SATU JAM SAJA : A STUPID WHO TRAPPED BETWEEN TWO IDIOTS

SATU JAM SAJA

Sutradara : Ario Rubbik

Produksi : Karnos Film, 2010

Seorang Rano Karno, memang sama sekali tak salah kalau dikategorikan sebagai harta karun yang pernah dimiliki perfilman Indonesia. Begitu banyak film legendaris yang tergores di catatan karirnya. Later on, ketika ia mulai berkecimpung di dunia produser dengan PH-nya sendiri, Karnos Film, sayang era itu sudah mendekati masa-masa perfilman Indonesia mati suri. Selain produksi sinetron, PH ini agaknya ikut tak terdengar lagi hingga sekarang, di zamannya reuni-reunian ala Facebook dan comeback-comeback artis oldcrack ke layar lebar Indonesia yang sudah berdiri tegak lagi, Rano yang sudah bermain di wilayah politik pun tak mau ketinggalan. Satu Jam Saja pun diproduksi dengan banyak janji, lengkap dengan ucapan dedikasi di akhir film terhadap keluarga Rano yang juga adalah sineas-sineas yang sangat layak dihormati, walau kita tahu dari beberapa promonya, plotnya masih tak beranjak dari film-film Indonesia dalam rentang waktu 40 tahun ini, yang notabene adalah sebuah melodrama dengan tema monoton. Sebuah genre dimana Rano muda sering terlibat, menjadi sesosok ordinary hero yang mengambil tempat sebagai korban kesalahan oranglain. Ah, itu memang ternyata bukan hanya jadi spesialisasi peran-perannya, namun juga jadi ide pertama yang mencuat setelah ia menghasilkan skenario film ini yang ditulisnya sendiri. Nah kalau seorang Rhoma Irama saja mau beradaptasi jadi ikon dangdut yang kerap mencampurkan bahasa Inggris dalam dialognya untuk memperkenalkan sang putra, Rano agaknya masih memilih untuk statis berdiri di masa-masa keemasannya. Resikonya, memancing emosi dan tangisan penonton yang tak mau tahu tetek-bengek sinematis, apalagi di Indonesia, keputusan itu bisajadi adalah sebuah trik bisnis yang bagus, secara banyak juga kok penonton yang terlihat ikut dalam ritme kesedihan yang digelar Rano, namun untuk disandingkan sejalan dengan perkembangan sinema kita yang sebenarnya tak juga jauh berjalan, Satu Jam Saja tetap terlihat sangat konvensional dan maaf, kuno. Apalagi dengan berbagai kekurangan teknis yang muncul bakal mengerinyitkan kepala sebagian kalangan yang memahami prosedur-prosedur medis yang ditampilkan sebagai bagian penting dalam alurnya. Well, next time better do a little consult pada ahli yang ada.

Then let’s go back to the plot. Di sebuah rooftop gedung tinggi, dua sahabat berdebat tentang seorang lagi sahabat mereka, seorang wanita bernama Gadis (Revalina S. Temat) yang tengah hamil akibat ulah salah satu dari mereka, Hans (Andhika Pratama). Seorang lagi, Andhika (Vino G.Bastian), marah-marah karena ulah sang sahabat itu. Penonton kemudian dibawa ke sebuah flashback yang, maaf lagi, tingkat klisenya sudah melewati batas over yang sudah ditempuh banyak melodrama Asia termasuk Indonesia selama 4-5 dekade terakhir. Hujan, dalam sebuah mobil mogok, Hans yang basah kuyup kedinginan. Timbullah alasan untuk melakukan apa yang seharusnya tak mereka lakukan, dan Gadis pun menjadi tak gadis lagi, dan tentu saja hamil. Kemudian bergulirlah reaksi konflik yang lagi-lagi sudah kita saksikan dalam ratusan film Indonesia. Si pelaku, Hans, kemudian mengasingkan diri sambil duduk-duduk di villa pantai. Sesekali mengobrak-abrik pasir, menjambak-jambak rambutnya dan memasang wajah suntuk. Masih kurang, ada beberapa botol minuman yang jadi latar set dan rokok yang kerap terpancang di jarinya. Sementara, si korban, mengasingkan diri ke kampung keluarganya dan berniat, aha! Menggugurkan kandungannya. Lantas muncullah Andhika yang ternyata, bisa ditebak lagi, sudah lama memendam rasa terhadap Gadis yang dari dulu lebih mencintai Hans ketimbang dirinya. Ia tinggalkan beasiswanya ke Jerman, mencoba bekerja pada pamannya (Rano Karno), dan bersiap mengambil tanggung jawab menikahi Gadis dan mengakui janinnya sebagai anaknya. Dialog demi dialog, adegan demi adegan, kemudian bergulir makin tak masuk akal dengan berbagai reaksi konflik ala film kita yang benar-benar ’Ridiculously Unbelievable’ itu, mulai dari Gadis yang mendadak sontak marah-marah ketika Andhika menyambanginya dengan maksud heroik itu, kemudian Hans yang muncul lagi setelah mendengar berita pernikahan dua sahabatnya ini, ditambah munculnya beberapa karakter tak penting tanpa penjelasan yang relevan juga. Seakan belum lagi cukup, muncullah konflik utama yang bakal membawa kisahnya ke wilayah dramatisasi yang, oke, lagi-lagi dan lagi, sudah sangat klise, namun kali ini dilengkapi sedikit dengan info medis, yang sayangnya, tak juga kelewat akurat dan semakin parah menuju ke bagian akhir film nantinya. Gadis ternyata mengalami hipertensi kehamilan yang diperkirakan si dokter (Widyawati, oh ya, selain beliau ada dua lagi nama senior disini, Rima Melati dan Marini) bakal membahayakan Gadis dan bayinya.

Jika ada yang menyalahkan akting artis-artis kita selama ini kebanyakan tak beres dan masih terkadang over seperti sinetron, Saya berani menyatakan hal itu tak sepenuhnya benar. Aktor-aktor itu, termasuk Vino Bastian, Andhika Pratama dan Rano sendiri, berikut jajaran aktris-aktris senior itu, bukannya tampil dengan akting jelek sama sekali. Semua berusaha tampil dalam kapasitas paling baik yang diharapkan berfungsi untuk menggerakkan emosi penontonnya kecuali Revalina yang di bagian-bagian akhir harus memaksakan diri dengan referensi entah dari mana berdialog dengan suara datar dan terbata-bata (OMG, believe me, I’ve seen enough  people in their last minutes karena berbagai kasus yang ada, dan tak ada sama sekali yang begitu). Namun usaha akting yang baik itu kelihatannya tak didukung oleh skenario dengan naik turun konflik yang ada. Mereka jadi dipaksa untuk berakting bagus untuk menanggapi reaksi-reaksi tolol yang diberikan skenarionya, hingga kemudian tak memberi tempat bagi satu pun karakter untuk bisa benar-benar menarik simpati penonton atas problem mereka, serta berpanjang-panjang dan penuh pengulangan pula. Okelah, soal ketidakakuratan medis yang terus terang, cukup parah, mungkin tak juga harus disadari semua penonton yang tak berada dalam bidang itu, kemudian sinematografi karya Padri Naek yang juga membesut Merah Putih sebenarnya juga sudah cukup bagus, apalagi score musik Purwa Tjaraka dengan theme song yang sudah sangat dikenal luas dan kali ini dibawakan penyanyi yang juga kelasnya bagus, Lala. Tapi apa boleh buat. Racikan Rano pada skenario yang kelewat konvensional dan hampir tak punya motivasi jelas bagi tiap karakternya terhadap reaksi-reaksi konflik yang dibangunnya, membuat Satu Jam Saja benar-benar terasa, maaf sekali lagi, lebay. However, untuk sebuah comeback dari ikon sebesar Rano, at least, animo penonton kita yang rata-rata senang dibawa ke suasana bermuram-durja tanpa mau pusing-pusing memikirkan wajar tidaknya sebuah plot itu hingga memenuhi hampir rata-rata hall yang memutarnya, mari kita semua memberikan tepuk tangan yang meriah. (dan)

~ by danieldokter on October 11, 2010.

One Response to “SATU JAM SAJA : A STUPID WHO TRAPPED BETWEEN TWO IDIOTS”

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Aditya Prasetyo, Shandy Gasella, ucok siregar, ollie roxx, Daniel Irawan and others. Daniel Irawan said: SATU JAM SAJA : A STUPID WHO TRAPPED BETWEEN TWO IDIOTS: http://wp.me/pVV2A-3U […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: