LASKAR PEMIMPI : FUNNY, BUT THAT’S IT

LASKAR PEMIMPI

Sutradara : Monty Tiwa

Produksi : Starvision Plus, 2010

Sebagai sineas generasi baru perfilman nasional, Monty Tiwa sebenarnya sudah mengawali karirnya di layar lebar sebagai penulis skenario yang sangat menjanjikan. Tiga kiprah pertamanya, Andai Ia Tahu, Biarkan Bintang Menari dan Vina Bilang Cinta yang bisa dikategorikan sebagai film musikal, kecuali Biarkan yang benar-benar berdialog secara musikal, paling tidak dari nuansa musikal dan pemeran utama yang memasang debut penyanyi terkenal, sudah menunjukkan bakatnya di genre ini. Sayang loncatannya kemudian menjadi sutradara malah terlihat menurunkan kualitas talentanya dengan hasil yang serba tanggung. Now let’s see Project Pop, yang memang sudah teruji dengan lagu-lagu humor dan parodi mereka, dan mencatat karir gemilang dengan melucu lewat lagu. Kini saat keduanya bergabung dalam sebuah persembahan komedi musikal berlatar belakang sejarah, yang sayangnya menunjukkan betapa kacaunya sistem jadwal edar film kita (dimana dua film perjuangan;okelah, Sang Pencerah mungkin masih pas dirilis di momen Idul Fitri; Merah Putih 2 dan Laskar Pemimpi seharusnya jauh lebih cocok hadir menyambut suasana hari kemerdekaan namun terganjal bulan Ramadhan dimana tak satupun film kita yang dirilis saat itu, entah kenapa), tentu membuat banyak ekspektasi penikmat film nasional dan penggemar Project Pop melambung tinggi. Pertama, genre ini masih terhitung jarang sekali ada di sejarah film kita. Kedua, trailernya juga tampil sangat menjanjikan. Ketiga, setelah Anda menyaksikannya, Anda pasti bisa merasakan ambisi Monty untuk menghadirkan sebuah komedi yang tak sekedar melucu, namun sekaligus juga satire penuh sindiran dan semangat ke pesan moral nasionalis yang diusungnya, bahkan dengan turnover ending yang dieksekusi Monty. So how’s the result?

Berlatar belakang sama dengan Merah Putih, Laskar Pemimpi juga menyorot peristiwa agresi Belanda di tahun 1948. Keadaan yang ada memang mengharuskan banyak rakyat biasa yang dibutuhkan menjadi pasukan perang, walau tanpa latar belakang militer sekalipun. Diantara mereka, ada Sri Mulyani (Tika), yang menyimpan dendam karena ayahnya diculik Belanda, priyayi Udjo (Udjo) dari keluarga penghianat yang nekat mendaftar karena cintanya pada sang pelayan, Wiwid (Shanty), peternak bebek Tumino (Gugum), pedagang tionghoa Ahok (Odie), dan pejuang asal Manado Toar (Yosi). Mereka bergabung dengan pasukan gerilya Kapten Hadi (Gading Marten) dan Letnan Bowo (T. Rifnu Wikana) di desa Panjen, bersama Kopral Jono (Dwi Sasono) yang tengah meminang adik Wiwid, Yayuk (Masayu Anastasia). Misi pasukan Hadi untuk mengadakan gerilya kecil menyusul serangan umum 1 Maret yang direncanakan tentara Sudirman dan Letkol Soeharto (Marcell Siahaan) menjadi sedikit kacau karena penculikan Wiwid dan Yayuk membuat kelompok ini nekat merancang misi penyelamatan tanpa izin. Salah satu tentara KNIL, Once (Oon) yang menjadi tawanan akhirnya ikut membelot bersama mereka.

Sama seperti film-film garapan Monty pasca tiga film musikal tadi, Laskar Pemimpi yang menggabungkan judul depan dan belakang dari dua sekuel film laris Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi ini juga terasa sebagai sajian besar yang hasilnya serba tanggung. Padahal usaha untuk meng-combine komedi, musikal dengan satire nasionalis yang sungguh ultimate dan tak biasa itu seharusnya bisa jadi senjata ampuh untuk menyajikan suatu karya yang bagus sekaligus melawan arus. Turnover ke bagian-bagian endingnya juga harusnya bisa jadi sebesar film-film komedi satire berlatar belakang sejarah seperti Life Is Beautiful atau No Man’s Land. Sayang agaknya Monty kelewat terburu-buru mengemas semuanya. Selain musikal yang juga terasa cuma jadi sempalan, adegan perang yang muncul seolah sekedar bercanda, unsur komedinya juga tak benar-benar tampil maksimal. Padahal kru Project Pop sudah terlihat lucu seperti biasanya terlebih Oon yang kali ini muncul paling menonjol dibanding yang lain, sementara aktor-aktor seriusnya mulai dari T Rifnu Wikana yang deja-vu Merah Putih-nya masih sangat terasa, Dwi Sasono Gading Marten hingga Marcell yang tampil sekilas juga bukan berakting asal-asalan. Beberapa dialog jenaka yang mencampurkan hal-hal modern dengan tribute penggunaan nama ikonik negara kita seperti Sri Mulyani dan Kopral Jono juga tak banyak bisa membantu. Apa boleh buat, Laskar Pemimpi akhirnya memang hanya jadi mimpi bagi Monty untuk bisa benar-benar menghasilkan karya sebesar ekspektasi yang dibangun dari promo-promonya, termasuk teaser poster yang memuat satu-persatu karakternya. Begitupun, berat sekali rasanya kalau harus mencaci-maki sebuah usaha dan ambisi yang sebenarnya harus dihargai lebih daripada ini. (dan)

~ by danieldokter on October 3, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: