WALL STREET : MONEY NEVER SLEEPS

WALL STREET : MONEY NEVER SLEEPS

Sutradara : Oliver Stone

Produksi : 20th Century Fox, 2010

Penonton-penonton yang sempat menyaksikan kedigdayaan Michael Douglas sebagai aktor pemenang Oscar lewat Wall Street di puncak karirnya tahun 1987 dulu pasti masih ingat bagaimana lagu soul jazz klasik, Fly Me To The Moon, mengantarkan kita ke sebuah pameran kesibukan di tengah pusat perekonomian AS di New York, named Wall Street, dimana pengusaha-pengusaha raksasa dan para pialang saham beraksi bak ribuan serdadu di medan perang dengan intensitas ketegangan yang mirip. Dan tak salah juga, kalau Gordon Gekko, pengusaha licik yang dihidupkan oleh Douglas, menjadi salah satu karakter film paling memorable, bahkan peringkat ke-24 top movie villains versi AFI tahun 2003 dan suatu popular culture dalam sebutan ekonomi yang masih banyak digunakan sampai sekarang. Salah satu quote terkenal, ‘Greed Is Good’ yang kembali muncul disini juga menjadi quote bernilai sama dalam sejarah film. Film besutan Oliver Stone ini sudah berjasa membuka jalan bagi sebuah tema baru tentang ekonomi dan pialang saham hingga sempat diikuti beberapa film berkapasitas lebih kecil di era tadi. Ditambah hasil box office dan list nominasi Oscar, tentu kesempatan bagi sebuah sekuel terbentang lebar. Namun untuk perwujudan yang baru hadir setelah 23 tahun, that’s another case. Tak sedikit orang yang memandang skeptis usaha Stone yang dinilai aji mumpung di saat semua produk lama berniat menancapkan taring mereka lagi di masa sekarang, dengan rata-rata nilai keberhasilan yang masih dipertanyakan.

Sedikit terlambat, Stone pun menggelar kelanjutan sepakterjang Gekko di masa krisis ekonomi AS 2008 lalu. Gekko yang baru 7 tahun menghirup udara bebas di tahun itu tak lagi muncul dengan tampilan perlentenya, namun tak lebih dari sebuah motivator ekonomi tua yang sukses meluncurkan bukunya, ‘Is Greed Good?’, dibalik segudang masalah yang merusak hubungannya dengan sang putri, Winnie (Carey Mulligan). Sementara kekasih Winnie, Jake Moore (Shia LaBeouf), yang kebetulan adalah seorang pialang saham di Wall Street tengah menyelidiki konspirasi yang menyebabkan perusahaan investasi tempatnya bekerja dilanda kebangkrutan hingga merenggut nyawa Louis Zabel (Frank Langella), sang pemilik sekaligus bos Jake. Penyelidikan itu mengarah pada Bretton James (Josh Brolin), CEO perusahaan saingan yang juga punya hubungan erat dengan Gekko di masa lalunya. Maka sambil mendekati Gekko untuk membantunya memperbaiki hubungan dengan Winnie, Jake yang kini direkrut perusahaan James pun diganjar sejumlah informasi oleh Gekko. Tujuannya adalah untuk menjatuhkan James, namun Jake juga tak menyadari motivasi rahasia dibalik bantuan mentor barunya ini.

Meski bersetting atmosfer Wall Street dengan segala konspirasi dan intrik di dalamnya, gelaran plot yang dibesut Stone tetap tak jauh berbeda dari film pertamanya, dimana penonton yang tak paham akan bisnis saham juga dengan nyaman akan bisa mengikuti alurnya. Adalah suatu pesan moral tentang meraih ambisi yang tetap muncul lebih kontras ketimbang penjelasan tetek-bengek bisnis saham yang ditakutkan sebagian penontonnya. Dan jangan takut, meski bagi sebagian pengamat film ini dikategorikan dalam genre drama, nuansa konspirasi itu tak hadir dengan datar namun lebih mirip sebuah thriller penuh intrik, yang menyajikan ketegangan yang terjaga dan tetap enak untuk diikuti. Di usianya yang menua, Douglas terlihat masih menyimpan sisa-sisa kekuatannya untuk menghidupkan kembali sosok fenomenal yang sudah berjasa besar dalam karirnya itu, sementara Shia LaBeouf yang menggantikan tempat Charlie Sheen (yang juga muncul cameo dalam sekuel ini) sebagai apprentice Gekko juga menampilkan akting dengan chemistry yang sama kuatnya. Pendukung lain yang juga punya nama besar seperti Susan Sarandon, Frank Langella hingga Eli Wallach yang sudah sangat dimakan usia juga tampil seefektif dua peran penting lainnya, the rising star Carey Mulligan dan Josh Brolin yang muncul se-solid karakter mereka disini (especially Josh Brolin, aktor yang belakangan semakin terangkat lewat peran-perannya di deretan film berkualitas yang tak sekedar jualan belaka padahal sudah memulai debutnya lewat film-film remaja cheesy di era 80an dulu). Bagi Oliver Stone sendiri, Money Never Sleeps adalah sebuah pembuktian, bahwa lama setelah jasa besarnya menyuguhkan kita karya-karya se-klasik Platoon, JFK dan pastinya Wall Street, nama besarnya masih terbukti memiliki taring cukup tajam. Set, intrik dan feel yang mirip itu juga yang membuat sekuel ini, kalaupun tak lebih baik karena eksekusi feelgood ending yang terus terang, agak keluar jalur itu, tampil sebagai sekuel yang sangat bersinergi sekaligus memiliki semua kekuatan sinematis yang nyaris menyamai pendahulunya. And hey, score Craig Armstrong dan beberapa soundtrack dari David Byrne & Brian Eno itu juga tak kalah menariknya. So like Gekko said that Greed Is Good, This Long-Awaited Sequel Is Absolutely Good. (dan) .

~ by danieldokter on October 31, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: