GROWN UPS : SANDLER’S SICKJOKES, WITH HEARTS

GROWN UPS

Sutradara : Dennis Dugan

Produksi : Happy Madison Pictures & Relativity Media, 2010

Just like your childhood’s favorite sibling, Adam Sandler memang punya comedic-style-nya sendiri. Sama seperti penonton dewasa bisajadi menutup mata anak mereka ketika melihat sickjokes Sandler yang dibangun dari elemen-elemen nyeleneh seperti menertawakan orang jelek, aneh atau cacat, jorok, dan bicara tentang seks secara open-minded, si anak justru sangat menikmati waktunya bercengkerama dengan sosok bak seorang kakak yang kerap menuruti kemauan mereka. But hey, those grown ups might miss one slightest point yang justru jarang dimiliki komedian-komedian lain. Ada pesan bijak sekaligus juga di sela freakin’ comedy-nya Sandler, yang membuat penikmatnya bisa berjalan dengan penuh semangat terhadap banyak kekurangan mereka. Seperti versi kasar dari humornya Billy Crystal, kira-kira. Uplifting. Terhadap rekan-rekan komediannya ia juga kerap berperan bak seorang kakak tadi, mulai dari mengeksplorasi bakat-bakat baru, mengajak serta sahabat-sahabatnya main di filmnya walau hanya sebagai cameo, dan tentu saja dengan mendirikan Happy Madison sebagai media untuk itu. So despite being so sceptical like most others, once you get this side of his childishness, yang memang dimaui Sandler untuk bisa menangkap pesannya, you’ll love his style. Karena itu juga, tema-tema seperti Grown Ups, yang mirip dengan Big Daddy, salah satu film terbaik Sandler, tentang sisi kekanakan orang-orang dewasa, bisa mengeksplorasi isi otak Sandler dengan leluasa.

Sebagaimana layaknya film-film bertema reuni sahabat lama, Grown Ups pun dimulai dari sebuah reuni saat pelatih basket mereka semasa SMU meninggal dunia. Lima sahabat, Lenny (Sandler), yang sudah menjadi agen terkenal Hollywood dan menikahi Roxanne (Salma Hayek), perancang fashion terkenal dengan tiga orang anak jetset ala Hollywood, Eric (Kevin James), yang sudah punya keluarga sederhana dengan Sally (Maria Bello) dan punya dua anak nerd yang masih suka menyusui hingga umur 4 tahun, Kurt (Chris Rock), yang punya istri cerewet (Deanne MacKenzie) dan hidup bersama ibunya (Ebony Jo-Ann) yang tak kalah aneh, Rob (Rob Schneider) yang oedipus complex dengan pasangannya, wanita lewat paruhbaya Gloria (Joyce VanPatten/pasangan asli sutradara Dennis Dugan yang memang berusia 11 tahun diatasnya) setelah berkali-kali gagal dalam pernikahannya-meninggalkan anak dimana-mana, serta Marcus (David Spade), bujang lapuk yang anti kemapanan, kemudian berkumpul untuk pembuangan abu sang pelatih sambil membawa keluarga mereka berlibur bersama di camp nostalgia pada liburan 4 Juli. Disanalah masalah mereka masing-masing merebak ke permukaan, memunculkan tak hanya kelucuan, keributan, keinginan terpendam, nostalgia namun sekaligus juga ujian bagi persahabatan kelimanya.

Menyatukan lima komedian sekaligus dalam satu layar berdurasi terbatas tentu bukan hal mudah, belum lagi dua nama aktris terkenal Salma Hayek dan Maria Bello yang juga harus terekspos . Sandler yang sudah merasakan hal itu sebelumnya lewat Funny People yang bagus namun sayangnya, kurang lucu dan bebas mengeksplor style-nya itu, kini seolah lepas dari kandang. Apalagi kursi sutradara kembali dipegang sahabatnya, Dennis Dugan, yang sudah berkali-kali menyutradarai film komedi gila tipikal Sandler. Namun padatnya karakter tadi mungkin akhirnya harus menyisakan korban diantara mereka sendiri, seolah sebuah ‘survival of the fittest’ dari paduan komedian-komedian ini. Entah juga mungkin skenario yang tak maksimal mengeksplornya, Chris Rock dan David Spade akhirnya terpuruk menjadi karakter yang seperti tak terasa sepenting, selucu atau berchemistry sama kuat dengan yang lain. Namun sama sekali bukan berarti Grown Ups lantas terjebak jadi komedi yang tak lucu, karena formula basic komedi nyeleneh ala Sandler tadi tetap muncul disini, lengkap pula dengan sahabatnya yang lain, Steve Buscemi sebagai unsur cameo yang dijadikan bulan-bulanan. Kecintaan Sandler terhadap sport dan musik 80an juga muncul kembali sebagai bagian yang cukup solid mendukung plot simpel dan klise ini. Dan seperti biasanya, tak lengkap tanpa pesan bijak ala Sandler, sebelum menutup Grown Ups dengan klimaks pertandingan basket yang juga menyiratkan pesan itu, meski sedikit menggurui tapi memang wajib ada dalam menu komedi bertema sejenis, kali ini ia bicara tentang the greatness of having a family, kids, plus problem-problem di dalamnya. Itulah Sandler pada akhirnya. Sejauh mana pun ia mencoba lepas, kembali ke pakem-pakem seperti ini tetap jadi andalan terkuatnya. Sickjokes will always be sickjokes (termasuk adegan Arrow Roulettes yang sangat ultimate jadi pengocok perut menutup film ini), tapi di tangan Sandler, at least, they always come with hearts. (dan)

~ by danieldokter on August 10, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: