ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI) : A SATIRE THAT KNOCKS YOU THAT HARD.

ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI) : A SATIRE THAT KNOCKS YOU THAT HARD.

Kenyataan bahwa Indonesia adalah negara lucu, mungkin kita semua sudah tahu. Saya juga yakin, ketika orang-orang luar menyaksikan berita di media yang menyangkut kejadian-kejadian di Indonesia, kadang disamping miris karena tindakan-tindakan barbar yang dipertontonkan, mereka juga bakal tertawa dengan rasa tak percaya. Dan menelusuri akar-akarnya kembali, darimana kelucuan itu muncul, pasti bahkan lebih susah dari mencari jarum di tumpukan jerami. Seolah, hampir semua yang ada di negara ini memang dari sananya sudah salah kaprah. Atas protes-protes yang kemudian muncul itulah, seorang Musfar Yasin, penulis skenario pemenang piala citra yang sudah sukses menyuguhkan karya-karya penuh kritik sosialnya pada kita seperti Kiamat Sudah Dekat, Ketika, Naga Bonar Jadi 2 bahkan Get Married itu, menciptakan skenario film ini. Kolaborasinya juga didukung nama-nama besar. Ada Deddy Mizwar, aktor senior yang belakangan kerap memunculkan protes-protes sosial dan reliji hampir di tiap line dialog dalam film-filmnya, di kursi sutradara sekaligus pemain. Kemudian Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo, dan Reza Rahadian, yang kualitas aktingnya sudah sedemikian teruji dari film-film Indonesia pilihan yang turut diperaninya. Dan yang lebih menarik, sekumpulan aktor-aktor cilik yang sebagian kabarnya berprofesi pencopet asli, terjun memerankan diri mereka sendiri seperti yang sudah ditampilkan sebelumnya pada anak-anak nelayan dalam Jermal. Kadang kita tak bisa mengingkari, mereka-mereka ini, yang dituntut menampilkan karakternya sendiri kadang justru tampil jauh lebih wajar ketimbang aktor berpredikat aktor atau hasil tempaan IKJ. Jadi, sudah pasti menarik menyaksikan janji dari kolaborasi itu.

Gelar sarjana manajemen yang disandang Muluk (Reza), putra pak Makbul (Deddy Mizwar) yang berprofesi sebagai penjahit di kampungnya, ternyata bukan jaminan buat memperoleh lapangan kerja. Bosan mencari-cari solusi, terlebih atas desakan Haji Sarbini (Jaja Miharja), ayah calon istrinya, Rahma (Sonia) yang kerap membanding-bandingkannya dengan Jufri (Edwin) yang calon wakil rakyat, Muluk nekat merancang sebuah manajemen baru untuk para pencopet cilik yang hidup di bawah naungan preman Jarot (Tio Pakusadewo). Oleh usahanya yang diganjar 10% dari hasil copet, ternyata copet-copet ini mulai punya tabungan, kendaraan, pendidikan formil dan agama sekaligus lapangan kerja baru buat Samsul (Asrul Dahlan), sarjana pendidikan yang terpuruk jadi penghuni gardu main gaple setiap hari serta Pipit (Tika Bravani), putri Haji Rahmat (Slamet Rahardjo), ustadz bijak di kampung itu, yang terus berkutat dengan kuis majalah dan televisi. Perlahan, Muluk mendorong mereka untuk meninggalkan dunia copet dan beralih ke usaha asongan. Namun muncul masalah baru. Apa lantas ini jadi solusi untuk merubah semua anak-anak itu hidup lebih baik? Lantas juga masalah halal-haram honor mereka yang ditentang tetua-tetua kampung yang notabene orangtua mereka sendiri.

Gaya penceritaan dan penggambaran anak-anak pencopet bak Slumdog Millionaire yang digelar sedikit komikal plus dialog-dialog penuh sindiran halus sampai kasar dalam membalut drama komedi satir ini menjadi kekuatan utama untuk komunikasi yang akrab pada para penontonnya. Tampilan copet-copet polos yang tak juga polos, orang jahat yang tak juga sepenuhnya jahat, orang-orang alim yang tak juga alim, orang bijak yang tak juga pintar, semakin menegaskan sisi humanisme tiap karakternya. Protes-protes terhadap masalah sosial, reliji, meski kadang terasa overload, namun di saat yang sama memang seakan belum cukup untuk terus dipertanyakan terkait dengan masalah sehari-hari yang kita hadapi sebagai penghuni negeri ini. Dan adalah sebuah kehebatan seorang Musfar Yasin yang bisa merangkum protes tadi menjadi sebuah jalan cerita yang berjalan runtut, menarik untuk diikuti, serta penuh konflik internal yang tak berlebihan seperti film-film Indonesia biasanya. Protes demi protes yang menjadi jiwa penyusun plotnya tak lantas membuat film ini berjalan terpenggal-penggal seperti Bebek Belur namun di satu sisi terlihat utuh sebagai sebuah premis. Di segmen lain, akting para pendukungnya juga sekaligus jadi kekuatan lain yang semakin membuat film ini begitu pedas menyentuh hati penontonnya.

Begitupun, saya sempat berpikir ketika konflik diarahkannya ke arah-arah penghujung film, mengingat ini adalah kolaborasi Musfar dengan Deddy, yang kerap tampil dengan pesan relijius Islami kelewat kental, bahwa mungkin sisi agamisnya akan menjadi pahlawan yang mengakhiri kisah ke ending klise ala film kita, namun saya harus mengakui bahwa sekali ini pikiran itu adalah sebuah kesalahan. Seperti problem-problem berkepanjangan yang menjadi borok biang kerok negara ini hingga semakin terlihat tambah ajaib, Musfar dan Deddy sukses mengeksekusi endingnya tanpa sebuah solusi plong namun justru dengan pertanyaan baru terhadap masalah-masalah lain tanpa jalan keluar sama sekali, dengan latar lagu yang terasa sangat nasionalis berikut tampilan sebuah pasal Undang-Undang Dasar 45 yang terdengar sedemikian sakti namun tak pernah jadi kenyataan pula, “Fakir miskin dan Anak-Anak Terlantar Dipelihara Oleh Negara”. Dan untuk itu, sebuah judul yang diusung terasa begitu berarti menjelaskan jiwa filmnya sendiri, ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI). So, biarpun negara ini belum lagi sampai ke tahapan bebas seperti yang berkali-kali didengungkan di film ini, lantas faham-faham reliji dan pendidikan pun tak bisa jadi solusi, dan copet-mencopet ternyata punya tingkatan berlapis sebagai metafora kritik sosial itu, just let yourself be free dan selamat sekali lagi, untuk bisa hidup dan menjadi bagian dari beratus juta penghuninya. (dan)

~ by danieldokter on May 22, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: