SEHIDUP (TAK) SEMATI

SEHIDUP (TAK) SEMATI

Sutradara : Iqbal Rais

Produksi : Milenium Visitama Film, 2010

So I spent my whole evening being a jury of an indie movie festival today, dan terus-terang, ada beberapa hal yang membuat saya sedikit miris melihat kecenderungan filmmaker muda yang ada di film-film pesertanya. Oke, pertama, tentu di luar sisi akting, sinematografi dan segala macam tetek-bengek teknis, masih terus ada tipikal stereotip film-film Indonesia yang selama ini muncul dengan mengesalkan. Selain konflik yang hampir terus-menerus bertolak ke masalah narkoba dan seks bebas, sebagian karya-karya ini juga tak bisa menyampaikan storytellingnya dengan runtut. Satu adegan ke adegan yang lain seakan tak memiliki kesinambungan dan terjebak ke potongan-potongan scene tanpa arti, kadang terlihat seperti komik dagelan Petruk-Gareng klasik atau tokoh Cina Lau Fu Che, kemudian pemilihan ending-ending yang juga pointless, tak sejalan dengan ide awal yang sebenarnya sudah rata-rata cukup lumayan. Ini mungkin yang membuat saat aktifitas itu berlanjut ke sebuah teater yang memutar film nasional terbaru berjudul Sehidup (Tak) Semati dengan tampilan poster (yang sungguh-sungguh) tak meyakinkan, ber-tagline kampungan Satu Hidup Satu Mati yang mungkin kesannya mau melucu (o ya, karena ini adalah sebuah komedi romantis, kabarnya) dan terkesan hanya membesar-besarkan sponsor yang juga pointless itu akhirnya justru membuat saya bisa merasa nyaman.

Dari beberapa review dan berita, ada selentingan kalau film ini dituduh menjiplak Ghost. Ah, saya sudah tahu itu tak benar dari awal. Yang terlintas malah Over Her Dead Body, tapi itu juga tak terlalu mirip. Yang bisa agak-agak benar, mungkin terinspirasi atau apalah, sah-sah saja, ini justru kebalikan dari sebuah film Mandarin 80an berjudul ‘Til Death Do We Scare yang juga sudah dijiplak mentah-mentah oleh Jojon dkk dalam film mereka yang berjudul Barang Antik, tempo doeloe. Sehidup (Tak) Semati mengisahkan pasangan newlyweds Titan (Winky Wiryawan) dan Helena (Fanny Fabriana) yang seketika ditimpa musibah di hari anniversary mereka akibat penyakit asma yang diderita Helena kumat dan inhalernya ketinggalan di rumah. Titan yang begitu kehilangan Helena kemudian terus-menerus mengalami penampakan arwah istrinya yang masih gentayangan itu hingga merasa ketakutan. Titan pun berkonsultasi ke psikiater (Henky Soelaiman) yang kemudian menugaskan Olin (Joanna Alexandra) mengawasinya 24 jam penuh. Namun ini juga bukan solusi. Atas persetujuannya dengan arwah Helena yang akhirnya bisa diterima Titan, mereka mendatangi beberapa orang pintar, mulai dari yang ngaco, gadungan, hingga yang berlagak menebak benar namun ternyata memegang ponsel berisi status facebook pasiennya (Ah, this one is quite funny, I think). Perjalanan mereka akhirnya sampai ke Ki Jono Bolot  (Bolot Srimulat) yang bisa melihat juga Helena. Ternyata, penyebabnya ada di sebuah janji yang pernah diucapkan Helena di malam sebelum ia meninggal, bahwa bila ia meninggal, Titan boleh menikah lagi dengan calon yang dicarikannya. Maka dimulailah misi Helena membantu Titan mencari pasangan baru agar arwahnya bisa melepas kutukan gentayangan itu dan berangkat dengan tenang, meski sebenarnya mereka juga berat untuk berpisah lagi. Mengutip quote dari press releasenya di sebuah situs multipleks kita, “Perjalanan Titan untuk melepas arwah Helena dari dunia fana ke alam baka menjadi perjalanan yang romantis, heboh, lucu, dan menjadi suatu pengalaman baru dalam sinema Indonesia.” A bit too much, tapi sebagian diantaranya ternyata memang benar begitu.

Sutradara Iqbal Rais yang sebelumnya membesut ‘The Tarix Jabrix’ dan ‘Si Jago Merah’ itu mungkin dalam kapasitas hiburan-hiburan komersialnya, bisa dicatat sebagai seorang sineas yang cukup lumayan karena kemampuannya bercerita. Storytelling tadi. Terus terang, Sehidup (Tak) Semati bukannya tak punya kekurangan, namun Iqbal bisa menyampaikan plotnya dengan santai, dan ini yang terpenting, runtut. Sama seperti film-filmnya sebelumnya, dimana hampir tak ada muncul penggalan-penggalan adegan yang mubazir seperti film-film Indonesia kebanyakan sehingga sebuah dagelan pun tak lagi terasa terpisah-pisah tanpa arah, seperti beberapa film indie berdurasi pendek tadi. Konflik yang dibangun bisa diselesaikan satu-persatu dengan cukup wajar, sempalan adegan komedinya juga tak lantas menjadi berlebihan, dan para pendukungnya juga bisa tampil dengan semestinya, terutama Fanny yang rasanya sejak debutnya di Serigala Terakhir dan groundbreaking role-nya di Hari Untuk Amanda itu selalu menampilkan akting santai yang wajar. Joanna Alexandra, Winky, Astri Nurdin dan aktor-aktris lainnya juga bisa menyikapi karakter mereka dengan chemistry yang cukup baik. Entah kelewat subjektif atau tidak, tapi saya harus mengakui kalau saya bisa menikmati komedi romantis yang rada-rada absurd dan komikal ini dengan rasa tadi. Nyaman, karena penyampaiannya yang sama sekali tak kampungan dan berlebihan itu. Dan kalaupun faktor pemilihan soundtracknya (satunya, band baru bernama Lunar dengan singel berjudul Tiada Lagi Cinta yang much sounds like the 90s Protonema, which is one of my local favorites ever dan Pilihanku-nya Maliq And The Essentials) memang semakin menambah subjektifitas itu, then you can just put the blame on me. (dan)

~ by danieldokter on June 9, 2010.

One Response to “SEHIDUP (TAK) SEMATI”

  1. keren abis filmnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: