THE LAST AIRBENDER

THE LAST AIRBENDER
Sutradara : M. Night Shyamalan
Produksi : Paramount Pictures & Nicklodeon Movies, 2010

Entah penonton sekarang rata-rata sudah lupa akan esensi film sebagai hiburan, saling berlomba jadi penonton kritis untuk menilai film dengan begitu gampangnya melontarkan kata ‘dangkal’, atau memang sekedar ikut-ikutan mengekor persentase penilaian kritikus-kritikus di situs rotten tomatoes untuk terlihat sebagai penonton pintar. Film, bagaimanapun, memang adalah sebuah subjektifitas cara pandang. Namun tetap ada sisi objektif yang sama perlunya untuk menyampaikan kritik, yang tentu tak bisa menggunakan standar sama untuk semua jenis produk bernama tontonan. Terlebih bila film itu merupakan sebuah adaptasi. Dari komik, game, serial teve, atau media lain yang berlabel ‘franchise’, ada sebuah knowledge mutlak dari produk orisinilnya yang harus mendukung semua yang ingin disampaikan. Lantas, ada pula yang namanya sentimen serta level ekspektasi, yang terkadang berdampak negatif bagi si pekerja film. Sekali Anda menghasilkan karya yang kelewat fenomenal, maka siap-siaplah juga untuk hancur seketika saat sebuah karya tak mampu mengimbanginya. Begitulah yang terjadi pada M.Night Shyamalan. Gebrakan raksasa yang dimulainya lewat Sixth Sense hingga dipuja-puja kritikus dan movielovers seluruh dunia, membiaskan trend twist ending di banyak film-film yang lahir setelah itu, bahkan gosip murahan bahwa Shyamalan adalah seorang alien, yang tentu mengarah pada kepintaran otaknya saat itu. Ketika karya-karya berikutnya tak mampu mengimbangi pembaharuan yang digagasnya di Sixth Sense, jadilah Shyamalan seorang sineas yang dinilai overrated, dihujat serta dicaci-maki. Padahal ia tak beranjak jauh dari konsepnya. Di luar penyampaian yang mungkin tak lagi se-mengejutkan Sixth Sense, Shyamalan tetap memilih proyek berdasar keinginannya membahas bermacam-macam filosofi berbeda dengan level kepintaran yang sama. Filosofi afterlife di Sixth Sense, outerworld di Signs, superhero di Unbreakable, dongeng di Lady In The Water, fanatisme di The Village, interaksi alam di The Happening, dan kini, filosofi elemental Asia di The Last Airbender, yang mengantarkannya pada keinginannya yang lama terpendam, menyutradarai sebuah franchise.

Namun itulah konsekuensi yang tetap muncul. The Last Airbender pun spontan dihujat hampir semua kritikus, yang menyalahkannya dari sisi yang kelihatan naif, hingga tuduhan rasisme atas pemilihan casting yang dinilai tak sesuai dengan karakter-karakternya yang asli Asia dari pendekatan franchise asli animasinya yang meski diproduksi Amerika namun bergaya anime Asia itu. Padahal, dulu tak ada yang protes saat seorang Christopher Lee memerankan Fu Man Chu hingga belasan film, Peter Ustinov sebagai detektif Cina Charlie Chan, hingga peran-peran lain yang memasang bintang bule sebagai ras Asia. Toh di film kita Slamet Raharjo juga pernah melebur begitu sempurna memerankan penjajah Belanda di November 1828 walau ia tak punya darah indo sekalipun. Jadi kenapa juga harus memandang kegagalan Noah Ringer, pemeran tokoh utama Last Airbender, Aang, dari segi itu? Belum lagi cercaan terhadap 3D hasil konversi yang dinilai tak memuaskan karena ikut-ikutan trend itu. 3D atau tidak kan terpulang lagi ke penontonnya sendiri, kalau memang sudah jengah merasa tak pantas mengeluarkan uang lebih untuk visual yang tak sesuai ekspektasi, why bother choose the 3D version? Info konversi atau tidaknya kan sudah tersedia di berbagai media, jadi kenapa lantas harus mengurangi penilaiannya kalau tampilan 3D-nya memang hasil konversi? Ah, perombakan-perombakan kecil mulai dari karakter, plot sampai pemilihan casting, toh sudah merupakan hal yang teramat wajar dalam sebuah franchise adaptasi. O ya, dan secara The Last Airbender memang adalah sebuah franchise berbau fantasi yang jualan utamanya memang ada di pameran efek dan kemiripan ke animasi orisinilnya yang memang mengandung sejuta filosofi konvensional teori elemental Asia kuno, serta segala tetek bengek komersial film serupa ini, naif sekali rasanya harus menuntut akting cemerlang, dialog pintar, plot njelimet atau segi-segi filmisnya.

Bagian pertama yang merupakan adaptasi dari book 1 serial animasinya berjudul Water ini mengisahkan petualangan seorang Avatar bernama Aang (Noah Ringer). Rahib cilik yang ditakdirkan menjadi penyeimbang dunia yang di masa itu terbagi atas empat kerajaan berdasar elemen air, api, tanah, angin, dan diliputi perang karena dominasi kerajaan api, kembali setelah menghilang seabad karena tak siap dengan takdirnya. Aang pun langsung diburu oleh kerajaan api di bawah kejaran pangeran Zuko (Dev Patel) yang tak bisa melanjutkan tahta ayahnya (Cliff Curtis) sebelum menemukan sang Avatar. Bersama pengendali air Katara (Nicola Peltz) dan kakanya Sokka (Jackson Rathbone) dari kerajaan air, Aang pun kembali membangun kekuatannya sebagai pengendali empat unsur ini, meniti takdirnya demi menyelamatkan dunia dari serangan kerajaan api.

Faktor terpenting dalam keberhasilan sebuah franchise adaptasi adalah loyalitas terhadap karya orisinilnya, dan di luar beberapa ganjalan, Shyamalan agaknya sudah menyajikan banyak elemen yang berpegang setia pada animasi aslinya, mulai dari tampilan beberapa karakter utamanya, monster-monster pendamping mereka, set yang mantap hingga pameran efek spesial CGI yang tampil hidup dan se-solid serialnya. Sayangnya, ia justru terkesan ragu untuk melebur total ke kisah berbalut filosofi bijak bangsa Asia ini ke sebuah fantasi tanpa batas. Kompromisme dan pilihan Shyamalan untuk tak melulu menyampaikan storytelling-nya dengan konsep fantasi murni namun sedikit ingin menyentuh realisme plot itu malah memberi gambaran yang sedikit keliru terhadap karakterisasi sang tokoh utama, Aang, seperti dalam serialnya. Aang pun lebih terlihat sebagai anak depresif karena stress dengan questnya sehingga terlihat jauh dari lincah, sementara di animasi aslinya karakter ini justru begitu menonjolkan kepolosan anak-anak yang membuatnya kerap tak sadar dan tak siap dengan misinya sebagai sang Avatar. Sudah itu, penyampaian plot yang seharusnya berjalan panjang dan bertingkat-tingkat sebagai pembuka pertama franchise itu juga terasa agak terbata-bata baik dalam pemilihan dialog dan penjelasan karakter-karakternya sehingga mungkin susah diikuti penonton yang belum pernah menelusuri serial animasinya.

Namun di luar itu, terlebih bagi penonton yang rajin mengikuti serialnya, The Last Airbender tidaklah sejelek caci-maki serta hujatan yang kerap menghiasi tiap review dan artikelnya di situs dan forum-forum internet. Malah, dalam lingkup adaptasi yang masih menjaga loyalitas ke franchise aslinya, bersama dengan bombastisme CGI ke pameran efek-efek spesial yang juga tampil loyal dan cukup menggelegar sebagai summer blockbuster itu, film ini bisa dikatakan cukup berhasil memindahkan animasinya ke tampilan live-action. Mudah-mudahan nasibnya tak berakhir seperti ‘Golden Compass’ yang juga menerima reaksi negatif dalam kapasitas hampir sama dari para kritikus yang sebagian mungkin justru tak pernah mengikuti franchise aslinya tapi hanya mendengar komen-komen anak atau orang-orang sekitarnya namun muncul bagaikan anak tolol yang harus mendapatkan penjelasan se-detil-detil-nya, kemudian diekori pula kemana-mana, hingga menghancurkan box office dan rencana ke sekuelnya. (dan)

~ by danieldokter on August 4, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: