DEMI DEWI/D2

DEMI DEWI/D2
Sutradara : Charles Gozali
Produksi : Magma Entertainment, 2010

Penggemar film-film Indonesia jadul pasti pernah mendengar Garuda Film dengan Hendrick Gozali sebagai motornya. Sebagai produser, Hendrick sudah menyuguhkan kita beberapa film nasional dalam kategori klasik, diantaranya November 1828, Ranjang Pengantin, Perempuan Dalam Pasungan atau debutnya, Boni Dan Nancy yang menampilkan Astri Ivo masih sebagai artis cilik di kala itu. (I just watched the movie again dari hasil hunting VCD lama di Malaysia). Paska kebangkitan film kita, Hendrick kembali berkiprah dengan suksesornya, sang putra sendiri, Charles Gozali. Lewat karya pertama Magma Entertainment, Rasa, setahun lalu, kita sudah melihat, bahwa produksinya memang sudah bisa dikatakan cukup memadai dan yang terpenting, ada usaha untuk mengeksplorasi genre yang berbeda dari film-film lain yang sekedar mengikuti arus trend. Namun di sisi yang sama, ambisi demi tujuan itu sekaligus membuat Rasa terasa kelewat overload atas banyaknya kombinasi genre yang ingin dipadatkan ke dalam sebuah karya. Tak mau kapok, Charles melanjutkan lagi kiprahnya ke film kedua yang diberi titel singkatan sedikit cheesy meskipun tetap sah-sah saja. D2, untuk titel aslinya, Demi Dewi. Dari promosi awalnya, lagi-lagi kita dibawa ke eksplorasi genre yang berbeda tadi, tapi masih tak jauh dari pakem Rasa. Sebuah drama thriller yang disempali action serta lovestory. Campur aduk ala film India atau Mandarin era 80an. Premisnya, bagi sebagian orang, mungkin terasa mirip ke beberapa film Hollywood seperti Trapped-nya Charlize Theron-Kevin Bacon. Tapi tak usah skeptis dulu. Dalam sebuah forum, Charles juga sudah menjelaskan, kesamaan tema tak selamanya berarti menjiplak, toh ia juga mengaku membesut cerita ini terilhami dari beberapa kejadian nyata. Eksekusi demi eksekusi yang adalah akhirnya yang akan membangun kesimpulannya sendiri.

Dara (Wulan Guritno), seorang presenter acara memasak sukses sekaligus ibu dari sesosok gadis cilik bernama Dewi (Bulan Ayu), seketika dikejutkan oleh peristiwa penculikan terhadap sang buah hati. Pelakunya, Leo (Winky Wiryawan), bersama seorang misterius meminta tebusan dengan nominal detil sampai ke angka terkecilnya. Mengkhawatirkan Dewi yang mengidap asma, Dara kemudian nekat berbuat apa saja demi menyelamatkannya. Namun kasus ini juga perlahan mulai membuka rahasia masa lalu Dewi sekaligus membuat hubungannya dengan sang suami, Terry (Sandy Taroreh) berada di ujung tanduk atas keterkaitan takdir yang bermain di sekeliling mereka.

Seperti Rasa, Demi Dewi juga masih berkutat di usaha penyatuan multigenre namun kali ini berpusat pada satu kisah yang dibangun dari sebuah protes sosial terhadap keberadaan hukum di negeri ini. Premis menjanjikan ini sebenarnya dirangkai dengan cukup rapi oleh Charles sendiri tanpa penggambaran hitam putih tokohnya secara ekstrim. Kepentingan individual yang ada pada sejumlah karakternya lah yang membangun konflik demi konflik dengan pakem yang masih terasa wajar. Namun sayang, eksekusi dari berbagai konflik berlapis itu lagi-lagi tampil kelewat ringan dan terjebak dalam dramatisasi ala film kita. Kadang terlalu singkat, kadang terlalu panjang, dengan sempalan-sempalan kebetulan yang juga terasa kelewat banyak seperti banyak film Mandarin atau India era 80an tadi, yang juga dibangun dengan kombinasi multigenre itu. However, latar belakang permainan takdir yang dari awal sudah terjelaskan satu demi satu itu mungkin sedikit membuat celah ini bisa termaafkan ketimbang Rasa yang muncul kelewat overloaded tanpa genre yang jelas. Dalam Demi Dewi, paling tidak, genre drama thriller yang dimaksudkan Charles benar-benar tampil ke depan dan menyisakan subgenre lainnya cukup sebagai pelengkap saja. (Walaupun jujur, sempalan adegan action yang sedikit banyak memamerkan kemampuan capoiera Volland Humonggio benar-benar terasa menarik tapi kalau dipanjangkan lagi akan mengganggu relevansi plotnya keseluruhan. Maybe next, Charles bisa menghadirkan tema aksi murni ala Merantau dengan talenta Volland yang sebelumnya tampil mentah dalam Sang Dewi itu, siapa tahu). Di sisi akting, Wulan dan Winky tampil paling menonjol dengan akting mereka yang ekspresif tanpa harus dilebih-lebihkan, bahkan jauh diatas bintang senior Ray Sahetapy yang memang belakangan ini sering berakting sedikit over dan annoying, serta mantan aktor remaja, Sandy Taroreh yang malah merusak intensitas emosi tiap adegan dengan akting serta ekspresinya yang flat. Justru score dari Pongky Prasetyo lah yang akhirnya menghadirkan sinergi bersama akting Wulan dan Winky tadi untuk menyelamatkan dramatisasi yang dihadirkan Charles. Begitulah. Demi Dewi mungkin belum lagi bisa disebut film yang benar-benar sempurna sekaligus merupakan a nicer try dibandingkan karya pertama Charles, namun usaha untuk menghadirkan suasana berbeda dengan kombinasi multigenre yang sudah memiliki kelebihan di beberapa sisi itu tentu patut diberi kredit dan dukungan lebih. Semoga karya Charles berikutnya bisa tampil lebih kuat lagi. (dan)

~ by danieldokter on May 22, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: