HAJI BACKPACKER : A GRAND LOOKING SPIRITUAL JOURNEY

•October 12, 2014 • 4 Comments

HAJI BACKPACKER

Sutradara : Danial Rifki

Produksi : Falcon Pictures, 2014

HB

            Adaptasi novel. Tema reliji ataupun inspiratif. Grand looks. Pretty faces. ‘Haji Backpacker’ yang merupakan adaptasi novel karya Aguk Irawan agaknya punya semua persyaratan yang dibutuhkan film Indonesia untuk bertahan lebih di bioskop ketimbang yang lain. Syutingnya yang menempuh lokasi antar negara, India, China, Thailand, Saudi Arabia juga membuat tampilannya kelihatan beda. Ensemble cast-nya juga terpampang jelas di posternya. Momen rilis yang dipilih saat perayaan Idul Adha pun begitu. Tapi apakah itu cukup?

            Memilih meninggalkan semua kepercayaan bahkan keluarganya saat rencana pernikahannya dengan Sophia (Dewi Sandra) yang begitu dicintainya kandas, Mada (Abimana Aryasatya) memilih untuk hidup bebas menjadi seorang backpacker.  Menetap di Thailand dan menjalin hubungan searah dengan gadis Indonesia yang bekerja sebagai pemijat, Marbel (Laudya Cynthia Bella), sebuah kasus lantas membuat Mada terpaksa melanglang buana di tengah kerapuhan jiwanya. Terdampar dari Vietnam ke sebuah desa kecil di Cina dimana ia ditampung oleh seorang ustad tiongkok dan putrinya, Su Chun (Laura Basuki), berlanjut ke India, TibetNepal dan sempat menjadi tawanan sekelompok teroris di Iran, perlahan akhirnya Mada mulai menemukan jawaban atas ketenangan batin yang selama ini ia cari di ujung perjalanannya ke tanah suci Mekkah.

            Sebagai pemaparan terhadap sebuah perjalanan spiritual yang dituangkan ke dalam novel yang bukan hanya berjumlah satu buku, sebenarnya ‘Haji Backpacker’ bisa memiliki penelusuran yang dalam atas tema ini. Namun mungkin, benturan terhadap kebutuhannya sebagai komoditas film membuat skrip yang ditulis oleh sutradara Danial Rifki dan Jujur Prananto memilih jalur mudah untuk penceritaannya. Bukan storytelling itu tak cukup baik, namun menjual lagi-lagi sekedar motivasi cinta yang terkesan dangkal diatas dasar konflik lain yang merubah pemikiran karakter utamanya, Falcon seolah masih mengulang resep sukses Maxima dalam ’99 Cahaya di Langit Eropa’ yang masih akan hadir dalam edisi final cut-nya dalam waktu dekat. Sebuah travelling movie, road movie lintas negara yang lebih mempertontonkan keindahan panoramik jauh diatas kedalaman sisi spiritualnya.

            Begitupun, ini tetap adalah sebuah pilihan yang harus diakui ternyata mampu menjadikannya distraksi yang enak buat dinikmati. Diatas keseriusan niat untuk menggarap tampilannya menjadi sesuatu yang wah, sentuhan reliji-nya bukan sama sekali hilang, dan bisa tertutupi oleh tata teknis yang bagus. Selain detil-detil budaya hingga penggunaan bahasa dari tiap lokasi set yang disematkan ke dalam skripnya bisa tampil bagus bersama tata artistik serta kostumnya, sinematografi Yoyok Budi Santoso juga mampu meng-capture beberapa landmark di tengah perpindahan negara itu. Scoring Indra Q pun ikut memberi penekanan dramatisasi yang seimbang bersama sederet lagu bernuansa reliji yang hadir sebagai soundtrack-nya. Hanya sedikit sempalan animasinya yang masih terlihat tak begitu baik padahal harusnya sangat penting mengiringi konklusinya.

            Namun memang, dayatarik terbesarnya ada pada ensemble cast yang sama sekali tak mengecewakan. Akting santai Abimana tetap terlihat pas memerankan Mada meskipun skrip itu menggerus motivasinya meninggalkan kepercayaan terlihat sangat lemah, semata-mata karena cinta selagi alm. ibu yang seharusnya ikut jadi faktor penting (diperankan Pipik Dian Irawati) hanya tampil sekilas, sementara yang tampil lebih menonjol adalah Laudya Cynthia Bella dan terutama Laura Basuki yang menampilkan gestur hampir sempurna memerankan Su Chun dengan dialek khas lewat dialog-dialog karakternya.

            Overall, ‘Haji Backpacker’ bisa dibilang punya balance yang masih cukup baik diantara pilihan komersilnya menjadi tontonan travelling diatas latar sebuah kisah perjalanan spiritual. It might be just a grand looking spiritual journey, tapi paling tidak, keseriusan dalam detil-detil penggarapan hingga pernak-pernik promosi termasuk teaser, character dan official poster yang terlihat sama elegannya, bisa menutupi kelemahan-kelemahan yang ada. Pada akhirnya, agak miris memang melihat film Indonesia dengan amunisi lengkap seperti ini, yang seharusnya bisa menjadi sesuatu yang diburu penonton untuk ke bioskop ternyata masih tak juga bisa menghasilkan resepsi yang maksimal. (dan)

DRACULA UNTOLD : THE HORROR LEGEND IN SUPERHERO TREATMENTS

•October 11, 2014 • Leave a Comment

DRACULA UNTOLD 

Sutradara : Gary Shore

Produksi : Legendary Pictures, Michael De Luca Productions, Universal Pictures, 2014

DU

            Seberapa jauh Anda mengenal ‘Dracula’? Sebagai komoditas yang bukan lagi baru di genre horor bahkan impact-nya ke berbagai ragam pop culture, dari gambaran klasik hingga modern, sudah banyak sekali versi film dari karakter vampire legendaris yang pertama kali dipopulerkan Bram Stoker lewat novelnya, ‘Dracula’ di tahun 1897 ini. Namun, satu yang masih tergolong jarang, adalah penempatan karakternya sebagai tokoh protagonis.

            Versi baru dari Legendary Pictures yang dimaksudkan eksekutifnya, Thomas Tull, dalam rencana reboot Universal Monsters sebagai universe baru dibalik kerjasama mereka setelah lepas dari Warner Bros, bahkan melangkah lebih jauh ke wilayah treatment yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Seperti spesialisasi Legendary lewat film-film fantasi/superhero mereka selama masih bergabung dengan Warner, ‘Dracula Untold’ digagas dengan treatment superhero diatas similaritas sebagian elemennya dengan Batman. Dan oh ya, ini tak punya hubungan dengan ‘I, Frankenstein’-nya Lionsgate yang diangkat dari versi novel grafis terpisah dari franchise Universal Monsters. Dengan source yang tetap diambil berdasarkan novel klasik Bram Stoker, namun latar yang dikombinasikan dengan inspirasi Stoker ke sejarah Vlad The Impaler, yang bukan baru sekali ini juga dicampuradukkan, seperti apa hasilnya?

            Walau menjadi bagian dari wilayah kesultanan Turki di abad pertengahan, Vlad (Luke Evans), Pangeran Transylvania, menolak keinginan Sultan untuk menjadikan anak-anak dari kerajaannya termasuk putranya, Ingeras (Art Parkinson) sebagai prajurit Turki. Di tengah peperangan yang tak seimbang, tanpa menghiraukan akibatnya, Vlad terpaksa membuat perjanjian dengan seorang vampire (Charles Dance) untuk memberinya kekuatan. Dengan kekuatan baru itu, Vlad dengan mudah menghantam balik pasukan Turki seorang diri. Namun Sultan Mehmed (Dominic Cooper) dari Turki juga tak tinggal diam. Membaca kekuatan ini, di tengah reaksi dari pasukannya sendiri atas kecurigaan mereka bahwa Vlad sudah berubah menjadi monster, serangan balasan yang dilancarkan Mehmed akhirnya membuat permaisuri Vlad, Mirena (Sarah Gadon) menjadi korban. Vlad pun terpaksa melanggar syarat untuk bisa kembali jadi manusia normal atas perjanjian setan itu, serta lebih jauh merubah hampir semua pasukannya menjadi monster yang sama dengan dirinya untuk membalas dendam pada Mehmed sekaligus menyelamatkan Ingeras dan kerajaannya.

            Mengikuti trend reboot banyak franchise legendaris Hollywood menarik ulang karakternya jauh sebelum yang selama ini dikenal orang, premis baru pengenalan ulang Dracula yang digagas sutradara Gary Shore dalam debut penyutradaraan layar lebarnya dengan latar historis asli peperangan Vlad dengan Turki di abad pertengahan ini boleh jadi digelar duo penulis baru Matt Sazama dan Burk Sharpless dengan gambaran serba klise film-film perang berlatar sejarah. Hanya saja, satu hal yang membedakannya adalah bagaimana motivasi karakter utama yang dipindahkan ke ranah protagonis diatas alasan cinta dan keluarga yang sebenarnya sama-sama klise menjadi begitu kuat untuk menekankan sparks of love story sebagai elemen wajib hampir di tiap versi legenda tokoh ini, termasuk ke time-lapse setnya yang membuka penyatuan universe baru franchise monsters itu nantinya.

            Luke Evans juga memerankan karakternya dengan bagus. Tak jauh beda dengan film-film yang lain yang menjadikannya sosok middle ages hero, namun dengan emosi yang sedikit lebih baik. Tak ada yang terlalu spesial dengan Dominic Cooper sebagai antagonis utama dan rata-rata pemeran pendukung lainnya, sementara Sarah Gadon menjadi distraksi cantik dibalik tampilan fisiknya, dan creepy look Charles Dance dimanfaatkan dengan baik hingga ke open epilogue yang menarik itu.

               Namun yang membuatnya sangat, sangat spesial, lebih dari kesan kolosal adegan-adegan peperangan adalah visual treatment ke karakternya sendiri. Sinematografi DoP senior John Schwartzman ke set yang sama cantiknya itu membentuk blend yang sempurna dengan efek khusus yang ditangani oleh WETA Workshop dan Framestore dengan begitu mengagumkan. Almost never before seen in any Dracula movies, lihat bagaimana gambaran Dracula terpecah dan menyatu dari ribuan kelelawar menggempur habis lawan-lawannya dengan detil visual luarbiasa. Score dari Ramin Djawadi juga bekerja dengan baik dalam penekanan emosi dari dramatisasi ke adegan-adegan perangnya.

            So yes, ‘Dracula Untold’ adalah sebuah reboot yang cukup unik. Elemennya boleh saja disusun lewat banyak genre-cliche yang bercampur-baur dalam racikan kombinasi keseluruhannya, namun gelaran efek, visual serta sparks of love story-nya, benar-benar bisa membuat kita jatuh cinta. The horror legend in superhero treatments, and now, let the games begin. (dan)

ANNABELLE : JUST A FORMULAIC HORROR SPIN-OFF

•October 11, 2014 • 1 Comment

ANNABELLE 

Sutradara : John R. Leonetti

Produksi : New Line Cinema, Atomic Monster, The Safran Company, Warner Bros, 2014

ANN

            Like it or not, ‘Annabelle’ sudah menciptakan fenomena antrian penonton dimana-mana. Entah memang horror tak pernah jadi genre yang ditinggalkan dalam konteks film sebagai komoditas, dari industri film negara manapun, tapi yang jelas, kuncinya adalah permainan formula. Okay, yang dicari tiap orang dalam genre-nya bisa jadi beda-beda, namun hal yang paling umum, kita semua tahu. Seperti hype menaiki wahana yang memancing adrenalin, orang-orang yang datang ke bioskop untuk menyaksikan film horor memang mencari satu hal kebanyakan. Ingin ditakut-takuti.

            Then, keberadaannya sebagai bagian dari franchise horor yang luarbiasa sukses, spin-off sekaligus prekuel dari ‘The Conjuring’, yang punya status acclaimed atas keberhasilan tim yang sama melepaskan similaritas film itu dengan ‘Insidious’ yang sama-sama sukses, adalah daya jual yang jelas membuat hype-nya sangat memuncak. Though overall, tak peduli bahwa ‘Child’s Play’ dan epigon-epigonnya sudah bermain di wilayah yang sama ataupun embel-embel based on true events, premis yang dibawa para penggagasnya (oh ya, nama James Wan dan produser Peter Safran dari ‘The Conjuring’ ada di kursi produser) punya keyword termudah serta paling singkat untuk menjelaskan jualannya. Boneka Setan. That’s it.

            Pasangan John dan Mia Gordon (Ward HortonAnnabelle Wallis) yang tengah menanti kelahiran anak pertama mereka seketika diteror oleh sebuah serangan misterius setelah John menghadiahi Mia sebuah boneka untuk melengkapi koleksinya. Menyadari serangan ini punya kaitan dengan boneka tersebut, mereka pun membuangnya. Namun setelah John dan Mia mencoba melupakan kejadian itu dengan kepindahan mereka ke apartemen baru setelah melahirkan seorang putri, serangkaian kejadian mengerikan kembali menghantui mereka. Melalui bantuan Father Perez (Tony Amendola) dan wanita pengelola toko buku Evelyn (Alfre Woodard) yang menyimpan sebuah trauma masa lalu, mereka pun mencoba memecahkan misteri ini.

            Dari premisnya, memang tak ada yang spesial dari ‘Annabelle’. Begitu pula konklusi akhir yang dianggap banyak real horror fans cenderung mengada-ada. Tapi mungkin James Wan dan Peter Safran sebagai penggagasnya tahu betul bahwa penampakan boneka Annabelle yang lewat epilog-nya diketahui tersimpan di museum Ed & Lorraine Warren, merupakan highlight spesial dan ultimate scary scene dalam ‘The Conjuring’, sehingga sekalipun statusnya dipenuhi aji mumpung, spin-off ini sekaligus menjadi keinginan banyak orang.

            Melengkapi status itu, deretan cast-nya pun seakan dengan sengaja tak mencoba menyamai ‘The Conjuring’ dibalik bujet pembuatan yang jauh lebih serba hemat. Dengan hanya satu aktor senior, aktris Afrika-Amerika Alfre Woodard, selebihnya adalah wajah-wajah yang tergolong baru. Annabelle Wallis, keponakan aktor Inggris legendaris Richard Harris yang memulai debutnya lewat film Bollywood, ‘Dil Jo Bhi Kahey…’ bersama Amitabh Bachchan, Ward Horton dan Tony Amendola yang seolah-olah versi KW dari aktor-aktor lain yang sudah dikenal pun tak juga bermain kelewat spesial. Penulisnya, Gary Dauberman, juga baru memulai debutnya di film layar lebar. Namun lagi, the real lead-nya jelas adalah title character-nya sendiri, dan ini yang paling perlu ditonjolkan dengan treatment lebih.

            By all means, di luar itu, ‘Annabelle‘ jelas bukan horor yang jelek. Malah, profil seadanya tetap tak membuatnya jatuh seperti horor-horor low budget kelas B diatas kesan blockbuster yang terlihat jelas. Ia memang tak menggunakan kekuatan set untuk dengan sendirinya membangun atmosfer menyeramkan seperti ‘The Conjuring’, walaupun penyutradaraan John R. Leonetti, DoPThe Conjuring’ tetap memberikan nuansa yang mirip dibalik vintage set bersama scoring Joseph Bishara yang tak peduli seberapa tipikal tetap bisa memicu ketegangan, tapi cukup sebatas bermain-main di usaha menakut-nakuti penontonnya. Combining all kinds of scare, dengan permainan jump scare tetap menjadi yang terdepan, ini ternyata bisa bekerja dengan cukup baik bagi penonton yang memang mencari hal itu dari sebuah film horor.

            So, semuanya akan terpulang lagi pada beda-beda tipe penonton film horor yang punya keinginannya masing-masing. ‘Annabelleis clearly just a formulaic horror spin-off penuh alasan aji mumpung dari James Wan bersama timnya, tapi paling tidak, ada beberapa spine-tingling scenes yang benar-benar kuat dalam keseluruhan permainannya. Untuk yang mementingkan plot, mungkin harus berpikir dua kali kalau tak sekedar mengikuti hype-nya, sementara ‘Annabelle’ juga jelas tak sedetil ‘The Conjuring’ dalam bangunan atmosfernya. Tapi buat penyuka hal paling umum bagi genre-nya, senang ditakut-takuti sambil sesekali berteriak di dalam bioskop, this is absolutely for you! (dan)

LET’S BE COPS : AN AVERAGE FUN BUDDY COMEDY

•October 11, 2014 • Leave a Comment

LET’S BE COPS 

Sutradara : Luke Greenfield

Produksi : WideAwake, 20th Century Fox, 2014

LBC

            Bukan rahasia lagi kalau akhir-akhir ini ada stagnansi tema yang melanda film-film Hollywood, yang kerap membuat mereka membongkar kembali resep-resep lama di banyak genre-nya. Genre buddy comedy sendiri sebenarnya tak pernah mati, namun mungkin cukup lelah mencari inovasi baru seperti yang berhasil dibawa franchise reboot21 Jump Street’, hal termudah yang bisa dilakukan adalah cukup dengan bongkar pasang lead baru.

            But, ‘Let’s Be Cops’ yang boleh dibilang cukup berani bersaing di tengah waktu-waktu akhir summer blockbusters ini, bukannya sama sekali tak punya profile. Sutradaranya, Luke Greenfield, sudah menghasilkan beberapa subgenre komedi dari ‘The Animal’, ‘The Girl Next Door’ dan ‘Something Borrowed’, dan punya nama Simon Kinberg di produsernya, lebih hebat lagi. Mengisi part ‘buddy’-nya, ada Damon Wayans, Jr., pemegang legacy Wayans Brothers dan Jake Johnson, aktor-komedian yang kerap menyeberang ke film-film indie yang kredibel (‘Safety Not Guaranteed’ dan ‘Drinking Buddies’ ada diantaranya). Belum lagi menyebut Andy Garcia dan James D’Arcy sebagai supporting actor-nya. Dengan profile cukup lumayan dan keberaniannya, perolehan box office-nya pun tak sekedar main-main.

            Dua sahabat, Justin (Damon Wayans, Jr.), desainer video game idealis yang tertekan dengan atasannya dan Ryan (Jake Johnson), mantan quarterback kampus yang gagal meraih puncak popularitasnya tengah berada dalam krisis identitas di usia mereka. Secara tak sengaja, akibat salah kostum di reuni kampusnya, mereka malah keterusan menyaru menjadi polisi. Semakin dalam menikmati identitas hoax-nya, mereka akhirnya terjebak dalam intrik operasi mafia Albania dan terpaksa meneruskan semuanya demi keselamatan mereka sendiri.

            Meski premisnya tak lagi fresh, ‘Let’s Be Cops’ sebenarnya sudah memenuhi satu syarat terpenting dalam sebuah buddy action comedy. Walau Damon Wayans, Jr. masih tergolong jarang dijadikan jualan utama dalam filmnya (oh, lupakan ‘Dance Flick’ produksi keluarganya itu) dan masih terlihat belum total menemukan style komedi khas seperti sang ayah diantara saudara-saudaranya sesama komedian, ia membentuk chemistry yang erat dengan Jake Johnson. Luke Greenfield yang menulis sendiri skripnya bersama Nicholas Thomas juga bisa membagi batasan karakternya dengan baik untuk membiarkan keduanya saling mengisi dalam sebuah improvisasi komedi yang cukup meriah.

            Sementara supporting cast-nya juga mampu memberikan dukungan yang baik terhadap penampilan mereka. Bersama Nina Dobrev yang secara fisik cukup bekerja menambah dayatarik jualannya, ada komedian Rob Riggle serta Keegan-Michael Key yang sangat mencuri perhatian di tengah obrak-abrik tampilannya sebagai Pupa. Namun tampil lebih menonjol ketimbang Andy Garcia, adalah James D’Arcy, juga dibalik mockup looks-nya, sebagai karakter antagonis utama yang tak harus ikut-ikutan melucu diantara permainan slapstick para komedian ini.

            Sayangnya, usaha mereka menampilkan ragam komedi slapstick yang menyerempet profanity serta sickjokes-sickjokes lain masih dipenuhi hit and miss. Di saat sebagiannya terasa benar-benar hilarious hingga membuat penontonnya bisa tertawa hingga sakit perut, masih cukup banyak joke-joke yang terasa datar di tengah kecanggungan Wayans, Jr. dan tingkah over Johnson.

                Sementara, sisi action-nya pun tak di-push untuk terlihat seperti buddy action comedy blockbuster lain dengan profil lebih tinggi seperti ‘Bad Boys’ ataupun ’21 Jump Street’. Greenfield agaknya lebih memilih tampilan old fashioned buddy comedy era ’80-an yang hampir tak pernah menampilkan action yang benar-benar menggelegar. An average fun buddy comedy, yes, namun paling tidak, dengan kesuksesan yang diraih lewat pendapatan lebih dari lumayan itu, kalaupun nantinya ‘Let’s Be Cops’ akan berlanjut ke sebuah sekuel, this is quite a good start. (dan)

THE GIVER : CHILDREN’S NOVEL ADAPTATION WITH HIGHER CONCEPT

•October 11, 2014 • Leave a Comment

THE GIVER 

Sutradara : Phillip Noyce

Produksi : Walden Media, The Weinstein Company, 2014

GVR

            The Giver’ memang seakan dikemas sebagai Young Adult (YA) movie adaptation yang tengah mengikuti trend-nya. Tapi mungkin disini tak terlalu banyak yang tahu, bahwa dalam batasan tipis definisi genre-nya, source aslinya yang datang dari buah karya Lois Lowry memang banyak digolongkan dalam children’s novel series. Tak ada sebenarnya yang salah dengan konsep dystopian dalam dua genre berbatas tipis berdasarkan beda-beda persepsi umur tersebut. ‘The Chronicles of Narnia’ pun sudah pernah melangkah kesana, namun balutan fantasi dalam ‘The Giver’ memang sedikit terasa lebih dewasa, terlebih dalam adaptasinya, untuk lebih terlihat sebagai YA genre.

            Dan proses adaptasinya sudah sangat lama menjadi ambisi aktor Jeff Bridges, yang awalnya ingin menyutradarai sendiri adaptasi ini bersama sang ayah, alm. Lloyd Bridges. Namun tak terlaksana hingga belasan tahun, akhirnya rights yang sudah dibeli Warner Bros sejak 2007 baru mendapat lampu hijau di akhir 2012. Bridges sendiri tak dibuang dari proyeknya. Menjadi produser, memerankan title character-nya, deretan cast hingga sutradaranya pun bukan main-main. Disutradarai Phillip Noyce, ada Meryl Streep, Katie Holmes, Alexander Skarsgård dan penyanyi Taylor Swift di dalamnya, sementara young leads-nya diperankan oleh Brenton Thwaites yang tengah naik daun bersama Odeya Rush.

            Di tahun 2048, setelah perang dikabarkan memusnahkan umat manusia, sisa-sisa yang selamat membentuk komunitas baru yang menghilangkan semua perbedaan ras dan perasaan dari penghuninya. Dikepalai Chief Elder (Meryl Streep) dari kelompok The Elders, masing-masing anak yang sudah menginjak usia remaja diserahi tugas masing-masing, namun ada satu yang bertugas sebagai penerima memori dari The Giver (Jeff Bridges) yang meneruskannya ke berbagai generasi. Jonas (Brenton Thwaites), anak dari pasangan suami istri (Alexander Skarsgård dan Katie Holmes) yang terpilih menjadi Receiver of Memory kemudian menemukan kenyataan bahwa hal ini sebenarnya melawan nuraninya, terlebih ketika mengetahui masa lalu rahasia The Giver dan Receiver of Memory sebelumnya, Rosemary (Taylor Swift). Jonas mulai memperkenalkan perasaan ini pada sahabat yang diam-diam disukainya setelah itu, Fiona (Odeya Rush), namun sahabat mereka yang lain, Asher (Cameron Monaghan), yang diserahi tugas menjadi Guards, sudah diperintahkan Chief Elder untuk menggagalkan misi Jonas.

            Sedikit berbeda dengan YA atau children’s novel lain sebagai source aslinya, ‘The Giver’ memang memiliki kadar serius lebih tinggi dalam menggelar universe-nya lewat skrip yang ditulis oleh Michael Mitnick dan Robert B. Weide. Mungkin karena itu juga, kesan ‘fun’ yang hampir sepenuhnya tertutupi oleh dark dystopian theme dalam elemen tontonan-tontonan sejenis di genre-nya membuat resepsi box office-nya jauh berkurang. Ini pula yang membuat sasaran mereka ke kalangan usia penontonnya jadi berada di sebuah garis tak jelas. Bahkan melibatkan scene baby killings, ‘The Giver’ jadi terasa kelewat berat bagi pemirsa belia, terlebih anak-anak, sementara orang dewasa bisa jadi tetap melihatnya sebagai YA.

            Walau tak terlalu spesial, Jeff Bridges tetap tampil bagus sebagai titular character itu. Sementara baik Katie Holmes, Skarsgård dan Meryl Streep tak terlalu banyak diberi kesempatan sebagai karakter antagonis yang sebenarnya dibalut motivasi abu-abu dibalik penjelasan historikal serta dilematis dalam konflik-konflik utamanya. Begitu juga Taylor Swift yang sungguh tak jelek memerankan Rosemary. Tapi yang paling menonjol bersama Bridge adalah tiga karakter muda lainnya, Thwaites, Rush dan Monaghan, yang bisa membentuk ensemble yang baik di tengah aktor-aktor senior itu.

            Di tangan Phillip Noyce, berikut unsur-unsur lain dari efek, visual dan scoring dari Marco Beltrami hingga soundtrack yang sangat bernafas YA, ‘The Giver’, walau bukan terlalu wah, tetap merupakan sebuah tontonan yang terlihat elegan di segala sisi teknisnya. Ide-ide thought provoking-nya yang mau tak mau disampaikan sedikit kelewat verbal lewat dialog-dialog di pengujung film juga masih berada dalam batasan yang bagus. A children’s novel adaptation with higher concept. Namun masalahnya, kebingungan ke sasaran pemirsa tadi memang tak bisa terhindarkan, dan ini artinya, apa boleh buat, akan ada resiko untuk kelanjutan sekuelnya. (dan)

THE EQUALIZER : STYLISH VIOLENCE AMONG TIRED PLOT AND GENRE-CLICHES

•October 3, 2014 • Leave a Comment

THE EQUALIZER

Sutradara : Antoine Fuqua

Produksi : Village Roadshow Pictures, Escape Artists, Columbia Pictures, 2014

EQ3

            So it’s officially a trend now in Hollywood. Membawa aktornya ke batas yang tak terbayangkan dalam tampilan badass action hero penuh dengan kekerasan serba vulgar. Menyusul Liam Neeson, kini giliran Denzel Washington yang dijadikan maskot action oleh Antoine Fuqua dalam kerjasama mereka yang kedua setelah ‘Training Day’. Di satu sisi, Denzel memang sudah lebih dulu merambah genre ini dengan progress yang juga makin meningkat, namun kalau di rata-rata filmnya Denzel masih memerlukan bintang lain untuk mendongkrak aksinya, disini, Denzel dibiarkan beraksi seorang diri menumbangkan musuh-musuhnya. Seperti ‘Man On Fire‘, tapi dengan body counts serta kekejaman yang lebih lagi.

EQ6

            But still, ini adalah filmnya Antoine Fuqua. Meski dikenal lewat karya-karyanya di genre action, Fuqua hampir tak pernah kelewat melepas filmnya dengan feel pop yang sangat komersil, dimana seringkali final showdown di bagian klimaks film-filmnya gagal menjadi highlight terkuat diantara action sequence yang ada di sepanjang film. ‘Olympus Has Fallen’ bisa jadi sebuah anomali, memang, namun, meski masih terlihat sangat dipengaruhi nafas film-film aksi ala ‘Die Hard’, ‘The Equalizer’, agaknya merupakan sebuah kasus berbeda lagi.

EQ10

            Diangkat dari serial televisi CBS berjudul sama di tahun ’80-an yang dibintangi Edward Woodward (sempat ditayangkan TVRI) dan sebenarnya tergolong cult, terbatas bagi penggemar-penggemar setianya saja, versi layar lebar ini juga tak terlalu setia mengambil penokohan hasil kreasi Michael Sloan dan Richard Lindheim, kecuali pada nama karakter dan sedikit trivia newspaper ad yang selalu tampil di pembuka serial aslinya. Tapi mungkin Fuqua dan scriptwriter Richard Wenk (‘The Expendables 2’, ‘The Mechanic’) punya alasan untuk itu. Bahwa tak jauh beda dari trend yang ada di banyak remake sekarang, mereka mengembalikan referensi source-nya berbentuk prequel, sebelum event yang selama ini dilihat atau dikenal orang.

EQ9

            Tak banyak yang tahu kalau Robert McCall (Denzel Washington), yang sehari-harinya bekerja di sebuah swalayan alat-alat perumahan dan akrab dengan semua pekerja lain, termasuk trainee asal Meksiko Ralphie (Johnny Skourtis) yang dibimbingnya secara pribadi buat melewati ujian di departemen sekuriti, menyimpan sebuah identitas masa lalu. Namun ketika seorang PSK belia Teri/Alina (Chloë Grace Moretz) yang kerap dijumpainya di sebuah kafe seusai kerja terancam oleh eksploitasi mafia-mafia Rusia pelaku sex trafficking, nuraninya terguncang. Menggunakan segenap keahlian dari identitas rahasia itu, McCall kembali untuk membantai sindikat ini sampai ke akar-akarnya. Sounds familiar? But no, ini bukan Azrax. Lulz.

EQ11

            Tired plot tentang seorang ex-soldier yang terpicu mengembalikan seluruh kekuatannya demi membela seorang korban sex trafficking yang memerlukan perlindungan? Check. Genre-cliche yang melibatkan mafia-mafia Rusia? Baru juga kita saksikan dalam ‘A Walk Among The Tombstones’. Check. Jagoan tanpa tanding yang terjebak dalam situasi dan terpaksa menghadapi sekumpulan sindikat penjahat seorang diri? Check. Oh ya, ‘The Equalizer’ memang punya semua faktor itu. Ini sama sekali bukan sesuatu yang baru maupun yang kita harapkan dari seorang Antoine Fuqua, at least sebelum ‘Olympus Has Fallen’.yang sama-sama bermain di genre-cliches.

EQ8

 

            Lantas, apakah berarti Fuqua semakin meninggalkan signature-nya untuk jadi melenceng ke genre action dengan tampilan kelewat pop? The answer lies between yes or no. Di satu sisi, Fuqua tetap memberi penekanan berbeda lewat storytelling-nya. Hampir sama seperti apa yang kita lihat terhadap Liam Neeson di ‘A Walk Among The Tombstones’, walaupun genre-nya sedikit berbeda serta tanpa embel-embel kompleksitas psikologis, paruh pertama ‘The Equalizer’, biarpun sudah diselipi adegan-adegan action dengan intensitas naik turun, sempat menghentak kemudian melemah lagi dan berulang kali seperti itu, bergerak dengan pace tak konsisten. Slow burn serta terkadang terasa lambat setengah mati, yang memang menjauhkannya dari feel kelewat pop.

EQ4

            Namun coba lihat tampilan keseluruhannya. Walau tak lantas terasa kelewat serupa dengan film-film Denzel dengan alm. sutradara Tony Scott, pemilihan DoP Harry Gregson-Williams yang hampir selalu berada dibalik film-film mereka jelas makin menjauhkan looks-nya dari signature Fuqua. Gregson-Williams memang terlihat berusaha memberi batas perbedaannya di banyak adegan, dengan shot-shot bagus terutama di action scenes-nya, namun sebagian penggunaan slo-mo di sekuens-sekuens klise karakter utamanya berjalan di tengah ledakan, mostly menjelang showdown climax-nya, mau tak mau tetap sangat mengingatkan ke ‘Man On Fire’ atau film Denzel lain yang disutradarai Tony Scott.

EQ7

            And then, seberapa efektifkah karakter-karakter lainnya mendukung penceritaan serba klise itu? Disini, ‘The Equalizer’ malah terjebak dalam flaws terbesarnya. Meninggalkan hanya Denzel dan Marton Csokas yang memang berhasil menampilkan sosok villain dengan kekuatan seimbang ke titular character-nya, sementara di lini kedua ada David Harbour, yang baru saja kita lihat di ‘A Walk Among The Tombstones’ dan Johnny Skourtis dengan porsi yang lumayan, hampir semua karakternya terkesan tersia-sia. Dari Haley Bennett hingga dua aktor senior Bill Pullman dan Melissa Leo tak ubahnya sebagai penghias tak penting. Dan yang terparah, Chloë Grace Moretz yang justru jadi motivasi terhadap konflik utamanya seakan tertinggal begitu saja di tengah-tengah penceritaannya, even hardly became adamsel in distress‘. Tak ada juga memorable TV scoring dari Stewart Copeland, walaupun scoring Mauro Fiore masih bekerja menambah feel-nya.

EQ5

            Tapi bagaimanapun juga, ‘The Equalizer’ sama sekali tak jatuh sebagai sebuah tired action. Walau sosok Denzel Washington boleh terlihat tired dengan perut membuncit bersama penuaan usianya, Fuqua benar-benar bisa melahirkan Denzel baru yang bahkan lebih tangguh, badass dan jauh melewati batasan yang selama ini kita lihat di ‘Man On Fire’, ‘The Book Of Eli’ atau film-film buddy action-nya. Seakan menggabungkan Batman dengan ketangguhan tanpa tanding Steven Seagal di awal-awal karirnya serta sadisme ala psikopat di genre-genre slasher ke tengah aksi 1 lawan 100 ala ‘Die Hard’, violent realism yang ada di serial tevenya dibawa ke level jauh melambung lagi. Fighting choreography-nya yang bagus diterjemahkan Denzel dengan luarbiasa bersama inovasi adegan-adegan pembantaiannya, with body parts close-ups, terutama di 30 mins final showdown yang benar-benar jadi nonstop action climax-nya.

EQ12

            Bagi sebagian, apalagi yang menyukai kelebihan Fuqua dalam keseimbangan plot serta kekuatan karakter dalam genre-nya, ‘The Equalizer’ bisa jadi sebuah kemunduran cukup jauh, bahkan bila dibandingkan popcorn ringannya di ‘Olympus Has Fallen’, namun in terms of action blockbusters, yang dilakukan Fuqua jelas tak salah. ‘The Equalizer’ tetaplah sebuah action dengan stylish violence yang seru. Paling tidak, ia sudah membuka jalan bagi Denzel Washington untuk bersaing dengan Liam Neeson di ‘A Walk Among The Tombstones’ yang hadir di minggu yang sama. Battle of the badasses! (dan)

A WALK AMONG THE TOMBSTONES : A GRITTY BUT BADASS – OLD FASHIONED NEO-NOIR THRILLER

•October 3, 2014 • Leave a Comment

A WALK AMONG THE TOMBSTONES

Sutradara : Scott Frank

Produksi : Cross Creek Pictures, Exclusive Media, Endgame Entertainment, Jersey Films, Double Feature Films, Universal Pictures, 2014

WATT5

            No, untuk sebagian aktor, tak perlu waktu lama untuk merubah image mereka. Hampir tak ada yang menyangka kalau Liam Neeson bisa mendarat di ranah screen’s action heroes sebelum ‘Taken’ (Pierre Morel, 2008) –nya Luc Besson jadi hits dimana-mana. Begitu melekatnya instant image ini, menggerus semua karirnya di film-film lebih serius bahkan ketika Neeson masih menerima tawaran bermain di genre lain setelahnya. Dan resepsi penontonlah yang memang paling menentukan. Dalam rentang waktu setelahnya, predikatnya malah diserahi body count mendekati legenda-legenda nyeleneh seorang Chuck Norris. And oh yes, setelah ini, ‘Tak3n’, instalmen pionir perubahan karirnya itu sudah siap untuk dirilis.

WATT7

            Then who’s Scott Frank? Do look back. Biar mungkin banyak orang baru mengingat namanya dari ‘The Wolverine’, instalmen superhero Marvel yang menyelamatkan spinoff solo karakter itu, dalam filmografinya, Frank ada dibalik skrip film-film thriller yang bagus seperti ‘Dead Again’, ‘Malice’, ‘Heaven’s Prisoners’, ‘Minority Report’, and for those who remembered, ‘The Lookout’, small thriller yang sama bagusnya di tahun 2007 sudah mencatat debutnya sebagai sutradara.

WATT2

         Tak hanya punya genre yang sama, ‘A Walk Among The Tombstones’ yang diangkat dari novel series karya Lawrence Block (1992) dari karakter fiktif Matthew Scudder, ex-cop turns private investigator yang sebelumnya sudah pernah diangkat sutradara Hal Ashby dalam ‘8 Million Ways To Die’ (diperankan Jeff Bridges dan melejitkan nama Andy Garcia yang berperan antagonis disana) sekaligus jadi ambisi Frank sejak lama. Dikembangkan lewat skrip Frank sejak 2002 dengan rencana Harrison Ford di lead dan sutradara D.J. Caruso, proyek ini akhirnya baru diteruskan tahun lalu dengan Neeson yang dipilih sendiri oleh Frank dan memutuskan menyutradarai sendiri filmnya.

WATT8

      Walaupun diangkat dari novel ke-10 karakter sentralnya, Matthew Scudder (Liam Neeson), Frank memulai ‘A Walk Among The Tombstones’ dengan Scudders sparks of origins, sebuah peristiwa traumatis yang membuatnya beralih dari seorang polisi alkoholik menjadi detektif swasta yang mencoba keluar dari kecanduannya. 8 tahun kemudian, Scudder ditawari salah seorang informan-nya (Boyd Holbrook) untuk menerima permintaan saudaranya, Kenny Kristo (Dan Stevens) mencari dalang dibalik pembunuhan sadis terhadap istrinya. Scudder yang langsung bisa menebak profesi Kenny awalnya menolak, namun adanya kecurigaan atas beberapa kasus pembunuhan berantai yang menimpa orang-orang dengan profesi sama seperti Kenny, membuat Scudder melawan etos kerjanya demi memecahkan kasus ini. Dengan bantuan seorang bocah Afrika-Amerika yang punya antusiasme tinggi terhadap investigasi kriminal, T.J. (Brian ‘Astro’ Bradley), Scudder mulai menelusuri intrik dan misteri yang perlahan mulai menggerogoti jiwanya untuk benar-benar bisa keluar dari masa lalu traumatis itu.

WATT9

       Oh yes, ‘A Walk Among The Tombstones’, seperti original source-nya, memang sejatinya lebih berada di ranah thriller kriminal ketimbang ‘Taken’ ataupun film-film action Neeson lain yang sangat terlihat dari trailer-nya. Dalam usaha Frank menggagas wujudnya sebagai sebuah neo-noir thriller, alurnya pun berjalan secara slow burn membawa penontonnya seolah mengeksplor sebuah novel misteri, dengan karakter-karakter sentral dengan sisi psikologis yang jauh lebih kompleks. Tapi tetap saja, screen presence Neeson yang memang dilepas Frank buat menyamai ketangguhan karakternya dalam franchiseTaken’, tak bisa menyembunyikan aura badass action hero-nya ke keseluruhan film. Ini mungkin mirip seperti kasus ‘Blitz’ –nya Jason Statham yang juga lebih berada di genre thriller, namun jauh lebih baik dalam kompleksitas karakter dan persepsi action yang sama-sama kuat.

WATT3

            Di deretan cast-nya, tak banyak juga nama lain yang kelewat dikenal, namun rata-rata bisa mengimbangi dominasi Neeson dengan potensi scene-stealer yang kuat. Ada Dan Stevens dari ‘Downtown Abbey’ yang karirnya semakin menanjak sejak akhir tahun lalu, pemeran T.J., Brian ‘Astro’ Bradley, rapper cilik dari kompetisi ‘The X-Factorseason 1 mereka, serta David Harbour sebagai salah satu karakter antagonisnya. Dan meski departemen teknisnya banyak memuat nama-nama baru, termasuk scoring dari Carlos Rafael Rivera dan sinematografi Mihai Malaimare Jr., semuanya bisa membentuk blend sempurna ke racikan serba gritty yang ditampilkan Frank. Menuangkan eerie title itu ke dalam shot-shot yang terkesan sangat muram dengan dominasi paduan warna-warna monokromatik.

WATT6

        Ini juga yang sekaligus menjadi keunggulan terbesar ‘A Walk Among The Tombstones’ sebagai sebuah thriller yang dipenuhi inovasi beda dengan rata-rata pendekatan di genre-nya sekarang. Selagi semua sibuk membangun twist ini dan itu, Frank lebih memilih subtext kuat dari pemilihan set yang berpegang setia ke set waktu di source aslinya ke kombinasi genre-cliche bahkan stylish looks yang kuat sebagai sebuah neo-noir thriller. Subtext paranoia orang-orang di era-nya terhadap perkembangan teknologi informasi memasuki Y2K digarap Frank dengan begitu menarik lewat tampilan mikrofilm, old-generation computers dan ragam alat komunikasi di tata artistik hingga ke selipan dialog-dialog yang ada di dalamnya.

WATT10

          Lantas lihat juga bagaimana adegan klimaks yang seru yang meski dikacaukan dengan religious voiceover tanpa menanggalkan kekuatan pengadeganannya. Dan Frank menjaga tampilannya untuk tetap terlihat old-fashioned, seolah kita tengah menyaksikan thriller yang diproduksi di tahun latar set-nya. Hampir tak ada motivasi yang ditahan-tahan sebagai twist, dengan penjelasan dari karakter-karakter ke layered mysteries yang dibuka dengan narasi begitu rapi satu-persatu. Sementara unlikely partnership antara karakter Scudder dengan bocah T.J. berhasil memberikan distraksi hangat di tengah-tengah feel gritty yang dibangun dengan taburan genre-cliche yang selama ini kerap jadi resep baku di genre-nya, dari psychopath killers, kidnappings, gory murders, torturing scenes and mutilations, tanpa sekalipun menurunkan tensi suspense-nya.

WATT1

         So yes, dengan penokohan serba abu-abu yang menempatkan karakternya hanya seolah berada di lapisan-lapisan antagonis berbeda, ‘A Walk Among The Tombstones’ boleh saja berada di genre criminal thriller yang getir dan lamban dibalik stylish violence dan tampilan neo-noir-nya. Sebagian dari kita mungkin tak suka disodori kompleksitas seperti ini, tapi tak usah khawatir. Feel-nya, tetap tak jauh beda dengan film-film action Neeson lain yang jauh lebih terus terang. Badass. (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 7,181 other followers