PRINCE OF PERSIA : THE SANDS OF TIME

PRINCE OF PERSIA : THE SANDS OF TIME

Sutradara : Mike Newell

Produksi : Walt Disney Pictures & Jerry Bruckheimer Films, 2010

Entah mengapa, sepertinya mengadaptasi videogame terkenal ke layar lebar selalu tampak sebagai kesulitan besar, jauh melebihi novel atau serial TV, dari sisi penerimaannya pada penonton. Kebanyakan adaptasi-adaptasi itu kerap dianggap gagal dan dicemooh bahkan, entah ikut-ikutan atau tidak, oleh penonton yang bukan gamers sekali pun. Satu alasan terbesar mungkin ada pada movement games yang tak bisa diterjemahkan dengan baik oleh bahasa filmis, sementara kecocokan karakter nyata dan plotnya pun sering menjadi alasan lain. Toh produser-produser tak henti-hentinya melakukan ini, termasuk Uwe Boll yang pantang mundur dan terus mendapatkan hak adaptasi dari produsen videogame-nya. Kegagalan itu mungkin yang mendorong seorang Jerry Bruckheimer, yang bisa dibilang satu-satunya produser yang sering lebih dijual ketimbang artis atau filmnya sendiri,  sekaligus mengajak Jordan Mechner, kreator aslinya, untuk turun tangan dalam adaptasi ini. Namun Mechner pun ternyata menolak mengadaptasinya mentah-mentah. Skenario yang akhirnya diserahkan pada Boaz Yakin, Doug Miro & Carlo Bernard dengan supervisi Mechner meracik plot aslinya dengan banyak sisi berbeda, namun tetap setia pada pakem movement dalam gamenya.

Bersetting di Persia abad keenam, Dastan (Jake Gyllenhall), pencopet jalanan yang sejak kecil sudah diangkat menjadi pangeran oleh Raja, seketika menjadi buronan akibat fitnahan Nizam (Ben Kingsley), adik Raja yang menyimpan maksud tertentu dalam penyerangan ke kerajaan Alamut dengan ratunya, Tamina (Gemma Arterton). Kematian Sang Raja membuat Dastan dikejar oleh dua saudara angkatnya, Pangeran Tuz (Richard Coyle) dan Garsiv (Toby Kebbell), sementara Nizam terus mengerahkan organisasi pembunuh bayaran The Hassansin dengan pimpinannya (Gisli Orn Garoarsson) . Dastan pun terpaksa bekerjasama dengan Tamina yang menjadi tawanannya, bersama perompak padang pasir Sheik Amar (Alfred Molina) dan pasukannya ketika mengetahui sasaran Nizam adalah untuk menguasai The Dagger Of Time, belati wasiat rahasia Alamut yang memiliki kemampuan memutarbalik waktu melalui pasir di dalamnya, The Sands Of Time, demi menyelamatkan Persia sekaligus memulihkan nama baiknya.

Tampilan movement game aslinya mulai dari poleswing, wall runs serta parkour, atraksi akrobatik roofjumps yang sebelumnya sudah kita saksikan di beberapa film Perancis seperti Yamakasi dan B-13, menjadi highlight melebihi efek spesial dan setting yang melimpah-ruah ala film-film summer biasanya. Dan faktor ini juga yang membuat adaptasi ini bisa diterima dengan baik oleh penggemar game-nya, di luar kekesalan sebagian lagi atas perombakan plot dan timeline game yang aslinya merupakan trilogi itu. Karakterisasi sang Prince Of Persia yang dalam film ini diserahi nama Dastan, yang dibawakan Gyllenhall sendiri tampil cukup solid bersama Alfred Molina yang muncul sebagai scene-stealer dengan akting komikal ala Jack Sparrow-nya Johnny Depp (ok, excuse me for skipping the overrated Gemma Arterton yang mengulang lagi ke-tidak pas-annya dalam Clash Of The Titans (or is it just me J?)).  Ditambah sedikit eksplorasi singkat tentang legenda organisasi pembunuh bayaran perintis The Hassansin/Hashshashin yang jadi cikal bakal istilah Assassin dan juga tampil di game populer lainnya, Assassin’s Creed itu,  semua unsur tadi rasanya sudah cukup mematahkan pendapat bahwa adaptasi videogame selalu terjatuh ke jurang kegagalan yang sama. Sebagian penonton boleh saja memprotes kenapa ceritanya sedangkal itu, endingnya se-kompromistis itu, atau kenapa karakter-karakter asli Persia bisa terlihat begitu Hollywood dengan aksen Barat, namun lebih baik ingat lagi, esensi murni videogame memang letaknya ada pada faktor hiburan, jadi jangan datang ke bioskop dengan ekspektasi filmis yang lain, terlebih lagi karena ini filmnya Bruckheimer bersama Walt Disney Pictures. Tempatkan diri Anda pada posisi para gamers dan penonton yang mendambakan unsur ‘fun’ ala summer blockbusters untuk penilaiannya, atau lebih baik mundur dari awal. (dan)

~ by danieldokter on May 30, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: