ROKKAP : A BATAK’S LOVE STORY

ROKKAP (RONGKAP)

Sutradara : BM Joe, Ginanti Rona Tembang Sari, Hendra ‘Pay’ Arifin Hutapea

Produksi : Promised Land Pictures, 2010

Jujur, meski lahir dan bertempat tinggal di Medan, salah satunya karena profesi, saya bukanlah pencinta kultur Batak, bukan berasal dari garis itu, dan kadang malah suka merasa jengah juga dengan kulturnya yang cenderung kasar, penuh intimidasi dan sering dikaitkan dengan adat Batak itu, yang tak bisa dipungkiri, sering pula menjadi olok-olok di berbagai media terutama yang bernama Film. Padahal, siapapun juga tak akan menampik kalau di era 60-70an dulu, Medan dengan sejumlah sineas-sineas berdarah Batak itu sempat memberikan sumbangsih yang cukup besar dalam perfilman nasional. Beberapa film yang diproduksi di Medan, baik yang murni maupun joint venture dengan ibukota, sebutlah diantaranya, Piso Surit, Turang, Buaya Deli, Butet, hingga Musang Berjanggut dan Sorta yang punya tone agak mirip serta berset sama termasuk film-film yang dipuji kritikus, bahkan beberapa diantaranya berjaya di FFI. Sekarang, insan-insan perfilman itu menyebut perfilman Medan sudah tergolong mati suri, tanpa ada produksi yang benar-benar berarti, dan di beberapa pertemuan mulai dari pembentukan organisasi atau festival yang berhubungan dengan film, disini, hal ini selalu didengung-dengungkan. Tahun lalu sempat hadir Tapi Bukan Aku yang juga disyut di sekitar Danau Toba dengan produser, kru dan pemeran yang sebagian adalah orang Medan, namun juga sayang masih serba terbatas dari publisitas dan hasil akhirnya. Rokkap, yang mendadak sontak hadir tanpa promosi atau press release meluas ke semua kalangan lagi-lagi menjadi usaha untuk mencatat keikutsertaan daerah ini dalam produksi berskala nasional, sekaligus mengenalkan kultur Batak secara lebih luas lagi. Walau masih tergolong joint venture antar daerah, namun beberapa kru sampai aktor dan figurannya memang asli orang Medan, atau paling tidak, asalnya dari sana. Oke, buat kepentingan jualannya, sah-sah saja kalau pilihan peran utama gadis Batak itu jatuhnya ke Kinaryosih, ketimbang artis lain yang benar-benar terlihat seperti orang Batak. Dari segi fisik dan bantuan makeup mungkin Kinaryosih bisa sedikit menyamai, tapi dalam hal pemaksaan dialek tanpa pemahaman yang cermat, itu justru sebuah batu sandungan untuk penyampaiannya secara keseluruhan.

Dunia Lingga (Kinaryosih), gadis Batak yang tuna netra karena sebuah kecelakaan dan berprofesi sebagai pelukis itu, seketika berubah ketika Bonaventura ‘Bow’ Christopher, seorang fotografer dari Jakarta menyambanginya karena tertarik dengan lukisan Lingga. Bow sendiri datang ke Parapat untuk membuat foto prawedding untuk sahabatnya (Agastya Kandou). Ketertarikan awal pada lukisan itu membawa Bow jatuh cinta pada Lingga, namun perbedaan kultur diantara mereka membuat ayah Lingga (Yondik Tanto) menentangnya habis-habisan, namun Bow juga sama sekali tak main-main dengan pilihan hatinya, walaupun dirinya masih terikat hubungan dengan kekasih lamanya.

Sounds Indonesian’s cinematically cliche? Jawabannya adalah sangat dan sangat. Lepas dari pengenalan budaya Batak yang memang di beberapa bagian tampil cukup menarik, ada acara lamaran adat Batak sampai bahasa asli yang dibubuhi teks Indonesia, plot yang disuguhkan Rokkap (yang artinya jodoh) benar-benar tak memiliki sesuatu yang baru. Lagi, setelah Satu Jam Saja, entah memang nostalgia ke era 70-80an itu adalah demand atau pengejawantahan dari otak sineas-sineas kita yang memang jarang bisa berkembang, plot Rokkap tampil seutuhnya dengan semangat melodrama jadul ala Indonesia yang simpel, datar dengan konflik-konflik yang, terus-terang, sudah menjemukan sekali. Jatuh cinta, dilarang keluarga, berjuang untuk meluluhkan hati sang penentang (baca : orangtua), lalu ada sedikit tragedi untuk bisa menuliskan kata The End, lengkap juga dengan embel-embel penyakit ini dan itu, tampilan dokter (aha, saya tak menyangka dua orang dokter kandungan kolega saya itu dicomot asli dari sini dengan kredit terhormat di end creditsnya), adegan di depan kamar operasi, duduk di depan pusara, atau lain-lain lagi hal tipikal yang sudah, aduh, sebuah kalkulator saja agaknya tak bisa lagi menghitung pengulangannya di film-film kita. Saya akan menyebut satu lagi kekurangan terburuk film ini dari dialek Kinaryosih yang agaknya salah menginterpretasikan semua e pepet menjadi e taling di lidah orang Batak (kemana sebenarnya pelatih dialek di film ini?), biarpun ekspresi aktingnya tampil dengan baik. Namun lagi, jangan buru-buru jadi skeptis karena peran-peran sampingannya justru bisa mengangkat film ini jadi sedikit lebih baik. Peran si ayah dan kakak Lingga (Iyuth Pakpahan) adalah dua yang tampil paling menonjol disini. Dengan dialek Batak yang benar-benar pas, Iyuth tampil santai sementara Yondik menunjukkan gaya teatrikal yang memang fits like Cinderella’s shoes ke tipikal orangtua Batak yang sering bereaksi bak pemain teater itu (Saya jadi sadar bahwa gaya teatrikal ala Indo yang sering terlihat over ketika dibawa ke film layar lebar ternyata cocok juga bila dipakai untuk menggambarkan orang Batak :D). So okay, rasanya benar juga kalau ada kelebihan dari sinematografi yang rapi, penggambaran kultur, plus alat musik daerah dan tampilan penyanyi daerah Tongam Sirait yang sering berpartner dengan Viky Sianipar itu dalam membawakan beberapa lagu penghias soundtracknya memang jadi sebuah highlight yang bisa menyelamatkan ke-klise-an film ini. Lantas mengapa pihak produser sepertinya tak percaya diri untuk mempromosikannya dengan gencar? Coba lihat, kecuali beberapa tweet dari kru-nya, ada berapa banyak informasi selain sinopsis comotan yang sama serta video trailer (yang di beberapa situs kedaerahan masih di-salah sebut sebagai thriller :p) yang muncul ketika Anda mencari informasi film ini di internet? I won’t be lying. Ini salah satu yang paling minim dalam sejarah perfilman kita di era sekarang, padahal punya potensi besar untuk penonton daerah yang menjadi pusat kisahnya. So there again, I was being the one and only audience di salah satu pemutaran jam terakhirnya di sebuah hall 21 Medan. M-E-D-A-N. Too bad. (dan)

~ by danieldokter on October 22, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: