TE(REKAM)

TE(REKAM)
Sutradara : Koya Pagayo
Produksi : Starvision, 2010

Ini sedikit cuplikan berita dari film ini:
“Yang pasti kita nggak pernah lihat,” jelas Olga yang membuat film tersebut bersama Julia Perez bersama Monique, saat ditemui di Planet Hollywood, Jakarta, Rabu (17/3/2010) malam. Mengenai judul filmnya yang juga mirip, ‘Rec,’ bintang film 33 tahun itu pun membantah jika disebut mencontek. “Kita bingung memang mau dikasih judul apa. Mungkin mirip Rec, tapi judulnya apa dong, jadinya inilah,” urainya. Dikisahkan Olga, dia sebenarnya tidak pernah bermaksud membuat film ‘Te (rekam).’ Mantan model itu mengaku hanya iseng saat mengajak dua temannya, Julia Perez dan Monique, pergi ke sebuah rumah kosong di daerah Gadog, Bogor.
Saat itu, Olga dan kawan-kawan sebenarnya hanya berniat untuk melakukan survei sebelum membuat film horor. Namun tiba-tiba terbersit ide untuk merekam semua kegiatannya di sana. Di setiap sudut rumah, juga dipasangi kamera.”Jadi agak kaget juga, dari dokumentasi yg ada, diedit-edit, bisa menjadi suatu film,” jelasnya.

Oh, yeah.
Saya sempat terperanjak ketika menyadari setelah menonton film ini, bahwa ternyata, setelah Affair yang sembarangan itu, walau sudah ada dua film bagus yang saya nikmati, Green Zone dan How To Train Your Dragon (ah, ada tiga sebenarnya, tapi yang satu agaknya tak layak disebut film), bahwa ternyata kita masih stuck di dunianya Nayato. Alias Koya Pagayo. Alias entah siapa lagi. Kenyataannya, di Indonesia memang hal-hal seperti ini jadi kebiasaan. Istilahnya, tipu-tipu. Dari pemerintahan sampai sineas film pun seperti itu. Bahkan, ketika keadaan yang ada seolah sudah tak memungkinkan mereka untuk menipu, yang namanya tipu-tipu itu tetap muncul. Tapi ada yang lebih parah. Orang-orang lainnya, justru mau ditipu.(Saya jadi ingat sebuah pengalaman saat menunggu Shutter Island diputar di smoking lounge sebuah teater XXI Jakarta, saat ada seorang yang mendatangi saya meminta api. Sambil melihat ke LCD yang memutar trailer Te[rekam] di dalam lounge itu, ia berkata,” Wah, penasaran juga lihat film ini ya Mas. Katanya asli.”) Jadi itulah yang terjadi.

Menyaksikan Te[rekam], orang-orang ini, Koya Pagayo bersama bintangnya, Olga Lydia, Monique Henry, dan Julia Perez, maunya membawa penonton ke sebuah pameran horor ala Rec, Paranormal Activity, Cloverfield atau The Blair Witch Project (Dengan berani Koya juga mempertontonkan dvd REC diatas meja Olga). Bedanya, saat film-film tadi diolah dengan satu kamera untuk menekankan kejadian yang seolah tampil nyata, film ini terlihat bertaburan kamera seperti film biasanya, dengan efek dan warna berbeda-beda pula. Kadang biasa, kadang nightvision, bahkan efek yang tak ada di kamera, walau profesional sekalipun. Kemudian, tak hanya itu, ada music score disini. Musik berdebum ala film horor kita biasanya, yang menurut banyak sineas kita, bisa ikut menambah suasana seram. Lantas, Koya juga tampaknya belum bisa meninggalkan gaya editing film-filmnya yang kontras dengan usaha menampilkan keadaan seolah nyata itu. Dan berbeda dengan kebiasaan film luar yang bisa membangun turun naik konflik dan pameran seram tadi dengan wajar, Te[rekam] masih terpuruk di kebiasaan film Indonesia biasanya. Bisa kita lihat orang yang sudah takut setengah mati karena diganggu setan atau semacamnya, di scene berikut berubah kembali tenang bahkan bercanda ria. Kemudian takut lagi. Kemudian ketawa lagi. Kemudian berteriak. Kemudian tenang lagi. Nah, yang terparah, muncul pula hantu-hantu yang maunya mereka diakui sebagai hal nyata yang terjadi saat ‘eksperimen’ tadi berlangsung. Oh, ternyata pemikiran mereka tepat sekali. Hantu asli yang ada di sekitar kita ternyata tampilannya memang sangat Indonesia. Penuh mock-up berantakan. Lantas belum lagi puas, di awal dan akhir film, muncul wawancara dimana mereka dengan eksplisit mau meyakinkan semuanya bahwa yang bakal dan barusan dilihat memang kejadian nyata, dengan ucapan thanks to sutradara dan produser pula, plus tulisan di layar, 13 video rekaman yang ada diedit hingga menjadi film. Kira-kira seperti itu. Okelah, untuk penonton yang mungkin tak mau mengurusi tetek-bengek macam ini, mungkin bisa mengikuti Te[rekam] dengan suasana seram yang cukup menakut-nakuti. Atau, ada komentar lain yang memuji akting Julia Perez. Dibanding Olga dan Monique, ekspresi Jupe memang terlihat sedikit lebih pantas, dan lepas. Selepas-lepasnya sampai mengiringi penampakan hantu-hantu tadi dengan penampakan nipple dibalik tanktopnya.

Tapi kembali lagi ke usaha penipuan publik ber-tagline “No Script, No Crew, Only Fear’ dilengkapi dengan (lagi-lagi) komentar ajaib sutradara dan artis-artisnya memuji-muji film mereka sendiri itu, mungkin akhirnya sedikit banyak kita bisa mengerti mengapa ada isu penyelenggaraan akbar Seven Wonders bakal digelar disini. Indonesia memang memiliki banyak keajaiban. Daripada memilih Orangutan, Candi-candi, atau produk alam manapun, nominasikan saja negaranya langsung, mungkin lebih banyak kans buat memenangkannya. Atau, mungkin ini yang terjadi. Buat yang sudah menyaksikan Shutter Island yang meninggalkan open twist di penghujungnya, mungkin itu juga opsinya. Bisajadi aktris-aktris ini di-dope dan dijebak produsernya dalam pengakuan bo’ong-bo’ongan itu, atau dari sananya, semua tim pembesutnya memang sudah gila. (dan)

~ by danieldokter on May 22, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: