GUARDIANS OF THE GALAXY : HOW MARVEL CREATED THEIR SPACE ADVENTURE

•August 24, 2014 • 2 Comments

GUARDIANS OF THE GALAXY

Sutradara : James Gunn

Produksi : Marvel Studios, Walt Disney Studios Motion Pictures, 2014

GOTG16

            Ooga chaka. Oh yeah, kita sudah melihat saat Marvel Studios dan Kevin Feige saat mereka bersenang-senang di ‘The Avengersand many ways to it. Berserius-serius di ‘Captain America : The Winter Soldier’ kemarin. Tapi kita belum pernah melihat mereka bercanda. I mean, totally joking. Believe it or not, inilah hasilnya.

GOTG2

 

            And oh yes, biar sebagian comic-geeks, mostly Marvel’s, sudah tahu siapa-siapa saja yang pernah menjadi ensembleGuardians of the Galaxy’ sepanjang sejarah sejak kemunculan pertama mereka di tahun 1969 dengan banyak character crossover yang saling bersinggungan dalam comic universe tersebut, ‘Guardians of the Galaxy’ bukanlah sepopuler ‘The Avengers’ dan tokoh-tokoh lain dari Marvel yang jauh lebih dikenal. However, Feige dkk memang sudah menyiapkan jalan bagi superheroes ensemble ciptaan Dan Abnett dan Andy Lanning ini untuk digabungkan ke dalam Marvel Cinematic Universe.

GOTG6

            Satu yang terasa aneh adalah ketika mereka mempublikasikan nama James Gunn untuk menggarap film ini. To those who know, dalam karir dan deretan filmografinya, Gunn lebih dikenal sebagai sineas dibalik segudang film-film yang lebih berstatus nyeleneh ketimbang potensi-potensi yang lain. Dari produksi-produksi Troma-nya Lloyd Kaufman yang masuk ke kelas B – low budget cult seperti ‘Tromeo and Juliet’ atau ‘The Toxic Avenger IV’ hingga ‘Slither’ dan ‘Super’, pun kalau ada dua blockbuster disana, ‘Scooby-Doo’ dan ‘Dawn of the Dead’, juga hanya sebagai penulis skrip. Tak heran kalau Lloyd Kaufman selalu muncul di film-filmnya sebagai cameo atas jasa sebagai mentor sekaligus Troma yang sudah membesarkan namanya.

GOTG8

            Tapi inilah Marvel. Seperti nama yang diusungnya, mereka selalu punya cara untuk membentuk unlikely elements menjadi sebuah keajaiban. Feige seakan tahu, di tangan James Gunn, dukungan mereka akan membuat ‘Guardians of the Galaxy’ yang sama-sama dialamatkan Gunn sebagai sekumpulan oddballs, outcasts and geeks serta diarahkan ke ranah space adventure akan membuat tone-tone epigon serba ngaco terlihat seperti pionirnya. ‘Star Crash’, ‘The Ice Pirates’, ‘Battle Beyond The Starsor evenFlash Gordon’ ‘80an yang terlihat semegah ‘Star Wars’ dalam kualitasnya. Tambahkan nods ke vintage pop culture dari ‘70s rock classic ke Motown’s legendary pop hits sebagai pelengkap candaannya, selagi saingannya DC jatuh bangun menciptakan konsep, oh yes, apapun yang disentuh Feige seakan berubah jadi emas. We’re now looking at a critically acclaimed sekaligus kandidat summer’s biggest success tahun ini. Ooga chaka!

GOTG14

            Tepat sepeninggal ibunya karena kanker di tahun 1988, Peter Quill (dewasanya diperankan Chris Pratt), diculik dari bumi (Terra) oleh The Ravagers, space pirates yang dipimpin Yondu Udonta (Michael Rooker). Tumbuh besar sebagai salah satu dari mereka yang menjuluki dirinya Star-Lord, usahanya mencuri sebuah orb dari Planet Morag diintervensi oleh Korath (Djimon Hounsou), algojo Ronan (Lee Pace) dari ras Kree. Walau berhasil memperoleh barang tangkapannya, ulahnya hendak mempecundangi Yondu yang sudah seperti ayahnya sendiri membuat ia jadi diburu oleh The Ravagers ke planet Xandar yang dijaga oleh Nova Corps di bawah pimpinan Irani Rael (Glenn Close). Disini, Quill juga harus menghadapi Gamora (Zoe Saldana), pembunuh bayaran putri angkat penguasa galaksi Thanos (Josh Brolin, uncredited) yang dikirim Ronan, bersama dua bounty hunter, rakun rekayasa genetik Rocket (Bradley Cooper) dan asistennya, humanoid berbentuk pohon Groot (Vin Diesel). Kekacauan itu membuat Quill, Gamora, Rocket dan Groot dilempar ke penjara Klyn. Disitulah mereka lantas bertemu Drax (Dave Bautista) yang menyimpan dendam terhadap Ronan yang sudah membunuh keluarganya. Atas motivasi masing-masing, mereka lantas terpaksa bekerjasama untuk melarikan diri dari Klyn, kejaran Yondu dan juga Ronan lewat saudara angkat Gamora, Nebula (Karen Gillan), sekaligus seketika menemukan takdir mereka berjuang menyelamatkan kehancuran galaksi dari Infinity Stone, isi orb berkekuatan tanpa batas yang diperebutkan Ronan dan Thanos.

GOTG13

            I tell you what. Meski punya chaotic plot dibalik ensemble karakter yang bukan juga hal baru di genre sejenis, skrip James Gunn dan Nora Perlman, script doctor di ‘Thor : The Dark World’-lah yang dengan unik mengalihkannya jadi petualangan seru diatas konsistensi nyeleneh bak film-film Troma atau epigon-epigon space adventures setelah kesuksesan ‘Star Wars’. Seakan dibangun dengan sketsa-sketsa penuh canda, lepas dari 5 menit scene awal menuju post credit yang tak disadari banyak orang memuat tribute ke sejarah penting dari jatuh bangun adaptasi film Marvel dulu lewat salah satu unlikely superhero character mereka yang kita belum tahu bakal diarahkan kemana, bahkan tanpa harus punya detil di set dan pendalaman universe-nya, visualisasinya menjadi begitu hidup diatas detil konsep karakter beserta cast-nya.

GOTG5

           Dengan kesempurnaan jauh di luar ekspektasi, Chris PrattZoe Saldana, this time in greenDave Bautista plus Bradley Cooper dan Vin Diesel, masing-masing sebagai rakun nyentrik dan manusia pohon ala Han Solo dan Chewbacca, membentuk ensemble yang solid bahkan lebih dari apa yang bisa kita temukan di tiap ensemble berbeda dalam sejarah panjang komiknya. Begitu menariknya bentukan karakter ini memberikan ruang tak terbatas bagi mereka untuk berganti-ganti mencuri layar sebagai straightly memorable characters hanya dengan satu instalmen pemula.

GOTG9

            Di saat karakter-karakter Marvel lain yang sudah jauh lebih dikenal saja membutuhkan jalan panjang untuk membentuk assemble-nya di ‘The Avengers’, karakter-karakter ini bisa langsung melekat dengan cepat baik bagi fans maupun pemirsa yang belum pernah menikmati source aslinya. Kebengalan Rocket dalam layer berbeda dengan Star-Lord, ketangguhan Gamora dan kerasnya temperamen Drax, menyatu bersama jargon ‘I Am Groot’ yang begitu iconic dibalik karakter kids-friendly Groot yang langsung mencuri hati tiap pemirsanya. Dan walau sebagian dari kita bisa percaya bahwa sebenarnya mereka tak juga perlu aktor sebesar Cooper atau Diesel untuk menghidupkan Rocket dan Groot, inilah digdaya Marvel menunjukkan taringnya dalam ranah comicbook movies atau fantasy blockbusters.

GOTG15

           Bersama itu, visual dengan detil warna-warni hasil sinematografi Ben Davis yang membuat presentasi 3D-nya makin cantik, pameran CGI, performance capture hasil keroyokan MPC (Moving Picture Company, Framestore, Luma Pictures, Method Studios, Sony Picture Imageworks dan ILM) dan gelaran aksi, dari combat fights, shootouts ke intergalactic wars with exploding spaceships-nya pun membentuk paduan solid bersama pop-culture nods lewat tampilan ‘80s gadgets-nya.

GOTG4

         Dari walkman ke tapedeck dengan ikon ‘Awesome Mixtapes’ yang bukan hanya bekerja sebagai asesoris tapi juga jadi salah satu konklusi terpenting plot, action highlights that’s gonna leave you go ‘woohoo!’ sekaligus ke bangunan karakter utamanya, alunan soundtrack classic hits dengan genre crossover dari David Bowie, Eric Carmen & Raspberries10cc, The Runaways, Norman Greenbaum, Marvin Gaye & Tammi Terrell, The Jackson 5 plus ‘Hooked On A Feeling’-nya Blue Swede dan scoring Tyler Bates itu pun membuat ‘Guardians of the Galaxy’ jadi begitu bernyawa. Tanpa pernah dibayangkan sebelumnya, bisa sukses menggabungkan petualangan luar angkasa yang seru dan beat yang membuat kaki bisa ikut bergoyang jauh setelah film berakhir seperti bonus scene-nya Groot. Tone-nya boleh jadi lebih dekat ke epigon space adventures genre daripada balutan serius seperti ‘Star Wars’, tapi blend keseluruhannya, jelas ada di blockbuster kelas satu.

GOTG11

           Masih ada pula dukungan cast yang tak kalah keren dari ensemble utamanya. Dari Karen Gillan yang baru muncul dalam ‘Oculus’ sebagai Nebularival seimbang bagi Gamora, Michael Rooker, Lee Pace, Gregg Henry ke award class cast seperti John C. Reilly, Djimon Hounsou hingga Benicio Del Toro sebagai Taneleer Tivan/The Collector yang sudah kita lihat di post creditsThor : The Dark World’, uncredited Josh Brolin sebagai Thanos bahkan Glenn Close, ini tentu bukan ada di kelas yang main-main. Dan seperti biasanya, ada pula cameo dari Stan Lee, dan karena ini filmnya James Gunn, jelas ada Lloyd Kaufman dan dirinya sendiri di deretan cameo itu.

GOTG12

         Becoming the winner of this summer, bahkan mungkin sepanjang tahun ini, or Star Wars of this generation, sekali lagi, inilah kedigdayaan Marvel dan Feige. Kekuatan konsep dalam menuangkan adaptasi komik-komik mereka ke sebuah universe yang solid bernama Marvel Cinematic Universe. Saat kita berpikir mereka sudah sampai ke puncak yang tak mungkin bakal bisa lebih lagi, inovasi baru itu tak henti-hentinya mengejutkan kita. Dan ‘Guardians of the Galaxy’ jelas merupakan salah satu bukti paling kuat dari MCU, bahwa di saat menyuguhkan sesuatu dengan konsep penuh canda dari less popular characters dan kiprah seorang unlikely director saja, hasilnya bisa se-luarbiasa ini. This is how Marvel created their space adventure, and trust me, you’ll be hooked on a feeling. Ooga chaka! (dan)

GOTG10

THE EXPENDABLES 3 : THE FUN ACTION TRIVIA

•August 24, 2014 • Leave a Comment

THE EXPENDABLES 3

Sutradara : Patrick Hughes

Produksi : NuImage, Millennium Films, Lionsgate, 2014

EX35

            Jauh dari hanya sekedar action legends ensemble, atau dari beberapa aktor di dalamnya, sebuah reuni, ‘The Expendables’ memang sudah berkembang menjadi sebuah franchise dengan target pasar yang cukup solid. Begitupun, dengan elemen utama bongkar pasang cast dalam pengembangannya, Sylvester Stallone bersama Avi Lerner dari Millennium Films sebagai penggagasnya tentu tak bisa sekedar mengandalkan itu terus-menerus dalam paket jualannya. At least, memasuki instalmen ketiga ini, mereka sadar akan perlunya inovasi lebih dalam menggabungkan screen’s action icons ke dalam instalmen-instalmennya.

EX31

            Dalam ‘The Expendables 3’, disamping mengajak serta ikon-ikon film aksi dari Wesley Snipes, Antonio Banderas, Mel Gibson hingga Harrison Ford plus ikon antagonis Robert Davi, Stallone juga menambahkan bintang-bintang muda potensial di genre-nya lebih lagi demi mendongkrak box office-nya. Jika di film sebelumnya ada Liam Hemsworth yang tak lebih hanya jadi sekedar penghias, disini ada Kellan Lutz, Glen Powell, plus petinju profesional Victor Ortiz serta MMA artist Ronda Rousey. Menggamit duo penulis skrip dari ‘Olympus Has Fallen’ dan sutradara asal Australia Patrick Hughes (‘Red Hill’ dan remake HollywoodThe Raid’), kekuatannya jelas sangat menjanjikan. Sayangnya, beberapa minggu sebelum perilisannya, ‘The Expendables 3’ bocor ke internet, dan ini mau tak mau memang punya ekses ke perolehan box office-nya.

EX32

            Menempuh sebuah misi penyelamatan membebaskan Doctor Death (Wesley Snipes) dari sebuah penjara militer untuk mengajaknya ikut serta dalam tugas lain ke Somalia, Barney Ross (Sylvester Stallone), Lee Christmas (Jason Statham), Gunnar Jensen (Dolph Lundgren), Toll Road (Randy Couture) dan Hale Caesar (Terry Crews) ternyata dijebak oleh Conrad Stonebanks (Mel Gibson) yang punya hubungan ke masa lalu ‘The Expendables’. Merasa bersalah terhadap timnya dan ingin menuntut balas, Ross kemudian menjumpai Bonaparte (Kelsey Grammer) untuk merekrut anggota-anggota baru termasuk ex-marinir John Smilee (Kellan Lutz), ahli komputer Thorn (Glen Powell), sniper Mars (Victor Ortiz). Walau ditentang rekan-rekannya, Ross tetap meminta bantuan CIA operative Max Drummer (Harrison Ford) dan rival-nya, Trench (Arnold Schwarzenegger) yang sudah melacak keberadaan Stonebanks di Rumania. Tapi ternyata Stonebanks memang tak semudah itu bisa dikalahkan. Saat anggota barunya tertangkap dan menjadi sandera, Ross mau tak mau membiarkan seorang sharpshooter bermulut besar Galgo (Antonio Banderas) untuk membantunya. Rekan-rekannya pun tak tinggal diam, termasuk Drummer, Trench dan Yin Yang (Jet Li) yang sudah berpindah ke kubu Trench. The war is on again.

EX333

            Oh, you’ll be so naive kalau mengharapkan franchise seperti ‘The Expendables’ akan pernah punya inovasi di sisi plot-nya. Seperti target pasar dan pakem ‘80s no-brainer old fashioned action, resep selebihnya sudah jelas. Hanya ada plot yang dirancang seperlunya buat meletakkan karakter-karakternya saling beradu di medan perang yang baru lagi. Sepanjang masih ada living action legends yang tersisa untuk diajak serta diatas sebuah pameran aksi yang tetap bisa tergelar seru, so be it. Mau rating-nya jatuh ke PG-13 seperti yang banyak dikeluhkan pun, dari awal, franchise ini jelas bukan ‘Rambo’ yang penuh darah.

EX36

            However, bukan berarti ‘The Expendables 3’ ini sama sekali tak punya inovasi, dan tentu bukan hanya terletak di kontribusi bintang-bintang muda untuk merebut pasar tambahannya. Walau nyaris tak dikenal kecuali Lutz, mereka masih bisa membentuk side-ensemble yang sungguh tak jelek, apalagi Ronda Rousey yang bisa punya screen presence layak diantara para jago-jago tua ini. Skrip yang ditulis Creighton Rothenberger dan Katrin Benedikt dari ‘Olympus Has Fallen’ memang sekilas terlihat biasa dan bolak-balik hanya mencari alasan untuk sebuah pertempuran final, namun sentuhan Patrick Hughes menyempalkan sedikit subtext dramatisasi tentang ‘family’ diatas karakter-karakter mercenary ini masih bisa membawa tone yang sedikit berbeda dari kedua instalmen sebelumnya.

EX38

            Tapi hal terbaik dalam ‘The Expendables 3’ adalah bentukan karakter dalam ensemble barunya. Lebih dari apa yang mereka lakukan terhadap Chuck Norris, Bruce Willis, Schwarzenegger di instalmen sebelumnya, Snipes, Banderas dan Ford dipoles dengan banyak trivia ke filmografi terkenal mereka. Selagi Snipes membawa penggabungan ex-prisoner misteriusnya dalam ‘Demolition Man’ dan african-american hunk di ‘Passenger 57plus keahlian pisau ala ‘Blade’, Ford dan Banderas-lah juaranya. Never having this much fun sinceStar Wars’, Ford beraksi bak seorang Han Solo yang membantu Luke Skywalker menghancurkan Death Star di aksi klimaksnya, sementara Banderas mengulang salah satu karakter terbaik dalam filmografinya bersama Stallone, a bigmouthed-ambitious ass dalam ‘Assassins’ plus kenakalan ‘Puss In Boots’ ke dalam karakter Galgo. Dan jangan lupakan juga, tanpa ‘The Expendables’, sama seperti Van Damme di film sebelumnya, kita mungkin tak akan pernah melihat Mel Gibson diadu satu frame dalam one on one fight bersama Stallone.

EX37

            So yes, meski tetap punya segmentasi ke penggemar film action, sebagaimana instalmen-instalmen pendahulunya, ‘The Expendables 3’ sungguh bukan jadi sekedar pengulangan tak penting. Sama seperti penggunaan beragam kata trivia, bagi orang-orang di luar segmentasi itu, it could be just an unimportant facts. Tapi sebaliknya, jangan ditanya. Elemen-elemen barunya tetap bisa menghadirkan fun factor yang makin asyik dengan kombinasi bongkar-pasang serta keseruan baru mengulik homage-homage yang ditampilkan baik dalam dialog atau bentukan karakternya. Ini bukan hanya sebuah ensemble action yang eksplosif, but more than that, a real fun action trivia! (dan)

EX34

PLANES : FIRE AND RESCUE ; AN OVERLY SERIOUS AND MISFIRED DISASTER-TOON

•August 22, 2014 • Leave a Comment

PLANES : FIRE AND RESCUE

Sutradara : Roberts Gannaway

Produksi : DisneyToon Studios, Prana Studios, Walt Disney Pictures, 2014

PFR4

            It’s true. Kita sudah sampai ke zaman dimana animasi bukan lagi hanya jadi milik anak-anak semata. Tapi bukan berarti animasi-animasi kids-friendly sudah kehilangan pasarnya. Hanya saja, dalam budaya sinema, di tengah kian majunya teknologi dan inovasi dalam genre-nya, animasi-animasi kids-friendly ini jadi kerap disambut dengan sinis oleh penonton dewasa yang selalu mencari keseimbangan di dalamnya. However, mereka lupa, bahwa family movie, selalu punya celah untuk bisa berjaya di box office oleh jumlah penonton lebih dari orang dewasa yang membawa anaknya ke bioskop. Apalagi, ada bonus untuk segmentasi penonton dewasa lewat tributeTop Gun’ yang disempalkan sedikit ke dalamnya.

PFR1

            So, itulah yang terjadi dalam ‘Planes’ di tahun 2013 kemarin. Mau dituding hanya jadi aji mumpung Disney untuk pemasaran salah satu merchandise terlarisnya, dianggap sebagai spin-off yang tak perlu kecuali untuk memanjangkan umur franchiseCars’ di layar lebar, perolehan worldwide lebih dari empat kali lipat bujetnya, jelas memberi jalan untuk pengembangan sekuelnya. Dan oh, Disney bukan tak tahu itu. Meski punya predikat spin-off produksi Pixar, ‘Planes’ mereka alihkan ke divisi DisneyToon yang notabene memang lebih diperuntukkan untuk animasi-animasi kids-friendly ketimbang ada di kelas yang bisa mengakomodasi penonton dari segala kalangan umur.

PFR6

            Salahnya, kuping para eksekutif Disney termasuk John Lasseter agaknya jadi sedikit panas menghadapi cibiran-cibiran tadi. Ketimbang meneruskan ‘Planes’ tetap di ranah DisneyToon, mereka mulai mencari-cari inovasi untuk membungkam mulut pemirsa-pemirsa dewasa. Oke, trailer-nya paling tidak mengisyaratkan hasil yang ingin mereka capai. Sebuah gambaran disaster genre dalam balutan animasi yang jelas-jelas dibandrol judul ‘Fire And Rescue’. Toh, karakter-karakter pesawat hidup yang digagas seolah fable dengan karakter hewan itu tetap memberikan kesan kids-friendly-nya. Tapi apakah benar tak ada yang dikorbankan dalam usaha itu? Now let’s see the plot.

PFR3

            Melanjutkan kisah kemenangan Dusty Crophopper (tetap disuarakan Dane Cook) di ‘Wings Around The Globerace, karirnya terus menanjak, hingga sebuah peristiwa menghentikan semuanya. Mengetahui gearbox-nya rusak berat tanpa bisa diganti karena spareparts-nya tak lagi diproduksi, Dusty terpaksa menerima keputusan Dottie si forklift (Teri Hatcher) untuk memasang lampu peringatan dengan catatan ia tak bisa lagi melaju sekencang-kencangnya. Tapi musibah lain yang jauh lebih parah datang menyambung, membuat Dusty terpaksa meninggalkan rekan-rekannya menuju Piston Peak National Park, mengganti fungsinya menjadi pesawat pemadam api. Di bawah bimbingan Blade Ranger (Ed Harris), mantan aktor serial televisi terkenal ‘ChoPs’, Dusty yang masih uring-uringan lagi-lagi ditimpa masalah. Saat sebuah kebakaran besar membuat ia terjebak bersama Blade yang cedera, disitu pula ia menyadari trauma masa lalu Blade bisa benar-benar menepis keraguannya menjadi pesawat firefighter sejati.

PFR5

            So you see. Ada sesuatu yang mengganjal blend keseluruhannya untuk bisa menyatu menjadi apa yang mereka harapkan dari produk DisneyToon kali ini. Seperti air dengan minyak, plot kelewat adult-oriented plus disaster theme kebakaran hutan yang digagas Lasseter bersama Peggy Holmes, sutradara Roberts Gannaway dan penulis skrip Jeffrey M. Howard yang memang sebelumnya sudah banyak berkiprah di produk-produk DTV mereka, terasa terlalu jauh dengan tampilan lucu pesawat-pesawat spin-off ini.

PFR2

            Belum lagi, Howard terlihat kepayahan membangun pendewasaan karakter itu sampai hampir sama sekali melupakan sisi fun-nya sebagai animasi kids-friendly yang menyenangkan. Lihat saja bagaimana mereka menempatkan karakter Dusty bak seorang lead yang terus-terusan gagal hingga mengalami disabilitas ini dan itu seperti karakter yang saking sialnya sampai kehilangan body parts berkali-kali. Ini jelas menempatkan pemirsa kanak-kanaknya dalam situasi sangat tidak nyaman, dan masih ditambah pula dengan soal-soal trauma karakter Blade yang dibawakan Ed Harris secara terlalu serius dibalik pameran kebakaran hutan yang digelar dengan intensitas ala genre disaster.

PFR8

            Paling-paling hanya menyisakan sedikit kelucuan dari homage plesetannya ke serial teve ‘ChiPs’, lengkap dengan main theme serta icon-nya, aktor Erik Estrada yang menyuarakan karakter Nick ‘Loop’n’ Lopez, partner Blade, itu pun dalam segmentasi usia pemirsa yang jauh lebih tak se-universal nods ke ‘Top Gun’ di film pertama, karakter lainnya dari sederet nama-nama cukup dikenal seperti Julie Bowen, Wes Studi, Jerry Stiller sampai Hal Holbrook serta Teri Hatcher, Cedric The Entertainer dan Stacy Keach yang kembali sebagai Dottie, Leadbottom dan Skipper Riley-pun tak bisa tampil se-menarik side characters di film pendahulunya. Oke, scoring dari Mark Mancina memang bekerja membangun seru-seruan firefights-nya, namun dua theme song, ‘Still I Fly’ dari Spencer Lee dan ‘Runway Romance’ dari Brad Paisley sama sekali tak bisa mengulang atmosfer yang sama dalam ‘Planes’.

PFR7

             So, begitulah. Walau ‘Fire And Rescue’ ini tetap bisa dinikmati sebagai disaster toon yang seru, namun tone heroisme dan bangunan karakternya yang kelewat serius ternyata benar-benar menggerus semua fun factor untuk sasaran utamanya, yang notabene ada di kalangan pemirsa anak-anak sesuai divisi DisneyToon sendiri. Ini benar-benar not fun and cheerless, dan itu artinya jelas tak bagus, secara barisan penonton yang datang pertama kali ke bioskop adalah anak-anak yang menggandeng orangtuanya, bukan kebalikannya. Overly serious and misfired. Sayang sekali. (dan)

TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES : COWABUNGA!

•August 12, 2014 • Leave a Comment

TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES

Sutradara : Jonathan Liebesman

Produksi : Nicklodeon Movies, Platinum Dunes, Gama Entertainment, Mednick Productions, Paramount Pictures, 2014

TMNT10

            Oh yeah. Just google it. As a word, ‘Cowabunga’, walau punya etimologi jelas dari sebuah serial TV anak-anak di AS, ‘The Howdy Doody Show’ (1947-1960), dan dipercaya berasal dari native American exclamation, punya sejarah penggunaan yang sangat panjang dan beragam. Maknanya bisa jadi mengarah ke hal-hal yang sama, sebagai sebuah eksklamasi kesenangan atau kegembiraan, tapi tetap saja, yang paling melekat padanya adalah ‘Teenage Mutant Ninja Turtles’ (TMNT).

TMNT2

 

 

            Berasal dari comic book series ’80-an dari Mirage Studios, ciptaan Kevin Eastman dan Peter Laird, popularitas superhero kura-kura ninja-mutan dengan nama yang diilhami 4 renaissance artists ini menanjak pesat menjadi pop kultur ikonik di akhir ’80 ke awal ‘90an lewat serial animasi berjudul sama yang bertahan dari 1987 ke 1996, diikuti perkembangan comic series dengan tone saling jauh berbeda, termasuk versi manga dan Archie Comics yang paling mendekati serial animasi itu, anime series, live-action series, film franchise (3 instalmen dari film pertamanya yang meraih sukses fenomenal tahun 1990 plus CGI animated movie 2007) hingga serial animasi terakhir yang dipegang Nicklodeon.

TMNT7

            So, sejarah panjang dengan berbagai rekor kesuksesan itu jelas membuatnya sangat pantas untuk terus dihidupkan kembali. Masalahnya, dalam deretan summer movies tahun ini, cukup banyak cibiran atas anggapan-anggapan bahwa franchise-nya sebenarnya sudah kehabisan nafas. Apalagi, pembaharuan tampilan Ninja Turtles dalam live-action reboot yang cenderung terasa agak menyeramkan dibalik teknik motion capture performance ini sedikit banyak menjadi tantangan cukup besar. Then again, yang mendampingi Nicklodeon mewujudkan ide ini adalah Michael Bay dengan Platinum Dunes-nya. Sebagaimana hujatan yang baru saja menyerang ‘Transformers’, kritikus boleh saja tetap membenci Bay plus reuninya dengan Megan Fox, meski penyutradaraannya ada di tangan Jonathan Liebesman (‘Battle L.A.’, ‘Wrath Of The Titans’). Tapi toh pada akhirnya, perolehan box-office-lah yang akan bicara. Dan Bay, jelas tahu bagaimana menggerakkan pasar.

TMNT9

            Sebagai reporter berita Channel 6 News di New York, April O’Neil (Megan Fox) yang selalu didampingi kameramen Vernon Fenwick (Will Arnett) yang diam-diam menaruh hati padanya, merasa jenuh dengan rutinitas pekerjaan yang dirasanya tak punya tantangan. Melawan atasannya (Whoopi Goldberg), April mulai mengikuti sepak terjang organisasi misterius Foot Clan dibawah pimpinan Shredder (Tohoru Masamune) yang kerap mengancam keselamatan New York. Penyelidikan ini kemudian membawanya pada sebuah pertemuan dengan sekelompok kura-kura vigilante dengan keahlian ninja yang berukuran dan bisa berbicara selayaknya manusia ; Leonardo (Pete Ploszek, voiced by Johnny Knoxville), Raphael (Alan Ritchson), Michelangelo (Noel Fisher) dan Donatello (Jeremy Howard). Sayangnya, tak ada yang percaya dengan cerita April termasuk Fenwick, kecuali kolega almarhum ayahnya, ilmuwan Eric Sacks (William Fichtner), yang didatangi April untuk memastikan kecurigaannya atas asal-usul mereka sebagai produk mutasi eksperimen masa lalu Sacks dan ayahnya (Paul Fitzgerald). Di saat yang sama, tikus Splinter (Danny Woodburn, voiced by Tony Shalhoub) yang mengasuh dan melatih empat Ninja Turtles ini memerintahkan mereka untuk mengamankan April. Dari Splinter-lah April akhirnya mengetahui sejarah masa lalu itu, namun Shredder dan Foot Clan sudah siap menyerbu gorong-gorong tempat persembunyian mereka dibalik niat jahat menghancurkan seisi kota dengan virus mematikan. April pun terpaksa bergabung dengan Ninja Turtles untuk menghentikan Shredder sekaligus menyelamatkan New York.

TMNT5

            Dengan sedikit twist untuk perombakan kecil origin story-nya, which is okay, karena sejarah panjang franchiseTMNT’ memang punya relativitas universe sangat longgar – variatif, sebenarnya skrip dari duo Josh AppelbaumAndré Nemec (‘M:I Ghost Protocol’) dan Evan Daugherty (‘Divergent’) ini tak terlalu jauh beda dengan konsep yang diusung instalmen pertama live action film-nya tahun 1990. Menggabungkan elemen-elemen dalam serial animasi ’80an-nya, dimana April O’Neil adalah seorang reporter dan beda masing-masing warna topeng Ninja Turtles sebagai pembeda teratas karakternya. Dark tone komik orisinilnya tetap terasa, hanya saja, sentuhan Bay memang menahannya tetap ada di ranah sangat pop ketimbang ‘TMNT’ versi 1990 yang jauh lebih kuat di feel independennya. Apalagi, Jonathan Liebesman sama-sama dikenal lebih mementingkan sisi komersil lewat sejumlah blockbuster dalam filmografinya.

TMNT6

              Dan mereka juga tak memerlukan karakter Casey Jones untuk mendistraksi porsi lead Ninja Turtles bersama April O’Neil yang ternyata bisa dibawakan dengan sangat baik lewat mo-cap performance aktor-aktornya bersama Megan Fox. Cukup dengan modifikasi karakter Vernon Fenwick, kameramen/rival April dalam serial animasinya, yang bisa bekerja dengan proporsional lewat akting komikal Will Arnett. Malah, dibandingkan instalmen-instalmen film ‘TMNT’ lainnya, versi 2014 inilah yang paling berhasil menghidupkan semua percampuran rupa-rupa elemen karakter Ninja Turtles plus Splinter, tak terkecuali Shredder dan algojo-algojo Foot Clan dibalik Japanese background-nya, yang pernah ada dalam sejarah panjang franchise-nya dengan solid, lengkap dengan sejumlah nods dan mocking ke genre-nya lewat dialog-dialog keren yang digelar Appelbaum-Nemec dan Daugherty, dari ‘X-Men’, ‘Batman’ hingga ‘Star Wars’, homage ke pop kultur ’90-an yang mewarnai sempalan komedinya dengan fun factor yang dahsyat (salah satunya lihat lift scene-nya), serta tentu saja persyaratan wajib makanan kegemaran mereka, pizza. With extra, even 12 layers of different cheese.

TMNT11

            Di tangan Megan Fox, usaha Bay dan timnya untuk mengingatkan kita bahwa salah satu template paling klise kisah-kisah superhero tentang female reporter yang setengah mati berniat membongkar origin karakter superhero sebenarnya bisa terlihat fresh dan sangat asyik,  juga tampil begitu hidup. Jauh dari tipikalisme ‘damsel in distress’ yang dilakoninya di ‘Transformers’, walau di beberapa bagian masih terasa auranya, Fox bisa membentuk blend yang erat bersama para kura-kura ninja dengan dayatarik luarbiasa yang dimilikinya. Meyakinkan kita bahwa sosoknya punya fungsi sangat besar berada di tengah-tengah plot klise genre-nya plus action sequence eksplosif ala Bay, berkali-kali, Will Arnett dan aktor lebih senior seperti William Fichtner sampai terlihat berakting dengan penuh kecanggungan saat berada dalam satu frame dengannya.

TMNT4

          Mo-cap characters-nya pun sama. Tak peduli tampilannya seaneh melihat 4 Ice Cube dalam satu film, hanya dengan dua voice actor yang dikenal, Johnny Knoxville dan Peter Shalhoub, bentukan karakter Ninja Turtles ini hadir dengan detil sangat kuat untuk bisa langsung dikenali, lengkap dengan interaksi khas antara karakter yang sering berseteru hingga asesoris senjata unik masing-masing dibalik potensi karakter favorit yang akan berbeda bagi tiap penontonnya, apakah itu Leo, boyscout paling lurus dengan leadership kuat, Raph the bad boy, free spirited Mikey atau Donnie the tech-geek.

TMNT1

        Namun yang paling menggelegar tentulah adegan-adegan aksi dan pameran efek visualnya. Sekali lagi, walau hanya sebagai produser, dari sejarah karir yang sangat dipengaruhi dua moguls di industrinya, Steven Spielberg dan Jerry Bruckheimer, Bay menunjukkan kedigdayaannya meng-handle faktor ini, menutupi sepenuhnya keberadaan Liebesman yang memang belum punya signature khas dari film-film sebelumnya termasuk benar-benar memanfaatkan teknologi teratas yang dimiliki ILM (Industrial Light & Magic), bahkan scoring Brian Tyler-pun terasa sangat Bay. Dengan peningkatan intensitas yang rapi dari awal menuju ke klimaks, ‘TMNT’ memang tak lantas seheboh boom-bangTransformers’, namun dari fights choreography-nya ke adegan ski-snow action yang meninggalkan semua action sequence James Bond jauh ke belakang plus roof-top explosive climax, adalah sesuatu yang tak pernah kita bayangkan bisa muncul di franchiseTMNT’. Gimmick 3D-nya hadir dengan depth yang bagus plus beberapa popped-up yang meski tak banyak tapi menyisakan satu out-of-frame scene yang keren. And oh, just when you thought they were forgetting that iconic word, ‘Cowabungayell-nya akan menaikkan level of excitement itu berlipat ganda.

TMNT3

              So, lagi-lagi, abaikan kebencian kritikus terhadap kiprah Bay memanjakan penontonnya dengan suguhan eye-candy dan pure form of entertainment. And no, trust me, kebanyakan mereka tak akan punya antusiasme sebesar itu buat mengikuti sejarah franchise pop culture macam ‘TMNT’. Selagi generasi baru penontonnya akan mendapat pengenalan yang solid, bothTMNTfans or even Splinter could never have guessed that their Leo, Raph, Mikey and Donnie could reach this level of awesomeness. Ketika franchise sekelas Nicklodeon bisa dengan mudah menggeser ‘Guardians of the Galaxy’-nya Marvel dari puncak box-office, semua kita akan tahu selebar apa jalan yang sudah disediakan Bay dan timnya untuk kelanjutannya nanti. Dan itu artinya, Cowabunga! (dan)

TMNT8

INTO THE STORM : THE NEW BREED OF DISASTER PORN

•August 10, 2014 • Leave a Comment

INTO THE STORM

Sutradara : Steven Quale

Produksi : Village Roadshow Pictures, Broken Road Productions, New Line Cinema, Warner Bros, 2014

ITS12

            Found footage horror, itu biasa. Tapi found footage disaster, mungkin belum pernah ada sebelumnya. Beberapa film dengan found footage style seperti ‘Devil’s Pass’ (‘The Dyatlov Pass Incident’) maupun ‘Chronicles’ bisa jadi punya elemennya, tapi toh secara keseluruhan bukan secara murni ada di genre disaster. Sebagai subjeknya, tornado pun sudah cukup lama tak muncul ke layar lebar. Pernah menghasilkan trend yang sebatas menjamur di epigon-epigon kelas B kebawah setelah kesuksesan ‘Twister’-nya Jan De Bont, lengkap dengan background profesi yang sebelumnya jarang-jarang didengar orang, storm catchers, tapi tak juga jadi terlalu luarbiasa.

ITS4

            So, apa yang dilakukan New Line Cinema bersama sutradara Steven Quale dan penulis skrip John Swetnam, merupakan pendekatan baru dalam perpaduan style dan genre-nya. Quale sebelumnya dikenal sebagai 2nd unit director James Cameron di ‘Titanic’ dan ‘Avatar’ serta debut penyutradaraan layar lebar pertama di ‘Final Destination 5’, sementara skrip Swetnam baru saja kita lihat di ‘Step Up All In’. Seperti layaknya rata-rata film dengan found footage style, ini memang lebih ke sebuah hiburan murni dengan bujet tak terlalu tinggi. Namun bedanya, ia digagas dengan visual effects serba taktis hasil kerja keroyokan dari Digital Domain, Rhythm & Hues dan Gentle Giant. Itu juga mungkin yang membuat mereka berani merilisnya di tengah-tengah periode akhir pertarungan summer blockbuster tahun ini.

ITS3

 

            Selagi Pete (Matt Walsh), storm chaser veteran yang ambisius, metereologis Allison Stone (Sarah Wayne Callies) dan dua kameramennya (Arlen Escapeta & Jeremy Sumpter) yang tergabung dalam satu tim menelusuri jejak tornado yang akan menyerang kota kecil Silverton, Colorado, diatas Titus, storm chasing tank berkekuatan mutakhir, sebuah SMU lokal tengah menyiapkan upacara wisuda mereka. Disana, wakil kepala sekolah Gary Morris (Richard Armitage) sibuk mengatur kedua putranya, Donnie (Max Deacon) dan Trey (Nathan Kress) untuk mendokumentasikan acara itu tanpa menyadari sebuah tornado EF5 yang berkekuatan raksasa bakal menyerang mereka. Didorong oleh Donnie yang terjebak di situs lain akibat menolong highschool crush-nya, Kaitlyn (Alycia Debnam-Carey), ketika tornado itu seketika melanda, Gary dan Trey mau tak mau harus bergabung dengan Pete dkk. demi menyelamatkan mereka.

ITS10

            Oh yeah. Tak jauh beda dengan found footage lain yang digagas dengan pendekatan eksploitatif ke genre-nya, ‘Into The Storm’ memang semata-mata menjual pameran kehancurannya. Skrip Swetnam sedikit banyak masih mencoba menyisipkan sisi ilmiah dalam penjelasan serangan tornado ini, namun jangan berharap lebih ke plot-nya. Secara klise, ia lagi-lagi mengulik elemen-elemen klise dalam disaster genre, here, father to sons, dengan konflik yang juga digelar sebatas dangkal-dangkal saja untuk menyempalkan sepenggal emosinya, sama seperti beberapa karakter lain yang ada, bahkan sisi komedi dari dua local geek yang diperankan Kyle Davis dan Jon Reep.

ITS8

            And yes, bangunan karakternya juga cukup digagas dengan sekenanya, malah dalam banyak sisi, membuat plot-nya berkali-kali terasa sangat ‘no-brainer’ dibalik kebetulan ini-itu bak anak-anak yang tengah bermain perang-perangan dengan toy soldiers-nya. Di tengah banyaknya awkward dialogues serta soal logika yang terpinggirkan, walaupun ini adalah sebuah fantasi murni, hanya Matt Walsh, aktor yang lebih dikenal sebagai komedian yang kerap tampil di frat-pack movies yang kelihatan menonjol lewat comical acts-nya secara proporsional. Lihat saja adegan Walsh paling gokil keluar jalur namun tetap terasa sebagai highlight paling fun di salah satu bagian klimaksnya, sementara selebihnya hanya mengandalkan faktor looks semata.

ITS11

         Dalam konteks ini, bukan berarti rata-rata mereka tak berhasil mencuri perhatian, namun masih jauh dari blend akting yang benar-benar memadai, terutama yang terparah, Richard Armitage sebagai lead yang paling dijual. Popularitasnya yang menanjak lewat perannya sebagai Thorin di ‘The Hobbit’ memang menunjukkan sosoknya pantas jadi lebih besar sebagai Hollywood’s lead, di luar, tentu saja, kemiripannya dengan Hugh Jackman. Hanya saja, seakan tak sekalipun bersedia kelihatan jelek di depan kamera, karakter Morris digelar bak old fashioned James Bond yang mau melayang-layang separah apapun disapu puting beliung raksasa tetap bisa beraksi dengan full style. Serba elegan, lengkap dengan catwalk expressions yang sangat diatur, bahkan masih sanggup menyiratkan act of flirting ketika jiwa orang kesayangannya berada dalam bahaya besar.

ITS21

        Tapi jangan tanyakan soal eksploitasi disastrous scene-nya. Dengan found footage style yang tetap digarap secara taktis, efek visual tampilan tornado menyapu manusia, bangunan hingga pesawat terbang-nya meski terkadang terasa berlebihan tapi benar-benar luarbiasa. Like a first class production, dibantu scoring yang juga cukup bagus dari Brian Tyler, ‘Into The Storm’ berhasil memvisualisasikan penghancurannya di level yang sama sekali tak main-main. Dengan skala dan intensitas jauh lebih dahsyat dari apa yang kita saksikan belasan tahun lalu lewat ‘Twister’, bahkan secara solid belum pernah ada di sejarah genre-nya. Tornado disaster had never been this fun.

ITS2

 

     So go ask yourself. Dengan filmografi Quale yang sedikit banyak sudah menunjukkan spesialisasinya mengedepankan sisi teknis ketimbang tetek-bengek penceritaan atau sisi sinematis lain, apa yang sebenarnya mengundang kita datang ke bioskop untuk menyaksikan ‘Into The Storm’ kalau bukan keberadaannya sebagai sebuah disaster porn? In this case, trust me. ‘Into The Stormwill take you to the new eye of the storm like you’ve never seen before. The new breed of disaster porn. (dan)

 

RUNAWAY : PRETTY FACES ROMANCE WITH A NOD TO ’80s -‘90s HK CINEMA

•August 5, 2014 • Leave a Comment

RUNAWAY 

Sutradara : Guntur Soeharjanto

Produksi : Maxima Pictures, 2014

R8

            Here’s the truth. Maxima Pictures adalah salah satu PH kita yang paling unggul dalam masalah kemasan promosinya, sekaligus juga punya kejelian lebih, mengambil resiko dalam memanfaatkan trend atau popularitas bintang-bintang di film mereka. ‘Runaway’ ini pun begitu. Dengan jualan utama Al Ghazali, putra rocker kontroversial Ahmad Dhani yang tengah menanjak popularitasnya, agaknya mereka yakin bisa bersaing di tengah momen Idulfitri bersama sejumlah film Indonesia yang lain. Tak salah memang, karena tanpa bakat akting sekali pun, rasanya pemirsa belia, mostly girls, memang sudah bisa dipastikan akan punya antusiasme lebih menyaksikan penampilan debut Al sebagai lead di film layar lebar. Sama seperti kecenderungan penonton kita terhadap pretty faces factor dalam memilih tontonan, melihat wajahnya saja sudah puas, kira-kira begitu.

R6

 

            However, ‘Runaway’ memang tak disiapkan secara ala kadarnya. Dari jauh hari, ekspektasi itu sudah dibangun lewat teaser-teaser BTS syutingnya yang jauh-jauh mengambil lokasi HK sebagai genre drama aksi, atau tepatnya sebuah action romance. Tak tanggung-tanggung, tenaga koreografi aksi dari sana pun diikutsertakan untuk, katanya, membangun genre action yang lebih ditujukan untuk penonton muda. Dipasangkan dengan Tatjana Saphira dan Kimberly Ryder, lengkaplah sudah daya jual ‘Runaway’ yang semula berjudul ‘Musa’ namun urung dipakai untuk tak mendistraksi persepsi bahwa ini adalah film reliji, bagi segmentasi pasarnya. Tapi sebaik apa mereka bisa menghadirkan nafas baru dalam genre-nya di sinema kita?

R3

            Template Cinderella love story ini mengisahkan Tala (Tatjana Saphira), gadis yang terpaksa menjalani kehidupannya di negeri orang sebagai pencopet bersama pamannya, Toni (Edward Akbar), demi menopang ibunya (Dewi Irawan), mantan TKW yang tengah sakit keras dan terjebak masalah keimigrasian di Hong Kong. Masalahnya, ketimbang menjaga Tala, Toni yang kecanduan judi ini juga kerap bersikap manipulatif. Disitulah akhirnya Tala tak sengaja berkenalan dengan Musa (Al Ghazali), putra konglomerat Surya (Ray Sahetapy) yang menjadi salah seorang korbannya. Sejak awal, Musa memang punya masalah dengan Surya atas sebuah insiden masa lalu keluarga mereka. Melawan keinginan Surya untuk mendekatkannya pada putri rekan bisnisnya (Kimberly Ryder), Musa dan Tala seolah menemukan jawaban atas masalah masing-masing diatas hubungan mereka yang semakin berkembang. Tapi mau lari kemanapun, dua dunia jauh berbeda, belum lagi ulah Toni yang selalu memperburuk keadaan, jelas menghadang masa depan mereka.

R7

            Penyuka film-film Hong Kong tahun ’80 ke ’90-an pasti bisa merasakan deja vu  ke tema-tema seperti ini. Mau karakternya dibongkar-pasang pun, tema kisah cinta berbeda status ini kerap hadir di sinema mereka era itu. Pakemnya pun sama klise, berupa romance yang dibumbui action sebagai topping-nya, dengan salah satu karakter abu-abu pembuat onar menuju konklusi yang rata-rata sama saja, mostly menempatkan lagu temanya, disini berjudul ‘Kurayu Bidadari’, ciptaan Vega Antares yang dinyanyikan Al sendiri sebagai singel solo perdananya dengan bait-bait awal yang menyerupai ‘Now And Forever’-nya Carole King, agar bisa bekerja membangun emosi ke sasaran penontonnya.

R5

            However, penulis skrip langganan Maxima, Alim Sudio, memang tampaknya cukup fasih dan punya banyak referensi dalam penggunaan template itu. Bersama sutradara Guntur Soeharjanto yang biasanya selalu bisa menyuguhkan storytelling lancar di plot-plot ringan, apalagi dengan set dan landmark HK yang dimanfaatkan dengan baik lewat sinematografi Enggar Budiono, romance parts di bagian-bagian awalnya bisa hadir dengan set-up yang sangat renyah buat dinikmati dalam konteksnya sebagai tontonan hiburan. Plus chemistry on screen couple Al dan Tatjana yang muncul begitu impresif, ‘Runaway’ sebenarnya sudah dimulai dengan start-up yang asyik. Oke, Guntur mungkin tahu mengarahkan Al tanpa perlu berakting susah payah kecuali dalam serangkaian usaha latihan beladiri-nya, namun Tatjana benar-benar bersinar memerankan Tala dengan pesona irresistibly beautiful-nya. Semua masih sesuai dengan pakemnya dalam konteks-konteks komersil sebuah pretty faces romance, bahwa mereka paham benar apa yang mau dijual dalam ‘Runaway’.

R4

            Pemeran pendukungnya pun memberikan sentuhan yang cukup bagus. Akting tipikal Ray Sahetapy bersama style komikal Edward Akbar dan Mario Maulana untuk mengisi sempalan komedinya tampil secara proporsional sesuai dengan kebutuhan pendekatan genre campur aduk ala HK cinema-nya, dan meskipun lagi-lagi penulis kita menempatkan aktris sekuat Dewi Irawan kembali harus melakoni adegan batuk-batuk darah, komitmennya berakting jelas tak pernah main-main. Masih ada Kimberly Ryder untuk melengkapi ensemble of pretty faces-nya berikut ayahnya, Nigel Ryder, yang sebelumnya sudah pernah bermain bersama Kimberly dalam ‘The Witness’, dan yang seharusnya bisa jadi highlight, namun tidak begitu, Willy Dozan sebagai karakter antagonis dalam penekanan mixed-up action diatas nafas romance-nya.

R2

            Sayangnya, duapertiga awal yang sudah berjalan dengan baik itu harus sedikit dirusak oleh elemen action-nya sendiri. Tak mengapa sebenarnya menghadirkan sisi aksinya hanya sebatas selipan untuk menggeber klimaks sebagaimana template yang digunakan Alim dalam skrip penuh nods itu, namun sepertiga akhir ‘Runaway’ tampil begitu kedodoran dan kelewat buru-buru menaiki konklusi klise-nya. Walau bagi segmentasi pemirsa tertentu emosi di bagian-bagian akhir ini bisa saja bekerja, tapi adegan action-nya tampil dengan intensitas mengecewakan tanpa bisa mengimbangi sekelebat adegan-adegan aksi yang lumayan di bagian lain. Seolah ada resistensi untuk bisa benar-benar tampil habis-habisan, serta sungguh jauh dari kata maksimal. Lagi-lagi, dalam banyak kelemahan film kita di wrapping rangkaian adegan penutupnya, ‘Runaway’ jadi kehilangan emosi dan kecantikannya secara cukup drastis. Sayang sekali. (dan)

 

HIJRAH CINTA : A WELL MADE AND SUPERBLY ACTED LOVE STORY

•August 4, 2014 • Leave a Comment

HIJRAH CINTA

Sutradara : Indra Gunawan

Produksi : MVP Pictures, 2014

HC9

            Seperti antusiasme kebanyakan orang menyaksikan liputan-liputan selebritis, biopics, memang masih jadi komoditi unggulan untuk film Indonesia. Keberhasilannya jelas tergantung dua faktor terbesar di luar faktor-faktor sinematis lainnya. Seberapa jauh sosoknya menginspirasi banyak orang, dan yang kedua, kemana pendekatannya dibawa untuk membangun emosi. Dalam konteks pertama, sosok alm. Ustadz Jefri Al-Buchori – dibalik sebutannya sebagai ustadz gaul / ustadsz seleb yang kerap disapa Uje, jelas memenuhi syarat untuk dijadikan sebuah biopic.

HC3

           Bukan saja karena sosoknya yang inspiratif sebagai pendakwah setelah lepas dari titik terendah kehidupannya sebagai seorang pecandu obat-obatan terlarang, riwayat hidupnya memang menyenggol banyak selebritis lain yang cukup dikenal dan masih pula menyisakan sosok Pipik Dian Irawati – akrab disapa dengan Umi Pipik sebagai warisan terbesarnya di ranah profesi yang sama. Lebih lagi, Umi Pipik merupakan amunisi emosi kuat untuk memindahkan kisah mereka ke jalur yang jauh lebih universal diatas sebuah love story yang menggambarkan ketabahan seorang wanita dalam perjuangan tokoh utamanya. Walaupun mungkin masih terbentur di segmentasi reliji atas profesi itu, tapi paling tidak, ini adalah sebuah true love-tale yang cukup universal, dan adalah sebuah kejelian pasar untuk melepasnya di momen Idulfitri yang masih jadi salah satu standar emas perilisan film-film lokal kita.

HC4

            And no, skrip yang ditulis Hanung Bramantyo memang tak serta-merta membahas sepak terjang Uje sebagai pendakwah. Menahan penceritaannya di ranah kisah cinta menyentuh itu, bersama Dapur Film dan Indra Gunawan, astrada Hanung di film-film seperti ‘Pengejar Angin’, ‘Perempuan Berkalung Sorban’ dan ‘Get Married’, ia membawa kita kembali ke masa-masa kejatuhan Uje (Alfie Alfandy) dalam titik terendah hidupnya, dan bagaimana perjuangan seorang Pipik (Revalina S. Temat) begitu teguh mencoba menyelamatkannya. Talenta yang dimilikinya dalam meniti karir di dunia hiburan ternyata menyeret Uje ke obat-obatan terlarang lewat Yosi (Ananda Omesh), seorang bandar yang selalu membantunya. Padahal, Uje datang dari keluarga soleh dengan ibunya Umi Tatu (Wieke Widowaty) yang berprofesi sebagai seorang pendakwah. Ia diusir oleh bapaknya (Piet Pagau), ditinggalkan oleh sahabat-sahabatnya termasuk Valentino (Gugun Gondrong) yang tak bisa lagi mempercayainya. Hanya Pipik, rekan sesama model yang sejak awal saling tertarik dengan Uje, yang terus setia berdiri di sampingnya, walau tetap diingatkan oleh sahabatnya, Widi (Fikha Effendi). Melepas karir modelnya bahkan rela mengenakan hijab atas permintaan Umi Tatu demi menghindari tudingan masyarakat, Pipik yang baru belakangan mengetahui masalah Uje tak pernah menyerah. Terus berusaha membawa Uje hijrah ke jalan yang lebih baik, sekaligus menjadi saksi dari perubahan hidupnya.

HC2

            Inilah yang menjadi faktor keberhasilan ‘Hijrah Cinta’ sebagai sebuah biopic yang bisa membangun emosinya dengan mengharu-biru. Bahwa Hanung, Indra dan tim mereka tak membawa kita menyaksikan kisah lahirnya seorang pendakwah terkenal dengan segala macam pesan moral berlimpah untuk menekankan sisi relijinya, tapi memindahkan template-nya dengan halus ke tema-tema ‘how far would you go for someone you loved’ yang begitu menyentuh. Skrip dengan penceritaan back and forth beserta line-line dialog yang kuat itu dengan efektif menempatkan sosok Uje dengan manusiawi diantara karakter-karakter pendamping lain tanpa melebih-lebihkannya sebagai idola banyak orang, sementara titik emosinya dibangun begitu hidup lewat sosok Pipik pada titik sentralnya. Peranan Hanung memang tetap terasa di tengah penyutradaraan Indra, namun storytelling-nya cukup efektif untuk tak terus-menerus mengulang adegan-adegan teler yang seperti biasa jadi salah satu spesialisasi banyak sineas kita. Kita juga sudah tahu ke titik mana ending tragis itu akan dibawa di pengujungnya, namun scene-nya dibangun dengan subtext personal yang mendalam.

HC7

            Namun secara sinematis, hal terbaiknya tetaplah ada di tangan Alfie Alfandy bersama Revalina S. Temat. Melawan banyak persepsi berbeda atas peran Uje yang jatuh ke tangan Alfie sebelumnya, aktor yang sebelumnya lebih banyak berkiprah di peran-peran komedi, termasuk satu yang paling diingat, sebagai Bo’im di rebootBangun Lagi Dong, Lupus’, Alfie menjelma nyaris sepenuhnya menjadi sosok Uje yang dikenal banyak orang selama ini. Meski tetap harus didukung make-up yang baik dari Cherry Wirawan dan timnya, mimicking acts dari ekspresi, gestur hingga ke tone suara dilakoninya secara begitu meyakinkan. Sementara dengan pengalaman jauh lebih senior, Revalina mengimbangi aktingnya dengan garis batas jelas tanpa harus meniru-niru sosok Pipik, tapi bekerja dengan emosi luarbiasa di sejumlah tearjerking moments terbaiknya. Berdua, mereka membentuk chemistry luarbiasa, dan masih ada dukungan yang solid dari Valentino sebagai Gugun Gondrong, Ananda Omesh dengan transformasi emosi yang kuat menjadi Yosi tanpa terus tampil bak orang teler, bahkan Epy Kusnandar dalam penampilan singkat di salah satu adegan terkuat film ini.

HC5

 

            Sisi teknisnya pun baik. Di luar theme song berjudul sama dari Melly Goeslaw yang dibawakan Rossa bagus namun terdengar tak jauh dari theme song Islami tipikal biasanya, scoring dari Andhika Triyadi tak lantas harus berlebihan mencoba memperkuat emosi yang sudah terbangun dengan baik, begitu juga sinematografi Faozan Rizal dalam beberapa penekanan emosinya, termasuk di adegan dermaga sebagai konklusi perjuangan cinta Uje dan Pipik itu. Apalagi tim tata artistik dari Allan Sebastian. Meng-handle setting akhir ’80 ke ’90-an dengan pernak-pernik ikoniknya, hasilnya cermat sekali. Oke, lagi-lagi, sebuah biopic memang masih akan berurusan dengan empati yang berbeda-beda dari segmentasi pemirsanya. Sebagai sebuah biopic, seperti persepsi berbeda terhadap fenomena ustadz gaul atau seleb, keberadaan sosok Uje dan Pipik sebagai pendakwah di konteks itu mau tak mau juga memberi sedikit resistensi untuk membuat ‘Hijrah Cinta’ bisa benar-benar maksimal jadi tontonan universal bagi semua kalangan baik dalam maupun luar relijinya. Tetap segmented, tapi paling tidak, ‘Hijrah Cinta’ sama sekali tidak ingin bicara soal reliji dalam emotional core-nya. See it at its deepest layer, and you’ve got yourself a well made and superbly acted love story. A true love story. (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 7,076 other followers