AFTERSHOCK : GO GRAB A PACK OF TISSUES!

AFTERSHOCK

Sutradara : Feng Xiaogang

Produksi : China Film Groups & Emperor Motion Pictures, 2010

Besides special effects, if you could play with other people’s feelings, then you’ve got yourself A MOVIE. Begitulah, Aftershock yang digembar-gemborkan sebagai film Cina dengan versi IMAX pertama untuk peredaran internasionalnya dengan seabrek prestasi lain mulai dari pilihan resmi untuk menembus Academy Awards di kategori film asing hingga raihan box office tertinggi di negaranya memang terdengar sangat menjanjikan. Sutradaranya, Feng Xiaogang, sebelum ini sudah berjasa mengangkat seorang Andy Lau ke puncak karir film terbaiknya lewat A World Without Thieves, film perang yang juga sama acclaimed-nya, Assembly, dan sebuah karya kecil yang berbicara besar di mata para kritikus, If You Are The One. Mengangkat latarbelakang bencana gempa besar di Tangshan tahun 1976, Feng bahkan menggamit sineas Hollywood untuk menghidupkan kembali suasana muram itu dengan efek yang dijanjikan bakal muncul sangat spesial. Namun jangan salah juga bila ekspektasi Anda lantas muncul ke film-film disaster dengan bujet gede ala Armageddon atau Deep Impact. Aftershock, sebaliknya, lebih ke sebuah melodrama Asia yang penuh dengan dramatisasi over ala film-film Bollywood atau paling tidak film Indonesia era 70an yang terang-terangan memancing curahan airmata penontonnya. Bedanya, Feng memang punya plotline dan skenario dari adaptasi novel bestseller yang dari sananya memang sudah tampil sangat menyayat hati.

Yuan Ni (Xu Fan) yang hidup bahagia bersama sang suami, Da Qing (Zhang Guoqiang) dan kedua putra-putrinya, Fang Deng dan Fang Da di Tangshan, Cina, 1976, sama sekali tak menyangka bahwa sebuah gempa akan merubah hidupnya. Gempa yang datang di tengah malam itu tak hanya merenggut jiwa Da Qing, namun juga mengharuskan Yuan Ni Ni memilih satu dari dua anaknya untuk bisa diselamatkan. Di tengah kebingungannya, Yuan Ni kemudian memilih Fang Da, yang harus juga kehilangan sebelah tangannya. Yuan Ni sama sekali tak menyadari bahwa Fang Deng kemudian selamat dan terbangun di sebelah mayat ayahnya setelah ia dan Fang Da dibawa bersama para pengungsi, dengan sebuah kenyataan bahwa Fang Deng ternyata mendengar jelas pilihannya saat memilih Fang Da. Fang Deng (Zhangjing Chu) kemudian diadopsi oleh keluarga militer, Wang (Daoming Chen) dan istrinya (Jin Chen) dan dibesarkan dengan baik menjadi calon dokter, sementara Fang Da (Chen Li) berhasil mengalahkan kecacatan fisiknya menjadi seorang suami dan pengusaha sukses dengan Yuan Ni yang masih tetap memendam kesedihan atas pilihan hidupnya. Selama 32 tahun keluarga ini tercerai-berai hingga suatu takdir yang harus mempertemukan mereka kembali, dengan kenangan pahit, kesedihan, bahkan dendam terhadap bencana itu.

Lepas dari janji-janji efek spesial terhadap remake bencana besar di Tangshan yang ternyata cuma muncul tak lebih dari sebuah highlight di bagian-bagian awal, itupun kalau mau jujur, masih terlalu jauh dibandingkan dengan produk-produk Hollywood, Feng memang harus diakui bisa merangkai sebuah kisah pahit yang penuh dengan pesan-pesan manusiawi yang sama terasa getirnya, walaupun sesekali harus disempali dramatisasi yang kelewat over. Begitupun, penyampaian Feng dengan dukungan aktor-aktor pendukung yang hampir semuanya belum dikenal penonton kecuali Daoming Chen yang sudah sering tampil di beberapa film yang beredar disini, sekaligus juga tampil begitu komunikatif untuk memancing emosi penontonnya tanpa harus berakting over, berteriak-teriak atau meraung-raung bak film-film Indonesia. Itu juga yang akhirnya tampil sangat solid sebagai kekuatan utama Aftershock, sebuah pencapaian komunikatif yang bermain-main dengan perasaan audiens, bahkan membuat penonton di luar peristiwa bencana itu turut bisa merasakan kepedihannya, dan membuat Feng leluasa untuk menyajikan sebuah tribute bagi para korban dan keluarganya di akhir film. Jadi tak usah heran kalau film se-sederhana ini lantas bisa memicu gaung sebesar itu, walaupun terus terang lagi, tone-nya yang kelewat menyakitkan dan menyayat hati itu membuat sebagian dari kita mungkin jengah untuk menyaksikannya berulang-ulang. You might not want to get stabbed in the heart, twice, however. Screw you, Mr Feng, you really got me one, right there! (dan)

~ by danieldokter on October 2, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: