TOY STORY 3 : A ‘BIG-TIME’ FINALE BLAST

TOY STORY 3
Sutradara : Lee Unkrich
Produksi : Walt Disney – Pixar, 2010

Pixar this, Pixar that. Well, sudah terlalu banyak mungkin pujian yang diberikan atas kedigdayaan studio animasi yang dulu sempat mau berpisah dengan Disney ini, dalam memimpin perolehan box office franchise-franchise animasi dari studio saingannya. Tapi memang apa boleh buat, sebagus apapun pencapaian studio-studio animasi itu, perusahaan-perusahaan hiburan raksasa Hollywood itu, sekuat apapun mereka mencoba berdiri di pijakan yang sama dengan pendewasaan demi pendewasaan konsep animasi, Sang pionir yang sudah membuka pintu ke wilayah dan destinasi baru film animasi itu tetap tak terkalahkan. Bagi sineas-sineas yang berdiri di belakang kekuatan Pixar, salah satunya John Lasetter yang kali ini cukup berdiri di bangku produser eksekutif-penulis, dan mentitahkan penyutradaraan bagi seorang Lee Unkrich yang sebelumnya menjadi co-director di masterpiece Pixar lainnya seperti Finding Nemo, animasi tak hanya menjadi produk untuk membuat seluruh keluarga bersantai dengan tawa, atau tak juga seperti serbuan animasi Ghibli yang super-serius berfilosofis itu, namun merupakan a whole packed of educative entertainment, dimana seluruh konsep animasi klasik dipadukan dengan sentuhan teknologi mutakhir dan, ini yang terpenting, ada pesan-pesan moral dan sisi hiburan yang berimbang bagi penonton muda dan dewasa, yang belakangan semakin mendominasi kelebihannya dengan penelusuran plot yang tak lagi tampil simpel dan dangkal. Bagaimana storytelling yang ingin bercerita banyak bagai sebuah buku berisi ribuan halaman dengan interpretasi pesan mendalam bisa tetap mencuatkan sebuah kompromisme hiburan murni yang membuat pemirsanya tak beranjak dari sana. Meski faktor keberhasilannya juga besar, namun ada konsekuensi yang juga tak bisa ditolak. Sekuel ketiga franchise yang sudah berkembang begitu besar dari karakter mainan-mainan hidup yang punya hati bak manusia ini pun kini tampil tak lagi seringan, selucu dan serenyah pendahulunya, namun tak perlu ragu. Semua balutannya justru membuat Toy Story 3 yang juga dilengkapi dengan teknologi 3D ini muncul sebagai satu lagi masterpiece besutan Pixar.

Tahun demi tahun yang terus berjalan dengan kedewasaan Andy (John Morris), pemilik mainan-mainan itu, yang bakal meninggalkan rumahnya untuk kuliah, membuat Woody (Tom Hanks), Buzz Lightyear (Tim Allen), Jessie (Joan Cusack) serta teman-teman mereka harus siap untuk berpisah. Tak hanya kesepian karena tak lagi dimainkan Andy, kini mereka didera kekecewaan karena sebuah kesalahpahaman setelah Andy memutuskan untuk hanya membawa Woody ke kediamannya yang baru. Mereka pun lantas terdampar ke sebuah penitipan anak bernama Sunnyside, dimana bukannya jadi bahagia karena kembali menjadi mainan kesayangan anak-anak lain, mainan-mainan ini justru tersiksa atas perlakuan tak adil boneka beruang Lotso (Ned Beatty) bersama asistennya, boneka pasangan Barbie, Ken (Michael Keaton), yang menyekap mereka di bangsal anak-anak nakal yang memperlakukan mereka dengan kasar. Ditambah perseteruan dengan Woody yang sebenarnya berniat menyelamatkan mereka, mainan-mainan Andy ini pun merancang sebuah usaha pelarian untuk sebuah one last play dengan sang pemiliknya.

Dikabarkan sebagai sekuel terakhir dari Toy Story yang selayaknya harus muncul dengan konklusi klimaks paling spesial, bagian-bagian awal part ketiga setelah adegan prolog yang seru justru tampil agak menurun dengan pengulangan-pengulangan konflik yang sudah disinggung di film keduanya, tentang gap eksistensi mereka terhadap usia Andy yang semakin dewasa, dan pengenalan ke karakter mainan antagonis yang lagi-lagi mengingatkan kita pada karakter Stinky Pete di Toy Story 2, plus konflik internal antara keinginan Woody dengan teman-temannya yang juga terasa hampir sama. Apalagi, short animation pembukanya, Night And Day, juga tampil dengan filosofi kelewat berat bagi penonton usia belia. Namun secara mengejutkan, Lasetter dan Unkrich seketika membelokkannya pada sebuah petualangan seru yang membuat animasi ini terasa seseru sebuah film klasik pelarian tawanan, The Great Escape, yang juga menjadi salah satu tagline di teaser posternya (yang menjadi official poster di Indonesia). Penonton pun akan dibawa kembali pada interaksi Woody, Buzz dan teman-temannya dengan karakterisasi yang terlihat semakin kuat dimana seluruh karakter bahkan belasan karakter-karakter barunya memiliki peran penting dengan sinergi kuat antara satu dengan lainnya. Tak cukup dengan formula baru penuh adrenalin tanpa meninggalkan unsur komedi animasinya, Pixar akhirnya membawa konklusinya pada sebuah gelaran ending yang terasa sangat menyentuh (I bet you’ll cry for this), mengulang kedalaman pesan mereka dalam ‘Up’ dan ‘Wall-E’. Seperti Andy, it might be hard to say goodbye to this bunch of lovely toys, apalagi Woody dan Buzz, namun percayalah, Pixar sudah melahirkan satu lagi masterpiecenya dengan finale yang benar-benar mengagumkan terhadap franchise ini. O ya, dan jangan buru-buru meninggalkan teater karena end credits-nya dipenuhi highlight lucu untuk mengendurkan kesedihan tadi, salah satu yang paling unik dengan tarian Flamenco Buzz Lightyear diiringi theme song legendaris Randy Newman ‘(You’ve Got A) Friend In Me’ dalam versi Gypsy Kings (Para El Buzz Espanol). (dan)

~ by danieldokter on June 20, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: