dan bahwa orientasi seksual ini merupakan pilihan, memang mengharuskan kita tak lagi menghakimi mereka sebagai sebuah kesalahan. Lewat usaha seorang Lola Amaria, yang mengajak serta 9 sutradara muda lainnya untuk membesut masing-masing segmen film mereka secara independen dalam sebuah omnibus yang sedang jadi trend, ‘Sanubari Jakarta’ punya misi dibalik fenomena itu. Dulu sebenarnya sudah ada film kita yang membahas soal waria dan transgender dalam pendekatan mirip, ‘Mereka Memang Ada‘ (1982) arahan Mardali Syarief namun peredarannya di tahun 1982 tersandung resepsi yang belum se-terbuka sekarang meskipun film itu sempat diikutsertakan dalam festival film gay dan lesbian di AS tahun 1984. Ah, mari tak meributkan perbedaan pendapat yang mungkin masih punya persepsi berbeda-beda di masyarakat kita, namun memandangnya sebagai sebuah karya. Sebuah gerilya sinematis yang jauh lebih penting untuk tendensi genre yang beragam, sekaligus regenerasi bakat-bakat baru dalam sinema kita. 10 Sutradara, 10 Kisah, 10 Cinta. ‘Sanubari Jakarta’ memang merupakan sebuah love omnibus yang sangat layak untuk dinikmati dengan kedalaman hati. Now let’s go to each segments.

1/2 (Sutradara : Tika Pramesti)

Kisah tentang hubungan dua orang pria, Abi (Irfan Guchi) dan Biyan (Hernaz Patria), serta seorang wanita, Anna (Pevita Pearce) yang hadir di tengah mereka. ½ menjadi pembuka yang sangat menarik dengan tone melankolis serta segmentasi warna dibalik landscape panoramik yang cantik. Dan akting Pevita Pearce yang natural, selalu asyik buat disimak.

Malam Ini Aku Cantik (Sutradara : Dinda Kanyadewi)

Kisah tentang Agus (Dimas Hary CP) dibalik dilema dan tujuannya melakoni profesi sebagai seorang waria. Diangkat dari cerpen berjudul sama, segmen ini tak bermain dengan surealitas dan senjata sinematis lain secara berlebihan. Cukup dengan penyampaian yang mengalir linear dengan narasi, tapi penuh dengan emosi, serta berani. Dinda Kanyadewi sudah menunjukkan bakatnya sebagai seorang sutradara.

Lumba-Lumba (Sutradara : Lola Amaria)

Seorang guru TK, Adinda (Dinda Kanyadewi) yang suka mengajarkan tentang lumba-lumba pada anak didiknya, bertemu dan menjalin hubungan dekat dengan Anggya (Ruth Pakpahan), ibu dari salah seorang muridnya. Ini segmen yang kelihatan biasa saja, namun metafora lumba-lumba yang beberapa spesiesnya merupakan hermaprodit dan memiliki perilaku homoseksual membuatnya jadi lebih menarik. Twist kecil di akhir, karakter Agastya Kandou sebagai suami Anggya serta chemistry Dinda dan Ruth juga hadir dengan baik.

Terhubung (Sutradara : Alfrits John Robert)

Dua wanita dengan latar masalah berbeda, Agatha (Permatasari Harahap) dan Kartika (Illfie) bertemu di sebuah toko secara tak sengaja. Alur yang tricky harusnya bisa jadi lebih menarik serta unik, namun sayangnya hadir dengan eksekusi tak maksimal. Castnya pun tampil tanpa memberikan kesan lebih. Sayang sekali.

Kentang (Sutradara : Aline Jusria)

Kentang di segmen keempat ternyata dilanjutkan dengan eksekusi segmen kelima yang sangat baik. Pasangan homoseksual Acel (Gia Partawinata) dan Drajat (Hafez Ali) yang penuh konflik melepas kerinduan mereka di sebuah kamar kos, and everything went berserk. ‘Kentang’ punya dialog-dialog yang sangat kicking, mengundang ledakan tawa dalam naskah mantap dan single set, dan diterjemahkan dengan baik pula oleh dua pemerannya dibalik chemistry mereka yang sangat kompak. Absolutely the most entertaining highlight dari ‘Sanubari Jakarta’.

Menunggu Warna (Sutradara : Adriyanto Dewo)

Pembesut segmen ‘Pasar Setan’ dalam omnibus ‘Hi5teria’, Adriyanto Dewo,  menunjukkan kekuatan yang makin besar di segmen ini. Dibalik kisah Satrio (Rangga Djoned) dan Adam (Albert Halim) yang berlanjut menjadi pasangan ketika bertemu di sebuah lampu merah, segmen ini hadir dengan penyajian B&W dan tanpa dialog, namun bicara dengan sangat lantang. Sesuai judulnya, twist dan eksekusi endingnya digagas dengan metafora visual yang menjadi poin terbesar atas tema omnibus ini secara keseluruhan terhadap sebuah resepsi dan pengakuan. Luar biasa.

Pembalut (Sutradara : Billy Christian)

Sama dengan ‘Menunggu Warna’, ‘Pembalut’ juga mencatat salah satu sutradara dari ‘Hi5teria’, Billy Christian (segmen ‘Kotak Musik’). Premisnya mungkin biasa, tentang rendezvouz dua wanita, Theresia dan Bianca (sama-sama diperankan Gesata Stella, aktris yang mengawali karirnya dari LOOK Models), yang bertemu di sebuah kamar hotel dengan masalah hubungan yang memuncak. Namun kekuatan utamanya ada pada Gesata Stella yang sekaligus memerankan 4 karakter termasuk dua lagi yang hadir dalam segmennya, dengan penerjemahan akting yang sangat powerful. Billy sendiri bisa menyajikan flow yang mengalir dengan sangat efektif dibalik set tunggalnya. Salah satu highlight dalam ‘Sanubari Jakarta’.

Topeng Srikandi (Sutradara : Kirana Larasati)

Tak mau ketinggalan dengan Dinda, Kirana Larasati juga menunjukkan bakat penyutradaraannya sekaligus ikut tampil dalam segmen ini. Premisnya menarik, tentang seorang wanita bernama Srikandi (Herfiza Novianti) yang merubah penampilannya demi membalas perlakuan rekan serta atasannya (Deddy Corbuzier)  yang penuh dengan pelecehan, namun sayang, eksekusinya hanya sebatas simbol gender yang tak menjelaskan lebih jauh orientasi seksual sebagai bagian dari tema LGBT yang diusung secara keseluruhan.

Untuk A (Sutradara : Fira Sofiana)

Berkisah tentang Ari (Arswendi Nasution) yang menulis sebuah surat pengakuan kepada A dibalik keberadaan gendernya sejak lahir. Ini adalah konflik yang hampir  selalu jadi dasar sebuah orientasi seksual, tentang kecenderungan perilaku yang terperangkap dalam medium yang salah, dan Arswendi menerjemahkan kegalauan karakternya dengan cukup baik. Nuansa muramnya juga cukup mewakili kegelisahan itu, namun memang twistnya bukan lagi sesuatu yang spesial.

Kotak Coklat (Sutradara : Sim F.)

Sebuah kotak coklat yang ditemui Reuben (Reuben Elishama) di atas meja kerja kekasihnya, Mia (Miea Kusuma), membuka kenyataan masa lalu mereka berdua. Akhirnya, setelah kenyataan-kenyataan miris yang dipaparkan dalam tiap segmen, ‘Kotak Coklat’ sebagai penutup bisa muncul sesuai dengan judulnya. Dibalik color tone yang terkesan sangat romantis, dialog-dialog wajar serta chemistry Reuben-Miea, segmen ini menjadi penutup yang sangat manis serta mengingatkan kita kembali, tak perduli sejauh apa sebuah orientasi seksual menghadang identitas gender, semuanya adalah pilihan hati.

Selayaknya sebuah omnibus, you’ll have some ups and downs. Horor, lovestories, drama, itu sudah biasa jadi segmentasi sebuah omnibus. Tapi yang spesial bicara soal LGBT, ini masih sangat fresh, dan Lola Amaria bersama rekan-rekannya, magma baru sinema kita, sudah memulai perjuangan mereka. As to me, highlight terbaik dalam ‘Sanubari Jakarta’ justru ada dalam sub-tema yang berbeda-beda. ‘Kentang’ bila Anda ingin tertawa, ‘Pembalut’, bila Anda ingin menyaksikan keseriusan penggarapan, serta ‘Kotak Coklat’, sebagai dessert yang sempurna. Tapi yang paling dahsyat adalah ‘Menunggu Warna’ atas metaforanya terhadap persepsi sebagian orang yang masih menganggap LGBT merupakan penyimpangan dalam sebuah orientasi seksual dan pengkotak-kotakan gender. Apapun itu, ‘Sanubari Jakarta’ sudah mencoba membuka mata kita dengan cukup berani, bahwa sama seperti mahkluk hidup lain yang kadang tak bisa memilih eksistensi mereka, cinta, lagi-lagi hanya soal hati. (dan)

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,598 other followers