CAHAYA DARI TIMUR : BETA MALUKU ; AN EXTRAORDINARY AND INSPIRING NOTE OF HOPE

•June 22, 2014 • Leave a Comment

CAHAYA DARI TIMUR : BETA MALUKU 

Sutradara : Angga Dwimas Sasongko

Produksi : PT Visinema Pictures, 2014

CDT12

            Dari banyak cabang olahraga, sepak bola, agaknya cukup sering muncul di film kita. Walaupun masing-masing punya fokus dramatisasi berbeda dalam wrapping keseluruhannya, dari yang dikemas sebagai film anak seperti ‘Garuda Di Dadaku’ atau ‘Tendangan Dari Langit’ ke sentuhan satir sosial di ‘Hari Ini Pasti Menang’,  pola dasarnya rata-rata sama, berupa kisah perjuangan dari karakter-karakter zero to hero ataupun pencarian-pencarian jatidiri menuju kemenangan penuh makna. Begitu juga dengan kebanyakan sports theme di film-film luar, dimana sebagai penonton, kita semua sudah tahu kemana kita akan dibawa. Namun disitulah bentukan motivasi dalam racikan plotnya menjadi sesuatu yang lebih penting untuk membangun letupan-letupan emosinya. Dimana seperti saat kita mendukung satu kesebelasan dalam real match-nya, interaksi antara karakter-karakter itu mampu mengarahkan empati kita untuk memunculkan harapan-harapan dalam proses finalnya.

CDT19

            ‘Cahaya Dari Timur’ jelas punya fondasi yang menarik untuk itu. Bukan hanya karena ia membawa kisah sejati yang begitu inspiratif dibalik jasa sebuah sosok nyaris tanpa nama terhadap sebagian atlit sepakbola dari Timur Indonesia yang cukup dikenal, tapi juga atas pesan-pesan penting tentang persatuan dalam keberagaman yang meski cakupannya sempit, tapi berdiri diatas konflik panjang yang masih menyimpan luka diantara sebagian penduduk Ambon, Maluku, yang benar-benar menjadi bagian sejarahnya.

CDT3

         Datang dari pengalaman sineas Angga Dwimas Sasongko saat berkunjung ke Ambon dan bertemu dengan seorang tukang ojek mantan pemain Tim Nasional U-15 Indonesia, sebelum berjuang bertahun-tahun mewujudkan proyeknya, ia tahu kalau ini akan menjadi sebuah extraordinary human story yang kuat. Beruntung akhirnya ia mendapatkan dukungan solid dari orang-orang yang mau memberikan kepeduliannya, diantaranya Arifin Panigoro, Gita Wirjawan, Yoris Sebastian hingga Glenn Fredly di kursi produser, sementara dua rekannya yang ikut menulis skrip juga punya catatan spesial. Irfan Ramli memberikan insight karena benar-benar berada disana saat konfliknya terjadi, sementara Swastika Nohara yang menyusun konstruksi adegannya juga sudah teruji baik dari tema olahraga serupa di ‘Hari Ini Pasti Menang’ maupun informasi pengenalan kawasan dari sejumlah tulisannya. Judul ‘Cahaya Dari Timur’ yang datang atas ide Andibachtiar Yusuf ini juga sekaligus direncanakan jadi bagian dari gerakan ‘Voice From The East’ yang bakal mengangkat kisah-kisah inspiratif dari belahan Timur Indonesia itu.

CDT18

           Berada di tengah-tengah konflik golongan dan agama di Ambon, awal tahun 2000, serta menyaksikan sendiri eksesnya terhadap anak-anak disana, mendorong niat Sani Tawainella (Chicco Jerikho), pengojek mantan pemain Tim Nasional U-15 Indonesia di Piala Pelajar Asia 1996 yang gagal menjadi pemain profesional untuk menyelamatkan anak-anak di desa Tulehu tempat ia dan keluarganya berdiam. Ia mengalihkan perhatian dengan mengajak mereka berlatih sepakbola. Bersama Rafi Lestaluhu (Frans ‘Hayaka’ Nendissa), rekannya yang sempat jadi pemain profesional namun pulang akibat cedera, di tengah kesulitan ekonomi menghidupi keluarganya, sekolah sepakbola informal ini tetap bertahan hingga konflik mereda dan anak-anak ini tumbuh menjadi pemain sepakbola muda berbakat yang mulai menarik perhatian banyak orang. Sayang, Rafi kemudian mengambil alih semuanya menjadi sekolah sepakbola resmi pertama dari Tulehu atas tuduhan bahwa baik secara ekonomi maupun waktu, Sani tak bisa konsisten menjadi pelatih mereka. Sani yang sakit hati lantas beralih melatih sebuah kesebelasan dari sebuah SMU atas ajakan Josef Matulessy (Abdurrahman Arif) walaupun awalnya ditentang karena kepercayaan yang berbeda dengan kebanyakan muridnya, dan terpaksa berhadapan dengan timnya sendiri dalam kompetisi antar desa. Lagi-lagi dikalahkan Rafi, ternyata ia yang terpilih sebagai pelatih  tim Maluku yang hendak diberangkatkan ke kompetisi nasional U-15 Indonesian Cup di Jakarta. Kali ini bukan hanya soal kalah menang atau penggalangan dana untuk mencukupi biaya keberangkatan, tapi selain harus berhadapan dengan keputusan Haspa (Shafira Umm), sang istri yang menganggap obsesi Sani sudah terlalu jauh meminta pengorbanannya, timnya mulai terpecah atas perbedaan status dan kepercayaan masing-masing. Dan hanya sebuah keteguhan hati yang bisa menyatukan semuanya.

CDT11

          Oke. Bagi sebagian orang, durasi melebihi 120 menit untuk menyaksikan sebuah film mungkin sedikit menjadi masalah. Namun di saat film-film lain tak mau repot membaginya ke dalam dua bagian walau sebagian besar tak juga diperlukan, proses panjang perjuangan Sani memang sangat relevan untuk dibahas lebih. Bukan hanya karena rentang waktu nyatanya memang panjang, detil-detil penting dalam motivasi hampir keseluruhan karakter pentingnya memang diperlukan dalam membangun emosi yang sulit secara terstruktur. Apa yang ditampilkan Angga, Irfan dan Swastika dalam skripnya sudah sangat efektif dalam persyaratan itu. Semua pengenalan karakter, setup serta motivasi-motivasi yang muncul dalam penceritaannya punya detil yang cukup, tak berlebih, serta tak pula menempatkan karakter sentralnya sebagai martir yang serba heroik.

CDT1

           Instead, mereka membangunnya bertahap dalam batasan-batasan yang sangat manusiawi, membuat sisi-sisi dilematis konflik dalam interaksi karakternya juga tergelar secara humanis, ditambah cara bertutur Angga yang sudah kita lihat dalam ‘Hari Untuk Amanda’. Okelah kalau ‘Jelangkung 3’ baru permulaan dan bukan juga jelek. Tapi dalam ‘Hari Untuk Amanda’, bukan hanya lancar, di tangannya even plot se-simpel itu bisa tersampaikan begitu cantik serta mengaduk-aduk emosi sedemikian rupa. Kita bisa miris melihat betapa niat baik Sani kerap tergelincir menjadi obsesi yang menempatkan kelangsungan hidup keluarganya berada di ujung tanduk, menggerusnya jauh dari sosok suami yang sepenuhnya baik, tapi tetap sulit menolak untuk berdiri di sisi tiap motivasi dan tujuannya.

CDT14

        Memikul tanggungjawab sebagai vehicle utamanya, Chicco Jerikho tampil begitu total dengan performa hebatnya meng-handle porsi perdana sebagai leading role secara tak terduga. Menunjukkan talenta aktingnya sebagai Sani, dengan permainan dialek yang nyaris sempurna, ia bisa terlihat bagai seorang martir perdamaian yang lovable tanpa harus meninggalkan sisi rapuh sebagai suami, ayah serta pelatih yang bisa meledak-ledak tapi tak sekalipun jadi over. Begitu juga dengan karakter-karakter lainnya, dari rekan, seteru, keluarga, side characters lain hingga anak-anak didik bahkan orangtua mereka. Baik Salim ‘Salembe’ Ohorella (Bebeto Leutually), Hari Zamhari ‘Jago’ Lestaluhu (Aufa Assegaf) dan Alvin Tuasalamony (Burhanuddin Ohorella) bahkan Rafi yang diperankan musisi Ambonese hiphop Frans ‘Hayaka’ Nendissa ; semua adalah putra Maluku asli yang mendapat porsi terbanyak dalam penceritaan dan memerankannya dengan luarbiasa terutama Bebeto dan Frans, digambarkan tak lebih dari manusia biasa dibalik perasaan, motivasi dan kepentingan mereka masing-masing.

CDT2

             Cast lainnya pun tak kalah bagus dibalik penataan dialek yang benar-benar detil. Predikat senior Jajang C. Noer sebagai ibu Alvin dan Norman R. Akyuwen yang memang punya latar sebagai acting coach jelas tak perlu ditanya. Sementara Shafira Umm menghadirkan chemistry bagus dengan Chicco dibalik penampilannya yang sangat wajar, Abdurrahman Arif sebagai Josef muncul dengan pendalaman akting jauh berbeda dibanding biasanya, even Glenn Fredly yang ikut di-cast sebagai Sufyan, hingga akting cast-extras terkecilnya, sebagian adalah tokoh daerah asli, juga tergarap dengan sangat baik. Ini juga yang membuat adegan-adegan yang berpotensi jatuh menjadi cemen seperti beberapa scene yang dengan terus-terang menyemat pesan unity in diversity-nya jadi bisa bukan saja terlihat wajar tapi justru sangat menyentuh dan membuat penontonnya ikut tergerak.

CDT15

        Dan bukan hanya cara bertutur dalam bangunan emosinya, latar Angga dalam iklan dan videoklip juga membuat sisi kisah sejati perjuangannya jadi tampil begitu menarik. Penggarapan teknisnya sungguh tak main-main. Bersama sinematografi cantik Roby Taswin (‘Sanubari Jakarta’, ‘Mereka Bilang Saya Monyet’) yang juga merekam lanskap Tulehu serta keseluruhan lokasi asli Maluku lain punya kontras dan kekuatan seimbang dari adegan-adegan konflik ke keindahan situs-situs kawasannya, semangat-semangat dalam adegan pertandingan sepakbola-nya tergelar dengan intensitas luarbiasa. Tanpa mencoba menahan-nahan feel-nya, bagian-bagian klimaks itu muncul dengan feel sekelas banyak film luar dengan sports theme sejenis, bukan hanya tentang sepakbola, dari Asia seperti ‘A Barefoot Dream’ hingga banyak lagi dari Hollywood.

CDT10

          Penempatan slo-mo scenes, detil-detil sports choreography-nya, editing Yoga Krispratama, plus tata suara dari Satrio Budiono, scoring Nikita Dompas dengan sentuhan etnis ke anthemic atmosphere mengiringi football match-nya dan tentu saja lagu-lagu pengiring terutama theme song berjudul unik ‘Tinggikan’ yang dihadirkan Glenn Fredly dengan begitu menggugah, bagian-bagian ini seakan dilepas dengan amunisi bertahap, bahkan dengan selipan-selipan permainan tensi sambil tetap menyempalkan pesan, hingga akhirnya siap meledak menuju scene penalti yang terasa sangat glorious di penghujungnya. Rollercoaster of intense emotions yang tak hanya menempatkan penontonnya gregetan dalam tanjakan emosi secara konstan hingga ingin ikut bersorak memberi dukungan, tapi juga sibuk menyeka airmata termasuk atas hal-hal sepele yang selama ini terasa tak berarti dibalik banyak sudut pandang berbeda, bahwa betapa sebuah pembuktian diatas harapan-harapan baik untuk menyamakan persepsi-persepsi jelek akan perbedaan bisa terasa begitu berarti. Meski skupnya terbatas soal Maluku, tapi isu-isu itu menjadi sangat aktual dan relevan terhadap borok-borok sama yang masih terjadi di Indonesia sampai sekarang.

CDT16

          So, being over 4 years in the process, mungkin seperti inilah seharusnya hasil dari sebuah karya yang digagas sebagai labor of love dari pembuat dan seluruh stakeholder-nya. Satu lagi masterpiece dari Angga, one of Indonesian’s finest yang tak hanya bercerita dengan penuh pesan serta gagasan, tapi juga menghibur dengan membawa semangat serta harapan, apalagi bersama niat untuk membawa penayangannya menjangkau banyak daerah yang belum tersentuh sarana tontonan yang layak, yang hanya bisa terwujud dengan dukungan kita sebagai penonton film Indonesia yang benar-benar pantas untuk didukung. More than just football or sports, ‘Cahaya Dari Timur : Beta Malukuis a truly heartful and deeply moving human story. An extraordinary and also inspiring note of hope. Now let’s be the part and pay it forward! (dan)

22 JUMP STREET : SAME NOTES, NEW VARIATIONS

•June 18, 2014 • Leave a Comment

22 JUMP STREET

Sutradara : Phil Lord & Christopher Miller

Produksi : Media Rights Capital, Original Film, Lord Miller Productions, 2014

22JS4

            Dalam konteks remake serial teve ke layar lebar, apa yang dilakukan duo Phil Lord dan Christopher Miller, bersama ide baru dari Jonah Hill dan Michael Bacall (penulis ‘Scott Pilgrim vs. The World’) lewat ’21 Jump Street’ di tahun 2012 benar-benar kasus langka. Saat rata-rata yang lain menyesuaikan pola dengan source-nya, mereka benar-benar merombak habis pakem dan karakternya secara kreatif dan gila-gilaan. Background-nya boleh sama, tapi cukup terbatas jadi set yang dipindah ke trend masa kini dengan karakter-karakter baru, itupun sebagian besarnya berupa mocking, atmosfer teen action dari serial karya Stephen J. Cannell dan Patrick Hasburgh yang mempopulerkan nama-nama seperti Johnny Depp, Dustin Nguyen sampai Richard Grieco ini dilencengkan ke buddy comedy serba nyeleneh.

22JS2

          Actually, Todd Phillips pernah melakukan hal yang mirip dengan ‘Starsky & Hutch’-nya Ben Stiller dan Owen Wilson di tahun 2004 tapi gagal meramu formulanya. Tapi Lord dan Miller tak begitu. Memasang unlikely pairings dari Channing Tatum dan Jonah Hill, ’21 Jump Street’ berhasil menjadi remake yang sangat fresh. Chemistry-nya luarbiasa, komedinya sinting, namun bukan berarti tak meninggalkan respek terhadap source aslinya. So, when the sequel is inevitable atas kesuksesan yang diraihnya, mereka tentu saja harus menemukan formula baru. Dengan Hill dan Bacall yang masih kembali untuk menggarap ide ceritanya, serta Oren Uziel dan Rodney Rothman (‘Grudge Match’) membantu Bacall di penulisan skrip, pattern-nya masih dipertahankan, ada variasi baru yang spesial untuk fondasi komedinya.

22JS7

        Walau tetap kelihatan lebih tua dari usia mereka, dari SMU, Morton Schmidt (Jonah Hill) dan Greg Jenko (Channing Tatum) kini harus masuk ke Universitas dan menyamar sebagai mahasiswa. Program dari atasan lama mereka, Kapten Dickson (Ice Cube) masih sama, namun kini berubah menjadi 22 Jump Street yang dipindahkan ke seberang lokasi lama. Sama-sama gereja namun kali ini bukan gereja Korea, tapi Vietnam. Tugasnya, menemukan pengedar obat terlarang bernama WhyPhy (dibaca WiFi) yang sudah membunuh seorang siswa disana. Disana, perbedaan karakter mereka tetap memunculkan masalah baru. Selagi Jenko langsung akrab dengan bintang football dan anggota kumpulan elit, Zook (Wyatt Russell) dan Rooster (Jimmy Tatro), Jenko justru jatuh cinta dengan mahasiswi seni Maya (Amber Stevens). Kekonyolan demi kekonyolan mulai terjadi dengan merenggangnya hubungan Schmidt dan Jenko hingga akhirnya mereka menemukan bahwa kasus ini terhubung ke Ghost (Peter Stormare), pengedar kawakan yang gagal mereka ringkus di misi sebelumnya, dengan satu penghubung misterius yang tak seperti mereka perkirakan sebelumnya.

22JS10

 

 

          Bermain di grey area antara sebuah penggabungan meta penuh nods dari teen-college dan buddy movies dengan full parody ke genre-nya ala ‘National Lampoon’s Loaded Weapon 1’ yang terlupakan dan tak berlanjut itu, which is actually a bit different, Lord-Miller-Bacall dan Hill benar-benar membawa idenya jadi sesuatu yang benar-benar menarik dan membawa sekuelnya ke level baru. Jualan utamanya tetap bermain di nada-nada komedi yang sama, sick jokes dengan elemen-elemen jagoan di instalmen sebelumnya. Namun hal paling asyik dari variasi baru penelusurannya justru membuat ’22 Jump Street’ seolah jadi permainan trivia yang tak cukup sekali disaksikan untuk menangkap homage ke tiap jokes-nya.

22JS8

           Dari serial komedi ‘Benny Hill’, ‘Annie Hall’, many teen/college movies over decades ke banyak buddy action comedy seperti ‘Beverly Hills Cop’, ‘Bad Boys’, ‘Lethal Weapon‘,  bahkan cop thrillers yang jauh lebih serius seperti ‘Point Break‘ atau ‘Silence of The Lambs‘ plus filmografi masing-masing cast utamanya (oh yeah, ‘Step Up’ dan ‘White House Down’ jelas termasuk salah satunya), nods, mocking dan parodi itu jadi perpaduan sangat solid untuk membangun komedinya secara gila-gilaan. Sick jokes-nya tetap tolol setengah mati, lengkap dengan homoeroticism bromance yang makin di-push ke level sinting, pengulangan drug hallucination scene secara berbeda dari sebelumnya, tapi cara mereka menyempalkan tribute-tribute penuh spoof itu memang luarbiasa pintarnya. Even beberapa comedic scene-nya jelas jadi referensi yang bakal diingat sampai kapanpun.

22JS6

           Dan tak hanya itu, mereka sekaligus juga melakukan mocking terhadap trend sekuel Hollywood, sementara kepentingan terhadap sisi action-nya juga sama sekali tak tertinggal. Sama seperti ’21 Jump Street’, tetap ada ruang yang disisakan untuk menggempur adegan-adegan aksi seru yang berjalan sama menarik dengan laugh out loud comedy-nya. Chemistry Hill dengan Tatum mencapai level bahkan lebih lagi dengan porsi Ice Cube untuk lebih menekankan nods ke seabrek karakter angry captains or higher rank officers di genre action, skripnya jadi seakan benar-benar lepas kontrol, bisa kemana saja untuk menyematkan trivia-trivia-nya di tiap adegan yang ada.

22JS3

         Masih ada Amber Stevens untuk mengisi porsi female lead-nya bersama Jillian Bell, komedian berpostur aneh yang jelas bakal makin dilirik ke depannya nanti, Wyatt Russell, putra Kurt RussellGoldie Hawn yang sangat mencuri perhatian sebagai Zook serta cameo dari Dave Franco dan Rob Riggle dari film pertama plus Patton Oswalt dan Queen Latifah. Jangan lupa juga bonus scenes yang digelar seiring end credits-nya sebagai salah satu highlight paling kreatif serta gila dari sekuel ini. While many of us would miss Dustin Nguyens cameo, rolling credits ini memunculkan lebih lagi dari Bill Hader, Anna Faris, Seth Rogen hingga Richard Grieco dari original series-nya.

22JS1

      So yes, dalam penekanan variasi-variasi baru untuk membangun sisi komedinya tadi, sekuel ini tetap bisa membuat kejutan-kejutannya tampil dengan sangat fresh bahkan melebihi instalmen sebelumnya. Playing on the same notes but with new variations, this one will make you laugh so loud ’til you jump out your ass. Freakin’ hilarious! (dan)

22JS9

MARI LARI : THE MARATHON OF LIFE

•June 16, 2014 • Leave a Comment

MARI LARI 

Sutradara : Delon Tio

Produksi : NaTIOn Pictures, 2014

ML1

            Let’s take a look back. Kapan film Indonesia terakhir punya sports theme tentang lari? Not sinceGadis Marathon’ (1981), but oops, itupun adalah unofficial ripoff, produk copy paste tanpa malu-malu dari joint venture AS-Jepang ‘My Champion’ yang dibintangi Chris Mitchum dan Yoko Shimada, yang beredar nyaris bersamaan disini. So, sekarang, ketika olahraga-nya kembali jadi trend yang berkembang lebih jadi sebuah kepedulian bahkan menjamur ke banyak komunitas, seperti salah satu yang paling besar, Indo Runners, mungkin sudah saatnya tema itu diangkat kembali ke layar lebar.

ML4

            Tapi ‘Mari Lari’ yang jadi debut penyutradaraan Delon Tio ini bukanlah sebuah sport movie biasa, bukan pula dalam bentuk paling basic berupa drama yang sekedar menggunakan tema olahraganya sebagai sekedar pelengkap. Beranjak dari kursi produser lewat film-film seperti ‘Claudia/Jasmine’, ‘Rumah Dara’ dan ‘Simfoni Luar Biasa’, rata-rata adalah film kita yang bagus, Delon memang menggagas ‘Mari Lari’ dengan passion lebih sejak awal. Mungkin karena ia juga seorang pelaku olahraga ini sekaligus bagian dari komunitasnya, begitu juga penulisnya, Ninit Yunita, juga memulai debut scriptwriter-nya disini, dua tema yang menyorot olahraga serta filosofi lari itu sama-sama berperan sebagai subjek sekaligus fondasi kuat bagi dramatisasi plot-nya. Tentang hubungan keluarga, father to son, dan pencarian tujuan dari proses yang tak pernah terselesaikan. The marathon of life.

ML9

            Sebagai anak satu-satunya dari seorang motivator mantan atlet lari, Rio (Dimas Aditya) tak punya disiplin seperti Tio Kusumo (Donny Damara), ayahnya. Selalu berlindung pada ibunya (Ira Wibowo) dari kecil, ia tak pernah menyelesaikan apa yang sudah dimulainya. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga kuliahnya dropout dan Rio diusir keluar dari rumah. Sambil kuliah di jurusan baru tapi lagi-lagi mandeg di penulisan skripsi, Rio bekerja sebagai sales underdog di sebuah showroom mobil atas bantuan sahabatnya (Dimas Argoebie). Semua masih sama hingga akhirnya sang ibu meninggal.  Terpaksa kembali ke rumah untuk menghormati permintaan terakhirnya, Rio akhirnya termotivasi untuk memberi pembuktian pada ayahnya, menggantikan ibunya untuk bergabung dalam sebuah marathon di Bromo. Namun persyaratan dari Tio bukan mudah, dan untuk mempersiapkan janjinya, Rio akhirnya bergabung dengan komunitas lari Indo Runners dimana ia bertemu dengan Anisa (Olivia Lubis Jensen). Memulai semua kembali dari awal, namun kali ini dengan sebentuk keteguhan untuk benar-benar mencapai garis finish.

ML6

            Sebagai bagian dari komunitas dengan kepedulian lebih itu, Delon dan Ninit memang mempersiapkan plot-nya dengan benar-benar matang. Basic-nya tetap sebuah human story, mostly about father to son, diatas pakem zero to hero genre sejenis dari karakter utama yang tak pernah bisa menyelesaikan semua yang dimulainya. Tapi disana juga filosofi-filosofi lari itu bisa tertuang dengan sejalan. Bagaimana masing-masing karakternya bisa bertahan hingga mereka mencapai garis akhir tujuannya, dengan seabrek problem dari masalah kuliah, kerja hingga sempalan kisah cinta yang membuat penontonnya merasa begitu connected tanpa harus jadi tumpang tindih tapi tetap menonjolkan benang merah soal lari ke tengah-tengahnya. Dan di sela-sela perpaduan filosofi itu mereka dengan leluasa bisa menyampaikan informasi lebih tentang trend, style, pandangan-pandangan komunitas sekaligus menyebarkan kepeduliannya. Dari sejarah marathon yang digelar dengan menarik lewat sentuhan animasi, tips untuk bisa menjadi pelari yang baik sampai info-info gizi dan kesehatan untuk bisa bertahan di lapangan.

ML2

            Dan inilah hal terbaik dalam ‘Mari Lari’. Script-wise, kekuatan utama dalam skrip Ninit adalah setup, motivasi karakter hingga proses-proses interaksi yang digelar sangat terstruktur luarbiasa rapi sedari awal. Ia tahu kapan harus melepas dan menahan bagian-bagian konflik serta kepentingan karakter-karakternya untuk membentuk sinkronisasi racikan yang bagus antara elemen-elemen filosofi, human story juga informasi-nya. Bahkan karakter-karakter terkecilnya yang diperankan oleh Ira Wibowo, Verdi Solaiman, Dimas Argoebie, Ibnu Jamil atau Amanda Zevannya punya peran untuk membangun setup tiap karakter utamanya secara lebih kuat. Membuat pemirsanya secara perlahan merasa terhubung ke karakter-karakter ini. You could expect differently, but in the end, hanya fokus utamanya yang mengantarkan pemirsanya ke garis akhir kisahnya.

ML8

          Penyutradaraan Delon juga dengan baik memberi batasan jelas untuk tak tergelincir ke dramatisasi cemen yang di kebanyakan film kita akhirnya jadi bingung menyelesaikan konflik demi konflik yang mereka gelar secara berlebih. Restrained at times, bahkan tanpa scoring serba mellow yang terlalu mengarahkan emosinya dari Ricky Lionardi, tapi menggantikannya dengan atmosfer anthemic bersama pemilihan lagu-lagu yang sama bagusnya, salah satunya theme song daur ulang ‘Marilah KemariTitiek Puspa (now titledMarilah Berlari’) dari Alexa, permainan emosi ini jadi terbangun dengan sangat baik, tak sekalipun jadi overdramatized dengan proses-proses yang benar-benar wajar. Tak seketika saling berpelukan dan selesai seperti rata-rata yang kita lihat di film sejenis. Ada sedikit resiko di pace-nya, tapi percayalah, tak lantas jadi berpanjang-panjang dan tetap membuat penontonnya merasa tersentuh di konflik-konflik utamanya.

ML3

           Chemistry-nya pun jadi mengalir bersama style penceritaan itu. Dimas Aditya dan Donny Damara jadi vehicle utama yang sangat sukses membangun father to son theme yang kuat, tapi bukan berarti mengecilkan mother’s part-nya, sementara Olivia Jensen juga jadi distraksi manis yang memperkuat motivasi karakter Rio dengan wajar dan tak berlebihan. Selebihnya masih ada penggarapan teknis yang baik dari tata kamera Aryo Chiko B., merekam scene-scene marathon-nya dengan menarik berikut sepenggal lokasi Bromo tetap bagus tanpa harus menggeser fokus penceritaannya. Kalaupun harus ada sedikit kritik, product placement-nya kadang masih terasa kasar walaupun tak sampai mengganggu.

ML5

             Pada akhirnya, memang sayang sekali kalau lagi-lagi produk sebaik ini mesti mengalah dengan sistem serta minimnya jumlah penonton terutama dari komunitas terkait yang mau meluangkan waktu mereka untuk sebentuk dukungan lebih layak dengan datang ke bioskop menyaksikannya. But I tell you what. Sungguh bukan sesuatu yang mudah mendapat film kita yang berani menyentuh tema berbeda, here, running as quite rare sports theme, dan menghidangkannya dengan filosofi serta nilai informasi yang solid, juga menyebarkan kepeduliannya seperti ini. ‘Mari Lari’ sudah melakukan semuanya dengan sangat baik. A story about life’s finish line that comes from the heart, made by heart, and without being overdramatized, wrapped with love. The marathon of life. (dan)

ML7

Nice promotion poster by @IskandarSalim

HOW TO TRAIN YOUR DRAGON 2 : RIDE AN EVEN GREATER ADVENTURE!

•June 15, 2014 • Leave a Comment

HOW TO TRAIN YOUR DRAGON 2

Sutradara : Dean DeBlois

Produksi : DreamWorks Animation, 2014

HTTYD232

            Back in 2010, tak ada yang menyangka bahwa produksi DreamWorks Animation ini akan menjadi sebesar sekarang. Okay, dari segi branding dan merchandising, franchise-nya mungkin tak sehebat ‘Madagascar’ atau ‘Kung Fu Panda’ dengan kids-friendly characters yang terpampang dimana-mana, tapi jangan tanya dari sisi teknis animasi dan resepsi seimbang antara kritikus dengan penonton. However, lebih dari visual highlights plus salah satu pemanfaatan gimmick 3D terbaik yang pernah ada hingga mengundang ketakjuban itu, hal terbaik dari kolaborasi Chris Sanders dan Dean DeBlois, keduanya konseptor ‘Lilo & Stitch’, yang diangkat dari book series Inggris karya Cressida Cowell ini adalah bagaimana mereka mengemas plot enemies become friends dengan unsur-unsur yang sebenarnya sangat dewasa bahkan sangat eksplisit secara realita menyangkut kematian dan disabilitas fisik bisa menyatu dengan atmosfer animasi dan character concept segala umur yang tetap fun serta sangat seru.

HTTYD21

            Kini, meninggalkan Dean sendiri dalam penyutradaraan serta skripnya karena Chris Sanders tengah disibukkan dengan proyek ‘The Croods’, rencana sekuelnya pun seakan punya kewajiban lebih dari pencapaian film pertamanya. Inovasi dalam storytelling yang tetap mengemas unsur-unsur dewasa itu tetap menjadi poin krusial di wilayah-wilayah ambiguitas musuh dan teman, sementara visual development-nya digagas lebih lagi dengan merekrut Roger Deakins, sinematografer kawakan sebagai konsultan. Semua voice talent-nya kembali, bahkan dengan tambahan Cate Blanchett sebagai salah satu karakter pentingnya. So yes, it’s really intriguing untuk melihat sejauh mana mereka bisa menggagas pengembangannya.

HTTYD233

 

            Lima tahun setelah perdamaian bangsa Viking Berg dengan para naga yang bukan saja bekerja, menjaga desa hingga jadi tunggangan para dragon riders ini, Hiccup (Jay Baruchel) yang tetap bersahabat, sharing their disablities, dengan naga langka dari spesies Night Fury, Toothless, masih menyangsikan kemampuannya untuk menggantikan peran ayahnya, Stoick the Vast (Gerald Butler) sebagai kepala suku. Masalah kembali muncul kala Hiccup dan Astrid (America Ferrera) mendapati sekelompok penangkap naga yang dipimpin oleh Eret (Kit Harington). Mengetahui bahwa atasan Eret adalah Drago Bludvist (Djimon Hounsou), pemburu naga yang pernah punya konflik dengan Stoick, Stoick pun memerintahkan sukunya untuk berjaga-jaga. Namun Hiccup bersikukuh untuk mengadakan perundingan dengan Drago. Melarikan diri dari Berg, ia pun terjebak di sebuah daerah terasing tempat para naga hidup dan dijaga oleh alpha dragon, sesosok naga raksasa dan Valka (Cate Blanchett), yang ternyata merupakan rahasia terpenting dari masa lalu Hiccup dan Stoick. Soon, bersama Stoick, Astrid dan rekan-rekannya yang menyusul kesana, mereka harus berhadapan dengan Drago yang juga memiliki alpha dragon-nya dan siap untuk membuat semua naga berbalik menjadi musuh mematikan, termasuk Toothless sendiri.

HTTYD22

 

            Look at that plot. Tetap berbenturan dengan elemen-elemen sangat dewasa yang ada di instalmen awalnya, malah dengan satu unsur ekstrim yang akan sedikit sulit diterima para pemirsa belia, ‘How To Train Your Dragon 2’ ternyata masih menyimpan kekuatan yang sama untuk men-tackle blend keseluruhannya. Teknis animasinya tetap juara, namun mungkin tak lagi mengundang ketakjuban sama atas penggunaan gimmick 3D semaksimal pendahulunya. Disini, DeBlois dan timnya lebih memusatkan kekuatan pada set visual lewat sinematografi animasi cantik dibawah bantuan Roger Deakins sebagai konsultannya. On much bigger scale, ini sangat berhasil membuat feel adventure-nya jadi semakin dahsyat meski tak lagi membawa highlight dragon riders POV seperti rollercoaster ride yang sangat solid di film sebelumnya.

HTTYD27

 

            Pendalaman plot-nya pun tetap menunjukkan keunggulan yang sama atas tendensi-tendensi melahirkan sebuah petualangan seru yang jauh melebihi kompleksitas animasi-animasi sejenis. Turnover plot di 20 menit akhirnya benar-benar luarbiasa serius bak sebuah live action dewasa, tapi tak lantas berarti menghilangkan simpati ke salah satu karakter, juga tak meluluhlantakkan feel fun-nya sebagai tontonan segala umur. Selagi scoring dari John Powell terasa sangat anthemic, perpaduan desain karakternya tetap menggaris batas ini dengan tegas, membangun kontras antara awkwardness Hiccup yang sangat cartoonish, yang tetap dihidupkan dengan bagus oleh Jay Baruchel, berikut tampilan Toothless yang cenderung childish namun bisa berubah dengan keperluan penaikan intensitas konfliknya, dengan voice talent Gerald Butler, Cate Blanchett dan Djimon Hounsou buat mengisi part yang lebih serius. Sebagai penyeimbang komedik untuk tetap membuat sisi fun-nya hadir dengan solid, meski porsi Christopher Mintz-Plasse, Craig Ferguson, T.J. Miller dan Jonah Hill ditekan jauh, masih ada Kristen Wiig dan karakter baru yang diisi oleh Kit Harington sebagai Eret.

HTTYD29

 

 

            So yes, ini memang sebuah sekuel yang bisa dibilang mampu melampaui predesesornya dengan detil-detil beda diatas konsep sama yang masih dipertahankan, dan itu artinya sungguh spesial. Menolak untuk bermain aman sebagaimana rata-rata sekuel dari franchise sukses, menyelami lagi unsur-unsur unlikely-nya dengan berani bahkan secara ekstrim tanpa mengorbankan moral-moral interkoneksi keluarga, ekologi, redemption even seni perang diatas plot friends and enemies-nya, ini adalah salah satu kandidat terbaik summer movies tahun ini, or even one of the best animated sequel ever. Now go ride this even greater adventure, and be amazed. Be really amazed! (dan)

HTTYD25

KETIKA TUHAN JATUH CINTA : TYPICAL PATTERNS OF INDONESIAN RELIGIOUS DRAMA

•June 14, 2014 • Leave a Comment

KETIKA TUHAN JATUH CINTA

Sutradara ; Fransiska Fiorella

Produksi : Studio Sembilan Production, Leica Production, 2014

KTJC6

            Here’s a thing. Mau sudah seberapa lelah pun sebagian orang mencemooh genre drama reliji baik di layar lebar maupun televisi, genre-nya harus diakui masih jadi komoditas pasar yang cukup menjual di masyarakat kita. Paling tidak, list-list film lokal terlaris di negara kita masih terisi paling tidak oleh sejumlah genre-nya, belum lagi menyebut rating sinetron. Ditambah kebiasaan produser sekarang yang kerap mencari-cari source novel untuk dijadikan film sebagai jaminan yang diyakini bakal menjual, kali ini ada ‘Ketika Tuhan Jatuh Cinta’, tetap dengan judul yang hampir selalu harus terdengar puitis. Diangkat dari novel karya Wahyu Sujani, pattern-nya masih tak jauh berbeda, memuat POV-POV relijius dari sisi Islami diatas sebuah cerita cinta yang lagi-lagi, sangat tipikal. But wait. Deretan cast-nya mungkin cukup menarik buat lebih disimak.

KTJC3

            Meski punya bakat lebih dalam membuat lukisan pasir, Fikri (Reza Rahadian) selalu ditentang oleh ayahnya (Joshua Pandelaki). Dukungan ibunya (Dewi Irawan) serta adiknya, Humaira (Tamara Tyasmara) pun tak bisa mencegah kekerasan hati sang ayah yang menyebabkan Fikri terpaksa keluar dari rumahnya. Hidup luntang-lantung sambil menitipkan lukisannya ke galeri Koh Acong (Didi Petet) dengan anak perempuan cantiknya Lidya (Renata Kusmanto) yang sangat suportif menyiapkan pameran buat Fikri, ia masih menyambangi pujaan hatinya semasa kuliah, Leni (Aulia Sarah) yang sudah menjadi asisten dosen di sebuah perguruan tinggi. Namun perbedaan status ini membuat keduanya tak bisa meresmikan hubungannya. Leni dijodohkan oleh ayahnya (Roy H.Karyadi) sementara Fikri menolak ajakan Leni untuk kawin lari. Sementara Lidya malah jatuh ke dalam pelukan Irul (Ibnu Jamil), sahabat Fikri yang playboy hingga hamil dan Humaira terpaksa melepas jilbabnya diam-diam agar diterima bekerja di sebuah hotel. Ketika Leni yang tidak bahagia dengan pernikahan paksanya berniat melepaskan diri, Fikri justru mulai dekat dengan Shira (Enzy Storia), seorang penggemar setia lukisannya, dan pasca kecelakaan hubungannya dengan Irul, Lidya yang berbeda agama malah mulai menggantungkan hatinya pada Fikri.

KTJC2

            See? Ini memang tak lebih dari sebuah gambaran kisah-kisah drama cinta berbalut nuansa reliji yang sudah berulang kali kita konsumsi dari berbagai media. Oke, mungkin memang selalu ada nilai-nilai kebaikan yang ingin diangkat dari gambaran para karakternya dalam menghadapi masalah-masalah duniawi untuk dibenturkan ke prinsip-prinsip reliji, namun selebihnya, namun secara keseluruhan lagi-lagi memusatkan pandangan dan dakwah-nya secara sempit ke masalah paling basic dari hubungan laki-laki dan perempuan di resepsi-resepsi seputar ranjang. Sebagai tambahan, bukan konflik namanya kalau tak lagi-lagi harus hadir dengan penggambaran sudah jatuh, tertimpa tangga, ketabrak mobil, kecebur got and so on, dimana yang namanya cobaan tak akan jauh-jauh dari semua karakternya.

KTJC7

            Tak sepenuhnya salah memang, karena dalam wujudnya sebagai produk dagangan, penonton kita memang gemar sekali menikmati visualisasi tipikal seperti ini. Orangtua yang marah-marah secara over acting (here, two of the dad characters are monsters), karakter utamanya berkiriman pesan sambil senyum-senyum sumringah yang hanya dibedakan oleh istilah atau pakem reliji tertentu, korban perjodohan yang menolak untuk, maaf, disetubuhi pasangannya, getaran-getaran cinta segitiga atau lebih dari karakter-karakternya secara tak kalah tipikal seperti dalam urusan masak-memasak atau melayani dalam urusan lain dimana yang satu pasti bakal dicemburui yang lain, ini dengan mudah akan membuat pemirsa penyukanya gemas ber-ahh, ahh, sewaktu menyaksikannya. Lengkap pula dengan gambaran karakter playboy dan masalah lebih tipikal film kita soal hamil di luar nikah yang ujung-ujungnya memunculkan dialog klise dimana si pria menolak untuk bertanggung jawab.

KTJC4

            Walau pattern ceritanya memang seperti itu, atau entah skrip yang ditangani sendiri oleh Wahyu dan Daniel Tito, kesalahan utamanya mungkin memang ada pada storytelling sutradara Fransiska Fiorella (nama alias dari Chiska Doppert) yang memang sudah sangat terbiasa di ranah-ranah tipikalisme seperti ini. Di tema-tema percintaan remaja, mungkin sah-sah saja ia tak mau lebih mengeksplorasi hal-hal tipikal seperti ini, tapi mendarat ke tema reliji yang masih belum biasa dilakoninya, ia malah keterusan menampilkan sebuah adegan antara Ibnu Jamil dan Renata Kusmanto yang maaf, sangat tidak pantas ada di genre reliji seperti ini. Tanpa harus menampilkan gestur, maaf lagi, bangun tidur sehabis ML dengan menggaruk-garuk testikel dibalik selimut, toh sebenarnya Ibnu Jamil sudah cukup sukses memerankan karakter Irul yang playboy. Lagi-lagi, ini mungkin memang disukai oleh sebagian penonton kita. Dan mereka cukup yakin dibalik rencana membuat sekuelnya sampai kabarnya 7-8 film, apalagi dengan sambutan yang memang cukup lumayan.

KTJC8

            But however, kecuali beberapa tampilan overacting terutama dari Roy H.Karyadi dan Joshua Pandelaki yang benar-benar se-klise film-film kita yang lain, harus diakui kalau ‘Ketika Tuhan Jatuh Cinta’ memang punya sederet cast yang sangat kuat. Reza Rahadian jelas tak pernah mengecewakan mendalami karakternya. Di tangannya, sosok Fikri yang punya sifat nyaris tanpa cacat sebagai sosok hero yang wise, alim serta mandiri sebagaimana yang dibutuhkan genre-genre seperti ini, tampil dengan sangat baik. Aulia Sarah, Renata Kusmanto, Enzy Storia hingga senior seperti Dewi Irawan dan Didi Petet, meskipun yang terakhir ini lagi-lagi agak maksa buat berperan sebagai seorang Cina pemilik galeri hanya dengan penekanan makeup, juga bagus.

KTJC9

              Di luar blunder adegan yang kurang pantas tadi, Ibnu Jamil pun cukup bagus sebagai Irul, dan yang lebih spesial bisa menyaingi akting mereka semua adalah pemeran Humaira, Tamara Tyasmara. Lihat adegan menjelang ending yang dilakoni Reza bersamanya dengan penuh emosi tanpa harus jadi berlebihan, bahkan membuat hal-hal tipikal tadi jadi benar-benar bagus buat bangunan emosi yang diperlukan untuk membuat rata-rata pemirsanya jadi ingin menunggu kelanjutannya. Kekuatan lainnya ada pada sinematografi yang dibesut Ari Fatahilah. Berbeda dengan posternya yang serba seadanya, kalau tak mau dibilang asal jadi, deretan gambar-gambar dalam ‘Ketika Tuhan Jatuh Cinta’ bisa dihadirkan dengan cukup berkelas.

KTJC11

           So begitulah. Ini memang bukan ’99 Cahaya Di Langit Eropa’ yang paling tidak mau mencoba menyuguhkan pattern dakwah serta konflik-konflik baru diantara tipikalisme genre yang belum bisa sepenuhnya dihindari, tapi lebih dekat ke film-film seperti ‘Ketika Cinta Bertasbih’. Malah lebih dari bahasan, benturan serta pesan-pesan kebaikan dibalik tema relijinya yang akhirnya hanya hadir tak lebih lewat ikon-ikon penggunaan bahasa Arab, dialog atau kostum hanya sebagai atribut, ‘Ketika Tuhan Jatuh Cinta’ agaknya tak lebih dari sekedar melodrama tipikal di banyak film kita dari tempo doeloe hingga sekarang. Cuma satu bedanya, ia memang cukup terselamatkan oleh cast serta sedikit sisi teknis penggarapannya. Chiska mungkin harus belajar lebih lagi kalau benar-benar mau berubah ke arah yang lebih baik dengan nama baru yang disandangnya. (dan)

VIVA JKT48 : A CHARMING AND ENERGETIC CELEBRATION OF THE IDOL GROUPS TREND

•June 10, 2014 • Leave a Comment

VIVA JKT48 

Sutradara : Awi Suryadi

Produksi : Maxima Pictures, 2014

JKT486

            Kecuali bagi penggemar sejatinya, mungkin tak banyak yang tahu sejak kapan sebenarnya fenomena idol groups dalam kultur pop Jepang ini dimulai dengan tahapan-tahapan perkembangannya. Namun popularitas salah satu ikon terpopulernya, AKB48, beberapa tahun terakhir ini memang benar-benar fenomenal. Dan ini berbeda dengan sekedar fandom biasa terhadap sosok grup musik atau penyanyi. Lebih dari itu, mengambil konsep ‘idols you can see everyday’, scene di seputar event panggungnya sampai seolah punya universe dan ensiklopedi tersendiri dari style hingga penggunaan istilah-istilah tertentu, nyaris bagai sebuah kultur baru. Tak hanya membuat trend itu jadi menjamur ke seluruh bagian kota atau distrik di Jepang, tapi juga merambah Indonesia, dimana JKT48 yang dibentuk resmi tahun 2011 merupakan grup saudari AKB48 pertama di luar Jepang yang mengadopsi semua budayanya, dari pertunjukan rutin yang dinamakan Teater JKT48 secara rutin di sebuah mal Jakarta, hingga transfer personilnya.

JKT481

            Yang lebih hebat tentulah sambutan penggemarnya, yang dengan cepat juga mengadopsi kultur aslinya. Bagi sebagian orang, ini mungkin cukup lucu, dimana tingkatan fandom terhadap grup idolanya kadang sudah benar-benar melewati batas fanatisme yang selama ini ada, hingga berjuang untuk bisa bersalaman dalam hitungan detik dalam event yang disediakan manajemennya. Tapi yang lebih menyita perhatian tentulah barisan penggemarnya yang rata-rata merupakan lawan jenis, mostly bukan pula dari usia yang sepadan dengan personil-personil atraktif yang dipilih secara ketat ini. Apapun itu, kultur ini memang layak mendapat sorotan lebih. Apalagi sebagai jualan layar lebar, dimana dari jauh-jauh, rencana pembuatan film berjudul ‘Viva JKT48’ dari sutradara Awi Suryadi ini sudah menyita perhatian banyak orang. Bagi fans, ini jelas mereka inginkan, sementara bagi selebihnya, seru juga untuk mengetahui bahwa fenomena seperti ini benar-benar ada.

JKT488

            And oh no, ia tak lantas menggamit keseluruhan personil yang hingga kini berjumlah 72 orang ke dalam filmnya. Meski masih ditambah penampilan beberapa personil lain, ‘Viva JKT48’ berfokus ke hanya 8 member-nya, Melody (Melody Nurramdhani Laksani), A-chan (Ayana Shahab), Nabilah (Nabilah Ratna Ayu), Shania (Shania Juniantha), Rona (Rona Anggreani), Haruka (Haruka Nakogawa), Naomi (Shinta Naomi) dan Cindvia (Cindy Yuvia). Menemukan diri mereka terdampar masing-masing dalam 8 koper di Pulau Komodo, tanpa mengetahui apa yang benar-benar terjadi, mereka harus menelusuri apa yang terjadi dibalik niat jahat seorang wanita bernama Miss Kejora (Ayu Dewi). Dibantu 3 fans setianya (Mario Maulana, Bobby Samuell & Ciput), mereka pun meyakinkan manager Takeshi (Nobuyuki Suzuki) untuk berjuang merebut teater mereka kembali.

JKT485

            Okay. Dalam sebuah selebrasi popularitas subjek-subjek sejenis yang memang tak jauh dari anggapan-anggapan aji mumpung, mungkin tak ada yang terlalu spesial dari plot-nya. Namun Awi agaknya benar-benar menyelami lebih konten yang ingin diangkatnya ke layar. Resepnya pun masih berada di elemen-elemen tipikal dimana ikon-ikon popularitas mereka termasuk penempatan lagu-lagu hits dan aksi panggung subjeknya wajib ditampilkan sebagai highlight utama, namun lebih dari sebuah visual companion biasa yang terbatas hanya jadi sajian hura-hura, Awi memang punya tanggung jawab lebih besar terhadap para fans sekaligus penyampaian informasi dari kultur baru dunia pop tadi, tanpa juga meninggalkan wujud aslinya sebenar-benarnya sebagai sebuah tontonan hiburan.

JKT484

            Naskah yang ditulis oleh Alim Sudio, Cassandra Massardi dan Raditya Mangunsong juga dengan jeli melihat celah-celah ini. Selagi 8 member sebagai fokus utamanya dibiarkan mengambil patron nyata sebagai diri mereka sendiri, sebagaimana di film-film dengan basis sama sekaligus mengakomodir apa yang diinginkan fans yang memang punya fanatisme lebih dibandingkan idola lain, mostly tanpa juga harus menonjolkan salah satu tapi lebih secara bersama-sama, informasi terhadap kulturnya disematkan lewat karakter tiga fans yang diperankan oleh Mario Maulana, Bobby Samuell dan Ciput. Malah, keberadaan karakter mereka juga bisa jadi fan service yang solid, membuat fans-nya yang punya sebutan ‘wota’ itu merasakan wujud dukungan yang biasa mereka berikan ke idolanya untuk berjuang bersama-sama. Ikon-ikon penting seperti signature event dan penggunaan lightstick yang khas dalam teater-teaternya juga muncul dengan baik serta menarik.

JKT489

           Dan semua tetap berada dalam garis batas komedi yang tak punya ambisiusme lebih dalam storytelling-nya, dimana kekonyolan yang dihadirkan bukan juga jadi tak relevan. Penampilan Ayu Dewi, menggantikan Cut Mini Theo yang semula sudah banyak dipublikasiyang seperti biasa, kelewat komikal, mungkin terasa annoying bagi sebagian penonton, namun blend-nya tak lantas jadi lari kelewat jauh dengan tone keseluruhannya. Toh hampir semua karakter yang dihadirkan sama-sama komikal. Masih ada beberapa cameo dari komedian dan komik Indonesia seperti Djaitov Yanda dan Babe Cabita yang bekerja cukup baik mengisi selipan-selipan komedinya. Namun hal terbaiknya tentulah pengarahan Awi yang benar-benar tahu arahnya mau dibawa kemana. Potensi lebihnya dalam produk-produk iklan atau videoklip sudah sangat sesuai dengan kapasitas yang diperlukan, capturing all the crucial elements dibalik dunia JKT48 yang fenomenal ini jadi tersampaikan dengan sangat menghibur.

JKT4811

        So, dalam kapasitas yang jauh berbeda dari film-film sejenis yang kenyataannya hadir sebatas companion hura-hura belaka, ‘Viva JKT48’ ini memang punya kekuatan lebih. More than just a light entertainment, ia hadir sebagai sebuah selebrasi yang solid, baik sebagai fan service yang bagus, membawa mereka ke sebuah petualangan baru menyaksikan idolanya, sekaligus informatif lewat sebuah potret menarik terhadap eksistensi kulturnya yang spesial. A charming, fun and energetic celebration of the idol groups trend. Now see it if you want to know more. (dan)

OCULUS : A NEW DOSE OF DREAD

•June 8, 2014 • Leave a Comment

OCULUS

Sutradara : Mike Flanagan

Produksi :  WWE Studios, Intrepid Pictures, Blumhouse Productions, 2014

OC3

            Katanya, horror adalah salah satu genre paling taktis bagi pembuatnya. Selain jarang-jarang perlu star factors untuk jualan utamanya, dibalik demand utama tampilannya agar bisa menakut-nakuti pemirsanya, teknis-teknis minimalis juga lebih sering bisa bekerja membangun feel-nya. Belum lagi soal word of mouth lebih bombastis saat produknya berhasil membuat penonton ketakutan. So you could make a good one even with limited budgets. Ada benarnya.

OC1

Then, what makes a good horror? Jawabannya bisa sangat beragam. Namun di saat trend yang tak pernah mati dan terus digemari penonton ini terus-menerus menawarkan pendekatan yang itu-itu saja, sesuatu yang beda bisa terasa fresh. Dan Mike Flanagan agaknya tahu itu. Diangkat dari film pendeknya, ‘Oculus: Chapter 3 – The Man With The Plan’, versi panjang ini kemudian melangkah ke layar lebar dan cukup menarik perhatian dengan world premiere-nya di Toronto International Film Festival tahun lalu. Dan memang benar, ‘Oculus’ bukanlah sebuah horor yang menempatkan amunisi utamanya demi sebuah high profile looks, tapi sama seperti source-nya, meski premisnya tak benar-benar baru, sebuah kekuatan ide dibalik segudang resiko yang ada.

OC2

Setelah serangkaian trauma masa kecil mereka, Tim (Brenton Thwaites) yang baru keluar dari RSJ kembali bertemu dengan adik perempuannya, Marie (Karen Gillan) yang sudah bekerja sebagai petugas pelelangan barang antik dibalik sebuah tujuan. Namun berbeda dengan Marie yang tetap memegang janji mereka sebelum terpisah atas keberadaan sebuah cermin antik dengan kekuatan supranatural yang dianggap jadi pemicu trauma itu, Tim mulai goyah atas perawatannya selama ini, memilih untuk tidak mempercayai satupun kejadian itu. Begitupun, Tim tetap menemani Marie kembali bersama cermin antik itu ke rumah masa kecil mereka, mendokumentasikan semua napak tilas untuk sebuah pembuktian sekaligus mengakhiri semuanya.

OC6

Okay, premis itu boleh jadi seakan terdengar seperti found footage horror tipikal lainnya, atau paling tidak, meski punya demonic icon baru, horor lain tentang kekuatan supranatural dibalik cermin antik juga bukan lagi sesuatu yang benar-benar baru. Namun Flanagan yang menulis skripnya bersama Jeff Howard sudah menggaris batas perbedaan pendekatan mereka dalam menggarap ‘Oculus’. And no, ini bukan sekedar horor yang menempatkan mata utama seperti makna judulnya di elemen-elemen surveillance camera secara tipikal, tapi jauh lebih inovatif dari itu. Penceritaan back and forth-nya secara paralel di satu sisi memang beresiko membingungkan sebagian penonton yang lebih suka easy jumpscares dalam menikmati film horor, atau juga berpotensi membuat pace-nya jadi naik turun. Tapi ini memang sulit buat dihindari karena clue-clue buat menyusun puzzling mystery-nya, tanpa juga dengan bangunan twist yang njelimet, harus tergelar di sepanjang storytelling-nya.

OC7

Melakukannya dengan cukup rapi, Flanagan memang punya satu amunisi ampuh untuk membuat ‘Oculus’ paling tidak bisa berbeda dari horor-horor tipikal yang ada sekarang. Walau tetap punya sejumlah jumpscares, gore scenes dan tipikalisme penampakan lain untuk menakut-nakuti penontonnya, ia lebih mengarahkan horornya ke permainan atmosfer untuk membangun keseluruhan sisi seramnya. Dan inilah faktor yang terbangun dengan sangat solid dalam ‘Oculus’, sekaligus memperjelas judul serta tagline keren-nya, ‘You see what it wants you to see’ dengan dreadful visual ambiguity yang dihadirkan Flanagan. Elemen-elemen yang membangun dread atmosphere itu juga didukung tak kalah solid oleh kekuatan akting cast, sinematografi Michael Fimognari, scoring dari The Newton Brothers plus efek-efeknya, yang tak mesti terlalu wah tapi sudah cukup mendukung penceritaannya.

OC5

Selain Brenton Thwaites, aktor muda yang tampaknya bakal sangat menanjak setelah tampil dalam ‘Maleficent’ dan the upcomingThe Giver’ bersama Jeff Bridges dan Meryl Streep, Karen Gillan dari ‘Doctor Whoseries dan dalam waktu dekat, ‘Guardians Of The Galaxy’, Rory Cochrane dan Katee Sackhoff, yang tampil paling baik sebagai vehicle utama sekaligus kekuatan terbesar di flashback storytelling-nya justru dua talent cilik, Garrett Ryan dan Annalise Baso yang memerankan Tim dan Marie muda dengan ketakutan natural mereka. Di penempatan cast yang bagus ini, suspense dan dread atmosphere-nya jadi tampil luarbiasa kuat bersama faktor teknis lain tadi, menjadikannya sajian horor yang fresh dan berbeda dari trend dan pendekatan-pendekatan tipikal yang sudah mulai terasa agak melelahkan sekarang. A new dose of dread. (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,759 other followers