THE AMERICAN : RAIDERS OF THE LOST ART

THE AMERICAN

Sutradara : Anton Corbijn

Produksi : Focus Features, 2010

Sulit memang menampik kualitas ke-aktor-an seorang George Clooney meski awal karirnya sama sekali tak bisa dibilang baik. Aktor yang sebenarnya sudah lama meniti karir dalam film-film terlewatkan dan seketika besar dari serial ER, err… tentu karena kharisma dari tampilan fisiknya, meski di masa hampir semua rambutnya sudah beruban, kemudian menapak layar lebar kembali lewat perannya yang rata-rata bisa dibilang gagal ; The Peacemaker yang tak jelas kemana arahnya, Bruce Wayne yang ‘mistakenly’ ramah dan tebar pesona sana-sini di sekuel Batman paling dicemooh, dan kapten kapal nelayan yang cenderung tolol ketimbang berwibawa di The Perfect Storm (oh yes, that movie absolutely belongs to Wahlberg dan Lane, bukan dirinya). Setelah From Dusk Til Dawn dan Three Kings yang komersil (yup, trilogi Ocean’s, jelas tidak termasuk, karena that’s just big stars trying to have real fun in their carreer), mendadak Clooney menunjukkan peningkatan besar di Syriana dengan tampilan tambunnya. Kita seolah terbangun dari tidur lama, karena setelah itu, Clooney langsung jadi patokan kelas Oscar. Orang tak lagi menganggapnya aktor jual tampang belaka namun mungkin selama ini tak mendapat kelas yang pas buat aktingnya. Dan pilihan-pilihan filmnya setelah itu (oh ya, trilogi Ocean tak termasuk di dalamnya), wah, adalah film-film quiet ala arthouse yang jelas sekali menonjolkan sebuah Clooney-esque sebagai standar baru film-film kelas atas yang mungkin sulit dinikmati penonton biasa. So setelah Up In The Air yang lagi-lagi banyak dipuji-puji itu, inilah film terbarunya, The American, yang sekilas terlihat seperti thriller spionase ala Bourne Trilogy dari beberapa teaser picture serta posternya. Aha, jangan buru-buru menganggap Clooney sudah mau meninggalkan kebiasaan terakhirnya. Jauh dibalik tampilan poster yang sangat comercially Hollywood itu, film yang diangkat dari novel bestseller karya Martin Booth, ‘A Very Private Gentleman’ ini ternyata juga adalah sebuah arthouse movie, yang mengacu kepada gaya film-film arthouse Eropa tahun 70an, bukan yang bernada trash atau big bang action murahan yang sempat membanjiri bioskop kita di era itu, namun lebih ke sisi arthouse Perancis-Italia yang lebih serius. Seperti sebagian film-film Alain Delon, yang meski bersetting polisi atau hitman, namun bertone lamban dan lebih menonjolkan sisi stylish yang sangat mendominasi. Kru dan aktor-aktris pendukungnya juga bukan nama-nama Amerika yang dikenal.

The American (Clooney, I won’t mention his name here cause it works like a spoiler in this movie), begitulah sebutan pembunuh bayaran yang sedang mengasingkan diri di pinggiran Italia, sambil menyelesaikan tugas terakhirnya atas permintaan paksa sang bos, Pavel (Johan Leysen), membuat sebuah senapan ampuh untuk pembunuh bayaran wanita, Mathilde (Thekla Reuten). Di sela pekerjaannya, ia menjalin hubungan erat dengan pelacur Clara (Violante Placido), yang membuka matanya ke kehidupan normal serta seorang pendeta (Paolo Bonacetti) tempatnya mencurahkan dosa masa lalunya, sambil menyadari bahwa ada aturan tak terhindarkan untuk seorang pembunuh yang ingin keluar dari pekerjaannya.

So it’s not something new for a plot. Sama seperti film-film arthouse Eropa yang bersembunyi dibalik karakter lelaki tangguh diantara wanita dan senjata itu seperti sebuah penyamaran tak terduga, plot pesakitan yang ingin menjalani hidup normal dengan pesakitan lain di tengah konsekuensi yang harus ditempuhnya, jelas bukan lagi barang baru. Film-film Mandarin 80an juga sudah bertabur menggunakan pakem ini. Namun justru tone nostalgik itulah yang membuatnya spesial. Dibesut oleh sutradara berdarah Belanda, Anton Corbijn yang karya sebelumnya, Control, drama berlatar belakang band Eropa yang sudah banyak menyita perhatian kritikus dunia itu, atas skenario adaptasi Rowan Joffe (28 Weeks Later), The American terlihat setia sekali mengabdikan tiap aspeknya pada tone ala arthouse Eropa yang bukan saja dipenuhi (oops, saya lagi-lagi tak mau menyebutnya plothole) ketidakjelasan serta kesinambungan adegan-adegan yang langsung terjelaskan, dialog-dialog yang sekilas terasa tak juga penting, some explicit sex scenes hingga alur yang terus terang, sangat lamban hingga bagi sebagian penonton bisa terasa sangat membosankan dengan hanya menyisakan satu-dua action scene yang juga tak kelewat berlama-lama. Selebihnya, kita hanya melihat panorama keindahan sisi-sisi Italia yang hadir dengan sinematografi luarbiasa, serta, ini yang terpenting. Akting Clooney yang terlihat pas sekali menerjemahkan kegundahan dibalik ketangguhan karakternya sebagai seorang pembunuh bayaran. Sorot mata, ekspresi dan bahasa tubuhnya, dengan sukses membaur sangat padu ke tone muram serta lamban ala arthouse itu, serta membangun chemistry hebat juga dengan lawan-lawan mainnya. Sayang rasanya tak satupun aktor Eropa legendaris yang diajak ikut tampil untuk lebih menekankan unsur nostalgik tadi. So then you knew what’s it all about, it’s a Clooney-esque with the 70’s European Arthouse Cinema’s nostalgic feel. Kalau memang tak terbiasa dengan tontonan seperti ini, lebih baik mundur ketimbang memberikan cacian demi cacian yang sama sekali tak pada tempatnya. Poster yang menipu? Ah, it’s just a part of how to sell something in the movie industry. Wajar-wajar saja. (dan)

~ by danieldokter on November 11, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: