PENGANTEN SUNAT : THINGS THAT MAKE YOU GO PUKE

PENGANTEN SUNAT

Sutradara : Rako Prijanto

Produksi : Rapi Films, 2010

This is a tweet from a friend regarding this movie. “First movie to have the word ‘Sunat’… I don’t think there’s ever any mainstream movie in the world to feature that word”. Yup, benar sekali. Kalau hanya menjadi latar belakang atau judul sebenarnya sah-sah saja. Tapi film terbaru arahan Rako Prijanto, sutradara yang sebelumnya sudah memulai debutnya lewat Ungu Violet yang terang-terang menjiplak sebuah videoklip Korea dari grup Kiss berjudul ‘Because I’m A Girl’ secara terang-terangan dan dibintangi Amink dan duo ‘The Virgin’ ini memang punya plot seputar penis dan berbicara bak anak SD yang baru mengenal istilah itu dari internet atau cerita teman-temannya. Vulgar, blak-blakan, dengan segala fantasi otak kotor yang menjulang tinggi dan tak akurat pula dengan setting yang dipilihnya. Aih, ternyata lagi, Rako lagi-lagi mengulang keterusterangannya (atau kebodohan?) memplagiat produk lain dari Korea, dari sebuah feature komedi legenda klasik berjudul ‘Garoojigi’ (2008) yang memiliki plot, tentu tanpa sunat-sunatan sebagai bumbunya, dan ini yang terpenting. Pengadeganan yang sama. Walau diplesetkan menjadi sunat-sunatan, the main theme itself adalah mengenai sebuah ‘Inferiority syndrome’, yang dalam istilah medisnya dikenal sebagai rasa rendah diri karena ukuran penis yang mini. Oke, XL dan Double XL (ini sekuel XL yang juga dibintangi Amink), memang sudah mencoba sebelumnya dengan ide yang lebih orisinil, namun menyaksikan guliran skenario dan adegan dalam Penganten Sunat, sudah berjasa membuat dua instalmen sekuel itu terlihat sebagai film yang jauh lebih mengandung kewajaran dalam attempt-nya menjadi komedi seks, ketimbang hanya seperti anak kecil yang tertawa-tawa melihat bentuk kelamin orang dewasa. Sakit.

Japra (Amink) yang sejak kecil menanggung malu akibat ukuran penis supermini yang membuatnya tak bisa disunat itu (oh, ya, Anda pikir begitu ya, mas Rako?) akibat sebuah kecelakaan yang melibatkan patil ikan lele, memiliki impian ingin menjadi pengantin. Selama ini ia tinggal dengan Bini (Mita The Virgin), tomboy yang punya krisis identitas merasa dirinya laki-laki. Namun di kampung itu, syarat untuk menjadi pengantin adalah disunat terlebih dahulu. Sementara kehidupan di kampung itu memang didominasi istri-istri horny dengan suami lemah syahwat yang sudah lama merindukan kepuasan. (O ya, ini bukan bersetting di suku pedalaman atau tahun jabot dengan kebiasaan aneh-aneh, tapi di sebuah kampung di kota besar zaman sekarang, lho). Maka mendengar sejarah ayah Japra yang merupakan pejantan tangguh di masa lalunya, istri-istri ini pun mengantri untuk mengintip Japra berenang, dan terkejut ketika Japra dengan tenang menunjukkan penis mininya. Sampai datanglah seorang Srimpi (Dara The Virgin) yang mendadak menjadi idola para suami di kampung itu, namun jatuh cinta pada Japra dan hendak menikahinya. Kembalilah semua ke syarat itu, bahwa Japra harus disunat dulu sebelum menikah, namun ukuran penisnya tak memungkinkan. Ia kembali dipermalukan. Srimpi pun lari sambil terus diburu para suami-suami itu. Japra yang sakit hati kemudian bertemu dengan Aheng, ahli yang bisa membesarkan penis dan pernah berjasa pada ayahnya dulu. Dengan ramuan Aheng, penis Japra dibuat menjadi raksasa karena kelebihan meminum ramuan, dan kembali ke kampung itu. Sekarang, para istri pun mengantri untuk merasakan kekuatan Japra bahkan berniat memperkosanya beramai-ramai. Dan bukan hanya Srimpi yang cemburu, namun juga Bini yang ternyata menyimpan cinta pada Japra. Srimpi pun membalas perlakuan gangbang oleh istri-istri itu pada Japra melalui para suami yang cemburu. Percobaan sunat ulang kemudian digelar, namun semua alat berat sekarang tak mampu menyunat penis Japra yang sudah menjadi sekeras baja, yang menggempur tiang di kampung itu saja mengakibatkan gempa bumi.

Oke, now try to re-read the synopsis, dan telusuri secara logika mana guliran cerita itu bisa masuk ke cernaan akal sehat otak penontonnya. Selagi Garoojigi digelar dengan embel-embel legenda klasik yang memang sah-sah saja, Penganten Sunat mengangkatnya lebih ke kehidupan nyata hingga terlihat makin absurd dengan sebuah logika yang mungkin hanya ada di otak anak-anak (itupun tak semua anak-anak terutama yang sudah pintar sejak kecil) dan film-film bokep. Sebuah komedi seks, mungkin wajar saja mempertontonkan adegan klise seputar mengintip, buang air, masturbasi dan semacamnya, plus mengeksploitasi sensualitas dan tampang jelek pendukungnya untuk urusan komedi. Film-film Jupe atau Dewi Perssik pun punya pakem yang terlihat sama dengan komedi seks Italia Edwige Fenech atau Gloria Guida tempo doeloe yang bagi sebagian penonton (terutama laki-laki) mengandung suatu excitement tinggi, namun masih jauh dari yang digelar Rako dalam Penganten Sunat. Apa yang kemudian tampil disini adalah sesuatu yang benar-benar keterlaluan baik dari dialog dan pengadeganannya sehingga tak lagi terlihat jenaka seperti film-film itu termasuk produk aslinya yang berasal dari Korea itu. Eksploitasi terhadap dialog, tampilan plus pelawak-pelawak pria dan wanita termasuk Gary Iskak yang seperti tak lagi punya malu bertelanjang ria sambil mengeluarkan lidah menjilat-jilat bibir sendiri di setiap scene, jadinya tak lagi terasa lucu namun membuat enek dan memancing penontonnya muntah-muntah. Dan oh, tentu ini tak berlaku bagi semua penonton dimana sebagian penonton juga ada yang tertawa terbahak-bahak. Jadi kira-kira begini saja kesimpulannya. Berbahagialah Anda-Anda yang masih punya otak untuk tak terhanyut dengan pengejawantahan otak kotor sineas-sineas yang perlu ditanam di lapisan neraka terdalam ini, dan masih akan seribu kali lebih waras untuk menyaksikan tampilan Miyabi dalam kebaya dan naik delman di film yang diputar di teater sebelah. (dan)

~ by danieldokter on November 26, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: