MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK

MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK
Sutradara : Lola Amaria
Produksi : Pic(k)lock Production, 2010

Lola Amaria. Titi Sjuman. Djenar Maesa Ayu. Nia Dinata. Nan Achnas. Entah siapa lagi. Sepertinya saya ingin menggolongkan mereka ke dalam sebuah organisasi atau asosiasi atau apalah itu, yang dinamakan Gerakan Sineas Feminis Indonesia. Baik sebagai sutradara, penulis skenario atau buku fiksi sekalipun, atau aktris film dan bahkan pemain musik, mereka-mereka ini selalu berbicara lantang tentang sebuah emansipasi. Feminisme. Kesetaraan gender. Bahwa perempuan pun bisa membincangkan hal yang sama dengan laki-laki. Berucap, berpikiran, bahkan berbuat eksplisit secara seksual seperti laki-laki. Lantas muncullah term-term dalam karya mereka seperti Betina, Perempuan Punya Cerita, Jangan Main-Main Dengan Kelaminmu, Mereka Bilang Saya Monyet, dan segala macam term yang cenderung menekankan kesetaraan itu tadi. Oke, tak ada yang salah dengan hal itu. Tapi dibalik dalamnya masing-masing pembahasan semua karya itu, ada keterbatasan sempit serta tipikal Indonesia juga yang muncul sekaligus. Bahwa secara sekilas, mereka terlihat hanya menganggap emansipasi hanya mentok ke masalah-masalah seks. Apapun yang mereka utarakan, sisi yang diambil tetap muncul dari perempuan-perempuan sisi kiri negeri ini, istilahnya. Perek. Pelayan bar. Pelacur. Korban hamil di luar nikah. Korban perkosaan dan pelecehan seksual. Wanita homoseksual. Yang jadinya muncul adalah hal-hal yang juga ada di pikiran banyak saingan gender mereka, dengan menampilkan vulgarisme seksual dibalik alasan sinematografi cantik, art ini dan art itu. Seakan semua konflik hanya muncul dari masalah ekonomi atau ketidakpuasan bahkan pelecehan, yang lantas punya satu saja jalan keluar tanpa pilihan. Melacur. Lantas finalnya muncul judge yang hampir selalu negatif tanpa jalan keluar lagi. Walau memang benar ini masih jadi salahsatu borok terbesar permasalahan rakyat kita, termasuk juga ke kalangan pekerja luarnegeri seperti yang dibahas di film ini, tapi apa selalu sudut pandang ini yang selalu harus muncul ke depan? Saya pun jadi jengah menikmati karya-karya mereka. Belum lagi kebanyakan karya itu akhirnya meluncur menjadi suatu sajian yang tidak lagi universal. Dalam bahasa filmis, terkadang banyak sekali simbol atau pengejewantahan surealis yang akhirnya membuat karya mereka tergelincir menjadi sebuah karya arthouse, yang notabene tak bisa dinikmati banyak orang, tak terkecuali film yang saat saya saksikan di bioskop berjumlah penonton hanya tiga orang ini. Lalu itulah, muncullah review-review positif yang lumayan mengejutkan dari film ini. Mulai dari plot, sinematografi, akting dan segala macam, plus keindahan Hongkong yang katanya ‘dapat banget’. Saya jadi tertarik untuk mencoba berdamai dengan keengganan saya menyimak karya mereka-mereka ini. Apalagi, disana ada Donny Alamsyah, salahsatu aktor Indonesia favorit saya belakangan ini, yang bukan sekedar aktor jual tampang namun mulai awal karirnya di layar lebar belum pernah tampil mengecewakan. And so the movie starts.

Atas ketidakjelasan Sekar (Titi Sjuman) yang bekerja sebagai TKI di Hong Kong dan permintaan ayahnya, sang kakak, Mayang (Lola Amaria) pun nekat bertolak kesana dan ikut mendalami pekerjaan yang sama sambil melacak keberadaan Sekar. Mayang sebenarnya menyimpan kecemburuan atas kesuksesan Sekar selama ini, termasuk dari ayahnya sendiri. Dengan bantuan Gandi (Donny Damara), koordinator TKI dan Vincent (Donny Alamsyah) yang hidup dengan bisnis kecil-kecilan disana, Mayang akhirnya mendapatkan kenyataan bahwa Sekar ternyata kini bekerja sebagai pelacur di sebuah bar akibat hutangnya pada sebuah toko rentenir yang menumpuk. Mereka pun berusaha melepaskan Sekar dari masalahnya, sementara Sekar malah berusaha melarikan diri karena merasa malu. Problem-problem seputar kehidupan para TKI disana lantas muncul sebagai subplot berikut eksistensi Victoria Park yang menjadi tempat berkumpul para TKW-TKW dari berbagai negara di hari libur. Salah satunya, minggu pagi.

Tak seperti Betina yang tampil surealis dan sedikit art itu, MPdVP (Minggu Pagi di Victoria Park) dibesut Lola sebagaimana film-film feature yang bergaya universal, dengan plot dan pengadeganan yang runtut. Latar belakang Lola yang kabarnya tak pernah mengenyam pendidikan filmis secara akademis membuat karya ini menjadi semakin menonjol dengan gaya Lola menggulirkan ceritanya. Tema sentral yang berpusat pada suka-duka kehidupan TKI di Hongkong benar-benar terangkat dengan jelas tanpa hanya jadi sekedar sempalan, dan pemilihan castingnya yang semua bisa tampil natural merupakan salah satu pendukung terkuat film ini. Memang kabarnya lagi, Lola telah melakukan riset panjang di masa pre-produksinya, dan hasil yang diterjemahkan atas pengamatan itu agaknya harus diacungi jempol. Semua dialog-dialog yang bercampur baur antara bahasa Indonesia, Jawa dengan bahasa kanton yang kenyataannya memang harus mereka kuasai demi sebuah interaksi, konflik, dan ekspresi seluruh pendukungnya mengalir dengan wajar (kecuali, mungkin, bloopers dan blunder darah di lengan Sekar yang tiba-tiba menghilang namun terus-terusan disyut itu), berikut informasi demi informasi yang disampaikan Lola dan penulis skenario Titien Wattimena terhadap atmosfer kehidupan itu, mulai dari antrian kredit, supermarket Indonesia, proses training para TKI hingga epilog tentang ironi pahlawan devisa yang meski ditampilkan sekilas tapi sangat informatif. Selain akting semua pendukung terutama Lola, Titi dan especially Ella Hamid yang menjadi pembicaraan hangat atas penampilan debutnya, sinematografi Yadi Sugandi (Merah Putih) juga ikut berbicara panjang lebar menjelaskan setting Hongkong yang hiruk-pikuk (sayang, temperamen masyarakat Hongkong yang terkenal dan sudah banyak dirasakan pengunjungnya itu tak tampak sama sekali disini, mungkin terkait alasan izin syuting atau sisi pariwisata yang bakal ditawarkan pada audiens luar), namun di satu sisi juga ikut menangkap keindahan beberapa set yang dipilih. Kembali ke masalah tipikalisme sineas-sineas feminis tadi, MPdVP ternyata tetap tak bisa melepaskan diri dari konflik tipikal yang kerap muncul itu, as I said, semua masalah selalu dimulai dari finansial dengan solusi terjebak ke dunia pelacuran yang muncul sebagai alasan tak ada lagi pilihan, as ever, lengkap dengan adegan gangbang Titi Sjuman yang eksplisit. Namun itulah, tema yang dipilih Lola memang membuat penelusuran konflik tadi mau tak mau harus diakui menjadi sedikit relevan karena masalah ini memang jadi salahsatu dari borok-borok lain yang menyerang TKI kita. Dan Lola bersama Titien paling tidak telah memilih jalan lain untuk menyimpang sedikit dari tipikalisme biasanya dengan menghadirkan ending yang tak lantas terjebak ke dramatisme tragis yang menggurui dengan benar-benar memuakkan. But then again, barangkali, buat sebagian orang, pilihan Lola menampilkan penutup dengan ‘ning-nong-ning-nong’nya Kangen Band itu justru punya dua kemungkinan ; sebuah highlight atau sebuah turn-off. Ah, di tengah penonton yang cuma 3 orang di satu-satunya teater yang masih bertahan memutar film ini, saya hanya menanggapinya dengan tawa. At least, reaksi para pendukung utama dan figuran di Victoria Park itu sudah pas kok, sama naturalnya seperti para pendukungnya dan penampilan-penampilan pemirsa Kangen Band di TV atau panggung lainnya. Dan secara filmis, itu bagus. (dan)

~ by danieldokter on June 14, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: