STEP UP 3D : FOLLOW THE BEATS, FEEL THE EYE-SOAR AND LET YOUR FEET STOMPIN’!

STEP UP 3D

Sutradara : Jon Chu

Produksi : Summit Entertainment & Touchstone Pictures, 2010

Genre dance movie mungkin adalah satu lagi genre yang tak pernah benar-benar mati di Hollywood sana. Diantara gegap gempita trend film-film bertaburan efek spesial dan CGI, satu-dua film tetap muncul ke permukaan. Dan walau tak semua memberi keuntungan besar di perolehan box office, produser juga agaknya tetap menyediakan koceknya untuk tetap membuat film-film seperti ini. Step Up adalah salah satu franchise yang menyisakan keberhasilan itu hingga dilanjutkan ke instalmen ketiganya, dan yang unik, Step Up 3 lebih dijual sebagai Step Up 3D ketimbang versi normalnya, dimana kekuatan utamanya memang ada disana. Jadi dimana sebenarnya kelebihan franchise ini hingga bisa bertahan terus sebagai film bergenre minoritas itu? Well, sejak awal instalmennya, kecuali sedikit romance berchemistry padu sebagai bumbunya, Step Up tak pernah berusaha untuk susah-susah membangun plot ini-itu dengan kepadatan karakter yang harus dibahas mendalam. Franchise ini tampil dengan hanya satu tujuan, menjadi dance movie yang total memfokuskan diri dalam dance movement-nya, sebagaimana adanya sebuah kompetisi dance. Seperti Breakdance atau Flashdance bila Anda masih ingat, untuk menyebut segelintir lagi genre dance movie yang masih terngiang sampai sekarang, dimana kemampuan koreografer dan sutradara untuk menangkap momen-momen yang pas dalam usaha itu jadi sebuah kebutuhan terdepan.

Bergerak ke hiruk-pikuk kota New York dengan komunitas streetdance-nya, instalmen ketiga ini menyorot sekelompok anak muda yang tergabung dalam The Pirates, sebuah streetdance group dibawah pimpinan Luke (Rick Malambri), yang rela menyediakan rumah peninggalan orangtuanya untuk diset menjadi studio unik penuh tumpukan boombox, lengkap dengan space besar untuk menjadi tempat tinggal anak-anak yang rata-rata broken home ini. Padahal, selain menari, Luke juga sangat berbakat sebagai pembuat dokumenter amatir. Sayangnya, rumah tinggal ini sedang dirundung masalah penyitaan akibat ketidakmampuan Luke me-manage hipoteknya, sehingga satu-satunya jalan adalah memenangkan kompetisi dance terbesar bernama World Jam. The Pirates kemudian muncul semakin solid menakutkan lawan-lawan mereka termasuk The Samurai dibawah pimpinan bocah kaya Julien (Joe Slaughter) yang punya dendam lama pada Luke, dengan hadirnya penari muda Moose (Adam Sevani) yang masih merintis kuliahnya di NYU. Namun usaha mereka tak berjalan semulus yang diharapkan, apalagi ketika Luke terlibat hubungan asmara dengan penari misterius bernama Natalie (Sharni Vinson, ah, rasanya disandingkan dengan Step Up 1 dan 2, percampuran fisik antara Eliza Dushku dan Bonnie Bedelia-nya Willis di Die Hard itu jadi leading lady paling bersinar di sekuel ini). Persahabatan, cinta, hingga intrik penuh pengkhianatan pun bercampur-baur untuk menentukan siapa yang terbaik diantara streetdancers ini.

Sounds cliche? Pastinya. Toh seperti dua instalmen sebelumnya, Step Up 3D memang memiliki benang merah yang sama untuk membangun kekuatannya, dan percayalah, teknik 3D yang dirancang pas dengan nomor instalmen itu benar-benar jadi satu senjata ampuh yang menaikkan intensitas penonton untuk menikmati gelaran dance movementnya hingga berlipat ganda. Sejak awal, pengenalan ke kombinasi dance dengan parkour dan akrobatik muncul sangat memukau dengan treatment 3D itu, dan intensitas yang dibangun Jon Chu, yang sebelumnya sudah menunjukkan kemampuannya membesut genre ini di Step Up 2, tampil dengan grafik meningkat hingga ke adegan klimaks kompetisinya. Di tangannya, dance movement yang muncul dari awal berjalan semakin hebat dan semakin hebat lagi menuju bagian akhir. Subplot singkat tentang karakter-karakternya juga hampir tak ada yang terbuang percuma, plus trik untuk menyimpan kemampuan Malambri hingga scene-scene akhir untuk memberikan touch romantic duets seperti dalam instalmen-instalmen sebelumnya juga terasa sangat efektif. Ditambah nomor-nomor soundtrack bernuansa RnB penuh dentuman dan banyaknya scene-scene highlights seperti broadway dance on the street, tampilan laser yang melayang-layang langsung ke visual penonton, jaket penuh lampu plus slurpee yang beterbangan ke langit diatas lubang angin di sebuah romantic scene-nya, semua dengan racikan 3D yang benar-benar memanjakan mata, inilah instalmen paling irresistible diantara ketiganya, sekaligus salah satu sajian paling menyenangkan di tahun ini. So just follow the beats, let your eye soar with the feet stompin’! (dan)

~ by danieldokter on October 12, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: