SHREK FOREVER AFTER : FALLING IN LOVE ALL OVER AGAIN

SHREK FOREVER AFTER
Sutradara : Mike Mitchell
Produksi : Dreamworks Animation, 2010

Hampir di tiap interviewnya, Dreamworks mengaku bahwa mereka tak pernah menyangka franchise Shrek bakal menjadi sebesar sekarang. Bentuk karakter monster ogre yang sebenarnya jauh dari lovable bagi kebanyakan anak-anak itu ternyata bisa jadi favorit banyak orang hingga bertengger di barisan film-film all time box office dengan penjualan berbagai produk yang juga sama tingginya. Kuncinya mungkin ada pada konsep karakter yang terasa begitu membumi, pesan bijak tentang sebuah penerimaan tampilan fisik secara apa adanya, kombinasi kisah dan tokoh dongeng terkenal yang digelar secara nyeleneh serta tentu saja, chemistry overpower pengisi suaranya, Mike Myers-Eddie Murphy plus Antonio Banderas yang sudah begitu melekat ke karakter masing-masing. Jadi ketika pengembangan cerita di sekuel ketiganya sudah dirasa banyak orang sebagai pengulangan basi yang lebih mirip animasi komedi keluarga seperti The Simpsons atau Flintstones, Dreamworks pun berniat mengakhiri amunisi mereka pada sebuah final chapter yang digarap dengan trend sekarang, animasi 3D. So hanya ada dua kemungkinan untuk tetap berada di jalur basi yang bakal dilupakan dengan cepat, atau justru meninggalkan semuanya dengan gegap gempita. Walkaway in glory.

Forever After pun digelar dengan kebosanan Shrek (Myers) akan rutinitasnya sebagai kepala keluarga ogre yang tak lagi terlihat tangguh. Puncak kemarahannya di pesta ultah pertama tiga anaknya membuat Shrek tergelincir pada sebuah perjanjian licik Rumpelstiltskin (Walt Dohrn ; yang sebelumnya berkiprah di film-film Shrek sebelumnya serta beberapa episode Spongebob sebagai sutradara, penulis dan tim artnya) yang menyimpan dendam karena dulu pernah ditawari Sang Raja & Ratu (John Cleese & Julie Andrews) sebuah transaksi untuk menyelamatkan Putri Fiona (Cameron Diaz). Shrek lantas berpindah ke dimensi lain dimana semuanya berubah. Awalnya menyenangkan, namun lama kelamaan ia menyadari bahwa di dunia lain ini tak lagi ada persahabatannya dengan Donkey (Murphy) serta Puss In Boots (Banderas), dan yang paling parah, Fiona ternyata merupakan pemimpin ogre-ogre pemberontak dari kekuasaan Rumpelstiltskin yang menjadi diktator tiran bersama sekumpulan penyihir bersapu terbang. Semuanya berbalik, dan kini Fiona yang tak lagi mengenalnya lah yang memiliki kunci untuk membawa Shrek keluar dari kutukan Rumpelstiltskin sebelum fajar terbit.

Pengembangan sebuah sekuel yang sebelumnya sudah dianggap gagal tentu bukan hal yang mudah. Tim produksi lain ala Hollywood mungkin sah saja me-reboot sana dan sini sebuah franchise yang sudah jatuh ke wilayah itu, namun penulis Josh Klausner (yang baru saja menelurkan Date Night yang jenaka itu) serta Darren Lemke dari serial Lost ternyata punya resep ampuh untuk mengembalikan Shrek pada jalurnya yang hampir selalu muncul di ajang persaingan terberat blockbuster-blockbuster musim panas Hollywood. Saya sendiri sempat berpikir pesimis setiap melihat lagi trailernya kalau Dreamworks terlihat sudah buntu ide dengan menghadirkan sebuah final chapter dengan premis paralel ala Coraline itu. Namun ternyata pilihan Dreamworks pada mereka ternyata tak salah. Ketimbang meracik lagi pengulangan demi pengulangan atau justru menghadirkan pakem berbeda dari yang sudah-sudah, Josh dan Darren secara ekstrim meracik sebuah petualangan baru yang seakan membuat penonton serta fansnya memiliki celah kembali untuk me-refresh memori mereka untuk mengikuti lagi interaksi antar karakternya kembali dari awal, namun dalam suasana yang sedikit berbeda. Tak usah khawatir, meski sebagian orang mungkin menganggap teknik 3D-nya tak terasa se-spesial produk Dreamworks sebelumnya, How To Train Your Dragon, semua unsur yang ada dalam film pendahulunya tetap muncul bahkan terasa lebih fresh dari yang sudah-sudah, dan memang kuncinya ada disana. Seperti sebuah dialog yang menghantarkan kita ke adegan penghujung yang juga menghadirkan pesan moral paling universal tentang cinta, seperti ini kira-kira bunyinya, “You know what’s the best part of today? I got a chance to fall in love with you all over again”, seperti itu pula sekuel ini membuat kita seakan kembali lagi pada sebuah nostalgia mengapa kita bisa begitu mencintai karakter-karakternya yang sangat memorable and capture our hearts at the same time. Dan ah, kalau memang ini adalah akhir dari franchise Shrek, tak seharusnya ia pergi secepat itu. (dan)

Multi-Quote This Message

~ by danieldokter on May 22, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: