DREAM HOME : SURPRISE, SURPRISE!! IT’S ASIAN CULT CINEMA AT ITS FINEST!

DREAM HOME

Sutradara : Pang Ho-cheung

Produksi : 852 Films, 2010

Mungkin sudah menjadi trend di tahun-tahun belakangan bahwa genre slasher sedang giat-giatnya meningkatkan intensitas graphic violence mereka. Selain oleh penerimaan yang sudah berjalan jauh lebih universal, tak seperti tahun 70an dulu dimana sebagian giallo Italia atau trash movie Eropa-Amerika lain, terhalang peredarannya di sejumlah negara karena visual kesadisan tadi. Dalam sejarah trend genre itu, perfilman Hongkong sebenarnya pernah menonjol sekali justru di tengah kejatuhan sinema mereka di akhir 90an. Banyak cult classics yang muncul dari sana menonjolkan graphic violence keterlaluan, namun mungkin masih tetap terganjal dengan kelas keseluruhannya yang jadi tetap masuk ke kategori film sampah, bukan karena kesadisannya, namun karena adegan pornografi yang sama sekali tak relevan. So now is like the time to wrapped things better, dimana graphic violence-nya tetap ada di depan, namun plot dan penggarapannya juga merupakan ‘something worth to cinematically rated’, bukan sekedar asal-asalan saja. And porn, kalaupun perlu, is just a non-dominated part of it. Dream Home adalah bukti dari ambisi seorang Josie Ho, pemilik 852 Films, dalam menghadirkan cult movie yang tetap bisa dipandang berkualitas, bahkan layak masuk ke festival-festival berkelas dunia.  Kiprahnya mulai dari premiere di Far East Film Festival, Italia, Tribeca Fest-nya Robert DeNiro di Amerika Utara, Fantasia Fest di Canada, London FrightFest, UK, hingga INAFFF 10 barusan sudah mencuatkan review-review positif yang menunjukkan bahwa gigantic graphic violence itu adalah relevansi penting yang sangat mendukung penyampaian satirikal plot berisinya yang mengandung banyak sentilan ke hitam-putih sejarah Hong Kong, lengkap dengan isu bisnis properti, asuransi, kesehatan, hingga bagian-bagian humanis lain di kehidupan bangsa Asia sehari-hari. Dan karakter-karakter miris itu, adalah juga bagian dari kita sendiri. Like ourselves could be just anyone in it. Luarbiasa.

Menjalani karir mentoknya sebagai telemarketer asuransi dan SPG department store di malam hari, Cheng Lai-sheung (Josie Ho) yang sejak kecil tak pernah merasakan highlife memiliki impian besar untuk memiliki sebuah apartemen yang berhadapan ke laut, seperti keinginan kakeknya yang bekas nelayan. Kehidupan cintanya pun sama mentoknya dari hubungan rahasia yang dijalinnya dengan sang kekasih yang suami orang lain (Eason Chan) dengan rendezvouz tetap di sebuah hotel pinggiran. Begitupun, ambisi Cheng melambung tinggi begitu mendapatkan tawaran atas sebuah apartemen di gedung tinggi yang menghadap ke view Victoria Harbour. Sayang, kerja kerasnya masih harus terhalang penyakit sang ayah (Norman Tsui) yang sudah ke taraf terminal dan ditolak tanggungannya oleh pihak asuransi, sementara harga apartemen impian itu terus melambung atas ulah developer dan pemilik aslinya. Sekarang semuanya kembali pada Cheng untuk memutuskan seberapa jauh lagi pengorbanan yang harus ditempuhnya demi mewujudkan impian itu.

Aha, oke. Dalam pemasaran sebuah produk, bombastisme tertentu tentunya tak bisa dihindari. Dream Home juga bukan tak punya sama sekali cacat itu, baik dalam penyampaian adegan gore untuk meningkatkan intensitas graphic violence-nya, pun ke beberapa hal lain yang terasa agak over hingga menjauhkan batas-batasnya dengan plot yang sangat humanis dan realistis itu. Berita-berita tentang komite festival di berbagai belahan benua tadi  sampai muntah-muntah, pingsan dan sebagainya, entah benar atau tidak, juga ikutan mencuat ke permukaan. But let’s look over it. Beda dengan film-film bergenre slasher lain yang melulu tak berisi plot humanis dan down-to-earth serta penuh sentilan seperti ini, tingkat kesadisan yang masih dianggap sebagian pencinta genre-genre sejenis belum sampai parah-parah sekali, justru bisa terasa jauh lebih menyakitkan secara visual dan perasaan. Dream Home cukup memiliki graphic violence tanpa bantuan teknologi ini-itu, masih dalam batas-batas nyata namun bisa mencapai intensitas yang sama akibat keakraban plot dan karakternya yang benar-benar di-push ke gambaran realisme kita sehari-hari, termasuk, oh ya, TKW beruntung (karena bisa ikut dalam produksinya) yang berdialog dalam bahasa Indonesia itu. Cerita dan skenario yang juga ditulis sutradara Pang Ho-cheung tadi lah yang sudah bekerja sangat efektif dan smart, termasuk dengan alur maju-mundurnya dalam berkomunikasi menyampaikan semua pemaparannya. Tanpa adegan gore dan kesadisan luarbiasa pun sebenarnya Dream Home sudah punya feel dark dan painful bagi setiap pemirsanya, namun beruntunglah kita karena Josie Ho ternyata memaksa Pang untuk me-wrapped-nya dengan intensitas kesadisan lebih tinggi sehingga Dream Home menjadi semacam highlight spesial untuk genre-genre sejenis. Dan saya yakin, pilihan penggagas-penggagas INAFFF untuk menjadikannya Surprise Movie dalam perhelatan kemarin, pasti semakin meningkatkan excitement-nya jauh ke puncak dan menunjukkan betapa patutnya Dream Home mengisi slot itu. This is absolutely an Asian cult cinema at its finest! (dan)

~ by danieldokter on November 23, 2010.

4 Responses to “DREAM HOME : SURPRISE, SURPRISE!! IT’S ASIAN CULT CINEMA AT ITS FINEST!”

  1. […] This post was Twitted by yudobat […]

  2. […] This post was mentioned on Twitter by Satrio Nindyo Istiko, yudo yuridyo, Rangga Adithia, sandra ristianjani, eka dirgantara and others. eka dirgantara said: RT @danieldokter: DREAM HOME : SURPRISE, SURPISE!! IT'S ASIAN CULT CINEMA AT ITS FINEST!: http://wp.me/pVV2A-4P […]

  3. Bang Daniel, bagus sekali reviewnya. Tapi cukup sulit dapetin nih movie. ada di Ozone kah ?

    Btw, buat review tentang Machete dong, filmnya Robert Rodrigruez. Lumayan bagus cultnya.😀

  4. ada Di. tapi udah abis kali, biasa, pada ga tau orang sini film bagus. kalo di Jakarta kan diputer di festival. Machete is on the way. favorit itu. udah 5 x nonton masih nampol terus😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: