MEGAMIND : LIKE A RUMBLE OVER A LADY

MEGAMIND

Sutradara : Tom McGrath

Produksi : Dreamworks Animation, 2010

Long before the trailer hits Indonesian theatres, saya sempat melihat sebuah trailer ketika menonton Bolt 3D di sebuah bioskop negara tetangga. Oobermind, judul film animasi yang sekilas mengisahkan plot superhero vs supervillain itu ternyata akhirnya membuat Dreamworks kurang percaya diri sehingga mengganti judulnya dengan Megamind setelah jadwal peredaran sempat tertunda lumayan lama, yang lebih catchy dan akrab di telinga penontonnya. Maklum saja kalau Dreamworks bersikap super hati-hati dalam mengedarkan produk animasinya, karena Shrek dan Madagascar, dua franchise animasi mereka, telah berkembang begitu besar sebagai pesaing utama animasi-animasi Pixar yang masih memimpin kompetisinya dalam hal inovasi dan rating kritikus. And so then we know, plot singkat yang digambarkan dalam teaser trailer itu ternyata tak sesimpel itu, dari beberapa press release-nya belakangan, dan ada filosofi klise dari sebuah superhero universe ala ‘Unbreakable’ yang diusung disana. Dan Dreamworks masih menggunakan senjata lama mereka, dengan ensembel voice cast yang berisi nama-nama tenar. Ada Will Ferrell yang akhirnya mendapat porsi utama setelah Ben Stiller (yang juga salah satu produser dan pengisi suara side characternya) serta Robert Downey, Jr mundur, komedian-komedian terkenal lainnya, Tina Fey, Jonah Hill, David Cross hingga Brad Pitt.

Dimulai dengan sebuah kisah asal-usul yang mirip Superman, dimana sebuah krisis di dua planet luar membuat masing-masing mengirim bayi mereka ke bumi, untuk ditakdirkan berhadapan menjadi archenemy abadi. Selagi si bayi cantik mendapat semua kemudahan dan berkembang menjadi superhero pelindung Metro City bernama Metro Man (Pitt), lawannya yang berfisik buruk dan berwarna biru itu bernasib kontradiktif di lingkungan jelek dan tumbuh sebagai supervillain bernama Megamind (Ferrell). Hampir seluruh kehidupan mereka diwarnai perseteruan dimana Megamind selalu menjadi pihak yang kalah. Lelah dengan keadaan itu, Megamind bersama partner setianya Minion (Cross), ikan kecil dibalik tubuh robot besar, kemudian merancang suatu perangkap lewat love interest Metro Man, wartawati Roxanne Ritchi (Tina Fey). Tak disangka, Megamind berhasil menewaskan musuh abadinya ini. Namun lama kelamaan, Megamind dilanda kesepian karena tak lagi memiliki saingan yang selalu memotivasinya untuk melancarkan kejahatannya. Ia pun membuat sebuah rekayasa untuk melahirkan superhero baru sebagai lawannya, yang secara tak sengaja jatuh ke sosok Hal (Hill), kameramen Roxanne. Hal langsung dididik menjadi superhero baru Metro City bernama Titan, namun persaingan pribadi mereka dalam merebut hati Roxanne justru memutarbalikkan semua rencana Megamind, yang akhirnya harus berhadapan dengan Titan bukan lagi sebagai supervillain, namun hero yang harus menyelamatkan Roxanne dan seluruh warga Metrocity.

Don’t feel spoiled yet, secara turnover antihero ke karakter jagoan utama itu memang sudah dibahas di banyak pre-publicationnya, dan judulnya saja sudah menunjukkan itu. Masih ada satu twist menarik yang disimpan ke klimaksnya, yang harus saya akui, terasa sedikit senada dengan film nasional kita, Senggol Bacok, yang baru saya tonton sehari sebelumnya. Tema yang diketengahkan duo penulis Alan J. Schoolcraft dan Brent Simons sebenarnya sudah terlihat solid sekali mengusung filosofi-filosofi abadi superhero universe dengan kemampuan sutradara Tom McGrath, sineas yang sudah punya pengalaman segudang dalam film-film animasi terkenal dalam berbagai posisi mulai animator, storyboard artist, penulis skenario, pengisi suara hingga co-director dua sekuel Madagascar. Namun sayangnya menuju bagian paruh keduanya, Megamind terasa agak bertele-tele membangun konfliknya seperti kendaraan yang bolak-balik ke tempat yang sama untuk menekankan proses dilematis sang antihero yang hampir terjebak ke dalam plot lovestory yang makin mem-blur-kan motivasi konfliknya seolah hanya gara-gara memperebutkan seorang wanita . Ini semakin diperparah dengan karakterisasi Hal/Titan dan prosesnya sebagai villain yang kelewat annoying dan sama sekali minus kharisma. Bagi sebagian penonton, bisajadi, sosok Megamind sendiri dibesut dalam bentuk terlalu ekstrim sehingga agak sulit membuat penonton bisa lebih bersimpati menerima turnover karakter buruk rupa itu ke mainhero, and even get the ladies pula. Untunglah McGrath tetap mengedepankan unsur komedinya yang di banyak sisi tampil sangat lucu dengan teknik animasi 3D yang juga cukup lumayan, dan dengan cepat juga merubah tone-nya yang mulai membosankan itu ke klimaks yang seru. Then again, hey, ini adalah sajian animasi yang tak seharusnya dinilai terlalu filmis. Untuk sebuah hiburan, Megamind masih tetap tampil fun, apalagi dengan soundtrack-soundtrack klasiknya mulai dari Highway To Hell dan Back In Black AC/DC, Bad Michael Jackson sampai Welcome To The Jungle-nya Guns N Roses yang ‘hell yeah’ sekali mengantarkan adegan klimaks pertarungan antara Megamind dengan Titan diatas gedung tinggi itu. (dan)

~ by danieldokter on November 6, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: