OBAMA ANAK MENTENG

OBAMA ANAK MENTENG

Sutradara : John DeRantau & Damien Dematra

Produksi : MVP Pictures, 2010

Fenomena Barack Obama memang harus diakui sangat inspiratif dalam banyak sisi yang ada. Mulai dari perjuangan seorang anak manusia, dobrakan-dobrakan terhadap tradisi tak tertulis yang selama ini ada, kebijaksanaan-kebijaksanaan baru pasca kepemimpinan Bush yang memicu banyak reaksi, hingga jelas saja, bagi bangsa kita, sejarah hidupnya yang pernah dilewatkan selama 4 tahun disini, dengan keluarga tiri orang Indonesia pula. Bukan Indonesia namanya kalau tak mengenal unsur aji mumpung. Maka dilaunchinglah novel Obama Anak Menteng yang meski diakui sebagai cerita fiktif masa kecilnya di Indonesia oleh penulisnya sendiri, kemudian dikategorikan sebagai penggalan biografi singkat bernilai sejarah karya penulis Damien Dematra di bulan Maret 2010, setelah melakukan serangkaian riset terhadap orang-orang yang terlibat di dalamnya. Produser dari MVP pun kemudian langsung menimpali adaptasi layar lebarnya, yang semula dijadwal edar saat kunjungan Obama kesini, namun atas beberapa kendala, baru dirilis sekarang. Hasan Faruq Ali, bocah 12 tahun yang berasal dari Amerika dari sebuah keluarga band muslim didapuk menjadi pemeran Obama kecil/Barry dengan dua bintang impor lain masing-masing memerankan sang ibu (Lachelle Cara) dan Eko Nuh, aktor teater asal Indonesia yang lama menetap di Belgia sebagai Lolo, ayah tirinya. Plus Teuku Zacky yang memerankan Turdi, banci yang selalu mengantarkan Barry ke sekolah. Sama dengan novelnya, Obama Anak Menteng berplot pada persahabatan Obama dengan anak-anak di lingkungannya, bagaimana ia beradaptasi dengan lingkungan baru, hingga masalah-masalah intern antara ayah tiri dan ibunya yang akhirnya memunculkan suatu keputusan dari sang ibu bagi Obama untuk meninggalkan Indonesia serta bagian singkat kehidupannya itu. Ada batasan-batasan jelas yang seharusnya muncul dalam sebuah deskripsi biografis, baik itu disempali hal-hal fiktif atau tidak. Terlebih dalam hal setting, yang di film ini mengambil era tahun 1969 di daerah Menteng, Jakarta. Semua aspek sekitar tahun itu yang selayaknya harus tampil akurat sayangnya tak dihandle sepenuhnya oleh John DeRantau, yang sudah dikenal sebagai sutradara berpredikat senior. Beberapa dialog seperti pengucapan teks sumpah pemuda versi lama, pamflet-pamflet yang menempel di dinding-dinding jalanan, kostum, kendaraan, tatanan rambut, dekor rumah, hingga plesetan Barry yang ditertawakan menjadi Beri-Beri, penyakit defisiensi vitamin B yang sudah jarang disebut-sebut sekarang karena kasusnya tak lagi sering ditemukan, sebenarnya sudah cukup baik. Namun penataan keseluruhan justru agaknya lebih mirip tahun 80an ketimbang tahun itu. Dan ini semakin diperparah dengan tampilan Turdi di tangan Zacky yang kelewat karikatural dan komikal, seolah biografi ini adalah sebuah drama remaja ala Catatan Si Boy. Zacky mungkin bisa dikatakan berhasil bertransformasi sebagai seorang transgender, namun jelas bukan pada porsi yang diperlukan dalam film seperti ini, walau dengan alasan sebuah penarik sekali pun. Banci tahun itu seharusnya tak kelihatan seperti Emon, apalagi dengan pengucapan dialog yang menyebut istilah ‘doski’, prokem yang baru muncul di tahun ‘80an, dan entah mengapa, sampai-sampai adegan kabaret show yang menggambarkannya ribut dengan kekasih sejenisnya pun ikut ditonjolkan. Pemilihan cast-nya juga terlihat sangat lemah. Jauh-jauh menampilkan Eko Nuh yang katanya lama tinggal di Belgia dan punya pengalaman teatrikal, justru membuat beberapa interaksi aktingnya dengan karakter yang lain terlihat sangat kaku dengan ekspresi ala sinetron yang dibuat-buat seakan memerankan sebuah peran pendekar di film silat jadul Indonesia. Hanya Hasan yang kelihatan cukup santai memerankan Obama kecil dengan chemistry yang lumayan bersama aktor-aktris seumurannya yang rata-rata tampil cukup natural. Di luar itu, Obama Anak Menteng justru muncul dengan kekuatan di pesan-pesan moral dan kritik sosialnya atas borok-borok bangsa ini yang dibandingkan kontras dengan tokoh Obama dan ibunya sendiri, yang notabene warga asing. Meski sedikit menggurui, namun kadang kita tak bisa juga menampik kenyataannya. Bahwa dari beberapa filosofis termasuk pembelajaran literatur klasik internasional yang mungkin tak lagi diketahui anak-anak jaman sekarang, sulitnya mendapat pelayanan kesehatan yang layak, hingga prejudisme masyarakat bawah kaum urban dan yang paling menarik, keinginan dan cita-cita kontras yang digambarkan dari buah catur yang dibicarakan anak-anak itu. Apa boleh buat, bangsa kita memang lebih suka memilih kuda, kuncung, menteri ketimbang jadi raja seperti Obama kecil yang digambarkan di kisah ini. Jadi ambil saja sisi inspiratifnya, kalau memang mau ikut menyaksikan hype aji mumpung dari penggarapan yang sama sekali jauh dari maksimal tadi. (dan)

~ by danieldokter on July 2, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: