SENGGOL BACOK

SENGGOL BACOK

Sutradara : Iqbal Rais

Produksi : MVP, 2010

To Err Is Humane, To Forgive Is Divine. Part singkat dari pepatah Inggris kuno Alexander Pope yang masih memakai ejaan Inggris lama itu memang menjelaskan sekali sebuah sisi humanisme dari sebuah sikap temperamental dan sebuah redemption dengan memaafkan kesalahan orang lain. Itu yang terlintas di kepala saya saat menyaksikan opening scene film ini, tentang seorang Galang (Al-Fathir Muchtar) yang dari kecil memang sudah punya sifat itu. Hantam kromo. Bahkan setelah ditinggalkan dengan petuah dari mendiang ayahnya yang diingatkan kembali oleh sobat karibnya, Dani, sebelum perpisahan mereka, bahwa jagoan berantam bukan tak selamanya berarti preman. Dan poster, trailer dan berbagai promosinya sudah menjelaskan, bahwa Senggol Bacok, oh ya, berikut juga judulnya, adalah sebuah, what I called, an uncompromised black comedy, intinya kira-kira adalah sebuah plot yang dibangun dengan negatifisme bertubi-tubi terhadap karakter utamanya. Sial, sial terus, jatuh, tertimpa tangga, bahkan kalau perlu sampai mampus sekali pun. Seperti, katakanlah, kalau Anda sudah pernah menonton film berjudul ‘What About Bob’nya Bill Murray, ‘Pure Luck’-nya Martin Short, atau yang lebih familiar, ‘War Of The Roses’ bahkan animasi-animasi Tom & Jerry. Karakter Galang juga sangat mengingatkan saya pada kiprah Mark Wahlberg di ‘The Other Guys’ yang karena temperamennya justru jadi lebih mengundang tawa ketimbang Will Ferrell yang benar-benar komedian. Itulah, sebuah situasi yang dibangun tanpa kompromi. Push It To The Bone. Yang penting, tujuannya untuk meledakkan tawa penontonnya, sambil menyiratkan pesan moral singkat, ‘manusiawi’. Seperti kebanyakan kita juga.

Galang dewasa yang bekerja di sebuah perusahaan di Bandung pun kembali berhadapan dengan masalah yang menaikkan tensinya. Kekasihnya dihamili bosnya, dan akibatnya, Galang dipecat setelah menghajar si bos. Dia pun kembali ke rumah neneknya (Rina Hassim), dan lantas merantau ke Jakarta untuk menenangkan pikirannya. Disana, di lingkungan kosnya, Galang berkenalan dengan Disko (Aji Idol), idol gagal yang mengenalkannya pada Laras (Kinaryosih) yang langsung menarik perhatian Galang. Namun lagi-lagi kesialan datang akibat sifat temperamennya. Tak sengaja, Galang menghajar ketua RT (Joe P Project) yang ternyata ayah Laras, dan berbuntut terus ke salah paham yang semakin menjauhkannya dari Laras. Apalagi ketika muncul teman sekamar barunya, Doni (Ringgo Agus Rahman), yang manipulatif dan menggunakan kesempatan atas kesialan Galang demi mendekati Laras. Puncaknya, Galang harus ditahan karena kasus bom yang juga melibatkan ayah Laras. Temperamennya pun memuncak saat Doni akhirnya mengabarkan bahwa dirinya akan menikahi Laras.

Dibesut oleh sutradara Iqbal Rais dari skenario debutan Ben Sihombing yang jitu sekali menyorot karakterisasi Galang dengan turnover-turnover humanis dan diterjemahkan secara luarbiasa dengan ekspresi berikut intonasi yang sama manusiawinya oleh Fathir (coba lihat turnover ekspresinya saat marah, jatuh cinta, kecewa atau berbicara dengan nenek kesayangannya di telefon), film bertitel sangat mengundang ini sudah menancapkan satu kekuatan terbesarnya, ditambah lagi dengan komedi situasional tanpa kompromi yang mengalir wajar dan kadang bisa meledak-ledak, semua (ah, saya tak mau menyebutnya dengan istilah ala kritikus, plothole, biarpun kemunculan Doni terasa begitu cepat mengundang reaksi Galang), kekurangan-kekurangan yang ada, termasuk beberapa pun langsung bisa tertutupi dengan sempurna menuju twist ala ’The Game’-nya David Fincher yang bahkan terasa melencengkan faktor logika dari kontinuitas tiap adegan-adegannya. Dan Iqbal Rais, memang jarang sekali tampil mengecewakan dalam menyuguhkan film komedi situasional bergenre pop seperti ini. Sejak debutnya di Tarix Jabrix, kemudian Si Jago Merah, sekuel Changcuters itu, hingga Sehidup Tak Semati yang dicerca banyak orang namun terasa sangat nyaman buat disaksikan dengan penuturannya yang runtut itu, rasanya cuma Bukan Malin Kundang yang tone-nya sedikit mengecewakan. Of course I’m not talking about vanguard Indonesian director sekelas Joko Anwar disini, namun dalam genre pop itu Iqbal punya kelebihan ekstra dalam menyampaikan plot dari skenarionya, sambil sesekali bernakal-ria menyuguhkan slapstick yang hampir selalu kena, dan menyusun sinergisme adegannya dengan pilihan soundtrack yang juga terasa pas. Musik, agaknya jadi faktor penting yang padu dalam film-film Iqbal, lihat saja debutnya memasang The Changcuters, Judika dalam Si Jago Merah dan disini, ada Kunto Aji yang besar dari Indonesian Idol serta Johny Iskandar sebagai cameo. Di luar itu, pemilihan cast mulai dari Ringgo yang belakangan sudah terjebak gaya komedinya yang menyebalkan, justru bisa menggunakan style itu sebagai senjata ampuh atas karakternya disini, hingga Kinaryosih dan Aji Idol yang tampil santai-santai saja namun tetap wajar, dan tentu, Joe P Project yang funnily remarkable seperti biasanya. Now let’s go back to the ending yang jadi kekurangan terbesar di Senggol Bacok. Anda boleh saja memflashback kembali ingatan Anda ke adegan demi adegan sambil mencocokkan satu demi satu terhadap gelaran twist yang agak keluar jalur itu, namun untuk sajian yang sudah muncul menggelitik urat tawa secara intens dengan karakterisasi rapi dan kewajaran konflik dari awalnya, saya memilih untuk berkompromi dengan keputusan itu. Paling tidak, skenario Ben sudah mencoba menyuguhkan kita sesuatu yang beda dari biasanya, dan usaha itu perlu dihargai lebih ketimbang sekedar cacian. (dan)

~ by danieldokter on November 4, 2010.

One Response to “SENGGOL BACOK”

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Daniel Irawan, Daniel Irawan. Daniel Irawan said: SENGGOL BACOK: http://wp.me/pVV2A-4t […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: