RAAVAN : MANI RATNAM’S VERSION OF THE EPIC RAMAYANA

RAAVAN

Sutradara : Mani Ratnam

Produksi : Madras Talkies, 2010

Kecuali Anda memang berasal dari keturunan India, pemirsa film India disini memang tak banyak tahu tentang perfilman Madras/Tamil yang kerap disebut Kollywood, sebagai salah satu industri film yang cukup respektif disana. Padahal kiprah dan kreatifitas mereka sebagai perfilman daerah justru banyak menginspirasi film-film Hindi/Bollywood yang banyak kita kenal, dan cukup banyak pula sineas yang go-national dari sana. Letak kekurangannya, mungkin ada di paras aktor dan aktrisnya yang kebanyakan tak se-rupawan superstar Bollywood, dengan penekanan lebih sering ke sosok hero yang tampil macho mengikuti trend Hollywood tahun 70-80an ala Charles Bronson atau Burt Reynolds, bertubuh tegap/gempal dan berkumis lebat. Tapi jangan salah juga. Dua dari aktris Hindi paling legendaris yang dikenal lewat paras cantik mereka, Hema Malini dan Aishwarya Rai, juga berasal dari sana. Di luar itu, mau tak mau harus diakui bahwa kreatifitas sineas-sineas termasuk balutan plot yang diketengahkan film-film daerah itu kadang sering lebih bervariasi dari produk-produk Bollywood, yang cenderung mementingkan komersialitas dan meniru sana-sini. Now let’s talk about Mani Ratnam, one of the most Indian’s respectable director yang memulai karirnya di Kollywood, kemudian beranjak ke film-film nasionalnya dengan karya-karya berkelas seperti Dil Se, Yuva, Guru serta yang terbaru ini. Salah satu film Tamil besutannya, Nayagan, bahkan masuk ke dalam 100 film terbaik versi majalah Time. Kekuatan Mani terletak pada idealisme tematiknya, di luar artistisme sinematik yang hampir selalu muncul mengagumkan, belum lagi jika menyebutkan kebanyakan kolaborasinya dengan komposer A.R. Rahman (Slumdog Millionaire, untuk menyebut salah satu masterpiecenya), yang lagi-lagi juga produk daerah yang sama. Di tangan mereka, film dan musik tradisional India selalu muncul sebagai paduan erat yang sulit untuk dipisahkan.

Jadi begitulah. Sebagian film Hindi yang terkenal hingga ke pemirsa non-India itu, di negara asalnya memang banyak dibuat dalam dua versi, untuk daerah dan nasional. Raavan adalah kasus berbeda lagi, dimana Mani sejak awal memang membesut interpretasi lepas kisah epik Ramayana bercampur legenda Robin Hood ini secara shot-by-shot dalam dua versi sekaligus, dimana Aishwarya Rai memerankan karakter yang sama yang diilhami Sinta, lantas Raavan/Raavanan (judul versi Madras-nya)/ mengacu pada karakter Rahwana dan dalam bahasanya didefenisikan dengan ‘villain’, diperankan masing-masing oleh Abishek Bachchan untuk versi Hindi dan superstar Kollywood, Vikram untuk Tamil, sedangkan sang suami yang diilhami tokoh Rama diperankan Vikram di versi Hindi dan Prithviraj di versi Tamil setelah Abishek menolak tukar-guling ini karena kurang bisa fasih berbicara dalam bahasa daerah. Masih ada pemeran pendukung berbeda termasuk bintang legendaris Govinda sebagai ‘forest spirit’ yang diinspirasi Hanuman (di versi Tamilnya diperankan oleh Karthik) dan beberapa karakter lain. Jadi tak usah heran kalau banyak review di forum yang membandingkan kedua versinya, dimana Vikram banyak dianggap lebih pas memerankan sang tokoh sentral ketimbang Abishek yang diprotes ayahnya sendiri, Amitabh Bachchan, dengan menyalahkan editing akhir yang membuat karakternya menjadi blur. Menyaksikan kedua-duanya sekaligus mungkin memang akan terasa jauh lebih baik, but however, let’s go further on this cinematic masterpiece-nya Mani yang mendapat sambutan positif dari kritikus-kritikus terkenal Amerika saat diedarkan disana, namun berakhir flop besar-besaran di peredaran nasionalnya bersama film lain dengan artistisme, landscape dan atmosfir tak jauh berbeda, Kites, yang juga mengetengahkan tema forbidden lovestory namun kebalikannya justru mencatat rekor film India pertama yang menembus top 10 box office AS itu. Lepas dari berbagai kekurangannya, penonton India, tak jauh berbeda dari penonton kita, mungkin belum lagi siap untuk disuguhkan film-film yang lebih menjual nuansa sinematis ketimbang bombastisme komersil yang lebih biasa mereka nikmati.

Bak seorang Robin Hood, sebagai penjahat legendaris yang ditakuti namun sekaligus juga memiliki tribe yang mendewakannya, Raavan (Abishek) terpaksa berseteru dengan hukum dalam sosok seorang Inspektur polisi idealis bernama Dev Pratap Sharma (Vikram) yang berniat meringkusnya habis. Raavan pun menculik istri sang Inspektur, Ragini (Aishwarya), berkelana menyusur hutan persembunyiannya, namun justru terlibas pesona Ragini yang tak kenal takut. Pengejaran terus berlangsung, dengan bantuan penjaga hutan Sanjeevani (Govinda), dan dendam Raavan terhadap Dev perlahan mulai terkuak bersama perasaan Ragini yang mulai memahami perjuangan Raavan. Tapi bagi Dev, ini sekaligus juga menjadi senjata ampuh untuk memancing Raavan keluar dan bertarung hidup-hidup dengannya.

Interpretasi lepas kisah epik Ramayana dengan folklor ala Robin Hood yang dibalut dengan pesan politis yang kuat dimana batas kejahatan dan kebaikan tak lagi menjadi garis jelas atas ambisi terpendam dari nafsu manusia, mengantarkan Raavan ke wilayah yang biasa dieskplorasi Mani Ratnam dalam banyak filmnya. Dalam Raavan, konteks itu terasa semakin kuat lewat pencapaian visual yang disuguhkannya lewat rangkaian shot slow motion, butiran air, gerakan ranting, daun, warna-warni khas ala film India hingga ke desah nafas dan tatapan mata yang detail. Seperti biasa, musik tradisional India karya Rahman yang jauh dari kesan dangdut modern juga membuat feel itu semakin menyeruak dengan megahnya. Adegan pertarungan klimaks di tengah jembatan runtuh juga muncul intens, paling tidak buat ukuran film India biasa. Sayang, di saat Aishwarya dan Vikram menterjemahkan detail demi detail tadi dengan sangat baik, termasuk pemeran-pemeran pendukung seperti Govinda, Priyamani (aktris Tamil), Ravi Kishan dan Nikhil Dwivedi yang meski tampil sekelebat tapi menunjukkan kelasnya, Abishek sebagai peran sentralnya justru kelihatan kelewat asyik mengeksplor perannya, seperti seorang Jack Sparrow dengan kebengisan Robin Hood versi Russell Crowe, hingga kerap terlihat over-acting, tanpa jiwa, sekaligus memblurkan chemistry-nya dengan Aishwarya dan menempatkan dirinya sendiri ke proses turnover yang semakin sulit dipercaya. Dalam versi Tamilnya, Vikram tampaknya jauh lebih sukses menerjemahkan kompleksitas karakter Raavan termasuk ke empati-nya pada penonton. Namun apapun itu, Mani Ratnam sekali lagi sudah menunjukkan kehebatannya membawa kita ke sebuah pengalaman sinematis se-unik visual yang dihadirkannya, dengan satu catatan penting ke penonton kebanyakan, bahwa ini memang bukan sekedar film India yang penuh gegap gempita atau justru berupa melodrama mengharu-biru seperti biasanya. (dan)

~ by danieldokter on August 24, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: