CINTA 2 HATI : ANOTHER 3 IDIOTS-ESQUE LOVESTORY

CINTA 2 HATI
Sutradara : Benni Setiawan
Produksi : Wanna B Pictures, 2010

Seperti dokter yang belum bisa mendiagnosa penyakit pasiennya, kebanyakan sineas kita sepertinya masih belum bisa mengatasi permasalahan yang ada di film Indonesia. Dalam sebuah diskusi interaktif, saya pernah mempertanyakan ini secara bergilir pada audiens yang ada. Jawaban mereka beragam. Tapi rata-rata keluhannya, tentu di luar keterpurukan tema yang nyerempet horor dan seks, ada di soal akting. Sinetron sekali, kaku sekali, bahasanya kaku, ekspresi dan intonasinya berlebihan, and so on. Mencari kelemahan memang mungkin hal gampang. Tapi disitulah letak kelemahan film-film kita. Akting dalam pengertian sebuah produk layar lebar, seringkali diselaraskan dengan teater. Maklum, penghasil terbanyak insan film di negara kita adalah IKJ, yang kebanyakan orangnya berbasis sama. Dalam sebuah pre produksi, mereka kerap harus belajar dulu soal intonasi, ekspresi, gestur, gerak, atau apapun itu, yang semuanya bernuansa teatrikal. Jadi tak usah heran kalau rata-rata akting di film kita itu dipenuhi segala sesuatu yang serba over, padahal keakraban komunikasi dalam penyampaian filmis lebih bisa dicapai dari pengadeganan yang dekat pada kehidupan sehari-hari. Berdialog, berbahasa, bergerak, berekspresi dan berintonasi dengan wajar selayaknya percakapan sehari-hari. Namun lagi, bukan itu sebenarnya yang paling parah. Letak penyakit paling besar ada pada penyusunan plot dan skripnya, yang rata-rata, meski tak semua, penuh dengan plot dengan konflik-konflik yang sangat ‘not believable’, dan kadang perjalanannya tak berjalan runtut. Penuh lompatan yang juga ‘not believable’, dan ini hadirnya di film bergenre drama atau komedi ringan. Tak jarang kita bisa menemukan konflik kecil kemudian dalam skripnya disikapi dengan gaduh gelisah, berteriak-teriak, meraung-raung, and so on.

Itulah yang terjadi dalam produksi kedua Wanna B Pictures, yang juga terkenal sebagai label rekaman dimana sang pemeran utama, Afgan, bernaung. Film perdana mereka yang juga disutradarai Benny Setiawan, Bukan Cinta Biasa, harus diakui sebagai film Indonesia yang bagus. Bukan hanya menghadirkan tema baru seperti film-film rom-com keluarga produksi Disney, ada banyak kewajaran disini, yang berhasil dibangun dari premis simpel serta chemistry bagus diantara pendukungnya. Cinta 2 Hati (saya sedikit bingung kata ‘Dilema’yang bersinar-sinar kecil diatas judul itu artinya apa dan harus diletakkan dimana, karena di page fb-nya ada tulisan Cinta 2 Hati Dilema , sementara di sertifikat lolos sensor Dilema Cinta 2 Hati, dan yang muncul di layar ya itu tadi, seperti neon lights mubazir yang justru merusak judul yang cukup catchy, seperti themesongnya yang dinyanyikan Afgan), mengisahkan tentang penyanyi terkenal bernama Alfa (diperankan seperti orang autis oleh Afgan yang kabarnya sudah mendapat pembelajaran dari Didi Petet sebagai acting coach yang namanya terpampang pada kredit, dan saya yakin ini dikhususkan buat Afgan karena aktor lain di film ini sudah teruji kapabilitasnya), yang kerap diganggu seorang fansnya, gadis belia dan cantik bernama Jane (Olivia Jensen). O ya, taraf gangguan itu sudah berjalan seperti ini. Alfa bisa terbangun karena kamarnya dimasuki Jane tanpa ada pengamanan apapun, dan kemudian reaksinya cuma,”Mau Kamu Apa Sih?”, itupun diucapkan dengan flat. Datar. Kemudian dengan satu tangisan, objek gangguan itu bisa luluh, duduk bersama dengan sarapan yang sudah disiapkan Jane. Ini disebut tim pembesutnya dengan sebuah kata bernama obsesi. Yeah, right. Lantas, beberapa menit sekali, Alfa bisa tersadar, mengusir Jane lewat manajer dan asistennya (Jodhy Bejo dan Roy Tobing), sehingga Jane berniat bunuh diri. Dari sini penonton dikenalkan pada sosok konglomerat Bakti Hasan (Deddy Mizwar, ya, Deddy Mizwar, yang membuat saya heran awalnya kali ini mau tampil dengan menanggalkan atribut agamisnya bak seorang ustad seperti biasanya itu), kakek Jane yang bersedia berbuat apa saja demi cucunya. Cerita berkembang lagi memaparkan alasannya. Kedua orangtua Jane, anak dan menantu sang konglomerat sudah meninggal ketika Jane masih kecil. Begitu. Alfa pun lagi-lagi harus mengorbankan apapun itu, untuk menghalangi obsesi Jane tadi. Bakti pun menawarkan imbalan. Awalnya 500 juta, bagi Alfa untuk meladeni Jane. Alfa menolak. Padahal, sebenarnya ia sudah punya kekasih, seorang mahasiswi, Laras (Tika Putri), yang sering makan hati mendapati keadaan ini, bahkan memergoki Jane menginap di apartemen Alfa. Then comes another plot. Jane ternyata menderita kanker (menurut press releasenya kanker pankreas, tanpa ada penjelasan selain Jane yang kerap jatuh memegang perutnya kesakitan). Maka mendadak sontak semua karakter di film ini, dekat atau tidak, kenal atau tidak, bahkan Laras yang menjadi korban paling telak sekali pun, kemudian berlomba-lomba memberikan kebahagiaan pada Jane menjelang akhir hidupnya yang diperkirakan tak lama lagi.

Saya jadi teringat film AFFAIR atau AYAT2 CINTA pada beberapa sisi penceritaannya, yang cenderung ‘not believable’ tadi itu. Bedanya, Tika Putri dan Olivia memang terlihat sangat loveable di tengah ketololan karakter mereka, dengan akting lepas dan tak pernah sekalipun terlihat berlebihan, seperti biasanya di film mereka yang lain. Laras sampai memaksa Alfa untuk mencintai Jane walau di depannya, lantas Alfa sebentar mau sebentar menolak, tetap dengan hasil coaching akting dari seorang Didi Petet yang sepertinya gagal total, hingga penonton pun tak bisa menangkap jelas apa maunya. Klimaks berlangsung ketika Jane menemukan titik cerah penyembuhannya dan harus segera dioperasi. Ketika sang dokter yang masih sahabat Bakti (diperankan Dwi Yan) mengoperasi Jane (ah, set dan peralatannya sebenarnya sudah cukup meyakinkan, tapi tak terlihat ada darah di sarung tangan dokter dan perawat yang membongkar perut Jane), Bakti pun kalap. Sambil diceramahi supirnya, Mang Uu (Dalton, yang aktingnya cukup wajar) dengan sedikit dakwah, Bakti berteriak-teriak ke langit mempertanyakan penderitaan bertubi-tubi yang dialami Jane. (Disini saya jadi paham kenapa Deddy mau memerankan Bakti. Pasti ujung-ujungnya dakwah lagi). Dan benar sekali, adegan kemudian menunjukkkan ia ikutan sholat sambil diiringi narasi penuh sesunggukan memohon kesembuhan Jane. Jane sembuh, dan sang kakek jadi rajin sholat. Benar-benar jawaban yang bijak sekali sepertinya dari dialog sama bijak yang dilontarkannya saat mengamuk itu. Kalau permintaan dikabulkan, you go with it. Jadi termasuk kebalikannya. Kalau tidak, you don’t go with it. Begitu ya inti dakwahnya, Om Deddy? (Walau saya tak bisa memungkiri adegan mengamuk di balkon itu juga jadi salah satu adegan terbaik film ini bersama cameo Jaja Miharja yang mengatakan “Kaya Kutubuku begitu lo demenin, gimana Oma Irama?” kepada segerombolan anak kos yang siap menerkam Alfa saat menyambangi Laras di kos-kosannya). Jane pun kemudian sembuh, dan seperti film AFFAIR, Laras bingung karena Alfa sudah berjanji untuk mencintai Jane. Bukan film Indonesia namanya kalau lantas tak bisa menyelesaikan masalah serumit dan se-not believable apapun. Dengan airmata, Jane kemudian merelakan Alfa kembali pada Laras. Menjelang keberangkatannya ke UK, semua saling berpelukan.

Well, call it overreacted, tapi memang saya menemukan unsur-unsur pembangun plot dan konflik dalam skrip film ini hampir tak ada satupun yang bisa dipercaya, walau di satu sisi ada some bits di beberapa adegan yang membuat film ini masih cukup layak buat dinikmati. Selain akting Afgan yang terkesan seperti anak autis (kecuali tentu saat menyanyikan beberapa lagu di film ini)dan seakan hanya bisa mengatakan “Apa Sih Maunya Kamu?” tanpa ekspresi/intonasi beratus kali, sehingga menghancur-leburkan chemistry-nya dengan Tika Putri dan Olivia Jensen yang berakting dengan kualitas bertolak belakang, tampilan aktor sekelas Deddy Mizwar juga membuat chemistry-chemistry-an itu terasa semakin jauh. Bukan dari kualitasnya, tapi gaya akting Deddy yang tetap seperti film apapun yang diperankannya di tahun 80an, dengan dialog dan percakapan berbeda gaya itu terasa pincang dengan Olivia yang tampil sewajar apa adanya. Kalau dibilang turnover penyanyi ke akting selalu gagal, rasanya tak benar juga. Marcell, Delon dan terlebih-lebih Ariyo Wahab masing-masing dalam Andai Ia Tahu, Vina Bilang Cinta dan Biarkan Bintang Menari bisa menampilkan akting sebagaimana mestinya kok. Dan kembali ke pesan yang tak tersampaikan dengan baik tadi, coba perhatikan apa yang dilansir dari press release Wanna B.
“WannaB yakin Film ini akan memberikan kontribusi yang positif bagi generasi muda untuk menumbuhkan kesadaran akan artinya nilai pengorbanan yang bijaksana dan menyadarkan bahwa ujian dari Tuhan tidak dapat dibandingkan dengan harta yang dimiliki, demikian menurut H.Naldy Nazar Haroen (Eksekutif Produser). Insya Allah Film yang mulai diproduksi 4 Desember 2009 ini dan akan tayang serentak di bioskop-bioskop tanah air pada Maret 2010.”
Saya lagi-lagi jadi bingung. Ini sebenarnya komedi romantis atau film dakwah? (DAN)

Multi-Quote This Message

~ by danieldokter on May 22, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: