SKYLINE : SEE IT AT YOUR OWN ‘BRAIN’ RISK

SKYLINE

Sutradara : The Brothers Strause

Produksi : Hydraulx Entertainment, Rat Entertainment & Universal (distributors), 2010

Just like human, semua film itu punya tujuan disamping komersialisasi jualannya. Jadi tak usah heran kalau sesekali kita disodori film yang dengan pakem tak lazim, apakah dari soal pembuatannya, penyampaiannya, hingga penuturan-penuturan filmis yang tak biasa. Film-film Quentin Tarantino misalnya, ada yang merupakan tribute pada film-film cult dan drive in trash masa lalu, atau Blairwitch Project, Cloverfield, Paranormal Activity dan District 9 yang terkesan seperti homemade movie dengan handheld camera hingga yang murni komersil sekalipun. Semuanya punya tujuan. Penerimaannya tentu terpulang lagi pada penontonnya sendiri, yang bisa menganggap film itu jelek setengah mati, atau justru jadi favorit di masanya bahkan di kemudian hari. Mau segila apapun sebuah film itu menghantam visual penontonnya, tujuan ini adalah titik balik dari segala penilaian relevannya. Toh Machete saja bisa menjadi tontonan yang sangat cheerful atas kegilaan itu. So, there is Skyline, film tentang invasi alien di kawasan Los Angeles yang mendadak sontak dipublikasikan melalui sebuah short viral video yang sekilas terlihat seperti homemade, ala Cloverfield namun tidak dengan kamera handheld dan narasi pribadi kameramennya, atau District 9 yang fenomenal itu, tapi mengalirkan gaung dan ekspektasi melimpah dari tampilan efek spesialnya yang benar-benar keren. Maklum saja, short viral video itu memang dibesut oleh abang beradik Greg dan Colin Strause yang berada dibalik perusahaan efek visual Hydraulx yang sudah terlihat kiprahnya di film-film raksasa dari Day After Tomorrow, Terminator 3 hingga Avatar. Pasca debut penyutradaraan mereka di AVP : Requiem yang memalukan bagai serangkaian syuting di tengah ulah PLN tanpa satupun kejelasan adegannya, mereka kembali menyita perhatian lewat teaser Skyline, yang sekaligus secara kontroversial juga mengundang gugatan dari Sony Pictures yang sudah mengontrak kerja efek mereka dalam produksi big budget mereka tahun depan yang berpremis sama, Battle : Los Angeles. Apapun alasannya, short viral video mereka memang sangat mengundang ekspektasi penonton, yang seketika berharap ada another Cloverfield or District 9 coming its way. Tapi saya sempat tersentak ketika sebagian short review dari beberapa tweets teman-teman yang menggambarkan negatifisme, apalagi sebuah message dari seorang unknown nice lady di facebook after a ‘now watching’ post. Get out of that line. You’ll be wasting your money. You’ll be sorry. The movie sucks. etc. Is it that bad? Ah, saya masih mencoba tak merubah ekspektasi setinggi langit itu.

Dimulai dengan opening scene meyakinkan tentang cahaya-cahaya biru yang turun di langit LA dan membuat siapapun yang memandangnya mengalami varises seperti zombies dalam intensitas ala film alien klasik seperti Invasion Of Body Snatchers, Skyline pun menggelar kisahnya tentang sekelompok orang yang terjebak di dalam apartemen mereka dan mencoba selamat dari invasi yang ternyata datang dari sekumpulan alien pemakan otak manusia itu. Tokoh utamanya, Jarrod (Eric Balfour, oh, saya sudah tahu sejak awal barisan pendukungnya bukan aktor-aktor papan atas yang terkenal dengan beberapa wanita dalam tampilan tanktop rumahan ala Vivid atau Private, dimana satu film Eric yang lekat di ingatan adalah Lie With Me, sebuah softporn versi art yang lumayan eksotis), baru saja mendapat kabar dari sang kekasih, Elaine (Scottie Thompson) bahwa dirinya tengah mengandung bayi Jarrod. Kemudian ada rekan satu apartemennya yang bergaya bak seorang rapper superstar, Terry (Donald Faison), yang sedang ribut dengan pasangannya Candice (Brittany Daniels) karena perselingkuhannya dengan Denise (Crystal Reed), serta pemilik apartemen Oliver (David Zayas, yang baru saja tampil sebagai tokoh diktator dalam The Expendables). Ditambah segelintir tokoh tak penting, mereka berusaha menyelamatkan diri dari invasi itu. Berlarian, sembunyi, hingga merencah-rencah alien dengan tangan kosong. Oh, yeah! Sounds interesting, ain’t it?

Pembuka pasca kredit awal yang sangat mengingatkan kita dengan Cloverfield dan mendadak menjadi intens luarbiasa di basement parkiran itu sebenarnya sudah tampil sangat menjanjikan dengan tampilan efek spesial yang persis seperti short teasernya, meski sedikit dirusak oleh subkonflik selingkuh-selingkuh (Oooh, it’s so Indonesian) diantara karakternya, namun Strause bersaudara ini kemudian kelihatan terlalu asyik melanjutkannya tanpa batas seperti anak-anak yang tengah berfantasi tak karuan. Saya sempat memaklumi bahwa mungkin tujuan murni Skyline ini adalah full entertainment yang tak harus membuat penontonnya mengerinyitkan kening mereka di tengah-tengah dejavu efek spesial film-film scifi terkenal mulai dari Independence Day, War Of The Worlds, Sentinel-nya Matrix, District 9 hingga Aliens yang harus diakui memang remarkable, namun lagi-lagi batasan logika dan kewajaran itu seperti dipijak-pijak oleh Greg dan Colin hingga terasa seakan tak mungkin untuk tak mengerinyitkan kening atas guliran adegan demi adegannya yang penuh dengan logika film sampah dan kelas B lainnya. Dan percayalah, kekhawatiran yang sebagian bahkan bisa mengundang tertawaan keras akibat Anda merasa sangat bodoh bisa mengikuti plotnya masih di-push lagi dengan kegilaan demi kegilaan lain yang muncul, bahkan ketika Skyline sudah mengisyaratkan filmnya sudah hampir berakhir. Terus dan terus lagi, hingga open ending yang makin sinting itu. Trust me, ini sudah seperti berada di persimpangan kewarasan yang benar-benar blur, hingga rasanya saya tak akan segan-segan meng-hire seorang Anton Chigurgh untuk menangkap dan mencampakkan Strause bersaudara ke tingkat terdalam Arkham Asylum. Efek spesial itu memang benar-benar eyecandy hingga Anda akan menyayangkannya tak dibesut dengan modal lebih besar dan treatment 3D, namun wrapping keseluruhannya, trust me again. See it at your own ‘brain’ risk, karena ini benar-benar terasa seperti menyaksikan tokusatsu jadul dengan efek jauh lebih modern. Walau dalam 10 tahun ke depan Skyline punya kans buat jadi drive-in cult classic masa depan, buat saat ini, it’s Stupidly Bad. Real Bad, and now I couldn’t help but thanking that lady for warning me. (dan)

~ by danieldokter on November 12, 2010.

2 Responses to “SKYLINE : SEE IT AT YOUR OWN ‘BRAIN’ RISK”

  1. Sama… reaksi saya menonton endingnya :”Hah? Cuma segitu doang? Nggak banget!” Gantung abis! bahkan nggak ada kejelasan tentang alien itu. Nyesel nonton.

  2. 🙂. well at least boleh ditonton buat menambah wawasan, bahwa lowbudget effects bisa jadi sebesar ini. tinggal ngeset logika-nya aja. Buat film2 kaya gini, pake logika Kamen Rider atau Google V, bukan War Of The Worlds or even District 9 ama Cloverfield.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: