THE KARATE KID

THE KARATE KID
Sutradara : Harald Zwart
Produksi : Columbia Pictures, 2010

Wax On, Wax Off. Terlepas dari hypenya yang bergaung begitu besar di AS tahun 80an hingga merambah merchandise, komik serta serial animasi TV, semua movielovers pasti juga setuju kalau versi 1984 itu dianggap sebagai produk klasik 80an yang masih diingat sampai sekarang. Cerita rekaan Robert Mark Kamen yang disutradarai sutradara peraih Oscar, John G. Avildsen (Rocky) itu sudah berjasa mengangkat nama Ralph Macchio menjadi idola remaja tahun itu dan membuat karakter Mr.Miyagi yang membuahkan Oscar untuk alm.Noriyuki’Pat’Morita menjadi salahsatu karakter film paling terkenal yang pernah ada. Sekuel keduanya juga sempat memicu kesuksesan karir solo vokalis Chicago, Peter Cetera, lewat lovetheme Glory Of Love yang lagi-lagi mendapat nominasi Oscar untuk lagu terbaik. Walau sekilas terlihat tak berbeda dari trend film-film highschool era itu yang cenderung cheesy, Karate Kid menawarkan suatu filosofi bijak seni beladiri dibalik semua kesederhanaannya. Taglinenya, ‘The Secret Of Karate Lies In The Mind And The Heart, Not In The Hand”, benar-benar berbicara lantang menunjukkan bahwa kekuatan hati dan strategi jauh lebih berharga dari kerasnya pukulan lawan. Tanpa perlu aksi bak-bik-buk ala film-film Martial Art Asia, setiap pertarungan yang memadukan pukulan lemah namun penuh tangkisan tangkas Daniel-San dan Mr Miyagi menghadapi lawan-lawannya yang bertinju tangguh dipaparkan secara sangat, sangat believable. Namun zaman ini jelas tak lagi begitu. Ketika muncul kabar bahwa Will Smith berambisi me-remakenya dengan Jaden Smith, putranya serta Jackie Chan menjadi sang mentor, banyak orang justru mencibir dan bersikap underestimate terhadap suatu perusakan karya klasik Kamen. Apalagi dari kalangan pelaku martial arts, yang jelas-jelas menyalahkan judul Karate yang lebih dikenal sebagai seni beladiri Jepang, padahal semua tahu bahwa Jackie Chan mengusung beladiri Kung Fu yang berasal dari Cina, sesuai dengan setting film yang memadukan beberapa unsur dari dua sekuel pertama film lawasnya. Toh Smith tetap keukeuh dengan tetap menggunakan judul yang sama, dan malah memasukkan beberapa sempalan dialog yang seakan mau membela diri bahwa, mau Karate atau Kung Fu, dua-duanya adalah seni beladiri yang tak perlu dibeda-bedakan.

Dre Parker (Jaden), bocah 12 tahun yang terpaksa pindah dari Detroit ke Cina mengikuti sang ibu, Sherry (Taraji Henson), terpaksa menemukan kenyataan baru menjadi seorang anak yang kerap menjadi bulan-bulanan di sekolahnya yang baru. Kedekatan Dre dengan seorang gadis Cina pemain biola, Mei Ying (Wenwen Han) memancing perseteruannya dengan Cheng (Zhenwei Wang), kepala geng anak-anak bandel di sekolah yang sekaligus merupakan murid-murid perguruan Kung Fu pimpinan Master Li (Rongguang Yu) yang sadis. Dre pun terpaksa mencari perlindungan yang membawanya pada Mr. Han (Jackie Chan), tukang reparasi di flatnya, yang ternyata seorang jago Kung Fu. Desakan Dre untuk diajari ilmu beladiri demi mengatasi ketakutan dan penindasan Cheng terhadapnya akhirnya membuat Han luluh dan melatih Dre untuk pembuktian dirinya menghadapi Cheng di sebuah turnamen Kung Fu terbuka.

Seorang Will Smith ternyata tak main-main untuk mengorbitkan sang putra yang sebelumnya sudah menunjukkan bakat genetiknya dalam Pursuit Of Happiness dan The Day The Earth Stood Still itu. Amunisi yang disiapkannya untuk Jaden tampak jelas disini, dengan kepiawaian Jaden melancarkan Kung Fu-nya bak orang dewasa, dengan sedikit sixpack pula. Will juga memilih untuk menghindari pengulangan film aslinya tanpa membuang sama sekali adegan-adegan yang terasa sangat ikonik disana. Tak lagi sekedar filosofi kelemahan lawan kekuatan fisik, adegan-adegan fullcontact yang dihadirkan terasa sangat up-to-date seperti yang ditunjukkan di film-film martial art dewasa. Selain sebutan Jepang Daniel-San yang disini menjadi Xiao Dre (term Chinese untuk Kid), quote terkenal ‘Wax On, Wax Off’ saat Miyagi melatih Daniel dengan mencuci mobil menjadi ‘Pick It On, Pick It Off ‘ dengan latihan dasar Dre membuka-menjatuhkan-menggantungkan jaketnya, jurus bangau pamungkas yang berganti menjadi jurus ular yang sama filosofisnya, Will bahkan memplesetkan adegan Miyagi menangkap lalat dengan sumpit. Jackie Chan yang menjadi daya jual utamanya juga bisa menampilkan chemistry yang cukup kuat dengan Jaden (meski belum lagi mampu menyamai kharisma dan chemistry Morita dengan Macchio), plus tentu saja, pameran kemampuan beladiri jenakanya seperti biasa. Durasinya yang dirasakan sebagian orang terlalu panjang (sebenarnya tidak begitu juga karena film aslinya pun berdurasi hampir sama panjang) juga mampu mengalir dengan lancar, lucu sekaligus seru. For The Classic Karate Kid It’s Not, untuk sebuah remake ambisius yang sejak awal sudah dipenuhi banyak pandangan underestimate tadi, Will sudah sukses menangkis tanggapan itu sekuat pukulan dan tendangan Kung Fu yang dihadirkan disini. Paling tidak, ia sudah berhasil meng-up-to-date-kan tampilan Macchio yang lembek dan tak pernah memukul keras dengan Jaden yang meski kerap menangis namun juga bisa jumpalitan menghajar lawan-lawannya untuk sebuah realisme kemenangan yang banyak didambakan penonton sekarang. We may never let Morita’s Mr.Miyagi and Macchio’s Daniel-San strong image out of our hearts, but to be honest, this is something different, for a huge, I mean, HUGE, entertainment. (dan)

~ by danieldokter on June 11, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: